Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO

Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO
Episode 76


__ADS_3

Sesampainya di aparteman Bougenville, sebelum meneruskan langkahnya menuju lift yang berada dipojok koridor, ia memilih untuk mampir lebih dahulu ke meja penjaga aparteman.


“halo pak Rudy, kemarin ada yang nitipin koper ga ya buat saya?” tanya Ahreum lengkap dengan senyuman ramahnya.


“untuk nona Ahreum ya, sebentar coba saya cek ke dalam dulu ya.” Timpal pria paruh baya itu seraya memutar tubuhnya kemudian menarik langkah menuju ruangan lainnya.


“oke pak.” Sahut Ahreum.


“memangnya kau tidak diajak tinggal dikediaman keluarga Dirgantara ya? Malah tinggal diaparteman, apa kedua orang tuamu tahu?” celetuk Hanna selagi menunggu sang penjaga aparteman membawakan koper milik Ahreum.


“memangnya apa yang salah dengan aparteman, tidak kalah nyamannya dengan dirumah kok, kau kan sudah lihat sendiri dalamnya bagaimana.” Sahut Ahreum.


“iya sih, cuma kan ga ada asisten rumah tangga disini, memangnya kau bisa mengurusnya semuanya sendiri?” balas Hanna kembali yang khawatir jika karibnya itu harus mengurusi rumah sendirian.


“ada bi Ijah kok, cuma memang ga tinggal bersama disini, pulang pergi gitu.” Ahreum memaparkan.


Mendengar itu Hanna hanya menanggapinya dengan anggukan mengerti.


“ini nona Ahreum kopernya, cukup besar juga ya, mau saya bantu antarkan sampai ke tempat nona Ahreum? Kebeteluan pintu lift juga sedang dalam perbaikan nona.” tawar pak Rudy begitu keluar dari sebuah ruangan sembari menyeret koper besar disampingnya.


“apa?! jadi kita harus naik tangga darurat dong pak.” Timpal Hanna lengkap dengan raut wajah terkejutnya.


“iya betul nona, yaudah kalau begitu biar saya yang bawakan aja ya kopernya.” Kata pak Rudy lagi menunggu persetujuan dari sang pemilik koper.


Sementara itu Ahreum masih terdiam seraya memandangi kopernya, disisi lain koper tersebut memang cukup besar untuk ditanganinya sendiri, tapi ia juga tidak tega jika haarus membebankan koper besar miliknya pada lelaki paruh baya tersebut.


Ditambah apartemannya juga berada dilantai 12 mungkinkah pak Rudy sanggup membawanya? Bagaimana jika hal itu malah membuat pak Rudy mengalami sakit pinggang atau sebagainya.


“tidak pak Rudy, saya dan temanku yang akan membawanya, terimakasih sudah menawarkan untuk membantu pak.” Ahreum pun akhirnya memberikan keputusan setelah beberapa saat menimbang-nimbang pilihan mana yang mesti ia ambil..


Tentu saja keputusan sepihak itu tidak disambut baik oleh Rihanna, gadis yang tengah berdiri disampingnya itu melongo kala Ahreum memberikan keputusan yang melibatkan dirinya.

__ADS_1


“ahh.. jadi ini alasanmu memintaku menemanimu untuk pulang ke aparteman dulu.” Sinis Hanna yang merasa telah dimaanfaatkan oleh temannya sendiri.


“nona Ahreum yakin bisa membawanya sendiri? Ditambah harus menggunakan tangga darurat lagi.” Respon pak Rudy yang masih tidak tega jika kedua gadis itu yang akan membawa koper besar tersebut.


“iya pak, biar saya aja.” Ucap Ahreum mantap seraya berjalan kearah sudut tempat pintu kecil menunggu pak Rudy membawakan koper miliknya.


Melihat kesungguhan sang pemilik koper, pak Rudy pun akhirnya menyerah kemudian berjalan menuju sudut ruangan menuju pintu kecil dimana Ahreum sudah menunggu diluar untuk mengambil koper miliknya.


“kalau begitu hati-hati ya nona, jika lelah sebaiknya berhenti dulu aja jangan dipaksan terus berjalan.” Ucap pak Rudy seraya mendorong kopernya ke tempat Ahreum berdiri.


Ahreum pun meresponnya dengan senyuman ramah lalu menundukan kepalanya sedikit untuk berpamitan dengan pak Rudy, kemudian ia pun pergi bersama dengan Hanna yang masih tampak cemberut karena ia harus dilibatkan dengan aktifitas beras tersebut.


____


Sesampainya di depan tangga darurat, mereka berdua tampak tengah menyiapkan seluruh energynya untuk memulai aktifitas yang akan melelahkan itu seraya menatap deretan anak tangga yang berada didepan matanya.


“huuh! Padahal pak penjaga itu udah menawarkan diri untuk membawakan kopermu, kau malah menolaknya dan membebankan ini pada temanmu sendiri.” Dumel Hanna yang tengah melakukan peregangan dibagian leher, tangan dan pinggulnya.


