
“amm, sebenarnya saya juga ragu untuk mengatakannya.” Sahut Abi yang memposisikan tubuhnya mengarah ke tempat Ahreum berada.
“kalau begitu tak usah dikatakan!” ketus Ansell seraya melahap suapan terakhirnya lalu menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi seraya menatap tajam Abi yang tengah berdiri disamping meja.
“aughh!!” dengus Ahreum seraya mengambil piring milik suaminya yang sudah kosong kemudian menaruhnya diwastafel diatas piring kotor miliknya.
“gausah dengarkan dia, kak Abi, katakan aja.” Lanjut Ahreum yang kembali bergabung dan berdiri dibelakang kursi Ansell.
“nona Nayeon dibawa ke rumah sakit tadi malam.” Papar Abi yang akhirnya memutuskan untuk mengatakannya pada Ahreum.
“apa?” kaget Ahreum lengkap dengan raut wajah khawatirnya.
***
Di rumah sakit Haneul.
Terlihat Ahreum, Ansell dan juga Abi keluar dari pintu lift yang membawanya ke lantai dimana ruangan Nayeon berada.
“tenanglah, kau dengarkan tadi, tidak ada luka yang serius, hanya luka goresan ditelapak tangannya.” Ujar Ansell yang menyadari jika istrinya itu tengah dilanda kegelisahan.
Alih-alih meresponnya Ahreum malah terus mempercepat langkahnya menuju ruangan Nayeon yang berada disudut lorong.
“hmm..” Ansell pun hanya menghela nafas kala perkataannya lagi-lagi diabaikan.
“kurasa kita ga harus ikut masuk ke dalam, lebih baik kita tunggu diluar aja.” cegah Abi seraya menahan lengan Ansell yang hendak ikut masuk ke dalam ruangan mengikuti langkah istrinya.
“yak! bagaimana jika teman gilanya itu melakukan hal buruk lagi padanya, seperti yang terakhir kali dikedai, dia ingin menghancurkan kepala Ahreum! Lepaskan.” Kekeuh Ansell seraya menepis lengan Abi dari lengannya kemudian melanjutkan kembali langkahnya masuk ke dalam ruangan tersebut.
“benar juga sih, sepertinya ketiga gadis itu tak ada satu pun yang normal, nona Nayeon pernah menabrakan dirinya sendiri dan sekarang pun dia melukai dirinya lagi, nona Hanna.. dia sangat berani sekali melompati pagar balkon hanya untuk menemui nona Ahreum, sedangkan nona Ahreum.. hmm, dia nekad bergelantungan menuruni pagar balkon hotel untuk menghindari suaminya sendiri. Waahh luar biasa.” Oceh Abi didepan pintu masuk lengkap dengan raut wajah yang sangat mendukung seseorang yang tengah berfikir keras.
-----
“apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Ahreum begitu melihat kedua temannya, Nayeon yang sedang makan makanan yang disediakan dari rumah sakit sedangkan Hanna sedang memainkan ponselnya dikursi yang berada disamping ranjang Nayeon.
Mendengar sapaan Ahreum membuat keduanya reflex mengarahkan pandangannya pada sumber suara.
“ciihh, padahal sudah ku minta untuk tidak memberitahukannya padamu, dasar pengadu.” Dumel Hanna yang ditujukan pada Abi, ia pun meletakan ponselnya ditepi ranjang Nayeon dan beralih mengambil jeruk yang berada dinampan makan Nayeon lalu mengupasnya tanpa meminta ijin terlebih dahulu pada pemiliknya.
“kau sudah makan?” tanya Nayoen mengalihkan pembahasan dan tak berniat untuk membahas kejadian tadi malam pada Ahreum.
“tak ada yang mau menjawabku?” lanjut Ahreum yang kini sudah berdiri disudut ranjang Nayeon dengan kedua tangannya yang menggenggam pagar sudut ranjang.
__ADS_1
“sudahlah, kau lihat sendirikan kedua temanmu ga kenapa-napa, jangan terlalu dikhawatirkan.” Timbrung Ansell seraya memegangi bahu Ahreum dan menatap kedua teman Ahreum dengan tatapan sinisnya.
“apa?!” ketus Ansell saat Hanna membalas tatapan tajamnya.
“ciiih!!..” dengus Hanna seraya membuang muka dari wajah Ansell lalu melahap jeruk yang sudah dikupasnya.
“bukankah kau harus pergi?” ucap Ahreum seraya menengok kearah Ansell.
“hmm.. kau yakin akan baik-baik aja ditengah-tengah mereka?” Ansell malah membalas Ahreum dengan pertanyaan lainnya.
“yak! kau fikir kita ini apa? monster?!
Seharusnya kaulah yang perlu diwaspadai.” Sinis Hanna disela kunyahannya, ia merasa tidak tahan untuk tidak membalas perkataan Ansell yang menyinggung perasaannya.
“berani sekali kau! Kau fikir sedang bicara dengan siapa, santai sekali cara bicaramu!” balas Ansell yang tak kalah ngegasnya.
“jujur saja, saat awal aku bertemu denganmu pun aku mengira kau seumuran dengan kita.” Celetuk Nayeon masih sembari mengunyah makanannya.
“AUGHH Shi***t!! kau sedang memujiku atau meledekku!” sahut Ansell yang kini mengalihkan pandangannya pada Nayeon.
