Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO

Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO
Episode 123


__ADS_3

“hal apa? Jangan membuat kakak..”


Muacchhh.. 1 kecupan mendarat dibibir sexy Bennedict, yang sontak membuat kedua mata sipit Benn membulat dan mulutnya berhenti mengoceh karena saking terkejutnya.


“hahahaa!! Terimakasih kak Benn.” Ucap Rihanna yang langsung mundur perlahan setelah melakukan aksi nekad pada kakaknya tersebut.


Rihanna melambaikan tangan lengkap dengan senyum merekahnya pada Benn yang masih tampak syock dengan hal yang baru saja adiknya lakukan pada bibir mungil nan sexynya.


“hahahha!! Byeeee kak Bennnn!! SA***NGEEEE!!” teriak Rihanna penuh percaya diri seraya memutar tubuhnya kemudian berlari kecil menuju pintu utama rumah sakit.


“astaga!! SARANGHAEEE!!” sahut Bennedict yang mencoba membenarkan 1 kata terakhir Rihanna.


----


“bagaimana mungkin aku bisa menyaingi kak Winter, dia sangat sempurna, tak ada celah sedikitpun untuk aku bisa menjelekkannya. Berbeda sekali dengan adiknya yang brengsek dan tidak bertanggung jawab, huhh. Aku tak percaya jika mereka berdua dilahirkan dari rahim yang sama, mungkinkah Jeno anak pungut?” oceh Hanna yang berjalan dilorong rumah sakit.


“siapa yang anak pungut?” tanya seseorang yang tiba-tiba saja muncul dari samping membuat Rihanna terkejut hingga memegangi dadanya.


“astaga!! Aughh.. mamiii, kenapa ada disini sih?!” seru Rihanna pada orang yang mengejutkannya barusan yang ternyata adalah ibunya sendiri.


“kau siapa?” sahut wanita tersebut lengkap dengan wajah bingungnya.


“aku..?” respon Rihanna dengan nada sedikit ngegas.


“aku ini putrimu mamiii, aku sudah berulang kali memperkenalkan diriku, kenapa mami masih lupa aja sih. Udah ayo kita kembali ke ruangan.” Ajak Rihanna seraya merangkul ibunya kemudian berjalan menuju ruangan tempat ibunya dirawat.


“maaf nona muda, tapi saya belum menikah. Saya aja baru berumur 21 tahun.” Oceh ibunya seraya menundukan kepalanya sedikit pada Rihanna seakan tengah memberikan salam pada gadis yang berada disisinya itu.


“hmm.. sepertinya aku memiliki karma buruk dimasa lalu.” Rihanna bergumam seraya menurunkan lengannya kemudian beralih menggenggam erat tangan ibunya sembri terus melangkah beriringan dan sesekali mengayunkan tangannya seirama dengan langkah kakinya.


“baik keluarga maupun kisah cintaku benar-benar tragis. Huffftt.. bahkan teman dekatku pun tidak normal. Apa yang harus kulakukan sekarang.” Papar Rihanna seraya melirik sejenak ke arah ibunya yang tengah asyik dengan dunianya sendiri.


Rihanna hanya bisa menghela nafas kasarnya kemudian kembali mengarahkan pandangannya kedepan.


“nona muda.” Panggil ibunya membuat Rihanna langsung menengok padanya.


“semangat ya!” lanjutnya seraya menunjukan sebuah kepalan tangan lengkap dengan ekspresi seriusnya seakan ia benar-benar tulus memberikan semangat pada gadis yang berada disampingnya tersebut. Sehingga membuat Rihanna tiba-tiba emosional dan tak dapat menahan air mata harunya.


Meski tampak mengacuhkannya namun ternyata ibunya mendengarkan keluh kesahnya sejak tadi. Ia pun menghambur ke dalam tubuh ibunya kemudian memeluknya erat bersamaan dengan tangis yang memecah keheningan dimalam itu.

__ADS_1


“hikssss.. hikksss.. terimakasih mamiii.. Hanna sangat menyayangi mami.” Ungkapnya ditengah isak tangis yang semakin menjadi-jadi.


***


Keesokan harinya.


Diaparteman Bougenville.


“loh.. den Abi kok malah tiduran disini?” seru bi Ijah saat mendapati Abi yang tengah tertidur dengan posisi terduduk dan menyender didepan pintu aparteman.


“ehh.. bi Ijah. Ada apa kemari malam-malam bi?” tanyanya seraya mencoba bangkit dan meregangan otot tubuhnya yang sedikit kaku.


“malam? Ini sudah pagi den Abi.” Sahutnya lagi lengkap dengan kerutan didahinya. Buru-buru Abi mengecek jam yang melingkar dipergelangan tangannya, dan benar saja kini waktu telah menunjukan pukul 07:15.


“apa bibi melihat ada dokter Elios datang atau keluar dari dalam?”


“tidak, bibi baru saja sampai. Memangnya tuan Elios mau berkunjung kemari? Siapa yang sakit den.” Panik bi Ijah yang kemudian bergegas memasukan kode sandi pada mesin yang ada dipintu lalu berlari kecil masuk ke dalam diikuti dengan Abi yang juga ikut berlari kecil dibelakang bi Ijah.


“bu.. bukan itu bii..” seru Abi.


Sementara itu didalam aparteman lebih tepatnya diarea dapur, terlihat Ahreum tengah berdiri disisi meja seraya menikmati air mineral dingin yang baru saja ia tuangkan ke dalam gelas favoritenya yang bergambarkan Jeon jungkook biasnya di boy band bernama BTS.


