
Diluar gedung, begitu Bennedict dan Ansell sampai ke sebuah gedung tua yang diyakini jika tempat tersebut adalah tempat penyekapan Ahreum, Rihanna dan Nayeon.
Begitu mereka turun dari mobil, mereka pun langsung mendapatkan sambutan yang tak ramah dari para gangster yang tengah berjaga dibagian depan, tanpa basa basi mereka pun menyerbu semua orang yang berada dihadapannya.
Hingga terjadilah baku hantam yang tak terelakan lagi antara kubu Ansell dan Bennedict yang bersatu untuk melawan kubu gangster yang sama kuatnya.
“sebaiknya kau diam saja dimobil Bianca! Tak perlu terjun ke lapangan.” Perintah Bennedict disela pertempuran yang kini terjadi, ia masih sempat mengkhawatirkan bawahan wanitanya yang ternyata ikut terjun untuk membantu atasannya.
“tidak pak! Saya akan ikut merasakan adrenallin ini juga, haha!” seru Bianca ditengah fokusnya menghajar para gangster yang bahkan tubuhnya lebih besar 2 kali lipat darinya.
Disaat keadaan diluar begitu kacau karena pertempuran sengit yang terjadi, kita kembali lagi ke dalam ruangan dimana ketiga serangkai itu juga mendapat situasi yang sama menegangkannya.
“Nayeon!!” teriak Ahreum dan Hanna serempak begitu Nayeon kembali tak sadarkan diri akibat tamparan keras yang meleset kepadanya.
“SI**Al!! kau ingin bermain-main denganku rupanya, kemari kau wanita ja**la**ng!!” bentak lelaki hidung besar seraya menarik rambut Rihanna seperti yang dilakukannya kini pada Ahreum.
“aaarrghh.. argghhh..” ringis Hanna yang tak bisa berontak karena kedua tangannya masih terikat.
“yak! yak! cukup hentikan! Ada apa ribut-ribut.” Seru seseorang lainnya yang baru saja bergabung ditengah penyiksaan yang terjadi.
“mereka mencoba kabur bos!” sahut lelaki hidung besar yang kemudian melepas genggamannya dari rambut Hanna dan berbalik untuk menyambut atasannya tersebut.
“kita harus cepat pergi dan membawa 1 gadis saja, situasi diluar sudah tak terkendali.” Katanya lagi seraya memasukan 1 tangannya ke dalam saku celananya kemudian mengedarkan pandangannya pada ketiga gadis tersebut secara bergiliran.
“baik bos!” seru lelaki tadi dengan tangan yang masih menggenggam erat rambut ikal Ahreum.
“oke. Ku persingkat saja. Aku hanya akan membawa istri dari Ansell dirgantara saja, siapa diantara kalian..” belum sempat lelaki yang diyakini atasan si hidung besar menyelesaikan kalimatnya, Ahreum dan Hanna serempak meneriakan dirinya sendiri.
“AKU!!” teriak mereka berdua serempak yang membuat lelaki tersebut tersenyum penuh arti kemudian melangkahkan kakinya lebih dekat.
“kalian mau mempermainkanku?! Cepat katakana siapa diantara kalian yang menjadi istri Ansell dirgantara!” pekiknya dengan nada yang mengintimidasi membuat keduanya sontak terkejut.
“apa gadis yang pingsan ini?!” tambahnya lagi seraya memegang bagian rahang Nayeon yang masih tak sadarkan diri.
“tidak.. tidak.. wanita itu bukan istrinya, aku istrinya!” seru Ahreum ditengah rasa takutnya ia tetap mencoba untuk melindungi kedua temannya.
__ADS_1
“tidak, dia berbohong akulah istrinya! Kau tak lihat aku yang paling cantik dari keduanya, mereka berdua sama sekali bukan type Ansell.” kekeuh Hanna.
“tidak..”
