
Diaparteman Bougenville.
Setelah melalui hari yang panjang dan melelahkan mereka berdua pun akhirnya sampai diaparteman pada pukul 08:30. Tanpa banyak bicara mereka berdua lantas berjalan menuju kamar masing-masing untuk membersihkan tubuh mereka dari debu dan polusi udara yang menempel disekujur tubuhnya.
“aughhh.. dinginnyaaa..” ucap Ahreum ketika ia membuka pintu kamar.
Dirinya langsung disambut oleh angin malam yang berhembus kuat dari jendela yang hancur akibat ulahnya sendiri tadi pagi.
Tak ingin berlama-lama diambang pintu, ia pun langsung bergegas masuk ke dalam seraya melempar ransel kecilnya ke atas ranjang tidurnya, kemudian beralih menuju lemari pakaiannya untuk mengambil piyama serta pakaian dalamnya, sebelum akhirnya ia berlari kecil ke kamar mandi.
Begitu selesai melucuti pakaiannya 1 per 1 , perlahan ia berjalan menuju bath up yang sudah terisi air sabun yang melimpah. Yang sebelumnya memang sudah disiapkan oleh bi Ijah.
Ahreum pun masuk ke dalam bath up dengan bersenandung pelan.
“huuufftt.. hari yang sangat melelahkan..” gumam Ahreum yang kemudian menyandarkan tubuhnya disudut bath up seraya menengadahkan kepalanya ke langit-langit.
“apa Ansell baik-baik aja? Dia ga akan menyakiti dirinya sendiri seperti waktu itu kan.” gumamnya lagi seraya mulai menggosok-gosokan busa sabun ke tubuhnya yang mulus.
“jika yang dikatakan Hanna benar, wanita itu adalah kembaran Ilona. Kenapa Ansell sampai gak tau, bukannya mereka sudah bersama selama 5 tahun. Masa Ansell sampai gak tahu keluarga dari kekasihnya sih.” ocehnya lagi yang masih berusaha menyatukan potongan puzzle kisah cinta suaminya dimasa lalu.
Sementara Ahreum masih asyik bermain dengan sabun yang menyelimuti seluruh tubuhnya.
Took.. took.. terdengar suara ketukan pintu dari balik kamar mandi Ahreum, yang membuat Ahreum refleks menatap pintu kamar mandinya dengan 2 mata membulat sebab ia takut jika seseorang yang dari balik pintu itu tiba-tiba saja masuk ke dalam.
“kau masih mandi, Ahreum!” teriak Ansell yang masih berdiri didepan pintu.
“Iya, kenapa?” sahut Ahreum.
“kau mandi apa tidur sih! sudah hampir 40 menit kau didalam. Cepat keluar!” bentak Ansell lagi seraya mengetuk pintu beberapa kali sebelum akhirnya pergi.
“oke.. oke..” sahut Ahreum patuh yang akhirnya turun dari bath up untuk membersihkan seluruh busa yang menempel ditubuhnya.
Aparteman Rihanna.
Tampak Rihanna dan Nayeon tengah terduduk santai disofa panjang, dengan beberapa cemilan dan minuman cola diatas meja untuk menemani mereka menonton siaran televisi yang menayangkan drama mellow.
Iya, begitu keduanya sampai diaparteman, mereka pun langsung membersihkan tubuh mereka secara bergantian, kemudian berkumpul diruang tengah untuk menonton drama bersama.
__ADS_1
“Hanna..” panggil Nayeon pelan selagi fokus menonton drama.
“hmm..” sahut Rihanna seraya menyemil makanan ringan yang berada dalam pelukannya.
“sepertinya aku sudah tak memiliki tujuan hidup lagi, bagaimana ini?... aku merasa.. kosong.” lanjut Nayeon masih dengan nada sendunya.
“hmmm.. pada awalnya memang akan terasa seperti itu, melupakan kenangan selama 3 tahun bersama bukanlah hal yang mudah. Tapi cepat atau lambat rasa sakit itu pasti perlahan akan memudar.” Respon Hanna seraya melirik ke arah Nayeon yang tengah bergulat dengan isak tangisnya.
“tidak.. waktu tidak dapat menyembuhkan Hanna, kita hanya dipaksa untuk melupakannya.” Balas Nayeon.
“oke.. oke.. dengar ya Nay, aku mengerti sekali saat ini kau sedang patah sepatah patahnya, tapi bukan berati hidupmu benar-benar berakhirkan, buktinya kau masih bisa bernafas sekarang. Dan juga, kurasa Jeno bukan lelaki yang pantas kau tangisi sampai seperti ini.
