
Keesokan harinya.
Tepat saat Carrisa keluar dari pintu kaca otomatis yang terhubung ke ruang operasi. Seorang perawat wanita bergegas menghampirinya. Lengkap dengan raut wajah paniknya ia menghampiri Carrisa yang bahkan belum sempat bernafas begitu menyelesaikan operasi rumitnya yang memakan waktu sampai semalaman penuh.
“dok.. dokter Rissa.” Seru perawat tersebut yang membuat Carrisa mengerutkan dahinya ditengah peregangan yang dilakukannya.
“Ada apa sih? Rachel,” sahut Carrisa seraya berjalan pergi seakan tidak terlalu memperdulikan kepanikan perawat tersebut.
“pak Ansell, dok..” barulah setelah perawat yang bername tag kan Rachel itu menyebut nama putranya, Carrisa lantas berhenti dan menunggu lebih lanjut apa yang hendak disampaikan perawat Rachel.
“pak Ansell dipukuli oleh seorang pria dikoridor depan ruangan VVIP.” Papar perawat Rachel yang berhasil membuat pupil Carrisa membesar bersamaan dengan mulutnya yang menganga.
“Apa?
Kok bisa sih, apa yang terjadi memangnya?” seru Carrisa yang benar-benar terkejut mendengar berita mengenai putranya tersebut.
“Saya juga kurang tahu pasti dok, perawat bagian VVIP hanya memberitahu saya jika sebelumnya pak Ansell memukuli dokter Elios, kemudian ada seorang pria yang keluar dari salah satu ruangan dan langsung memukuli pak Ansell tanpa ampun. Sampai pak Ansell babak belur.”
“Apa?! Dimana.. dimana pria itu sekarang, hah?!” amuk Carrisa yang tak terima jika putranya dirisak oleh orang lain, Carrisa berkacak pinggang lengkap dengan tatapan tajamnya menunggu perawat Rachel memberitahukan keberadaa pria tersebut.
“saya rasa masih berada diruang VVIP no 1 dok.”
Segera setelah perawat Rachel menginformasikan keberadaan pria yang telah merisak putranya, dengan langkah panjang Carrisa pun bergegas menuju lift yang berada diujung lorong, bersama perawat Rachel yang juga mengikutinya dari belakang.
Didalam lift, Carrisa terkejut kala tersadar jika perawat Rachel ternyata malah mengikuti dirinya hendak naik ke lantai VVIP.
“Apa yang kau lakukan disini?
Kau tidak bekerja,” ujar Carrisa seraya melirik sinis ke arah perawat tersebut yang kini tengah nyengir ke arahnya.
“hhehe. Shift ku sudah lama berakhir dok,” responnya sembari cengengesan.
“huffftt.. lantas kau tak pulang,” sambung Carrisa seraya menyilangkan kedua tangan diatas dadanya.
“hehheee,”
...****************...
Sementara itu didepan ruang inap Ahreum.
“Yak! Kau masih disini, sudah ku bilangkan untuk sementara sebaiknya kau tak menampakan dirimu didepan keluarga Ahreum,” kata Rihanna setengah berbisik seraya menarik paksa lengan Ansell kemudian dibawanya pergi menjauh dari area depan ruangan Ahreum.
“Tapi aku ingin memastikan lebih dulu keadaan Ahreum, apa dia baik-baik saja,” kekeuh Ansell yang berusaha melepaskan diri dari cengkraman kuat karibnya.
__ADS_1
“Aiisshh…, kau ini keras kepala sekali. Di dalam bukan hanya ada Bennedict tapi om Seno pun sudah datang tadi malam.
Kondisi Ahreum baik, hanya saja dia masih terlalu lemah untuk bicara banyak, dan sekarang pun dia masih tertidur.
Aku akan memberitahumu jika kak Benn dan om Seno sudah pergi, oke.” Lanjut Rihanna kembali seraya tetap mengencangkan genggamannya ke tangan Ansell.
Begitu Rihanna dan Ansell berbelok menuju lift lain yang berada disisi lainnya, pintu lift yang membawa Carrisa dan perawat Rachel pun terbuka.
Carrisa mempercepat langkahnya menuju ruangan VVIP nomer 1 yang sudah disebutkan oleh perawat Rachel sebelumnya.
Dannn…,
Betapa terkejutnya Carrisa kala mendapati ternyata besannyalah yang berada diruangan tersebut, masih dengan tangannya yang memegangi handle pintu ia sampai tak dapat berkata-kata saat matanya telah sampai pada gadis yang terbaring diatas ranjang rumah sakit dengan kondisi yang cukup tragis.
“Mau apa kau kesini?!” pekik Seno yang langsung bangkit dari kursi kecil yang berada disamping ranjang putrinya.
“ti.. tidak..
Sebenarnya apa yang terjadi mas?” kaget Carrisa yang lantas melangkahkan kakinya perlahan memasuk ruangan, sedang perawat Rachel lebih memilih menunggu didepan ruangan.
Iya, mengetahui jika ini adalah masalah keluarga, ia pun mengurungkan niatnya untuk nimbrung.
“Jadi putramu yang brengsek itu belum menceritakannya padamu?!” pekik Seno dengan tatapan menyalaknya ia mencoba menahan emosi dengan mengepalkan kedua tangannya.
“Tenang pah.. tenangkan dirimu.” Ucap Enzy lembut seraya bergegas menghampiri keberadaan suaminya dan mencoba menggenggam lengan suaminya.
“Dimana sekarang lelaki pengecut itu hah?!
Dia mau lari dari tanggung jawabnya?! Bawa dia kemari sekarang juga.” Kecam Seno yang membuat Carrisa membeku begitu mengetahui perbuatan keji dari putranya terhadap istrinya sendiri.
