
“aku.. juga tak ingin bertindak sejauh ini, tapi apa boleh buat kalian sendirilah yang memancing sisi lain dari diriku!” sambungnya lagi seraya melepas cengkramannya dari kerah baju lelaki tersebut, kemudian bangkit dan hendak kembali menghantamkan kursi besi yang masih berada disalah satu genggamannya tersebut.
Namun dengan cepat lengan Hanna menahannya disela isak tangis yang pecah dikala melihat karibnya hendak melakukan aksi brutal pada lelaki yang telah sekarat.
“tidak.. ja.. ngan laku.. kan itu Ahreum. Ku mohon..” ucap Hanna terbata ditengah rasa takut yang menyelimuti dirinya, namun ia tetap tak ingin membiarkan karibnya pergi terlalu jauh atau bahkan sampai membunuh seseorang.
Berkat kalimat tulus dari Hanna, emosi Ahreum pun kini berangsur normal. Menyadari Ahreum sudah mengendurkan otot-ototnya, Rihanna pun membalikan tubuh Ahreum kemudian mengambil alih kursi besi tersebut lalu melemparkannya ke sembarang tempat.
“cukup Ahreum.. gak apa-apa, semuanya akan baik-baik aja oke..” lanjut Rihanna lalu memeluknya serta menepuk-nepuk punggung Ahreum disela isak tangis yang tak dapat ia kendalikan lagi.
Iya, meski sebenarnya ia juga sangat ketakutan saat ini namun tetap saja kasih sayangnya terhadap Ahreum mampu mengikis rasa takut yang menjalar ditubuhnya.
Rihanna melepas pelukannya sejenak untuk kembali menatap wajah karibnya yang masih terdiam, entah apa yang kini tengah Ahreum rasakan, hanya saja tampak butir-butir air mata yang mulai bermunculan dari pelupuk matanya. Tak seperti biasanya, ia yang selalu menangis tersedu-sedu kini gadis mungil itu hanya menderaikan air mata tanpa suara apapun yang semakin membuat hati Hanna bercampur aduk, antara takut, dan juga sakit karena melihat karibnya itu memiliki sisi hitam yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Rihanna tahu jika Ahreum memang berbeda dari gadis-gadis lainnya, dia tidak selemah atau selugu kelihatannya. Namun ia fikir mungkin itu hanyalah bentuk pertahanan dirinya saja untuk bisa beradaptasi dengan dunia yang keras ini, sama hal nya dengan dirinya, ia pun pernah melakukan aksi bar-bar atau tindak kekerasan, semua itu ia lakukan hanya untuk melindungi dirinya sendiri agar tidak ada orang yang bermain-main dengan dirinya dan dirasa hal itu masih dalam batas wajar.
Namun kali ini, apa yang sudah dilakukan Ahreum benar-benar seperti tampak bukan dirinya. Hal ini sudah melewati batas kewajaran, bagaimana mungkin seorang gadis mungil bisa dengan santainya membuat lelaki bertubuh besar itu sampai sekarat, terlebih lagi Rihanna juga tidak menemukan sebuah penyesalan dalam kedua bola mata Ahreum.
Ahreum hanya terdiam dengan air mata yang terus berderai membasahi kedua pipi mulusnya yang dipenuhi luka lebam dan goresan akibat kecelekaan serta penyiksaan yang telah dilakukan si hidung besar padanya beberapa saat lalu.
Saat Ahreum hendak mengarahkan kembali pandangannya ke wajah lelaki yang sudah tak sadarkan diri dilantai, dengan cepat Hanna menahannya kemudian mengarahkannya kembali pada wajah hangatnya, sebelum kembali memeluknya dengan penuh kasih sayang dan isak tangis yang masih belum bisa berhenti sepenuhnya.
“maafkan aku.. kau.. harus melihat diriku yang sebenarnya.” Lirih Ahreum ditengah Hanna mengusap punggungnya.
__ADS_1
“hiikksss..hikksss!!” tak disangka kalimat itu malah membuat Rihanna emosional dan kembali menumpahkan tangisannya yang terdengar sangat memilukan dihati sembari terus mengeratkan pelukannya.
***
Kita pindah ke tempat yang lain untuk sejenak, terlihat kubu para gangster yang berserakan dilantai karena sudah dikalahkan oleh kubu Ansell dan Bennedict. Baik Ansell maupun Bennedict tampak mengedarkan pandangannya mencoba mencari tempat dimana ketiga gadis itu disekap karena semua anak buah yang telah mereka kalahkan tak ada 1 pun yang mengetahui tempat persembunyian atasannya itu.
