
“itu bukan urusanmu.” Sahut Ahreum yang kemudian menurunkan kedua kakinya ke lantai untuk beranjak dari ranjang besar Ansell.
“apa?” respon Ansell seraya menahan lengan Ahreum.
“ada apa denganmu Ahreum?” sambung Ansell lagi yang masih belum mengerti dengan sikap aneh istrinya itu.
“tidak ada. Aku ngantuk, tolong lepaskan aku.” Pinta Ahreum yang mulai menurunkan nada suaranya.
“kau bisa tidur disini mulai sekarang.” Ucap Ansell mantap seraya menatap kedua manik Ahreum kemudian melepaskan tangannya dari siku Ahreum.
“kenapa?” tanya Ahreum dengan 1 alisnya yang terangkat.
“apa kau juga akan tidur disini? Bersamaku?” lanjut Ahreum yang mencoba menyimpulkan menurut versinya sendiri.
Namun alih-alih langsung menjawab pertanyaan Ahreum, Ansell tampak terlihat sangat gugup seakan tengah berfikir keras, kalimat apa yang seharusnya ia lontarkan.
Hatinya ingin sekali berkata iya, namun tidak dengan lidahnya yang tampak keluh dan tak bisa berkata sepatah katapun.
Sementara Ansell masih berdiam diri, tiba-tiba saja sebuah cuplikan dramatic muncul dalam benak Ahreum.
Yups betul! Perdebatan yang cukup sengit diepisode sebelumnya, nyatanya pertikaian itu hanyalah imajinasi Ahreum semata yang ingin sekali menumpahkan segala unek-uneknya pada Ansell.
Namun entah mengapa nyalinya selalu ciut kala berhadapan langsung dengan wajah dingin suaminya itu.
Hingga akhirnya ia hanya bisa diam dan memendam umpatan ataupun makian yang ingin sekali ia lontarkan pada Ansell.
“hmm.. aku akan tidur dikamarku saja.” Ucap Ahreum yang kemudian kembali menarik langkah pergi.
Lagi-lagi Ansell mencegahnya dengan menggenggam lengan Ahreum serta sorot mata yang dipenuhi ribuan kalimat yang tak mampu ia ucapkan.
“ada apa lagi? Aku lelah, tolong biarkan aku tidur dengan tenang.” Ucap Ahreum seraya memandangi wajah suaminya kemudian menurunkan tangan suaminya dari sikutnya.
“amm.. kemarin.. ponselku sudah rusak saat berada digedung karena terjatuh dari saku jas ku. Dan ditengah perjalanan setelah mengantar xxx ke rumah sakit, aku terlibat kecelakaan dengan seorang ibu-ibu. Aku .. gak sengaja menabrak mobilnya karena tiba-tiba kepalaku terasa pusing dan mengantuk. Semuanya semakin rumit saat polisi mencurigaiku mengemudi dalam pengaruh alkohol, hingga mereka pun meminta aku untuk melakukan tes.
Aku benar-benar tak menduga ada kadar alkohol dalam tubuhku padahal aku sama sekali tidak minum malam itu. Dan hal itu juga yang membuatku berada dikantor polisi semalaman.”
“lalu, kenapa kau berbohong padaku, tentang kau menginap dirumah sakit?” tanya Ahreum setelah mendengar penjelasan panjang lebar dari suaminya.
“aku..”
“kau senang sudah mempermainkan perasaanku, Ansell?
apa aku lelucon bagimu?!”
__ADS_1
“tidak, bukan seperti itu Ahreum.”
“apa kau tertarik pada wanita asing itu?”
“apa maksudmu?”
“jika kau tertarik dengannya karena dia memiliki paras yang mirip dengan Ilona, silahkan saja, aku tak akan melarangmu bersamanya. Karena sejak awal pun pernikahan kita hanyalah sebuah alat untuk melunasi janji para tetua dimasa lalu.
Jika kau menginginkan wanita lain untuk menjadi pasangan hidupmu, mari kita hentikan saja, pernikahan ini hanya membuat kita terluka 1 sama lain.” Ungkap Ahreum yang kemudian menarik langkah pergi meninggalkan Ansell yang masih terdiam.
“kumohon tarik kembali kata-katamu, dan berbaliklah Ahreum.” batin Ansell yang masih memandangi lekat punggung Ahreum yangs semakin menjauhinya.
“kumohon berbaliklah..” batin Ansell lagi seraya mengepalkan kedua tangannya.
Namun sepertinya Ahreum sudah bertekad untuk benar-benar menyerah dan pergi meninggalkan Ansell bahkan untuk melirik kembali pun ia enggan.
Membuat Ansell merasa terusik hingga tanpa sadar kedua kakinya pun bergerak lalu bergegas menyusul langkah Ahreum yang sudah keluar dari kamarnya.
“tidak.. Ahreum.. tunggu.. Ahreum!!” panggil Ansell, namun Ahreum tak sekalipun menanggapi panggilan tersebut ia malah mempercepat langkahnya menuju kamarnya dengan sesekali menyeka air mata yang mulai berderai dipelupuk matanya.
