Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO

Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO
Episode 247


__ADS_3

Keesokan harinya, masih diruangan Ahreum. Berbeda dari hari biasanya yang selalu ramai oleh suara cempreng Rihanna dan sahutan ketus dari kakaknya, kini dia ditinggal diruangan sendiri sementara ayah dan ibunya masih berada dikediamannya.


Ahreum duduk bersandar diranjang sembari menonton siaran kartun favoritenya dipagi hari, merasa bosan dengan kegiatan monoton selama beberapa hari ini, hanya makan, tidur, makan tidur, membuatnya menghembuskan nafas kasarnya seraya menyapu area sekitar mencoba memikirkan sesuatu yang bisa mengembalikan moodnya.


Perlahan ia turun dari ranjang seraya menarik tiang infusnya, lalu berjalan menuju meja kecil yang terletak disudut ruangan.


Dengan senyum penuh arti, Ahreum mendekatkan wajahnya tepat dimana kamera kecil terpasang didalam bucket bunga.



“kau…, baik-baik aja Ansell?” sapa Ahreum diiringi senyum merekahnya.


Sementara itu diruangan sebelah.


Ansell melempar tablet yang dipegangnya ke ranjang begitu istrinya selesai menyapanya, dia benar-benar terkejut kala Ahreum menemukan kamera kecil yang terpasang dalam bucket bunga yang diberikannya beberapa hari yang lalu.


“Wuaahhhh!” seru Abi takjub yang juga merasa terheran-heran, bagaimana mungkin gadis mungil itu bisa mengetahui keberadaan kamera kecil yang bahkan sudah disembunyikan sedemikian rupa diantara rangkaian bunga.


“bagaimana mungkin?” sambung Abi lagi seraya mengambil tablet yang barusan dilempar oleh Ansell, kemudian memperhatikannya kembali, sedang Ansell masih tampak membeku dalam keterkejutannya.


“Ansell, apa kau mendengarku,” panggil Ahreum lagi yang membuat Ansell tersadar dan merebut tablet yang tengah digenggam Abi.


Ansell pun mengangguk mengiyakan meski sebenarnya tak mungkin juga Ahreum melihat dan mendengarnya kan, karena mereka tidak sedang video call. Hahaa.


“Aku sangat merindukanmu,” imbuh Ahreum yang tentu saja membuat hati Ansell berbunga-bunga, ia kembali melempar tabletnya dan bergegas turun dari ranjang lalu berlarian keluar dari ruangannya.


Bruukkk!!!


Saking semangatnya Ansell sampai membanting pintu kamar Ahreum, dilihatnya Ahreum tengah berdiri disudut ruangan dengan senyum manis menyambut kemunculan suaminya yang secara tiba-tiba itu.


“Hai! Bagaimana kabarmu?” sapa Ahreum seraya melambaikan tangannya.


Alih-alih membalas sapaan istrinya, Ansell malah berlari lalu menarik tubuh Ahreum masuk ke dalam pelukannya dengan perasaan emosional yang membuatnya tak kuasa menahan tangis bahagianya.


“Bukankah kakimu terluka cukup parah Ansell, aku melihat kak Ben terus menginjak-injak kakimu,” ujar Ahreum yang terdengar samar lantaran wajahnya tenggelam dalam lengan kekar suaminya.


“Aku baik-baik saja, berhenti mengkhawatirkanku,” sahut Ansell seraya membelai bagian belakang kepala Ahreum.


“ahh iya kudengar dari Hanna, jika tadi malam Cassandra datang menemuimu,” lanjut Ahreum yang membuat pelukan diantara keduanya pun berakhir.


Ansell melepas pelukannya dan beralih memegangi pundak Ahreum dengan tatapan dalamnya.


“Iya, dia adalah putri dari keluarga Jansen, kedatangannya kemarin adalah untuk membahas masalah bisnis yang sedang kita jalani.


Meski aku tahu hanya wajah mereka yang mirip, namun entah kenapa aku selalu merasa ada sesuatu dalam dirinya yang membawaku pada tatapan tajam Ilona.

__ADS_1


Sampai malam tadi, dia mengira aku tidur sungguhan, dan dia bergumam mengenai 5 tahun lalu, awalnya dia mengelak, tapi akhirnya dia mengakui jika dirinya adalah saudara kembar Ilona.


Dan tujuan sebenarnya mendekati perusahaanku bukan karena bisnis melainkan untuk membalas dendam atas kematian saudara kembarnya yang disebabkan olehku.” Papar Ansell sementara Ahreum terdiam menyimak dengan seksama.


“Lalu, bagaimana tanggapanmu mengenai pengakuan wanita yang mengaku saudara kembar Ilona itu?” tanya Ahreum.


“amm, kau percaya jika wanita itu benar saudara kembar Ilona?” tanya Ahreum saat suaminya hanya memilih diam kemudian menurunkan tangannya dari pundak Ahreum.


Ansell pun mengangguk lengkap dengan raut wajah sendunya. “Dia menunjukan fotonya bersama dengan Ilona sewaktu kecil didepan panti asuhan Cinta Kasih, tempat dimana Ilona berasal.” Tutur Ansell.


“Apa kau masih merasa kematian Ilona disebabkan olehmu?” tanya Ahreum lagi dengan nada selembut mungkin seraya meraih kedua tangan Ansell kemudian digenggamnya eratnya.


