Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO

Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO
Episode 120


__ADS_3

Sesampainya di baseman aparteman tempat tinggal Ahreum dan juga Ansell. Bennedict pun turun terlebih dahulu dan segera bergegas menuju pintu lainnya untuk membukakan pintu.


“aku bisa berjalan sendiri kok kak, lebih baik kakak pergi aja.” Ucap Ahreum yang tengah melepas safety beltnya.


“tidak, kakak akan menggendongmu sampai ke aparteman.” Kekeuh Bennedict.


Ahreum hanya bisa menghela nafas pasrah kemudian turun dari mobil.


Beep.. beep.. suara pintu mobil terkunci, Bennedict memutar tubuhnya kemudian menurunkannya seperti yang dilakukannya sebelumnya agar Ahreum bisa dengan mudah naik ke punggungnya.


“ada yang ingin kakak katakan?” gumam Ahreum pelan namun terdengar jelas sekali ditelinga Bennedict.


“2 lelaki yang sekarat diruangan tempat kalian disekap, itu perbuatanmu kan, Ahreum?!” tebak Bennedict.


“apa kau mengganggap remeh perjuanganmu selama bertahun-tahun lalu, Thania. Kau ingin kembali..”


“bagaimana aku bisa diam saja, ketika Rihanna rela menggantikan tempatku.” Potong Ahreum yang membuat Bennedict pun terdiam sesaat untuk menantikan penjelasan lebih lanjut dari adik perempuannya itu.


“saat mereka bertanya siapa diantara kami yang menjadi istri Ansell dirgantara, tanpa berfikir panjang Rihanna langsung meneriakan dirinya sendiri. Dia ingin menyelamatkanku dengan mengorbankan dirinya, lalu.. bagaimana mungkin aku hanya diam saja melihatnya pergi, kak..”


“aku sudah berusaha untuk menahannya, dan menunggu siapapun yang akan datang menolong, tapi.. bagaimana jika itu sudah terlambat, bagaimana jika hal mengerikan itu terulang kembali?


Aku sudah kehilangan Mama, haruskan aku kehilangan Rihanna juga?! Aku tak bisa membiarkan seseorang menggantikan diriku lagi kak hikkssss.. hikkssss!!...” cerita Ahreum panjang lebar dengan diiringi tangis pilu yang sudah tak bisa ia tahan kembali.


Mendengar hal itu Bennedict pun merasa kasihan sekaligus bersalah karena datang sangat terlambat, hingga membuat adiknya kembali berada disitusi yang sulit.


Begitu sampai didepan pintu lift, Bennedict pun lantas menekan 1 tombol dan menunggu pintu lift terbuka, sementara Ahreum masih bergumul dengan isak tangis yang memilukan.


“maaf.. maafkan kakak seharusnya kakak datang lebih cepat.” Gumam Bennedict seraya masuk ke dalam lift setelah pintu terbuka.

__ADS_1


“tapi meskipun begitu aku tidak menyesal sedikitpun, kak. Dan jika situasi yang sama terulang kembali dimasa depan, aku.. akan tetap melakukan hal yang sama, aku tak akan membiarkan siapapun menyakiti orang-orang yang aku cintai!” tegasnya ditengah isak tangisnya.


“Ahreum..”


“aku tak perduli jika harus masuk penjara ataupun berakhir dirumah sakit jiwa! Selama orang-orang yang ku cintai baik-baik saja, aku pun.. akan baik-baik aja. Hiksss.. hiksss!!..” katanya lagi dengan isakan tangis yang semakin kencang membuat Bennedict tak dapat berkata-kata.


Trininggg.. suara pintu aparteman terbuka setelah Ahreum meletakan jempolnya ditempat scan sidik jari yang terletak dibawah tombol.


Bennedict perlahan masuk ke dalam dan langsung menuju kamar Ahreum.


Tanpa berkata Bennedict pun menurunkan Ahreum ditepi ranjang tidurnya, kemudian memutar tubuhnya untuk menatap sejenak wajah sembab adiknya yang masih tampak mencoba menghentikan tangisannya.


Ia pun mendudukan adiknya dengan gerakan yang lembut lalu berjongkok didepannya seraya menggenggam erat kedua lengan Ahreum.


“maafkan kakak, karena selalu datang terlambat.” Ucapnya lembut seraya menyingkirkan helai rambut Ahreum yang menghalangi pandangannya.


“hanya membuatnya tak sadarkan diri saja, oke. Kakak mohon.. jangan pergi lebih jauh dari itu. Kakak mohon padamu, Thaniaa..” tambahnya dengan suara getirnya serta kedua matanya yang mulai berderai air mata.


Ahreum pun mengangguk lalu memeluk kakaknya bersamaan dengan tangis yang kembali pecah dalam keheningan kala itu.


***


Kilas balik 7 tahun lalu, ditaman kota. Terlihat Bennedict tengah terduduk bersama Winter kekasihnya.


“apa kau tahu alasanku meninggalkan dunia seni dan lebih memilih masuk ke kepolisian?” ujar Bennedict seraya mengarahkan pandangannya lurus ke depan dengan secangkir kopi dalam genggamannya yang sesekali ia seruput.


“apa sesuatu terjadi padamu?” tebak Winter seraya mengarahkan pandangannya pada Bennedict yang terlihat sedang tidak baik-baik saja, seakan banyak hal yang ingin ia sampaikan namun bingung harus memulainya dari mana.


“aku harus melindungi adikku.” Ucap Bennedict yang kemudian mengarahkan pandangannya pada Winter, hingga kedua bola mata mereka pun bertemu.

__ADS_1


“dan sepertinya karena hal itu juga aku tak bisa melanjutkan..”


“karena adikmu berbeda dengan yang lain?” potong Winter seakan sudah tahu apa yang sebenarnya Bennedict sembunyikan darinya selama ini.



Benedict membulatkan matanya karena terkejut. “kau sudah tau?” ujar Bennedict yang lalu menaruh cangkir kopinya disamping kakinya.


“he’em, aku melihatnya sendiri bagaimana mengerikannya Thania, saat dia mendorong Jeno dari permainan besi dan juga saat dia melayangkan sepatu heels yang sangat tajam tepat ke wajah Jeno. Pada awalnya aku juga merasa takut, tapi seiring berjalannya waktu aku mengerti. Dia hanya ingin membalas perlakuan jahat orang lain terhadapnya, Thania tidak pernah melukai orang yang tidak bersalah. