
“Aaammmm.. buburnya enak banget, kau yang membuatnya?” tanya Ahreum begitu mencoba 1 suapan besar bubur ayam yang berada dimangkuknya lengkap dengan menggoyang-goyangkan kepalanya tanda jika dirinya benar-benar menikmati makan malamnya saat ini.
Ansell hanya bisa mengangkat 1 alisnya melihat tingkah konyol dari istrinya tersebut seraya mencoba menahan tawa kecilnya.
“kau yakin bereaksi seperti itu hanya karena rasa bubur ayamnya? Bukan karena hal lain lagi yang membuat hatimu senang?” celoteh Ansell yang kemudian mulai ikut menyantap makan malamnya.
Tidak seperti Ahreum yang menyantap bubur buatan Ansell, Ansell menyantap makan malam buatan bi Ijah yang sudah dihangatkan oleh dirinya sebelumnya.
“hah? Hidupku kan memang selalu dipenuhi kebahagiaan.” Katanya lagi lengkap dengan raut wajah yang berseri-seri.
Ansell menggeleng kepalanya dan kembali fokus pada makan malamnya.
“ahh iya, kau sudah memperbaiki kaca jendela kamarku ya?” sambung Ahreum yang ingin mengembangkan percakapan diantara mereka dengan mulut yang dipenuhi makanan.
“Iya. Kenapa?
Tak suka? Kau ingin tidur dikamarku lagi?” respon Ansell yang dipenuhi tanda tanya disetiap kalimatnya.
“Iya.” Jawab Ahreum yang membuat Ansell kembali menaikan 1 alisnya.
“kau gadis yang terus terang sekali Ahreum. Biasanya kalau gadis lain, mereka akan bertingkah malu-malu tapi mau, atau berkata tidak tapi didalam hatinya iya.” Papar Ansell dengan diiringi tawa renyahnya.
“Jadi Ilona gadis yang seperti itu ya?” celetuk Ahreum yang mulai bad mood lalu berhenti menyantap buburnya.
Menyadari perubahan sikap Ahreum yang seperti sudah tidak nafsu makan lagi, iya dirinya kini hanya mengaduk-aduk buburnya dengan bibir yang sedikit dimanyun-manyunkan. Membuat Ansell pun menghela nafasnya sejenak sebelum meraih punggung tangan Ahreum dan mengusapnya lembut.
“kau mau membantuku mengemas semua barang-barang Ilona besok?” ucap Ansell dengan tatapan hangat yang mengarah pada manik istrinya.
Mendengar hal tersebut sontak membuat Ahreum mengangkat wajahnya dan menatap suaminya yang masih menunggu respon darinya.
Ahreum pun mengangguk antusias dengan senyuman lebar yang menghiasi wajah mungilnya. Melihat reaksi menggemaskan dari istrinya itu Ansell pun lantas mengusap pipi Ahreum dengan ibu jarinya lengkap dengan senyuman hangat yang membuat Ahreum merasa sangat-sangat bahagia.
***
Keesokan harinya.
__ADS_1
Diaparteman Rihanna, lebih tepatnya dikamar yang bernuansakan biru laut. Keduanya masih asyik berada dalam alam mimpinya sampai alarm yang berada diatas bupet pun berbunyi nyaring, membuat Rihanna terhentak kemudian menjulurkan lengannya keluar dari balik bad cover untuk mencari keberadaan alarm dan mematikannya.
“aughhh!! Siapa sih yang nyalain alarm pagi-pagi buta begini.” Dengus Hanna yang kemudian memutar tubuhnya ke sisi lain setelah berhasil membuat alarm miliknya berhenti.
“aku..” sahut Nayeon yang kemudian bangkit dari tidurnya dan bergegas pergi menuju lemari milik Hanna, ia mengambil pakaian dalam baru milik karibnya serta setelan training berwarna pink yang tentunya milik Rihanna juga.
“apa yang mau kau lakukan!” seru Hanna yang langsung terbangun dan memperhatikan semua gerak-gerik karibnya itu yang tampak aneh baginya.
“aku hanya ingin berjogging. Kurasa sudah banyak lemak yang bersarang diperutku.” Celoteh Nayeon seraya berjalan keluar dari kamar dengan raut wajah tanpa ekspresi sedikitpun.
“tidak.. tung..” seru Rihanna seraya beranjak dari ranjang dengan terburu-buru sampai kakinya pun terpeleset bad cover dan terjatuh disamping ranjang.
“augh sial!!” umpat Hanna pada dirinya sendiri seraya mengusap bokongnya yang terbentur keras dengan lantai.
“tunggu Nay..” teriak Hanna kembali yang kemudian kembali bangkit dan berlari kecil mencoba menyusul langkah karibnya yang sudah meninggalkan kamar beberapa saat yang lalu.
“Nay.. kau yakin hanya akan berolahraga kan?” tanya Hanna.
Nayeon hanya mengangguk pelan ditengah meneguk air mineral yang diambilnya dari lemari pendingin.
“dimana?” tanya Hanna yang kini sudah berada dihadapan karibnya itu.
“kenapa?