Lagi-lagi Ansell hanya terdiam membisu ditengah pergulatan batin yang selalu saja membawanya kembali pada ingatan paling menyakitkan dalam hidupnya, menyaksikan sendiri kekasihnya meregang nyawa dihadapannya.


“Kau tidak bersalah Ansell, hidup dan mati adalah takdir Tuhan, lagipula dirinya sendiri yang memilih untuk mengakhiri hidupnya bukan?


Dibanding masuk penjara dan mempertanggung jawabkan perbuatan jahatnya terhadapku dulu,” papar Ahreum diiringi senyum hangatnya untuk menghibur suaminya yang saat ini sedang tidak baik-baik saja.



“Sebelum Ilona mengakhiri hidupnya dia mengungkapkan padaku jika perbuatan yang dilakukannya karena kesal dan muak padaku. Keluargaku selalu merisaknya dan juga mempermalukannya didepan umum.


Pada awalnya aku memang merasa sangat bersalah karena tidak bisa menjaga dan melindungi Ilona dengan benar, aku bahkan sangat membenci kedua orang tuaku setelah mengetahui kebenaran itu. Karena hal itu juga yang membuatku menghilang beberapa hari sebelum pernikahan kita, aku merasa tertekan dan frustasi.


Tapi, 2 hari kemarin aku baru tahu jika yang dikatakan Ilona itu tidak benar, mama memperlihatkan aku beberapa bukti video, foto dan rekaman Ilona yang sedang melakukan hal yang sangat menjijikan bagiku.


Aku benar-benar merasa ditipu oleh tingkah manis dan lugunya selama ini, dia tak lebih dari sekedar…,”


“sssttt…,” sebelum menuntaskan kalimat memakinya Ahreum buru-buru menghentikannya dengan cara menempelkan jari telunjuk dibibir suaminya.


“Anak pintar, syukurlah, sekarang kau sudah tidak menyalahkan dirimu sendiri lagi, dengan begitu kau juga tidak akan melukai tanganmu sembari menangis dipojokan seperti sebelumnya, heheehe,” goda Ahreum seraya menepuk-nepuk bokong suaminya yang membuat Ansell mendecak kesal.


“Aisshhh!!”



“gitu dong, aku lebih suka saat kau merajuk seperti ini dibanding bergumul dengan rasa sedihmu,” rayu Ahreum yang kemudian melepas genggaman tangannya dan beralih memegang rahang Ansell serta menatapnya dalam.


Ansell menaikan 1 alisnya kemudian mengangkat tubuh Ahreum ke dalam pangkuannya lengkap dengan tatapan liarnya.


“ehh, ehh, selang infusku!” panik Ahreum seraya meraih tiang infusan kemudian ditariknya bersamaan dengan Ansell yang membawanya ke tepi ranjang.


Ahreum hanya membalasnya dengan tawa nakal sebab tahu apa yang ada dalam otak suaminya.


“Aku tahu apa yang kau fikirkan saat ini, tapi lihat! (kata Ahreum seraya menunjukan punggung tangannya yang masih tertempel jarum infusan)

__ADS_1


Jangan sampai darahku naik lagi karena kau main kasar, oke,” lanjut Ahreum menegaskan.


“ciihh!!” Ansell pun mundur 1 langkah sembari melipat kedua tangan diatas dadanya.


“sini..” ajak Ahreum seraya menepuk sisi ranjang lainnya.



Sontak saja membuat Ansell nyengir kemudian dengan cepat naik ke atas ranjang dan menarik Ahreum tertidur dalam dekapannya.


“Ahreum,” panggil Ansell seraya membelai kepala Ahreum.


“hmm,” Ahreum hanya menanggapinya dengan dehaman.


“Aku mencintaimu,” ungkap Ansell yang membuat Ahreum tersenyum bahagia.


“Iya aku tahu, aku juga mencintaimu Ansell,” balas Ahreum seraya mengeratkan pelukannya.


“Ahreum,” panggil Ansell kembali.


“Iya,” sahut Ahreum masih dengan nada yang sama.


“Aku mencintaimu,” Ansell mengulang pernyataan cintanya yang membuat Ahreum tertawa geli.


“hhahaa! iya, iya aku tahu, sudah hentikan, aku mulai bosan mendengarnya,” keluh Ahreum yang tentu saja membuat Ansell merajuk.


“Apa?!


Bosan katamu, kau bosan denganku, huh?!” rajuk Ansell yang kemudian terbangun dari baringannya dan menatap Ahreum sinis.


“Padahal dulu kau yang selalu meminta pernyataan cintaku! Tapi sekarang apa kau bilang?! Bosan, huh!” protes Ansell lengkap dengan tatapan sinisnya.


“hehhehee! Berhenti merajuk, (rayu Ahreum seraya menarik kembali tubuh Ansell agar tertidur disampingnya)


Waktu kita bersama tidak lama, sebelum kak Benn kembali kau sudah harus pergi,” sambung Ahreum seraya memeluk tubuh suaminya dan memejamkan matanya sejenak untuk menikmati kehangatan yang terjalin kala itu.


“Kak Benn masih marah?


Apa yang harus ku lakukan agar kak Ben menyerahkan kau kembali padaku?” ujar Ansell dengan nada lirihnya.


“Menyerahkan? Kau fikir aku barang, hahhaa!” canda Ahreum yang membuat Ansell mendengus kesal ditengah keseriusannya mencoba memikirkan nasib pernikahannya yang diujung tanduk.


“ciiihh!! Aku sedang serius Ahreum,” ketus Ansell.


...****************...

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2