Ku yakin kau juga tahu seberapa brengsrek dan pengecutnya Jeno, kau hanya membuang-buang waktumu jika terus menangisinya seperti ini Nay.”
“huaaa.. heeuuu.. hikksss.. hikksss..”
Bukannya membuat Nayeon lebih baik, Hanna malah semakin memancing emosional Nayeon hingga menangis sejadi-jadinya.
“aughh.. astaga.. oke.. oke.. menangis aja jika hal itu membuatmu lebih baik.” Ucap Hanna yang kembali memfokuskan pandangannya pada siaran drama ditengah ramainya suara tangisan Nayeon.
“lelaki bre***sek, susah payah aku terus bertahan selama 3 tahun ini. Aku yang selalu mengalah, aku yang selalu berpura-pura ga ngelihat kebrengsekannya, hanya demi untuk mempertahankan hubungan ini.
Selesai berkicau diatas sofa, ia pun berlari pergi menuju pintu keluar, yang sontak saja membuat Hanna terkejut karena takut Nayeon akan melakukan tindakan macam-macam.
Hanna pun ikut berlari keluar menyusul karibnya begitu melempar cemilan yang sedari dipeluknya ke atas meja.
“yak!! yak!! kau mau kemana?!” seru Hanna panik.
Begitu keluar aparteman, Hanna pun langsung berlari ke tepi pagar pembatas, ia pun sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan seraya mencengkram erat besi pagar pembatas.
“YAK!! JENO ALEXANDER!! APA KAU TAHU!! SEBERAPA BESAR AKU MENYUKAIMU!! AKU.. SUNGGUH MENGINGINKANMU SAMPAI RASANYA MAU MATI!!
AKU ADA DISINI!!
TAPI KENAPA?!! KENAPA KAU SELALU MENYURUHKU PERGI!!” racau Nayeon ditengah gelapnya malam.
“YAK!! BERISIK!! APA KAU SUDAH GILA!” sahut seseorang dari lantai bawah yang membuat Rihanna langsung membungkam mulut karibnya itu sebelum kembali meracau.
__ADS_1
“aiisshh.. sudah hentikan kau akan membangunkan seluruh penghuni aparteman.” Kata Hanna seraya menarik paksa tubuh Nayeon kembali masuk ke dalam aparteman masih dengan 1 tangannya yang membungkam mulut Nayeon kalau-kalau gadis yang tengah patah hati itu kembali melancarkan aksi meracaunya.
***
Kembali ke aparteman Bougenville.
“masak apa?” tanya Ahreum seraya berjalan santai menuju area dapur dengan handuk kecil yang masih melilit diatas kepalanya.
“hanya menghangatkan masakan bi Ijah aja.” Sahut Ansell yang kemudian mematikan kompor gas lalu menuangkan sup nya ke dalam mangkuk yang berada dipinggir kompor.
“ohh..” balas Ahreum seraya duduk dikursinya dan memandangi beberapa hidangan diatas meja yang sudah dihangatkan sebelumnya oleh Ansell.
“kau belum mengeringkan rambutmu.” Ucap Ansell seraya meletakan mangkuk sup diatas meja.
Ia pun lantas duduk dikursinya dan hendak memulai makan malamnya bersama Ahreum.
“belum, nanti juga kering sendiri.” respon Ahreum seraya membalikan piringnya.
“kenapa gak ikut menginap diaparteman Hanna?” lanjut Ansell seraya mengambil piring Ahreum kemudian mencidukan nasi ke piringnya.
“kau takut aku akan berbuat macam-macam?” tebak Ansell yang kemudian meletakan kembali piring Ahreum yang sudah berisikan nasi, lalu beralih pada piringnya sendiri.
“amm.. hehee aku mau sup ayamnya dong.” Pinta Ahreum ketika Ansell sudah mengisi piring miliknya.
Ansell pun mendekatkan mangkuk sup ke dalam jangkauan Ahreum agar Ahreum bisa mengambilnya sendiri sesuai kebutuhan.
“apa kau juga melihatnya?” tambah Ansell lagi setelah menambahkan beberapa lauk pauk ke dalam piringnya.
“melihat? Siapa?” tanya Ahreum disela kunyahan pertamanya.
“wanita bergaun hitam yang memegang bucket bunga.” Jelasnya.
“he’emm, kenapa memangnya?” jawab Ahreum.
“bukankah dia terlihat seperti..”
“wanita yang kau selamatkan digedung tua itu.” potong Ahreum.
__ADS_1
Bersambung...