“ba.. bagaimana mungkin, Ansell yang melakukan hal ini pada Ahreum…,” Carrisa bergumam seraya berjalan mendekati pinggiran ranjang menantunya yang malang.
“bagaimana mungkin?!
Kau tanya saja sendiri pada putra arroganmu itu. Sudah, cukup! Aku tak ingin pernikahan ini terus berlanjut, begitu putriku pulih aku akan mengurus perceraiannya sesegera mungkin!” tegas Seno mantap.
“tidak.. mas..., ku mohon jangan seperti ini. Kurasa ini ada kesalahpahaman, karena beberapa hari yang lalu aku melihat hubungan mereka baik-baik saja. Mereka tampak bahagia dan saling mencintai, mas. Pasti ada sesuatu yang terjadi, apa gak sebaiknya kita bicarakan hal ini baik-baik dulu.” Sahut Carrisa yang tetap ingin mempertahankan pernikahan putra semata wayangnya itu.
“Kesalahpahaman?!
Apa kau tak bisa melihat bagaimana kondisi putriku saat ini! Kau sebut semua luka yang didapatkan putriku karena kesalahpahaman?!
Sebaiknya kau pergi dari sini, sebelum aku hilang kendali,” Perintahnya.
“tapi mass…,” rengek Carrisa yang mulai menitikan air amta kesedihannya.
__ADS_1
Karena tak ingin membuat suasana semakin tak terkendali, akhirnya Enzy pun berlari menghampiri Carrisa kemudian menggiringnya keluar dari ruangan putrinya.
...----------------...
“Sudah cukup, Riss, sebaiknya kau pergi dulu, sekarang bukan waktunya untuk beragumen dengan mas Seno, dan juga kemarin Bennedict sudah menghajar habis-habisan putramu, apa kau tahu?” ucap Enzy setengah berbisik ditengah perjalanannya membawa keluar karibnya yang kini tengah emosional.
“Iya, aku kira dia memang dirisak oleh pria yang tidak dikenal, hikksss…, aku tak tahu jika kejadiannya seperti ini. Maafkan aku Enzy, aku benar-benar malu padamu, hiksss…, menantuku yang malang,” racau Carrisa setelah menutup kembali pintu ruangan putrinya.
“Sudah.. sudah.. benar katamu, sebaiknya kita cari akar permasalahannya dari kejadian ini. Aku akan bicara dengan Ahreum begitu ia lebih baik. Namun, jika benar Ansell telah melakukan KDRT, kurasa perpisahan memang jalan yang terbaik untuk keduanya.
Pernikahan mereka pun terjadi karena unsur keterpaksaan dari kita bukan, egois rasanya jika kita tetap mempertahankan keinginan kita, sedanga putra putri kita tidak benar-benar saling mencintai.”
“tapi mbaa.. aku yakin sekali jika mereka berdua saling mencintai, hikssss…., aku bisa melihat kehangatan yang terpancar dari kedua mata putraku ketika ia melihat Ahreum. Dan aku juga sudah terlanjut menyayangi Ahreum sebagaimana aku menyayangi putriku sendiri, hiksss…,” teguhnya ditengah isak tangis yang sudah tak terbendung lagi, hingga Enzy pun memeluk dan mengusap punggungnya lembut untuk menenangkan karibnya yang tengah emosional.
...----------------...
Di loby rumah sakit.
“yak! Kak Abi kemana aja sih, sampai Ansell keliaran kau tak tahu,” gerutu Rihanna saat Abi tiba-tiba muncul dan berjalan menghampiri keduanya.
“Iya maaf, tadi dia memintaku untuk membelikan sarapan dikantin rumah sakit, tapi setelah aku berbalik dia sudah tidak ada,” sahut Abi.
“Hmm…, sebelum pulang apa ga sebaiknya bawa dia ke UGD dulu? Kurasa dia belum mendapat perawatan .” tambah Rihanna seraya melirik kea rah Ansell yang tampak murung.
“Aku sudah memaksanya kemarin, tapi dia malah mengamuk di UGD.” Timpal Abi yang ikut memandangi kondisi tragis karibnya setelah babak belur dihajar kakak iparnya kemarin.
“Yak! Ansell dengar!” ucap Hanna seraya menyilangkan kedua tangan diatas dadanya.
“Om Seno akan kembali keluar kota nanti malam, begitupun dengan kak Benn karna dari semalam dia sudah banyak mendapat telfon dari atasannya kurasa sore nanti dia juga akan pergi.
Aku akan membawamu menemui Ahreum, tapi sebelum itu kau harus mendapat perawatan terlebih dahulu. Mengerti!
Kau tak mau kan Ahreum melihatmu dengan kondisi mengenaskan seperti ini!” tukas Rihanna lengkap dengan sorot mata tajamnya.
“Oke,” patuh Ansell yang membuat Abi pun melongo, lantaran tak menduga jika Ansell bisa jinak dihadapan orang lain.
“Bagus, uuuhh…, anak baik,” puji Rihanna yang kemudian mengusap-usap kepala Ansell layaknya seorang kakak yang bangga pada adiknya lelakinya, seraya pergi berlalu meninggalkan keduanya.
“Aiissshhh!! Yak!! Aku lebih tua darimu tahu!!” geram Ansell seraya memutar tubuhnya dan memelototi punggung Rihanna yang kian menjauh dari hadapannya.
“Sudah…., ayo kita ke UGD.” Ajak Abi seraya merangkul karibnya dan membawanya ke UGD untuk mendapatkan perawatan secara intensif.
...****************...
Bersambung…
__ADS_1