“ayolaah teman-teman, ini rumah sakit, berhenti membuat keributan.” Timbrung Ahreum yang mencoba menengahi diantara ketiganya.
“aku ini suamimu!” protes Ansell lengkap dengan tatapan tajamnya seolah sangat sangat keberatan dengan perkataan Ahreum.
“astaga!” gumam Ansell seraya memiringkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, bersamaan dengan kedua tangannya yang dirapatkan seolah tengah melakukan peregangan sebelum berkelahi, lalu diakhiri dengan senyum menyeriangai kearah Hanna dan Nayeon secara bergantian.
“PAK ANSELL!!” panggil Abi yang tiba-tiba saja muncul ditengah hawa panas diruangan tersebut.
“gawat pak!! Ada beberapa investor yang menarik kembali investasinya.” Lanjut Abi seraya berlari kecil menuju keberadaan Ansell.
“bagaimana bisa?!” sahut Ansell lengkap dengan kerutan didahinya.
“kabarnya ada seorang mata-mata di tim A, dia yang menghasut para investor untuk menarik kembali investasinya lalu mengarahkan para investor pada perusahaan lain.” Jelas Abi secara singkat.
“BRENG***!! Dia sudah bosan hidup rupanya, berani sekali bermain-main dengan KT. Group.” Ansell murka, ia pun langsung bergegas keluar dari ruangan meninggalkan ketiga gadis yang masih memperhatikannya.
“semoga lekas sembuh ya nona Nayeon.” Ucap Abi seraya menundukan kepalanya sedikit lengkap dengan senyuman ramah seperti biasanya, sebelum ia bergegas pergi menyusul atasannya.
“terimakasih kak Abi.” Sahut Nayeon yang juga membalas senyuman ramah Abi.
Begitu kedua pria tersebut keluar.
“jadi, apa kau bisa menceritakannya sekarang, bagaimana kau bisa berakhir dirumah sakit lagi, Nayeon?” tanya Ahreum kembali lalu duduk ditepi ranjang.
“hanya..” gumam Nayeon seraya mengunyah suapan terakhirnya.
__ADS_1
“hanya apa?” Ahreum mulai kehilangan kesabaran dengan sedikit menaikan nada suaranya.
“kalian berantem lagi? Lalu kau berakhir melukai dirimu sendiri?” tebak Ahreum seolah bisa menerawang apa yang terjadi pada malam kemarin.
“sudahlah, ga perlu dibahas lagi, kau mau dia kumat lagi.” Celetuk Hanna seraya menaruh sampah kulit jeruk ke nampan makanan Nayeon yang sudah habis.
“ciihhh!!..” dengus Nayeon lengkap dengan tatapan sinisnya pada Hanna.
Sebelum kembali melanjutkan obrolannya, Ahreum mengambil nampan makanan Nayeon kemudian membawanya keluar untuk disimpan pada rak penyimpanan piring kotor yang nantinya akan dibawa oleh para petugas jika sudah waktunya pengambilan.
“kau makan semua jeruknya? Aku juga mau tau!” rengek Nayeon yang baru menyadari jika 1 1 nya buah yang berada dalam nampannya kini telah sirna.
“kau ga bilang, kukira kau ga mau.” Balas Hanna tanpa rasa bersalah.
“kau memang tak pernah berubah, dari dulu sampai sekarang selalu aja mengambil makanan milik orang lain!” ketus Nayeon.
“ciihh!!.. hiperbola banget sih, cuma masalah jeruk doang juga, nanti gue beliin sekarung buat elo!” tukas Hanna yang tak kalah garangnya seraya bangkit dari kursinya kemudian berjalan menuju sofa, tempat dimana ia meletakan tas selempangnya.
“kau mau kemana?” tanya Ahreum yang baru saja kembali setelah meletakan nampan milik Nayeon diluar ruangan.
“ayoo, agen propertynya dari tadi udah nelfonin terus, aku juga harus cepat-cepat keluar dari hotel, hotel itu sangat mahal.” Sahut Hanna seraya menyelempangkan tasnya dengan pandangan yang mengarah pada Ahreum.
“kau akan meninggalkanku?” rengek Nayeon lengkap dengan kedua mata sendunya yang mengarah pada Ahreum.
“maaf ya, aku harus nemenin Hanna dulu cari rumah, dan kurasa aku baru bisa kembali besok karena jadwal kuliahku cukup padat hari ini.” ujar Ahreum penuh dengan penyesalan.
“Ga perlu datang lagi kemari, sore ini pun dia sudah boleh pulang tuh. Ayooo!!” ajak Hanna seraya menarik paksa tubuh Ahreum untuk keluar dari ruangan Nayeon.
“hmm..” Nayeon pun menghembuskan nafas beratnya saat kedua temannya sudah benar-benar hilang dari pandangannya, sebelum kembali membaringkan tubuhnya.
***
“sebentar, aku mau ke ruangan ibu dulu sekalian mau ketemu dengan Sammyyyy.” Seru Ahreum ditengah perjalanannya menuju pintu lift lengkap dengan senyuman cerianya karena tak sabar ingin bertemu dengan adik kecilnya.
“oke.” Sahut Hanna setuju.
Bersambung...
***
__ADS_1