1 alisnya pun terangkat untuk menunjukan ekspresi bingungnya.


‘apa yang mereka berdua lakukan.’ Begitulah bunyinya jika dituangkan ke dalam sebuah kalimat.


Selang beberapa menit kemudian bi Ijah pun kembali keluar dari kamarnya lengkap dengan raut wajah khawatirnya. Dan sepertinya kali ini langkahnya hendak menuju kamar Ansell yang tak jauh dari keberadaan kamar Ahreum, iya hanya terpisahkan oleh 1 ruangan tempat berbagai macam buku dan majalah disimpan.


Tentunya masih dengan Abi yang terus mengekorinya, seakan mereka tengah bermain kejar-kejaran, sementara Ahreum hanya menontonnya dari area dapur tak perduli dengan apa yang tengah dilakukan art dan juga asisten suaminya tersebut.


Setelah beberapa menit berlalu mereka berdua pun keluar dari kamar Ansell dengan raut wajah bingungnya karena tak mengerti dengan situasi yang terjadi.


Sampai.. “nona Ahreum!” seru bi Ijah yang terkejut mendapati Ahreum tengah berdiri dengan sebuah gelas yang berada dalam genggamannya.


“nona Ahreum baik-baik aja?” lanjut bi Ijah yang kemudian bergegas menghampiri keberadaan Ahreum, sedangkan Abi hanya terdiam ditempatnya seraya menatap Ahreum dari jauh.


“he’em.. memangnya aku kenapa?” respon Ahreum yang kemudian meneguk kembali air mineralnya sampai habis.


“loh bukannya kata den Abi, ada tuan Elios kemari? Kalau bukan ada yang sakit, untuk apa tuan Elios berkunjung kemari.” Oceh bi Ijah yang membuat Ahreum kembali mengangkat 1 alisnya lalu meletakan gelasnya diatas meja dan mengarahkan pandangan tajamnya pada Abi sebelum akhirnya ia mengembangkan senyum penuh artinya yang membuat Abi menyadari satu hal.

__ADS_1


Ternyata Ahreum hanya mengisenginya aja tadi malam. Meski seharusnya ia bisa bernafas lega karena Ahreum hanya menjahilinya, namun entah kenapa melihat raut wajah itu membuat Abi merasa gusar seakan ada bagian dalam dirinya yang mencoba memberitahunya jika gadis tersebut bukanlah seorang gadis normal seperti pada umumnya.


‘Dia tampak berbeda sangat sangat berbeda.’ Abi membatin ditengah aksi saling melempar tatapan intens dengan Ahreum.


Sementara itu bi Ijah tampak kebingungan, ia menatap Ahreum dan Abi secara bergantian karena tak mengerti apa yang sedang dilakukan keduanya hingga membuat atmosfir kala itu berubah menjadi terasa dingin dan menegangkan.


“amm.. bibi mau buang sampah dulu ah.” Ujar bi Ijah yang berusaha keluar dari situasi canggung tersebut, ia pun bergegas menuju tempat sampah kemudian mengambil plastic yang sudah penuh berisikan sampah kering dan basah.


Bi Ijah menengok sesaat kearah keduanya untuk sesaat mencoba memastikan apakah mereka masih saling bertatapan. Dan benar saja aksi adu tatap itu masih berlangsung cukup sengit, hingga membuat dirinya kembali memutar tubuhnya dan berlari kecil keluar dari aparteman.


***


Setelah pintu kembali tertutup dan bi Ijah telah pergi. Ahreum pun terkekeh sekaligus memutus pandangannya dengan Abi yang saat itu masih menatapnya dengan tatapan penuh tanda tanya besar.


“ckckck!!..”


Mendengar itu Abi langsung mengerutkan dahinya kemudian menarik langkah mendekat ke tempat Ahreum berada.


“kau pandai sekali mempermainkan emosi seseorang nona.” Ucap Abi begitu sampai dihadapan Ahreum.


“dan juga menipu semua orang dengan wajah polosmu itu.” tambah Abi yang terus memperhatikan gerak-gerik Ahreum yang kini hendak berjalan menuju wastafel untuk menaruh gelas yang sudah dipakainya barusan.


“apa kau senang?” lanjut Abi yang masih terus mengoceh.


“aughh ****!! Ckckck!!” Ahreum kembali terkekeh dengan umpatannya seakan sudah muak dengan lelaki yang berada dihadapnnya saat ini. Ia pun membalikan tubuhnya dan menatap tajam Abi seraya melipat kedua tangan diatas dadanya.


“jangan berlagak playing victim kak Abi. Bukankah kau sendiri yang selalu mencoba membodohiku! Kau fikir aku bisa kau bohongi seperti layaknya seorang bocah?


Aku pernah bilang bukan, aku bisa mengetahui saat seseorang tengah berbohong padaku. Jadi jangan coba-coba mengarang cerita dihadapanku.” Papar Ahreum yang kemduain berlalu pergi melewati Abi yang masih terdiam tak dapat berkata-kata.


“telingmu akan memerah saat kau gugup dan mengatakan hal yang bertolak belakang dengan kebenarannya.” Lanjut Ahreum saat sudah beberapa langkah melewati Abi.


Sontak Abi pun memutar tubuhnya seraya memandangi bagian punggung Ahreum.


“ckckck!! Kau bahkan tak menyadari kebiasaanmu sendiri.” imbuh Ahreum yang kembali menarik langkah kemudian meninggalkan Abi yang masih melongo karena tak menyangka jika Ahreum akan memperhatikan hal sedetail itu.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2