
2 jam berlalu, singkat cerita 4 sekawan itu pun telah sampai dihotel tempat dimana Rene tinggal selama dirinya berada di Banten.
Mereka melenggangkan kaki menuju meja recepcionist.
“maaf mba, bisa tolong bantu panggilkan teman saya Rene, dia berada dikamar 101.” Ujar Ahreum yang langsung pada intinya begitu langkahnya sampai didepan meja recepcionist.
Langsung saja salah satu staf yang sebelumnya terduduk ia pun berdiri untuk menanggapi permintaan seorang gadis yang kini berada dihadapannya.
“Iya baik sebentar saya cek terlebih dahulu ya.” Responnya ramah kemudian sedikit membungkukan tubuhnya ke computer untuk mencari sebuah nama yang ditanyakan oleh Ahreum.
“maaf mba, atas nama mba Rene sudah chek out 1 jam yang lalu.” Imbuhnya seraya kembali berdiri dengan tegak dengan pandangan lurus mengareh pada Ahreum.
Ahreum mengerutkan dahinya seakan tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar dari salah satu staf hotel tersebut.
“boleh saya mengecek keadaan kamar yang ditempati teman saya Rene?” sambung Ahreum karena merasa ada yang tidak beres.
“hah? Maaf mba, kami tidak bisa mengijinkannya.” Tolak staf tersebut dengan diakhiri senyum ramahnya.
“kamar itu belum ditempati kan?
Saya mau chek in.” sambar Nayeon yang mencoba membantu apa yang diinginkan karibnya seraya mengeluarkan sebuah kartu dan diberikannya pada staf tersebut.
“ohh.. I.. iya baik, boleh saya pinjam KTP nya mba.” Pinta staf tersebut begitu menerima kartu atm milik Nayeon, segera Nayeon pun kembali merogoh tas kecilnya kemudian mengeluarkan KTP miliknya dan diberikannya lagi pada staf tersebut yang tengah menunggu.
“Sebentar saya proses terlebih dahulu ya.” Sahut staf tersebut setelah dirasa persyaratan administrasi dirasa cukup ia pun kembali duduk dan memproses chek in atas nama Nayeon Christine.
“UUuuuu.. It’s true, Money is everything.” Seru Hanna yang langsung dibalas senyum penuh kebanggan oleh Nayeon sebab berhasil menyelesaikan permasalahan yang ada.
“Jadi begini rasanya berteman akrab dengan sultan.” Celetuk Franky.
“kau sudah bukan temanku lagi, ingat! Kemarin kau sudah menyetujui menjadi bodyguard sekaligus supirku.” Ujar Nayeon mengingatkan.
“ciihh..” dengus Franky sedikit kesal.
Staf tersebut pun kembali berdiri kemudian menggesekan kartu atm milik Nayeon ke sebuah mesin EDC yang berada diatas meja. “silahkan mba pin nya.” Ucap sang staf seraya memposisikan mesin EDC ke arah Nayeon, untuk memudahkannya langsung memasukan kode sandi kartunya.
Langsung saja jemari Nayeon yang lentik pun mengetikan beberapa kode sandi dimesin EDC tersebut. Tak lama setelah sandi dimasukan muncullah secarik struk yang keluar dari mesin EDC, staf yang bertugas itu pun kembali memutar mesin EDC lalu menyobekkan struk yang tadi keluar sebagai bukti pembayaran yang akan diberikan pada Nayeon.
__ADS_1
“chek in nya sudah saya proses ya mba, ini kartu atm dan KTP mba Nayeon.” Ucap sang staf tersebut seraya memberikan KTP, kartu atm bersama dengan secarik kertas bukti pembayarannya, dengan senang hati Nayeon menerimanya kemudian memasukannya kembali ke dalam tas kecilnya.
“pak Arif!” panggil staf tadi seraya mengarahkan pandangannya pada pak Arif yang tengah berjalan dilorong.
Segera pak Arif pun menoleh kemudian bergegas menuju meja recepcionist.
“Iya mba Karin.” Sahutnya begitu sampai di depan meja recepcionist.
“tolong antarkan nona Nayeon dan teman-temannya ke kamar 101 ya pak, ini kuncinya.” Pintanya seraya memberikan sebuah kartu akses pada pak Arif.
“baik mba Karin.” Sahutnya, ia pun beralih pada ke empat tamunya tersebut.
“mari saya antar mba, mas.” Ucap lelaki yang bernama Arif seraya mulai menarik langkah menuntun para tamunya menuju kamar yang telah dipesan.