“ARRGGHHH SUDAH CUKUP!!” sentak lelaki tersebut yang membuat keduanya kini terdiam.
“lepaskan ikatannya! Kita bawa dia.” Perintahnya seraya menunjuk ke arah Hanna dengan sorot mata tajamnya.
Sebelum lelaki hidung besar melepas cengkraman kuat dirambut Ahreum, ia pun lantas membantingkan tubuh mungil Ahreum ke dinding dengan kasar membuat Ahreum sontak meringis kesakitan.
Begitu tubuh Rihanna terbebas dari jeratan tali yang mengikat tubuhnya, sejenak ia melirik ke arah Ahreum yang masih tampak meringkuk disudut ruangan dengan kepalanya yang menunduk. Membuatnya bertanya-tanya akan kondisinya saat ini, apakah Ahreum baik-baik saja’fikir Hanna lengkap dengan raut wajah khawatirnya.
“jalan yang benar!!” bentak lelaki hidung besar seraya mendorong keras tubuh Hanna agar berhenti melirik ke belakang.
Saat sang atasan mendekati ambang pintu tiba-tiba ponsel yang berada disaku jaketnya berdering membuat langkahnya terhenti sejenak, ia pun segera menerima panggilan tersebut setelah mengecek sebuah nama yang tertera dilayar ponselnya.
“Iya, saya sudah mendapatkannya bos. Saya akan membawa wanita milik Ansell padamu.” lapornya seraya memandangi tubuh Rihanna dari atas sampai bawah dengan sorot mata tajamnya.
Namun setelah beberapa saat mereka berdua berbincang, lelaki itu pun menjauhkan ponsel dari telinganya untuk mengubah mode telfon ke mode video call kemudian mengarahkan kamera ponselnya tepat ke wajah Rihanna yang tampak bingung dengan apa yang lelaki aneh itu lakukan padanya.
“maaf.. maaf bos, baik akan saya lakukan.” pungkasnya setelah selesai memarahi bawahannya yang ternyata salah membawa gadis yang diinginkan bos wanitanya.
“SIA***LAN BERANINYA KAU MAIN-MAIN DENGANKU!!” bentak lelaki tersebut begitu memasukan kembali ponsel ke dalam saku jaketnya, ia pun langsung memelototi Rihanna seraya mencengkram erat rahangnya lalu didorongnya tubuh Rihanna hingga menghantam dinding.
“bawa gadis itu!!” perintahnya lengkap dengan lirikan tajamnya yang mengarah pada gadis yang tengah meringkuk dipojokan dengan kepala yang masih menunduk.
Lelaki hidung besar itu pun melenggang dengan penuh percaya diri mendekati Ahreum tanpa tahu hal mengerikan apa yang akan menimpa padanya.
“yak! Berdiri cepat! Selagi aku masih baik padamu.” katanya seraya menendang-nendang kaki Ahreum lengkap dengan wajah songongnya.
“Hhahhaaa!!!” meski terdengar samar namun lelaki itu yakin jika suara cekikikan itu berasal dari gadis yang tengah menunduk tersebut.
Dengan kerutan didahinya ia pun mulai berjongkok untuk mengecek keadaan gadis yang mendadak mengeluarkan suara tawa aneh itu.
“yak! Apa kau sudah gila?” belum sempat jemarinya menyibak helai rambut yang menutupi wajah Ahreum, ia pun dikejutkan dengan gerakan kepala Ahreum yang mengarah padanya secara tiba-tiba kemudian disusul dengan tusukan benda tajam yang mengenai dada bidang lelaki tersebut.
__ADS_1
Tak sampai disitu, dengan seringaian diwajahnya Ahreum memutar benda tajam yang masih bersarang didada bidang lelaki itu hingga membuatnya meringis kesakitan dan tak memiliki kesempatan untuk berontak atau membalas perlakuan Ahreum karena rasa sakit yang tak tertahankan.
