
Sementara itu diaparteman Rihanna.
Usai menyantap makan malam diresto yang berada didepan SMA Rihanna dulu, mereka bertiga pun lantas kembali pulang, karena merasa sudah cukup lelah juga dengan aktivitas yang telah mereka lalui hari ini.
Namun sebelum benar-benar pulang ke apartemannya Abi memutuskan untuk mampir sebentar diaparteman kekasihnya itu.
Lain hal nya dengan Nayeon yang langsung masuk ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya dari polusi udara yang melekat ditubuhnya. Rihanna lebih memilih berjalan menuju dapur hendak membuatkan teh hangat untuk dirinya dan Abi, serta susu strawberry untuk karibnya yang kini tengah menikmati guyuran shower dikamaar mandi.
“Hanna!!” panggil Nayeon dari dalam kamar mandi yang membuat aktivitas mengucek teh terhenti.
Hanna pun melirik ke arah pintu kamar mandi yang berada di sisi kirinya.
“mana piyamamu?” teriak Nayeon kembali yang membuat Hanna pun menghembuskan nafas kasarnya.
“kenapa tak kau bawa dulu salinmu sebelum masuk ke kamar mandi?!” sahut Hanna yang kembali mengaduk teh manis dan susu yang berada diatas meja.
“aku lupa! Kau kan tahu, jika dirumah semua kebutuhanku akan disiapkan oleh bi Sumi.” Katanya lagi.
“aughhh!! Dasar gadis manja.” Celetuk Hanna yang kemudian membawa baki yang sudah berisikan 2 gelas teh hangat dan 1 gelas kecil susu strawberry kesukaan karibnya.
“cepat yaa!! Aku sudah mau selesai!” teriak Nayeon kembali dengan suara bergema dikamar mandi.
Hanna hanya menggeleng kepala seraya berjalan santay menuju ruang tamu, dimana kekasihnya tengah terduduk disofa sembari menikmati acara yang tengah tayang di layar televisi.
“kakak suka acara komedi?” tanya Hanna seraya meletakan 2 gelas teh hangat diatas meja dan melirik sesaat ke arah televisinya yang tengah menayangkan acara komedi lapor pak.
“hmm..” sahut Abi lengkap dengan senyuman manisnya seraya mengambil teh hangatnya begitu Hanna meletakannya diatas meja.
“makasih ya.” Lanjut Abi seraya meniup teh hangatnya sebelum menyeruputnya beberapa kali.
Hanna pun membalas rasa terimkasih Abi dengan sebuah senyuman tulus di wajahnya. Sebelum kembali menarik langkah menuju kamarnya.
Selain ingin meletakan susu hangat milik karibnya, ia pun berjalan menuju lemari untuk mengambilkan piyama pesanan karibnya itu. Lalu kembali keluar dan berjalan menuju dapur.
Sebelum memberikan piyama pada karibnya dikamar mandi, ia mampir sejenak ke meja dapur dan meletakan baki yang tengah dipegangnya.
“Nay.. ini piyamanya.” Ucap Hanna seraya mengetuk pintu kamar mandi beberapa kali.
__ADS_1
Sampai Nayeon pun membukakan pintunya sedikit dan menjulurkan tangannya keluar untuk mengambil piyama yang dibawakan Rihanna. Kemudian menutup kembali begitu tangannya sudah menyambar piyama yang akan dipakainya.
“hmm.. (lagi-lagi Hanna hanya menggeleng kepalanya)
Aku sudah meletakan susu hangatmu di atas bupet disamping tempat tidur.” Ujar Hanna sebelum ia meninggalkan tempatnya dan kembali bergabung diruang tamu bersama kekasihnya.
“hari ini apa saja yang kau lakukan?” tanya Abi begitu Hanna mendudukan bokongnya disofa.
“hanya merawat bayi besar itu saja. Aku benar-benar lelah sekali.” keluhnya dengan diakhiri hembusan nafas beratnya. Ia pun lantas membaringkan tubuhnya disofa dengan paha Abi yang menjadi bantalannya.
Tak merasa keberatan Abi hanya tersenyum tipis kala kekasihnya itu tengah mencari kenyamanan dipangkuannya dengan menggesek-gesekan pipinya.
“kau sudah berusaha dengan baik Rihanna..” respon Abi seraya membelai rambut kekasihnya itu lembut.
“bisakah aku tidur seperti ini sampai besok pagi?” celetuk Hanna seraya memejamkan kedua matanya.
Abi pun terkekeh masih sembari mengelus kepala Hanna. “aku harus pulang Hanna.” Ucap Abi ditengah tawa renyahnya.
“menurut kakak, apa mungkin akhirnya Nayeon bisa move on dari Jeno. Mengingat obsesinya selama ini terhadap Jeno, kurasa Nayeon akan melakukan apapun agar bisa kembali pada Jeno.” Ucap Hanna yang kembali membuka matanya untuk mengembangkan percakapan ringan diantara mereka berdua.
