
Diperjalanan pulang Ansell juga Abi.
“apa kau sudah tidak waras Ansell?
Bagaimana kau bisa berkata kasar seperti itu pada calon mertuamu.” Dumel Abi selagi terfokus pada jalanan didepannya, ia tetap tak bisa tinggal diam kala temannya tersebut sudah kelewat batas.
“diamlah, aku tak ingin mendengar ocehanmu, antarkan aku saja ke aparteman.” timpal Ansell seraya menurunkan kursinya hingga dirasa cukup untuk berbaring sesaat sebelum sampai ditempat tujuannya.
***
Kembali ke kediaman keluarga Bagaskhara.
Masih bertempat diruang tamu, setelah kepergian Ansell juga Abi, baik Ahreum maupun Seno sang ayah masih tampak terduduk saling bersebelahan disebuah sofa. Keduanya terdiam sesaat sebelum akhirnya sang ayah bersuara untuk memecah keheningan dimalam itu.
“kau yakin akan baik-baik saja Ahreum?” tanya Seno yang ingin memastikan keadaan putrinya tersebut, sepertinya ia mulai mengkhawatirkan pernikahan yang akan dijalani putrinya nanti.
“iya ayah, aku baik-baik saja, ayah tak perlu khawatir dan percaya saja padaku.” Sahut Ahreum seraya menatap lekat kedua bola mata sang ayah yang kini tampak berkaca-kaca, seraya menggenggam erat kedua tangannya.
Sementara itu, dilantai atas terlihat Enzy sang istri tengah memperhatikan suami dan putrinya dari balik pagar pembatas lantai 2, lengkap dengan kedua mata yang sudah berderai air mata.
Melihat sikap kasar putra dari temannya tersebut membuat dirinya sangat menyesal karena telah memaksa putri dari suaminya untuk terlibat dalam perjanjian orang tuanya dimasa lalu.
Namun mau bagaimana lagi janji adalah janji, pada akhirnya ia hanya menutup mata akan perlakuan kasar Ansell dan tetap berpegang teguh pada rencana awalnya, yaitu membuat pernikahan itu benar-benar terjadi, kemudian ia pun akan terlepas dari perjanjian konyol yang selama ini selalu menghantuinya.
“maafkan ibu, nak, karena ibu juga tak ingin menyerah dengan pernikahanmu.” Gumam Enzy yang kemudian pergi sebab tak sanggup untuk melihat kesedihan antara putri dan ayah nya tersebut yang masih berlangsung diruang tamu.
----
“bagaimana kalau kita bicarakan kembali hal ini dengan ibumu, dan juga keluarga Dirgantara, agar kau tak perlu menikah dengan pria kasar seperti itu, kau bahkan lebih pantas bersama dengan Elios, pria yang sebelumnya mengantarmu itu daripada kau..”
“ayah..
Bukankah tidak baik jika kita menambah beban fikiran ibu, ibu sudah sering keluar masuk rumah sakit karena kandungan ibu lemah, jika sesuatu yang buruk terjadi pada ibu, ayah akan sangat menyesal bukan?
Jadi, aku tidak apa-apa ayah, aku baik-baik saja, aku akan menjalani pernikahan itu. Oke.” Selanya, sebalum Seno menyelesaikan kalimatnya, dengan tegas ia ingin meyakinkan ayahnya jika dirinya sudah benar-benar siap dengan segala apapun yang terjadi dikemudian hari.
__ADS_1
“ayah benar-benar bangga padamu nak, kau memang putri ayah yang terbaik.” Peluk haru pun menyelimuti keduanya lengkap dengan air mata yang terus bercucuran dari kedua mata pria paruh baya tersebut, membuat Ahreum pun ikut merasakan emosional yang ayahnya rasakan kini.
***
Di aparteman.
Setelah mengantarkan Ansell sampai dipekarangan aparteman, Abi pun kembali menancapkan gas nya menjauh dari area aparteman. Dan hendak pulang ke kediamannya karena pekerjaannya hari ini telah selesai.
Waktu menunjukan pukul 00:00 tepat, saat Ansell telah selesai membersihkan tubuhnya dari polusi udara yang menempel ditubuhnya seharian ini, masih dengan jubbah mandinya ia berjalan santai menuju dapur, lalu membuka sebuah lemari pendingin yang cukup besar dan mengeluarkan sebuah botol wine kemudian dibawanya menuju meja.
Kedua mata tajamnya pun langsung mengarahkan pandangannya menuju gelas yang tertata rapih di sudut meja, kemudian menyambarnya dengan 1 tangannya, mendekatkan gelas tersebut dengan botol wine yang masih dalam genggamannya.
Ia pun langsung menuangkan wine tersebut ke dalam sebuah gelas dan mencoba menggoyang-goyangkan gelasnya untuk mengeluarkan aroma khas dari wine tersebut. Sebelum akhirnya meneguk perlahan hingga habis tak tersisa.
Aktivitas tersebut terus berlangsung sampai ponsel Ansell berdering tanda ada panggilan masuk untuknya, kedua matanya pun mencoba untuk mencari asal bunyi dari ponselnya diruang tamu, tak butuh waktu lama ia pun berjalan menuju ruang tamu masih dengan gelas yang berisikan wine dalam genggamannya.