“Ahreum tolong dengarkan aku dulu!!” panggil Ansell kembali saat Ahreum hendak menarik handle pintu kamarnya.
Lagi-lagi Ahreum hanya mengabaikan kemudian dengan cepat kembali menutup pintu kamarnya serta menguncinya dari dalam agar Ansell tak bisa masuk.
“breng***k, si**alan.. kenapa aku tak bisa mengumpat didepan wajahnya!” gerutunya seraya menurunkan tubuhnya hingga terduduk bersandarkan pintu sembari memegangi kepalanya.
“kenapa aku begitu lemah jika berhadapan dengannya, aku bahkan tak berani menampar atau menendangnya!! Bodoh sekali!! AARGGGHHHH!!” teriaknya seakan ingin meluapkan semua emosinya yang sedari ia tahan.
Mendengar suara teriakan membuat Ansell yang masih berada dibalik pintu seketika cemas.
“yak! Ahreum, apa yang kau lakukan?! Kau baik-baik saja kan, cepat buka pintunya.” Perintah Ansell dengan ketukan pintu yang lebih agresif.
Ahreum pun berdiri kemudian menendang pintu kamarnya dengan sisa tenaga yang ia miliki bersamaan dengan teriakan emosional yang cukup nyaring.
ARRGGHHHH!!.. Brrukkkk!!..
Sontak hal itu langsung membuat Ansell terkejut hingga mundur 1 langkah dari tempatnya sebelumnya dengan kedua mata bulatnya yang memandangi pintu kamar Ahreum.
“aawww.. hikksss..” rengek Ahreum sesaat setelah menendang pintu kamarnya ia pun langsung meringis kesakitan sembari memegangi kakinya.
“Ahreumm!! Apa yang kau lakukan?! Cepat buka pintunya.” Seru Ansell seraya melangkah mendekat ke pintu dan mengetuk kembali lengkap dengan raut wajah paniknya.
“SIA***LAN!!” umpat Ahreum disela isak tangis dan rasa linu dikakinya.
__ADS_1
“apa?! sialan?..” sahut Ansell yang samar-samar mendengar umpatan kasar Ahreum dari dalam.
“kau mengumpat padaku Ahreum? cepat buka pintunya, kita perlu bicara Ahreum!!” sambung Ansell yang masih terus mengetuk pintu kamar Ahreum dengan ganas.
“pergilah!! Aku tak ingin melihatmu hikkkss.. hiksss!!..” Pekik Ahreum ditengah tangis yang semakin menjadi-jadi.
“oke aku minta maaf, aku salah.. aku yang salah Ahreum, maafkan aku. Tolong jangan seperti ini Ahreum.” bujuk Ansell yang akhirnya mengalah dan menurunkan egonya.
“buka pintunya ya, mari kita bicara.” Tambah Ansell seraya mencoba menarik handle pintu, berharap jika Ahreum sudah membukakan kuncinya.
***
Keesokan harinya.
Dikediaman Nayeon Christin.
Setelah mengistirahatkan tubuhnya seharian kemarin ia pun bangkit dari ranjang besarnya kemudian berjalan perlahan menuju gorden.
Agar sinar matahari bisa masuk ke dalam kamarnya ia pun membuka tirai selebar kedua tangannya, sembari menghirup udara segar dipagi hari yang masuk melalui celah jendela kaca besarnya.
Took.. took..
Suara ketukan pintu menghentakan lamunan Nayeon, gadis cantik yang masih berpiyama itu pun memutar tubuhnya dan mengarahkan pandangannya pada pintu kamar.
“masuk bii!!” ucap Nayeon dengan lantang agar seseorang dari balik pintu kamarnya iut mendengar perintahnya barusan mengingat tempatnya berdiri dan pintu kamarnya cukup jauh.
“pagi nona Nayeon..
Susu strawberynya bibi letakan dimeja ya.” Ucap bi Sumi, salah satu art yang bekerja dikediaman Nayeon.
Bi Sumi pun berjalan menuju meja kemudian meletakan susu strawberry milik putri majikannya itu diatas meja dekat sofa kecil.
“oke makasih bi.” Ucap Nayeon lengkap dengan senyuman manisnya.
“sarapannya sudah siap ya nona, dan juga den Jeno sudah menunggu sejak tadi diruang tamu.” Tambah bi Sumi sebelum pamit undur diri dengan nampan yang didekapnya.
“Jeno?
Biasanya dia langsung masuk ke kamarku. Hmm..” gumam Nayeon seraya mengangkat 1 alisnya sebelum kembali beralih mengarahkan pandangannya pada bi Sumi yang hendak pergi.
“oke bi makasih ya.” Ujar Nayeon yang kemudian langsung direspon anggukan dan senyum ramah dari bi Sumi sebelum memutar tubuh dan menarik langkah keluar dari kamar putri majikannya.
Bersambung..
__ADS_1