
Setelah ketiganya selesai dengan tugasnya masing-masing, mereka bertiga pun lantas mulai menarik langkah menuju meja makan, dimana Ahreum sudah menunggu kehadiran mereka bertiga sedari tadi.
“ammm.. sebenarnya..” Arini mencoba mengawali cerita horrornya seraya menarik kursi lalu mendudukan bokongnya dikursi sebelah Ahreum.
Kemudian disusul dengan kedua temannya yang ikut mendudukan bokongnya dikursi dengan posisi mengelilingi meja, seolah mereka berempat tengah melakukan rapat yang sangat penting lengkap dengan gesture tubuh dan raut wajah serius yang sangat mendukung.
Iya, kedua tangan mereka diletakan diatas meja seraya mendengarkan dengan seksama, cerita yang akan dituturkan oleh Arini di malam sunyi sepi kala itu.
Tak.. tik.. tak.. tik.. hanya terdengar suara jam dinding yang terus berdenting ditengah keheningan yang ada, sebelum Arini kembali membuka mulutnya untuk melanjutkan cerita mengenai kisah horror yang pernah terjadi di Villa tersebut.
“Dulu saat tuan Andrew dan Nyonya Carrisa hampir bercerai.. ehh.. haruskah aku mengatakannya.” Arini berhenti kala tersadar jika tak seharusnya ia menceritakan mengenai konflik yang terjadi antara Andrew dan Carrisa karena merasa itu tidaklah sopan, hingga ia pun menutup mulutnya seraya menatap kedua teman lainnya yang juga tengah berfikir haruskah cerita tesebut dilanjutkan.
“lanjutkan saja, aku udah tahu kok mengenai hal itu, aku mendengarnya dari temanku, dan temanku mendengarnya langsung dari Mama Rissa.” Timpal Ahreum yang membuat ketiga pelayan tersebut membulatkan kedua matanya karena tak menduga jika Ahreum sudah mengetahui tentang konflik serius yang menimpa keluarga Dirghantara.
“benarkah?” tanya Bona memastikan kembali.
“Iya, eeyyy.. kak Bonn tak percaya padaku, sudah, ayoo lanjutkan ceritanya.” Pinta Ahreum penuh semangat, hingga membuat ketiga pelayan tersebut kembali saling melempar tatapan seakan tengah berbicara melalui telepati hahaha.
“Oke kalau begitu, akan ku teruskan.
Jadi semenjak tuan dan nyonya terlibat konflik yang serius itu, mereka berdua memutuskan untuk mengosongkan Villa ini. Bahkan semua pelayan pun diminta pindah dari Villa, nyonya tak membiarkan siapapun tinggal disini.
Dari kabar yang kudengar sih..” Arini menurunkan suaranya kemudian mencondongkan tubuhnya ke depan seraya mengajak yang lain ikut melakukan hal yang sama sepertinya, hingga kini wajah mereka pun saling berdekatan satu sama lain.
“nyonya Carrisa pernah melihat tuan Andrew wik wik dengan wanita lain dikamar utama dari balik jendela luar. Namun anehnya saat nyonya Carrisa berlarian dari pekarangan Villa untuk memergoki tuan Andrew yang tengah melakukan perbuatan tak senonoh itu.
__ADS_1
Nyonya Carrisa tidak menemukan siapapun dikamar, Nyonya malah melihat tuan Andrew baru keluar dari kamar mandi dengan pakaian lengkap. Seolah tidak ada yang terjadi sebelumnya.
Hingga Nyonya pun berteriak histeris, meminta semua pelayan memeriksa seluruh area Villa, baik diluar maupun didalam. Namun bak ditelan bumi, wanita yang dilihat nyonya Carrisa itu tidak ada, lebih yang tidak masuk akalnya lagi dari CCTV yang ada di Villa, tidak ada sosok wanita yang digambarkan oleh nyonya Carrisa.”
“eeyyyy.. yang benar saja, kakak sedang mengarang cerita ya.” timpal Ahreum yang tidak percaya sama sekali dengan karangan Arini barusan, ia pun lantas menarik kembali tubuhnya untuk duduk dengan benar dikursinya, bersamaan dengan ketiga pelayan lainnya yang juga ikut menarik tubuhnya dan kembali duduk dengan benar di kursinya.
“aku serius nonaa, sejak saat itu nyonya Carrisa menutup Villa ini, dan membiarkan Villa ini terbengkalai untuk waktu yang cukup lama. Karena nyonya tak membiarkan siapapun datang membersihkan tempat ini. Bisa nona bayangkan berapa makhluk astral yang sudah menempati Villa ini selama beberapa tahun tak berpenghuni.” Lanjut Arini.
“tunggu..
Sepertinya ada yang aneh, hmm..” timpal Ahreum seraya berfikir keras sebelum kembali menjelaskan hal aneh apa yang ia maksudkan.
