Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO

Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO
Episode 26


__ADS_3

“tante..” gumam Ahreum lengkap dengan nada getirnya.


“iya kenapa sayang?” tanya Carrisa lembut sembari mencoba mengambil beberapa serpihan kaca yang tertancap dibelakang leher gadis mungil tersebut kemudian meletakannya diwadah stainless kecil yang berada disampingnya.


“apa benar jika cinta pertama selalu memiliki ending yang menyedihkan?” lanjut Ahreum masih dengan nada suara yang sama, membuat Carrisa terhentak dan menghentikan aktivitasnya untuk sesaat.


“apa.. kau memiliki seseorang yang kau sukai, Ahreum?


Maafkan tante, om dan juga kedua orang tuamu ya, kita memang sangat egois sudah memaksa kau dan juga Ansell untuk memenuhi janji dari para tetua dahulu. Sekali lagi maafkan tante ya sayang.” Ujarnya yang kemudian kembali melanjutkan aktivitasnya.


“kita berdua begitu bodoh, saling menyukai tapi tak ada satu pun yang berani mengutarakannya, sejak dulu dia selalu berada didepanku mengajakku kemana pun dia pergi, bahkan saat dia berkencan dengan kekasihnya pun dia selalu memintaku untuk ikut bersamanya.


Benarkah dia hanya menganggapku sebagai seorang adik? Fikirku, jika iya, kenapa sikapnya kadang terasa terlalu berlebihan layaknya seorang lelaki yang mengkhawatirkan pasangannya. Seberusaha apapun aku mencoba memahaminya, aku tetap tak mengerti.


Sampai pada suatu hari aku ingin memberanikan diriku untuk mengungkapkannya, tak perduli jawabannya atau pun hal yang akan terjadi setelahnya, aku sudah bertekad untuk menerima konsukuensi atas tindakan ku itu.


Namun..


Dia datang lebih dulu padaku dengan membawa kabar yang sangat mengejutkanku, dia baru saja berkencan dengan sahabatku dia juga tampak bahagia sekali lengkap dengan deretan giginya yang rapih, dia terus saja menyunggingkan senyum lebarnya padaku.


Bagaimana ini?!


Ekspresi apa yang harus ku tunjukan dihadapannya, bahagia atau sedih? Hahaa, tentu saja bibirku ternyum untuknya tapi tidak dengan kedua mataku yang hampir menangis.


Sejak saat itu aku tersadar, mungkin benar jika dia tak pernah menganggapku sebagai perempuan, aku pun mulai mencoba untuk menghilangkan perasaan itu dan benar-benar merelakannya bersama dengan yang lain kali ini.

__ADS_1


Tapi..” Ahreum menghentikan cerita panjangnya sejenak kemudian memutar tubuhnya hingga bisa menatap wajah Carrisa yang tampak berkaca-kaca setelah mendengar kisah cinta dirinya yang begitu mengenaskan.


“hari ini, dia mengungkapkan perasaannya padaku, dia menyukaiku, tante, apa yang harus ku lakukan?”


Tangis Carrisa pun pecah kala bulir air mata Ahreum mulai mengalir dari pelupuk matanya, membuat hati kecilnya pun ikut merasakan sakit yang dialami oleh calon menantunya tersebut. Ia pun langsung memeluk erat Ahreum seraya mengusap-usap punggung mungil gadis malang yang kini berada didekapannya.


“maafkan tante yaa, andai saja tante bisa merelakanmu pergi mengejar cintamu, maafkan tante, sayang.” Ucap Carrisa disela isak tangisnya.


***


1 jam kemudian.


Ansell tampak tengah berdiri dipinggiran balkon kamarnya, dengan pandangan lurus mengarah ke langit malam yang terlihat begitu kelam kala itu sebab baik sang rembulan maupun bintang-bintang yang biasanya muncul, kini tak terlihat 1 pun seolah ingin mewakili perasaannya yang sedang kacau saat ini.


Disaat yang bersamaan Ahreum pun tengah berdiri dibalik jendela kamarnya, setelah pembicaraannya selesai dengan Carrisa, ia pun langsung diantarkan oleh Carrisa ke sebuah kamar yang terletak tepat disamping kamar Ansell.


Kedua matanya terus saja memperhatikan lelaki tersebut bahkan saat beberapa kali Ansell memukul pagar pembatas balkon lengkap dengan raut wajah yang dipenuhi amarah, Ahreum hanya bisa melihatnya dari kejauhan dengan air mata yang masih belum bisa berhenti sepenuhnya, sampai kini matanya memerah dan juga mulai membengkak.


