Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO

Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO
Episode 112


__ADS_3

“jadi, bagaimana dengan jambret ini? mau dipanggilkan ambulan?” sela Hanna ditengah ketegangan yang terjadi, ia ingin menyadarkan teman-temannya akan kedua jambret malang yang terkapar tak berdaya diatas aspal.


Tak ingin ambil pusing Ansell malah melongos pergi gitu aja menuju keberadaan mobilnya seakan tidak menanggapi pertanyaan Rihanna. Kemudian menancap gas nya untuk melanjutkan perjalanannya menuju aparteman Rihanna yang tidak jauh dari keberadaannya saat ini.


Sementara ketiga gadis itu dibiarkannya berjalan.


“biarin ajalah, gak lama lagi juga pasti bangun kok.” Sahut Nayeon yang kemudian menarik langkah meninggalkan kedua temannya yang masih saling tatap.


“sebaiknya kita panggilkan ambulan dulu, bagaimana kalau mereka geger otak atau semacamnya.” Ucap Ahreum seraya merogoh ponsel dari dalam saku celana roknya kemudian mencoba mengetikan 3 angka dilayar ponselnya.


Namun saat Ahreum mendekatkan ponselnya ke telinga, Hanna pun berjalan cepat menuju keberadaannya kemudian merampas paksa ponselnya dan memutus panggilan yang tengah berlangsung.


“gausah khawatir pria-pria tua itu tidak akan mati kok, setidaknya mereka masih pake helm untuk melindungi kepalanya.” Celetuk Hanna seraya berjalan menyusul Nayeon serta memasukan ponsel Ahreum ke dalam saku celananya.


Meski sebenarnya Ahreum merasa kasihan pada pria-pria malang tersebut, namun mau bagaimana lagi ia pun hanya bisa menghela nafasnya sebelum berlari kecil menyusul Hanna yang telah meninggalkannya.


“yak! tunggu akuu!” seru Ahreum.


“hey teman-teman!!” seru seseorang dari belakang yang membuat ketiga gadis itu refleks memutar tubuhnya untuk memastikan siapa yang memanggilnya.


“Jeno.” gumam Hanna dan Nayeon serempak.


Jeno pun lantas berlari keci menghampiri ketiganya masih dengan senyum lebar yang merekah diwajahnya.


“kau kenapa?” tanya Jeno yang langsung menyadari luka goresan dikedua lutut Nayeon serta rambutnya yang kacau habis berlarian mengejar para jambret.


“ahh ini.. tadi aku terjatuh.” Sahut Nayeon seraya melirik ke arah kedua lutunya sesaat sebelum kembali menatap Jeno.


“ayo, Ahreum, kalau lama-lama disini nanti kita jadi nyamuk.” Celetuk Hanna seraya menggaet lengan Ahreum kemudian berjalan mendahului sepasang kekasih tersebut.


“ciihh!! Bilang aja iri huh.” Balas Nayeon dengan diiringi tawa renyahnya.


“sudah, ayo aku gendong.” Kata Jeno sembari memposisikan tubuhnya dihadapan Nayeon kemudian dilanjut dengan menurunkan punggungnya.


“aku berat loh.” Ucap Nayeon yang tampak ragu, karena selama mereka berkencan Jeno belum pernah sekalipun menggendongnya.


“akan ku coba, ayo! Aku pegal nih.” Seru Jeno yang sudah tak tahan dengan posisinya saat ini.


Meski sebenarnya Jeno pun merasa ragu, namun ia tetap berusaha untuk menjadi pria sejati didepan kekasihnya tersebut. Begitu Nayeon telah naik ke punggungnya, Jeno pun langsung mengambil langkah panjang untuk menyusul kedua temannya.


“haaay!!” seru Nayeon kala Jeno berhasil menyamakan langkahnya dengan kedua karibnya.


“astaga!!” kaget Hanna saat mendapati Nayeon yang tengah digendong oleh Jeno.

__ADS_1


“aughhh, yak kau fikir hanya kau yang bisa main kuda-kudaan, kita juga bisa kali!” seru Hanna yang tak mau kalah kemudian bersiap untuk nemplok dipunggung Ahreum yang mungil.


“yak.. yak.. apa yang kau lakukan!” panik Ahreum saat Hanna hendak naik ke atas punggungnya.


“hhahaahaa..” terdengar lengkingan tawa Nayeon yang semakin membuat Hanna merasa panas melihat adegan romantic tersebut.


“gendong aku!” kata Hanna yang kemudian melancarkan aksinya, ia melompat ke punggung Ahreum yang bahkan belum memiliki persiapan yang matang.


“Aaawwww..”


Hingga keduanya pun terjatuh dan mendarat diatas aspal yang keras, membuat Nayeon kembali tertawa sembari terus mengejek Rihanna ditengah perjalanannya.


“Ahhhahahhaaa!! Kasihan sekali yang jomblo!! Gak bisa main kuda-kudaan.” ledek Nayeon.


“auughh sial!! Seharusnya aku tak membantunya tadi, dia masih menyebalkan aja.” Dumel Hanna seraya menepuk lututnya yang penuh debu.


“lagian kau ga sadar? Tubuhku itu lebih kecil darimu tau. Augghh!” gerutu Ahreum yang ikut menepuk lutuh dan sikunya yang kotor sehabis mencium aspal.


“iya.. iya maaf, mau ku gendong?” tawar Hanna sebagai permintaan maafnya, ia pun langsung menurunkan punggungnya didepan AHreum.


Dengan senang hati Ahreum pun naik ke atas punggung Hanna kemudian melingkarkan kedua tangannya dileher karibnya.