“hmm.. hal itu tergantung dari keinginan nona Nayeon sendiri.” sahut Abi.
Gadis yang malang, padahal dia sudah berubah banyak untuk menjadi kriteria gadis yang diinginkan Jeno.
Dulu.. Nayeon tidak sekurus dan sebening sekarang. Tapi semenjak dia menyukai Jeno dia mulai merubah pola makan dan juga melakukan perawatan pada tubuhnya.
Seperti yang bisa kakak lihat sekarang, dia berubah menjadi gadis yang sangat cantik bahkan aku pun sedikit iri padanya.” Celoteh Hanna panjang lebar.
“tapi kurasa kau lebih cantik." puji Abi yang membuat kedua pipi Hanna bersemu merah.
“benarkah?" sahut Hanna seraya bangkit dari tidurnya kemudian mendekati wajah Abi seolah hendak menerkamnya, namun tentu saja menyadari situasi yang semakin memanas Abi pun memundurkan tubuhnya sedikit ke belakang tanda penolakan keras darinya.
"apa yang kalian lakukan?" ujar Nayeon yang baru saja keluar dari kamar mandi, ia sedikit tekejut karena mendapati interaksi yang cukup intens antara Hanna dan Abi.
Hanna pun hanya meliriknya sinis, sementara Abi masih dengan posisi siaga, kalau-kalau Hanna kembali bertindak lebih jauh.
"mau ci**po*kan ya?" celetuk Nayeon polos seraya berjalan melewati ruang tengah dengan menggosok-gosokan handuk ke rambutnya yang masih basah.
__ADS_1
"kau punya hair drayer?" sambung Nayeon saat ia hendak mendorong handle pintu kamar, ia pun kembali membalikan tubuhnya dan menatap ke arah sepasang kekasih itu yang masih tetap berada diposisi sebelumnya.
"aissshh.. cari aja dikamar! ganggu aja!" dumel Hanna yang kemudian menarik tubuhnya dan kembali duduk dengan benar.
"ahh iya.. boleh aku tahu tentang kedua orang tuamu?
selama ini kau hanya bercerita tentang teman-temanmu aja, kau tak pernah menceritakan bagaimana kehidupanmu." lanjut Abi seraya kembali meraih teh hangatnya kemudian menyeruputnya selagi menunggu respon Rihanna.
"hmm.. bagaimana yaa aku menjelaskannya.” Respon Hanna seraya mengambil bantal kursi kemudian diletakannya diatas kakinya yang menyilang.
“keluargaku tidak jauh beda dengan keadaan Nayeon saat ini. Ada tapi seperti yang tidak ada hehee.. apa kakak mengerti maksudku?
Jadi gini, secara fisik kita memang masih memiliki keduanya tapi tidak dengan kehadirannya. Semuanya berawal dari bangkrutnya perusahaan Daddy, Daddyku ditipu oleh teman terdekatnya sendiri. Hal itu yang membuat Daddy depresi dan mulai mabuk-mabukan setiap hari.
Ditambah Mami yang hanyalah seorang wanita biasa yang tidak berpendidikan tinggi seperti Daddy, hanya bisa pasrah dan menerima keadaan saat Daddy berada dititik terendah.
Darisitulah awal perseteruan terjadi diantara kedua orang tuaku, Daddy selalu menyalahkan Mami karena tidak bisa diandalkan dalam hal apapun. Bahkan memasak pun sering sekali keasinan, apalagi diandalkan dalam berdiksusi soal bisnis.
Sampai pada suatu ketika Daddy bertemu dengan seorang wanita yang dulu pernah menjadi kekasihnya waktu kuliah di Inggris.
Wanita itu ternyata masih menyimpan rasa pada Daddy, menyadari memiliki kesempatan yang bagus untuk memecah belah kedua orang tuaku, wanita itu pun menawarkan sebuah perusahaan, mansion dan apapun yang Daddy inginkan.
Asal bersedia menikah dengannya lalu meninggalkan Mami dan aku.
Tentu saja hal itu langsung disambut dengan senang hati oleh Daddy.
Tak lama setelah kepergian Daddy, kondisi mental Mami pun berangsur memburuk hingga beberapa kali aku mengantarnya ke psikiater ditengah kesibukanku menghadapi ujian sekolah.
Aku juga lelah..”
Menyadari Hanna yang mulai emosional Abi pun meraih tangan Hanna dan menggenggamnya erat untuk menguatkan kekasihnya itu.
“tapi.. aku harus tetap kuat demi Mami. Mamiku yang malang.. hikss.” Isaknya yang kemudian menghambur ke pelukan kekasihnya sebab sudah tak kuat lagi menahan bulir air mata yang berlomba keluar dari pelupuk matanya.
"hingga Mami pun harus berakhir dirumah sakit jiwa.. Hiksss.."
***
__ADS_1
Bersambung...