“oke. Terimakasih mba Karin.” Ucap Ahreum sebelum mereka pergi meninggalkan area loby lengkap dengan senyum ramahnya, yang kemudian langsung dibalas anggukan dan senyum ramah juga oleh staf recepcionist yang bernama Karin itu.
***
Sesampainya didalam kamar hotel yang sebelumnya ditinggali oleh Rene, pak Arif pun lantas pamit undur diri karena tugasnya telah usai.
Ke 4 sekawan itu pun menelusuri setiap sudut dengan mata jelinya seolah tengah mencari sesuatu yang bisa dijadikannya petunjuk.
“aku hanya ingin memastikan jika Rene benar telah pergi tanpa pamit, atau..”
“atau apa?” imbuh Nayeon yang kemudian berjalan mendekati Ahreum yang tengah terdiam memandangi pintu kamar mandi.
“dia dibunuh.” Timpal Rihanna yang juga ikut memandangi pintu kamar mandi.
Sebelum akhirnya keduanya pun melangkah menuju kamar mandi.
“kau memikirkan apa yang kufikirkan Ahreum?” gumam Rihanna pelan seraya menyapu area kamar mandi dengan tatapan menyelidik.
“Iya. Aroma pemutih pakaian yang begitu menyengat. Kurasa disini tempatnya.” Ucap Ahreum seraya berjalan menuju bath up dan menatapnya lekat.
“tempat apa?
Mencuci pakaian? Bukannya dihotel ada tempat laundry ya, kenapa dia mencuci pakaian sendiri?” celetuk Nayeon yang tiba-tiba saja membuyarkan atmosfir menegangkan yang terjadi kala itu.
__ADS_1
“aughh si**al!!” umpat Hanna seraya melirik Nayeon tajam.
“kau tak pernah menonton drama?
Di drama orang sering menggunakan pemutih pakaian untuk menyamarkan aroma darah.” Jelas Franky yang memberikan sedikit pencerahan pada karibnya yang masih belum konek itu, Franky pun lantas pergi dari area kamar mandi meninggalkan ketiga teman perempuannya.
“jadi benar Rene dibunuh?
Perlukah aku telfon ayahku, kurasa akan seimbang jika pertarungan ini antara gangster dan gangster lainnya.” Saran Nayeon seraya mengeluarkan ponsel dari dalam tas kecilnya.
“bukankah kau bilang ayahmu sudah keluar dari organisasi mengerikan itu.” timpal Hanna.
“Iya sih, tapi..”
“teman-teman!!
Kita harus cepat keluar dari sini!! Orang-orang yang kita lihat dipekarangan panti kemarin, sekarang sudah muncul diarea pekarangan hotel!!” seru Franky yang langsung dibalas tatapan terkejut oleh ketiga teman perempuannya itu.
“bagaimana bisa mereka melacak keberadaan kita?” sahut Nayeon lengkap dengan raut wajah paniknya.
“ayoo cepat kita tidak memiliki banyak waktu!” ajak Hanna yang lebih dulu berlari mendahului Ahreum dan Nayeon.
Mereka pun berlarian keluar dari kamar hotel dengan perasaan kalang kabut. Sementara ketiga teman perempuannya berlari didepannya, Franky lebih memilih mengawasi dari belakang.
“tunggu!
Kurasa mereka juga akan naik lift. Sebaiknya kita turun melalui tangga darurat aja!” seru Hanna kala melihat keterangan lantai diatas pintu lift tengah berjalan.
Ia pun lantas memutar balik tubuhnya bersamaan dengan ketiga temannya yang ikut memutar arah menuju tangga darurat disisi lainnya.
“biar aku yang berada didepan!” seru Franky seraya membelah jalanan untuk menempati posisi terdepan kala mereka berempat telah sampai diarea tangga darurat.
Bukan tanpa alasan Franky kini beralih ke posisi terdepan, melainkan ia sudah memperkirakan jika para gangster itu pasti berpencar ada yang menaiki lift dan ada juga yang memilih menaiki tangga darurat untuk berjaga-jaga jika korbannya tersebut memilih untuk turun menggunakan tangga darurat.
Langkah mereka terdengar begitu gaduh lantaran rasa takut yang semakin menyelimuti ke empatnya membuat mereka berlarian tanpa henti menuruni anak tangga 1 per 1 dengan diiringi deru nafas yang mulai terasa sesak didada.
***
__ADS_1
Bersambung…