Begitu sampai ditempat bunyi panggilan itu berasal ia pun langsung menaruh gelasnya di atas meja ruang tamu, kemudian beralih meraih jas nya yang sebelumnya ia lempar ke atas sofa untuk mengambil ponsel yang berada didalam saku jas nya.
Dilihatnya panggilan tersebut berasal dari gadis yang akan menjadi istrinya beberapa hari lagi. Ia pun mengerutkan keningnya seraya mendekatkan ponselnya ke telinga untuk menerima panggilan tersebut.
“apa kau sudah sampai dirumah?” tanya seseorang dalam telfon begitu panggilan itu terangkat.
“tidak, aku hanya ingin tanya saja.”
“yasudah, akan ku tutup telfonnya.” Pungkas Ansell yang berniat untuk mengakhiri panggilan tersebut.
“tunggu..” cegah Ahreum.
“apa lagi?!” ketus Ansell.
“apa kau baik-baik saja?” tanya Ahreum kembali.
“sebenarnya apa yang ingin kau katakan?!” sahut Ansell masih dengan nada ngegasnya, ia pun meraih gelas yang berisikan wine yang sebelumnya diletakan dimeja, kemudian bangkit dari tempat duduknya, dan berjalan santai menuju balkon kamarnya.
“aku bertanya, apa kau baik-baik saja?” ulang Ahreum.
__ADS_1
“tentu, aku baik-baik saja!” dusta Ansell seraya kembali meneguk wine yang tengah digenggamnya.
“ahhh iya sudah pasti kau akan baik-baik saja, karena tak ada yang perlu pria khawatirkan, lain hal nya dengan wanita, jika menikah lalu bercerai pasti pihak wanita yang banyak dirugikan, karena tubuhnya tidak akan seindah saat awal sebelum menikah, bukan?” Celetuknya panjang lebar yang membuat Ansell kembali mengernyitkan keningnya, sebab dirinya tahu arah pembicaraan Ahreum kemana.
Dengan tawa mengejeknya ia pun menimpali celotehan gadis tersebut.
“YAK!! Hahaaa, kau fikir aku tertarik dengan tubuh kurusmu itu, tak ada satu pun hal yang membuatku bereaksi terhadap tubuh jelekmu itu dan juga kau tidak cantik-cantik amat tuh!! Jadi jangan bermimpi aku akan melakukannya denganmu!!” pekik Ansell.
“benarkah? Kau yakin tak akan menyesalinya bukan?” sahut Ahreum lagi.
“hahahaa!! Menyesal? Tidak akan pernah terjadi!!” tegas Ansell dengan penekanan dalam setiap kata-katanya.
“oke!! Hihihi.. kata-katamu sudah ku rekam ya, jika kau melanggar itu artinya kau bukan pria sejati. Aaahhahahahaa!!” tawanya pecah kala ia berhasil memancing Ansell untuk mengucapkan sebuah kalimat pernyataan yang membuatnya tidak akan melakukan kontak fisik selama pernikahan itu berlangsung.
Menyadari jika dirinya telah dikerjai oleh gadis licik tersebut ia pun hendak mengeluarkan sumpah serapahnya, namun sebelum hal itu terjadi, Ahreum lebih dulu mematikan panggilannya karena ia sudah mencapai tujuannya tak perlu lagi memperpanjang pembicaraannya dengan pria angkuh tersebut.
“AUGGHH SIALAN!!! Aku terkena lagi jebakannya, dasar rubah licik!!”
***
Dikamar Ahreum.
“kau yakin akan hal itu?” timbrung Rihanna yang telah sadar 20 menit yang lalu, ia pun berkomentar setelah mendengar percakapan yang berlangsung antara karibnya dengan calon suaminya tersebut.
“tidak, aku hanya mengisenginya saja kok.” Sahut Ahreum yang kemudian bangkit dari kursi kemudian berjalan menghampiri Rihanna yang masih terduduk lemas diatas ranjang miliknya.
“maksudmu?” timpal Rihanna kembali bersamaan dengan mendaratnya bokong Ahreum ditepi ranjang.
“aku lebih suka dia mengumpat dan meluapkan emosinya daripada hanya menahannya sembari minum-minuman berakohol, itu tidak baik untuk tubuhnya.”
“ciih!! Suka-sukamu sajalah, lagipula darimana kau tahu, kalau saat ini dia sedang minum-minum, huhh.” Celoteh Rihanna seraya menurunkan tubuhnya dari sandaran ranjang, agar ia bisa kembali berbaring, kemudian menarik selimutnya dan memiringkan posisi tubuhnya membelakangi Ahreum untuk mengakhiri percakapan singkatnya dengan karibnya tersebut.
Ahreum pun terdiam seketika, saat sebuah cuplikan tiba-tiba muncul dalam bayangannya, iya cuplikan itu terjadi beberapa hari yang lalu saat dimana ia tengah memergoki Ansell yang berdiri dibalkon kamarnya seraya beberapa kali meneguk minuman kalengnya.
Raut wajah itu jelas sekali menggambarkan keadaannya kala itu, rasa rindu, sakit juga kesepian yang ia rasakan bercampur menjadi satu membuatnya benar-benar terlihat menyedihkan.
__ADS_1
***
bersambung...