Gadis itu tahu betul, jika calon suaminya tersebut masih belum bisa keluar dari bayang-bayang masa lalunya, terlebih lagi saat Ansell tahu kebenaran dibalik perselingkuhan yang dilakukan Ilona selama ini, yang tak lain adalah perbuatan keluarganya sendiri.


Bukan hanya rasa sakit kehilangan yang ia rasakan saat ini, tapi juga rasa penyesalan yang begitu amat sangat karena dirinya merasa tidak bisa menjaga kekasihnya dengan baik, sampai Ilona melakukan tindakan yang sangat ekstrim yaitu mengakhiri hidupnya dengan menembakan 1 butir peluru tepat ke kepalanya, sesaat setelah ia menceritakan perbuatan kejam yang dilakukan keluarga Ansell pada dirinya.


Dan tepat dihadapan Ansell pula Ilona terjatuh tak berdaya dengan darah yang terus mengalir dari kepalanya, membuat Ansell yang kala itu tengah berdiri jauh dari posisinya langsung berlari sekuat tenaga ke arah Ilona yang sudah terbaring lemah tak berdaya diatas aspal.


“jika aku tak bahagia, kau pun tak berhak bahagia!” sebuah kalimat terakhir yang terucap dari bibir Ilona sebelum akhirnya ia pergi untuk selama-lamanya dipangkuan Ansell.

__ADS_1


“tidak, Ilona, maafkan aku, maafkan aku!!” tangis Ansell pun pecah kala kedua mata Ilona terpejam dan tubuhnya sudah tak memiliki lagi tenaga.


Disisi lain beberapa polisi yang hendak menangkap Ilona hanya terdiam seraya memandangi adegan haru yang tengah terjadi dihadapannya, mereka juga tak menyangka jika gadis tersebut ternyata memiliki sebuah pistol kecil yang ia simpan didalam tas kecil yang ia selempangkan.


Niat hati ingin menjebloskan Ilona ke penjara dan membayarkan perbuatan jahatnya pada Ahreum, namun siapa sangka Ansell malah mendapat kejutan yang tak terduga dari gadis malang tersebut, kejutan yang tak pernah bisa ia lupakan, bahkan mungkin diseumur hidupnya ia akan terus mengingat detik-detik terakhir kekasihnya tersebut meregang nyawa dihadapannya.


Tak jauh berbeda dengan kisah cinta Ahreum yang menyedihkan, jika saja salah satu dari mereka memiliki cukup keberanian untuk mengungkapkannya sedari dulu, mungkin saja ceritanya akan berbeda.


Tapi keduanya hanya berdiam ditempat seperti orang bodoh, berpura-pura bahagia ketika salah satu tengah berkencan dengan yang lain, dan ikut sedih juga ketika hubungan tersebut harus berakhir.


Hal itu terus berlangsung selama bertahun-tahun lamanya, bukan karena tidak menyadari perasaan mereka masing-masing.


Hanya saja, baik Ahreum maupun Jeno berfikir jika mereka mengungkapkan perasaan mereka, akan bagus jika ternyata mereka berdua memiliki perasaan yang sama, namun jika kebalikannya?


Mereka tak akan bisa membayangkan bagaimana situasi canggungnya jika ternyata Ahreum atau Jeno tidak memiliki perasaan yang sama.


Atau bahkan hal buruknya mungkin itu akan berpengaruh pada persahabatan yang telah mereka jalin sejak SD, hal itulah yang membuat keduanya lebih memilih untuk menyimpan perasaan itu dalam-dalam, dan seolah baik-baik saja ketika salah satu tengah berkencan dengan yang lain.


***


Ahreum merasa sepertinya tubuhnya mulai lelah dan tak sanggup lagi untuk menopang berat tubuhnya, hingga ia pun memutuskan untuk beranjak dari posisinya saat ini dan melangkah menuju tempat tidur.


Dilain tempat, yaitu dibalkon kamar Ansell, tiba-tiba saja Ansell menoleh ke arah jendela kamar disebelahnya yang masih belum tertutup gorden, sekilas ia melihat tubuh Ahreum yang membelakanginya kemudian pergi dari balik jendela.


“apa sedari tadi dia melihatku.” Gumam Ansell saat tubuh Ahreum menghilang dari pandangannya.

__ADS_1


***


bersambung...


__ADS_2