Mendengar raungan kesakitan anak buahnya, sontak baik Hanna maupun atasannya yang masih berada didekat pintu pun melirik kearah sudut serempak.
“yak! Apa yang kau lakukan?! Cepat bawa gadis itu kemari!” perintahnya yang masih belum mengetahui keadaan anak buahnya saat ini.
“bawa aku saja! Aku istri sah nya Ansell, gadis itu hanya..”
“diam kau wanita ja***!!!” bentaknya yang kembali beralih pada Rihanna seraya hendak melayangkan tamparan keras padanya.
Namun belum sampai telapak tangan kasar itu mendarat dipipi mulus Rihanna, Ahreum pun bangkit kemudian menendang kepala lelaki hidung besar hingga jatuh tersungkur tak berdaya dengan rembesan darah segar yang terus mengalir membasahi seluruh tubuhnya.
Sang atasan pun hanya bisa menelan ludah dan membelalakan kedua matanya setelah menyaksikan sendiri anak buahnya telah tumbang oleh gadis mungil yang sebelumnya tampak terlihat lugu dan lemah dimatanya beberapa saat lalu.
Begitu kedua mata mereka bertemu, Ahreum pun kembali menyeringai sebelum ia berlari dan mengambil kursi besi yang sebelumnya menjadi tempat ia diikat lalu dihantamkannya tepat ke kepala sang atasan. Karena gerakannya yang cepat membuat sang atasan hanya bisa pasrah menerima hantaman yang dilayangkan padanya.
Sehingga membuat dirinya pun kini terjatuh ke lantai dengan darah segar yang mengalir dari kepalanya akibat hantaman yang cukup keras dari kursi besi tersebut.
Tak puas dengan apa yang telah dilakukannya, Ahreum pun menurunkan tubuhnya lalu berjongkok didepan lelaki yang sudah tak berdaya itu. Lagi-lagi ia tersenyum menyeringai kala lelaki tersebut tengah merintih kesakitan. Ia pun mencengkram kerah baju laki-laki itu dengan kuat lengkap dengan tatapan mengintimidasinya.
“Oughh ****!! Sudah berapa kali ya aku berada diluar kendali, gawat! Kurasa aku akan dimarahi lagi oleh kakakku, hahaha!!” celetuknya seraya mengeratkan cengkramannya membuat ruang nafas lelaki tersebut pun sedikit terhambat.
“uhuukk.. uhuukk!!” lelaki itu terbatuk bersamaan dengan darah yang mengalir dari sudut mulutnya.
“aku.. juga tak ingin bertindak sejauh ini, tapi apa boleh buat kalian sendirilah yang memancing sisi lain dari diriku!” sambungnya lagi seraya melepas cengkramannya dari kerah baju lelaki tersebut, kemudian bangkit dan hendak kembali menghantamkan kursi besi yang masih berada disalah satu genggamannya tersebut.
Namun dengan cepat lengan Hanna menahannya disela isak tangis yang pecah dikala melihat karibnya melakukan aksi brutal pada lelaki yang telah sekarat.
“tidak.. ja.. ngan laku.. kan itu Ahreum. Ku mohon..” ucap Hanna terbata ditengah rasa takut yang menyelimuti dirinya, namun ia tetap tak ingin membiarkan karibnya pergi terlalu jauh atau bahkan sampai membunuh seseorang.
Berkat kalimat tulus dari Hanna, emosi Ahreum pun kini berangsur normal. Menyadari Ahreum sudah mengendurkan otot-ototnya, Rihanna pun membalikan tubuh Ahreum kemudian mengambil alih kursi besi tersebut lalu melemparkannya ke sembarang tempat.
Sebelum akhirnya ia memeluk Ahreum dengan penuh kasih sayang disela tangisannya yang semakin menjadi. Sedangkan Ahreum tampak terdiam dengan raut wajah datarnya.
***
__ADS_1
bersambung...