Iya yang mereka kalahkan hanya anak buah ecek-ecek sedangkan para petinggi atau beberapa atasan mereka tidak terlihat sama sekali sedari tadi, kemungkinan besar mereka sudah kabur sejak menyadari ada beberapa polisi yang juga ikut terlibat.
Tak beberapa lama, ketiga gadis itu pun muncul dari sebuah lorong gelap sembari membopong Nayeon yang masih belum sadarkan diri setelah mendapat tamparan cukup keras hingga membuat pipinya lebam dan sudut bibirnya pun ikut tergores.
Ansell yang menyadari hal itu pun lantas bersiap mengambil seribu langkah untuk menghampiri istri dan kedua temannya. Namun disaat yang bersamaan terdengar teriakan cukup nyaring yang berasal dari sudut lain hingga membuat dirinya terdiam sejenak.
Begitu juga dengan Bennedict dan yang lainnya mereka ikut mencari suara teriakan tersebut, dan munculah sesosok wanita dari sisi lainnya, wanita itu mencoba berlari dengan 1 kakinya yang tampak terluka.
Membuat semua yang ada disana pun memfokuskan pandangannya pada wanita tersebut dan mengabaikan ketiga gadis yang kini juga ikut menoleh ke arah wanita itu. Lebih tepatnya Ahreum dan Rihanna yang menoleh ya karena seperti yang diceritakan sebelumnya jika Nayeon masih tak sadarkan diri.
“apa dia diculik juga?” gumam Hanna, sebelum akhirnya kembali memutar kepalanya dan hendak melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda.
Namun tampaknya Ahreum masih ingin memandangi wanita itu lebih lama.
“biar saya bantu.” Ucap Bianca yang langsung mengambil alih tempat Ahreum sebelumnya untuk membopong Nayeon, disusul dengan Abi yang juga ikut berlari kecil untuk menghampiri keberadaan Hanna.
Sementara itu Ansell yang tadinya hendak menghampiri istrinya, tubuhnya tiba-tiba membeku kala wajah wanita yang tengah berlari padanya semakin jelas terlihat.
__ADS_1
Disaat langkahnya hampir sampai pada keberadaan Ansell, seorang lelaki bertubuh besar pun muncul dari ruangan yang sama tempat wanita tadi melarikan diri. Karena sudah tak ada kesempatan untuk menangkapnya ia pun berniat untuk langsung menembaknya dari jauh.
Namun tentu saja sebelum pelatuk ditarik Ansell sudah lebih dulu menembaknya beberapa kali hingga akhirnya lelaki itu pun tumbang. Bersamaan dengan sampainya langkah wanita tadi ke hadapan Ansell, wanita itu pun langsung memeluk Ansell erat seolah tengah meminta perlindungan padanya.
Tanpa Ansell sadari sebenarnya saat ia mengangkat tangan untuk menembak lelaki diujung sana, ternyata ada penembak runduk yang tengah mengincar istrinya dari luar gedung. Beruntung Bennedict cepat sadar akan hal itu, ia melihat sinar bulat berwarna merah yang tengah mengarah pada bagian dada Ahreum.
Dengan cepat ia pun berlari lalu mendorong tubuh adiknya hingga keduanya pun terjatuh ke lantai.
Dooorrrr!!! Benar saja, bunyi tembakan itu pun terdengar nyaring begitu keduanya telah berhasil menghindari saat-saat kritis.
Melihat itu Ansell pun lantas melepas paksa pelukan wanita bergaun putih berlumur darah itu, kemudian bergegas menuju keberadaan istri dan kakak iparnya.
“kau baik-baik saja, Ahreum?” tanya Ansell seraya menurunkan tubuhnya agar sejajar dengan wajah Ahreum.
“pertanyaan yang bodoh! Bagaimana dia bisa baik-baik saja disaat dirinya hampir tertembak!” geram Bennedict seraya bangkit dari duduknya.
“MEREKA MASIH ADA DILUAR, CEPAT TANGKAP!” perintah Bennedict pada anak buahnya.
“tetap disini, kakak yang akan mengantarmu pulang!” tegas Bennedict pada Ahreum yang masih terduduk dibawah dengan tatapan kosongnya sebelum ia pergi menyusul anak buahnya yang berlarian keluar untuk menangkap sang penembak itu.
***
Bersambung…
__ADS_1