“kau tak lihat, beliu sudah cukup tua untuk membawakan koper sebesar ini, kau benar-benar tidak memiliki hati nurani.” Sahut Ahreum yang juga ikut melakukan peregangan pada tubuhnya.


“dia bicara hati nurani, seolah dia benar-benar memilikinya.” Gumam Hanna pelan ditengah aktifitasnya mengangkat bagian bawah koper.


“apa?..” tanya Ahreum yang tidak begitu jelas mendengar perkataan Hanna.


“eng..nggaa, hehee. Hati-hati, pelan-pelan aja.” Timpal Hanna mengalihkan ke pembicaraan lain.


“aaaww..” ringis Ahreum saat kakinya tak sengaja terpeleset, berjalan mundur membuat dirinya kesulitan.


“aughh!! Baru juga ku bilang hati-hati, kau ini! sudah minggir, biar aku aja.” Gerutu Hanna yang kemudian langsung mengambil alih tempat Ahreum, selagi Ahreum terduduk dipinggiran tangga seraya memegangi tumitnya yang sepertinya terkilir.


“memangnya kau bisa mengangkatnya sendiri?” tanya Ahreum saat Hanna tengah bersusah payah menarik koper besarnya.

__ADS_1


“aku akan mencoba menariknya sampai dipersimpangan tangga, setelah itu kita istirahat dulu aja.” Sahut Hanna.


Ahreum pun mengangguk mengerti kemudian mencoba bangkit meski kakinya masih terasa ngilu, sambil berpegangan pada tangga ia pun perlahan menaiki tangga untuk menyusul langkah Hanna.


Begitu sampai dipersimpangan anak tangga, Hanna mendorong kopernya hingga ke sudut kemudian ia pun terduduk disampingnya seraya mencoba menstabilkan pernafasannya, mengangkat koper besar itu sendirian membuat tenaganya kini benar-benar berada terkuras habis.


Sementara itu Ahreum pun kembali mengistiratkan tubuhnya dibagian sudut tangga seraya menyandarkan kepalanya pada pagar besi tangga tersebut.


“jujur padaku, sebenarnya kau mencintai Ansell ga sih?!” tanya Hanna yang tiba-tiba saja kembali membahas kisah percintaan karibnya itu seraya menyandarkan punggungnya ke dinding dan menatap lekat punggung Ahreum yang membelakanginya.


“entahlah..” sahut Ahreum tanpa menoleh.


“kenapa?” tanya Hanna kembali yang tak puas mendengar jawaban dari karibnya itu.


“hmm.. aku menyukainya, memangnya siapa sih yang bisa menolak pesona seorang Ansell dirgantara, aku juga menyayanginya, disaat dia terluka hatiku merasa sakit. Tapi.. “ Ahreum menghentikan kalimatnya seakan ia tengah memikirkan sesuatu yang sulit untuk ia jelaskan.


“tapi kenapa?!” sahut Hanna kembali yang tidak sabar menantikan keseluruhan kalimat Ahreum.


“aku juga ingin merasakan rasanya dicintai oleh orang yang kucintai, Hanna. Karena jika hanya aku lagi yang memiliki perasaan sama seperti yang kulakukan dulu pada Jeno, itu.. rasanya sakit sekali, jadi aku mencoba untuk membuat pertahanan dalam diriku.


Ditambah, kau tau sendirikan, Ansell masih berada dalam bayangan masa lalunya, tak mudah baginya untuk melupakan cintanya yang selama ini ia jaga. Bagaimana mungkin aku yang baru dikenalnya 2 bulan bisa dengan mudah mendapatkan ruang dihatinya.” Ungkapnya lirih seraya menghela nafas beratnya.


“jadi itu sebabnya kau pernah bilang jika lebih nyaman dengan dokter Elios?” timpal Hanna.


“iya selain karena perlakuannya yang sopan dan lembut padaku, dia lelaki pertama yang mengungkapkan rasa sukanya padaku. Jadi aku harus bagaimana sekarang?”


“tapi dari yang kulihat Ansell perduli padamu Ahreum, kurasa dia juga memiliki perasaan setidaknya sedikit padamu.”


“dulu.. aku juga selalu mengira jika Jaeno menyukaiku, karena perlakuannya padaku yang perduli dan selalu ada disaaat aku membutuhkannya, tapi kau lihat sendirikan bagaiamana akhirnya, dia malah berkencan dengan temanku sendiri, bahkan hal itu terjadi 2 kali. Perlakuan yang seperti itu tidak selalu menjamin seseorang memiliki perasaan lebih padamu.


Jadi sebelum orang itu benar-benar menyatakan perasaannya, lebih baik jangan berfikir berlebihan, itu prinsipku sekarang.” Paparnya lengkap dengan nada lirihnya hingga membuat Hanna yang mendengarnya pun ikut terbawa suasana.

__ADS_1


Bersambung...


***


__ADS_2