“bagaimana kak Arini tahu kisah itu, kurasa itu terjadi saat Ansell kecil, dan biar ku tebak.. hmm. Usia kita sepertinya tidak terpaut jauh, memangnya saat kejadian itu kak Arini sudah lahir?” sambung Ahreum.
“aku.. aku dengar cerita itu dari percakapan pak Jimmi dan Bu Rossa kepala pelayan terdahulu, namun saat ini sudah pensiun, jadi pak Jimmi yang menggantikan hhehe.” Celotehnya diiringi dengan cengengesan.
“apa nyonya Carrisa tidak salah lihat ya waktu itu, karena yang ku dengar saat itu nyonya sedang banyak fikiran kondisi mentalnya kurang baik. Setelah kepulangannya dari negara xxx menjadi relawan bencana, banyak korban yang berjatuhan saat itu, tak hanya orang dewasa anak-anak pun banyak yang turut menjadi korban bencana tersebut.” Tutur Laras yang kembali melanjutkan pembahasan dan mengabaikan kenyataan jika informasi yang Arini dapat adalah hasil menguping.
“mungkin saja saat itu nyonya sedang berhalusinasi.” Imbuh Bona lagi.
“kurasa hal itu tidak mungkin, bukankah dirumah sakit juga mama Risaa sudah pasti sering melihat orang yang meninggal. Jadi pasti hal itu sudah biasa untuk mama.” Menurut Ahreum yang kurang setuju dengan teori ketiga pelayan tersebut.
“lalu apakah ada penjelasan yang lebih masuk akal dibanding hal itu nona?
Mungkinkah nona berfikir jika yang wik wik itu makhluk astral yang menyerupai tuan Andrew dan sosok wanita yang diceritakan nyonya Carrisa.” sahut Arini yang masih tetap ingin berpegang teguh pada teorinya.
__ADS_1
“Iya juga sih apa yang dikatakan nona Ahreum ada benarnya. Karena jika tuan Andrew benar melakukan hal yang tidak senonoh itu, lalu dimanakah sosok wanita itu berada? Bagaimana mungkin dia tidak tertangkap oleh semua CCTV yang ada diarea Villa ini.” timpal Bona yang kini beralih memihak Ahreum.
“ahh iya aku ingat, dulu nona Ilona pernah berkata..”
“sssttt..” potong kedua temannya, saat Arini lagi-lagi keceplosan menyinggung nama mantan kekasih Ansell.
“gak apa-apa kok, ada apa?
Kelihatannya kalian akrab sekali dengan Ilona.” Respon Ahreum.
“amm.. sebenarnya nona Ilona seorang indigo. Aku juga gak tahu sih nona Ilona benar-benar bisa melihat makhluk astral atau dia hanya mengarang cerita aja hehe. Cuma waktu itu nona Ilona pernah bilang, dia pernah melihat sosok wanita berambut panjang berpakaian seperti noni-noni belanda gitu. Parasnya cantik, kulitnya putih dan dia selalu berada dibawah pohon rindang yang ada dipekarangan depan seolah sedang menunggu kedatangan seseorang.” Arini memaparkan.
Brraakkkk!!! “ahhh.. kurasa wanita itu!!” seru Bona seraya menghentakan tangannya ke meja penuh antusias yang membara dalam jiwa mudanya, yang sontak membuat ketiganya terkejut bukan main, sebeb bukan hanya suaranya saja yang menggelar namun ditambah dengan hentakan yang cukup nyaring membaut mereka hampir saja kehilangan jantung.
“aughh si*al..” refleks Ahreum kala pelayan tersebut mengagetkannya, disusul dengan tatapan terkejut dari ketiga pelayan tersebut begitu Ahreum berubah menjadi gadis yang berbeda.
“ehh.. hehehe sory.. sory. Aku selalu diluar kendali saat terkejut, hehe. Kelepasan.” Ahreum hanya bisa nyengir dan tak hentinya tersenyum kecut kala ketiga pelayan itu masih saja memandanginya dengan diselimuti rasa takut akan perubahan image gadis yang tampak lugu dan ramah sebelumnya.
“hehee.. udah dong, jangan natapin aku gitu. Memangnya diantara kalian ga pernah berkata kasar hehee, jadi, yuk!! Dilanjut lagi ceritanya, tapi jangan ada kejutan ya. Beruntung tadi aku hanya mengumpat, biasanya aku langsung meninju apapun yang berada didepanku. Hehehee!!” katanya lagi.
Mendengar informasi terakhir yang dilontarkan Ahreum, sontak saja mereka bertiga menggeser kursinya lebih jadi saling berdekatan, untuk menghindari posisi yang berhadapan langsung dengan Ahreum.
“maaf.. hehehe aku gak bermaksud mengagetkan, itu hanya refleks aja, mungkin karena aku terlalu bersemangat.” Ucap Bona seraya menggeser kursinya ke dekat kursi Ahreum.
***
__ADS_1
Bersambung…