Apa kau fikir aku akan berbuat hal buruk? Seperti, bunuh diri misalnya.” Celetuk Nayeon ngasal seraya kembali meraih setelan training nya yang sebelumnya ia letakan diatas meja.
“YAK!! Jangan sembarangan kalau ngomong, astaga.. baiklah kalau begitu aku ikut.” Seru Hanna, karena merasa tidak memiliki pilihan lain selain menemani karibnya itu untuk sementara ini.
Mengingat obsesi tingginya terhadap Jeno, membuat Hanna benar-benar khawatir kalau-kalau Nayeon berbuat hal buruk.
Selain menyakiti dirinya sendiri, bisa saja Nayeon nekad menguntit Jeno diam-diam tanpa sepengetahuannya dan membuat keadaan semakin rumit bagi keduanya.
Dikamar mandi.
Setelah Nayeon melucuti 1 per 1 pakaiannya, ia pun lantas berjalan menuju pancuran shower.
Byuurrrrr!!...
Tak tanggung-tanggung Nayeon langsung mengatur volume keran shower sampai posisi full hingga menghasilkan bunyi yang sangat nyaring begitu guyuran air menghantam tubuh dan lantai kamar mandi.
__ADS_1
Ia meletakan 1 tangannya didinding seraya menundukan kepalanya, mencoba merasakan setiap tetes guyuran shower membasahi sekujur tubuhnya yang kini mulai bergetar.
“hikksss.. hikssss..” tangisnya pun pecah kala tak sanggup menahan rasa sakit yang terus menghantam hatinya setelah ia kembali tersadar jika hubungannya sudah benar-benar berakhir dengan kekasih yang selalu ia cintai selama 3 tahun terakhir ini.
Meski ia sudah berusaha untuk menerima keputusan sepihak Jeno, namun tetap saja memory tentang lelaki yang dicintainya itu selalu berputar-putar dalam fikirannya, membuat dirinya kembali terjatuh dan tak bisa menjalani hidupnya dengan normal.
Terlebih lagi penyebab kandasnya hubungan mereka adalah keadaan keluarga Nayeon yang tak sebanding dengan keluarga kekasihnya. Bak bumi dan langit yang mustahil sekali menyatu.
Semakin terasa menyesakkan karena menyadari jika dirinya hanyalah terlahir dari keluarga gangster dan ibu yang entah berada dimana. Membuat dirinya merasa sangat kecil sekali dihadapan kekasihnya itu.
Lantas siapakah yang harus disalahkan?
“aku.. juga ingin terlahir dari keluarga terpandang sepertimu Jeno. Memiliki Ayah dan Ibu yang bisa ku banggakan pada teman-temanku. Tapi.. apa yang bisa ku lakukan ketika takdir menyedihkan ini sudah berpihak padaku.
Aku harus bagaimana Jen?..” lirihnya ditengah isak tangis memilukannya yang teredam oleh suara nyaring dari guyuran shower membuat dirinya merasa bebas mengekspresikan tangisannya dan tak perlu khawatir karibnya diluar akan mengetahuinya.
Sementara itu dikamar.
Setelah mengaliri kerongkongannya dengan sisa air mineral yang diminum oleh Nayeon, Hanna pun lantas kembali ke kamarnya untuk mengecek ponsel miliknya yang berada dibalik bad cover.
Benar saja ternyata memang ada notif telfon tidak terjawab beberapa menit lalu, yang membuatnya mengerutkan dahi untuk beberapa saat sebelum memutuskan untuk menelfon kembali seseorang yang mencoba menghubunginya itu.
“Iya halo. Kenapa kak?
Tumben pagi-pagi sudah telfon.” Ujarnya begitu telfon tersambung seraya mendudukan bokongnya ditepi ranjang.
“apa yang kau rencanakan hari ini?” tanya seseorang disebrang sana, yang tak lain adalah Abi, kekasih dari gadis yang tengah membersihkan lubang hidungnya dengan jari kelingkingnya.
“ammm..” sahutnya yang kemudian menarik jari kelingking dan memindainya beberapa saat sebelum ia menepis kotoran dihidungnya dengan ibu jarinya.
“pagi.. siang.. atau malam?
Kalau pagi aku mau menemani Nayeon jogging. Siang dan malam aku belum tahu mau melakukan apa, hanya yang pasti aku belum bisa membiarkan Nayeon sendirian.” Sambungnya lagi seraya memundurkan tubuhnya hingga ke sandaran ranjangnya dan mencari posisi ternyamannya.
“oke, boleh aku ikut bergabung?”
“hehee, padahal baru kemarin kita bertemu. Kakak udah kangen aja, boleh dong kenapa ngga!” seru Hanna kala kekasihnya itu mengajukan diri untuk bergabung menghabiskan harinya bersama.
“lusa aku akan pergi ke Amerika bersama pak Ansell. Mungkin akan memakan waktu kurang lebih 1 atau 2 minggu sebab ada banyak hal yang perlu diselesaikan. Itu sebabnya hari ini aku ingin menghabiskan waktu bersamamu. Rihanna.” Jelas Abi yang membuat kedua pupil Rihanna sedikit membesar.
__ADS_1
Bersambung...