“yak! regangkan tanganmu, kau ingin mencekikku?” protes Hanna ditengah perjalanannya menyusul kedua temannya yang sudah jauh meninggalkannya.


“oke.. oke.. hehe maaf.” Katanya nyengir seraya melonggarkan kedua tangannya.


***


Menyadari ke 4 orang konyol itu telah tiba, termasuk istrinya sendiri ya, ia pun langsung mengalihkan pandangannya dari layar ponsel.


“apa yang kalian lakukan?” celetuk Ansell saat ke 4 nya datang dengan saling menggendong.


Begitu langkah Hanna sampai di depan Ansell yang menatapnya dengan tatapan aneh, ia pun lantas menurunkan Ahreum dihadapan suaminya.


Tak lama kemudian Jeno pun menurunkan kekasihnya sebab tujuan mereka telah sampai.


“kakimu masih terasa perih?” tanya Jeno seraya mengelus bagian atas kepala Nayeon lengkap dengan sorot mata teduhnya.


“astagaa aku ingin muntah mendengarnya, ayoo kita lets go.” Seru Hanna yang kemudian berjalan mendahului teman-temannya untuk masuk ke aparteman. Kemudian disusul dengan sepasang kekasih yang sedang akur saat ini yaitu Nayeon dan Jeno yang berjalan 1 langkah dibelakang Hanna.


“kau terluka?” tanya Ansell seraya memegang lengan Ahreum lalu memposisikannya tepat ke hadapannya agar ia bisa memindai seluruh bagian tubuh Ahreum.


“tidak, kita hanya bermain-main aja, ayoo masuk.” Ajak Ahreum yang langsung menggaet lengan suaminya tersebut untuk masuk menyusul ketiga temannya.

__ADS_1


Karena kedua temannya berjalan sangat lambat membuat Hanna harus memegangi tombol pause lift beberapa saat sampai kedunya pun bergabung ditengah-tengah mereka.


“ohh iya, btw.. ga ada yang bawa apapun gitu?” celetuk Hanna seraya melirik ke semua orang yang berada dilift seraya melipat kedua tangannya diatas dada.


“ahh iya, aku lupa. Tadinya setelah dari rumah sakit aku mau membelikanmu skincare cuma setelah balik lagi ke mobil aku lupa hehe. Nanti ya kita beli sama-sama.” Sahut Ahreum seraya berpindah ke dekat Hanna kemudian menautkan tangannya dan tersenyum semanis mungkin.


“ciihh!!” Hanna hanya bisa mendengus kesal serta membuang wajahnya ke arah lain.


“aku akan membelikanmu motor nanti, amm.. sebagai rasa terimakasihku juga karena sudah membantuku mengejar kedua jambret itu.” timbrung Nayeon dengan nada kakunya, sebab ia masih merasa canggung jika terlihat sok akrab dengan musuh yang kini sudah berganti menjadi seorang teman baginya.


“APA?! JAMBRET!” bentak Jeno lengkap dengan kedua bola matanya yang langsung mengarah pada wajah kekasihnya.


“aughh berisik sekali sih!” keluh Hanna.


“oke kalau gitu bisa belikan aku mobil juga ngga?” pinta Hanna lengkap dengan senyuman lebarnya.


“oh my god! Aku paling benci type orang yang seperti ini nih! Dikasih hati malah minta jantung.” Celoteh Nayeon yang langsung disambut gelak tawa oleh kedua temannya Hanna dan Ahreum.


Sementara Jeno masih tampak bingung dan ingin penjelasan lebih lanjut mengenai kejadian perjambretan tersebut, sedangkan Ansell kembali serius dengan ponsel pintarnya dan tidak menghiraukan hiruk pikuk yang terjadi disekelilingnya.


Pintu lift pun terbuka, secara bergantian mereka pun keluar dari lift.


“tak ada yang mau menjelaskannya padaku? Siapa yang sebenarnya dijambret.” Kata Jeno lengkap dengan raut wajah cemasnya.


“tenanglah semua itu udah berlalu, aku gak apa-apa kok, nih liat kakiku cuma tergores sedikit aja.” Timpal Nayeon seraya menggenggam tangan Jeno ditengah perjalanannya menuju tempat tinggal Hanna.


Namun dengan cepat Jeno melepas genggaman tersebut dan beralih menyusul Ahreum yang berada tak jauh didepannya.


“kau gak apa-apa Ahreum?” tanya Jeno yang khawatir seraya menghentikan langkah Ahreum sesaat.


Mendengar reaksi yang tak terduga dari Jeno, baik Hanna maupun Ansell melemparkan tatapan anehnya pada Jeno.


“yak! kau sudah tak waras?


Kau mengkhawatirkan gadis lain disaat kekasihmulah yang menjadi target penjambretan! Uuhhh, dasar bego!” umpat Hanna yang kembali menarik langkahnya setelah puas menyadarkan Jeno dari tindakan tak masuk akalnya.


“minggir!” pekik Ansell seraya mendorong tubuh Jeno agar menjauh dari istrinya yang masih tampak kebingungan dengan situasi canggung tersebut. Lalu kembali melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda.


“dengar ya! Selama aku ga ada nanti kau ga boleh dekat-dekat dengan lelaki brengsek itu. Mengerti!” tegas Ansell seraya menggengam erat bahu istrinya.


“iya.” Sahut Ahreum pasrah.


“huhh padahal dirinya pun sama brengseknya.” Celetuk Ahreum dalam hati lengkap dengan lirikan tajamnya sesaat ke arah samping.

__ADS_1


***


Bersambung…


__ADS_2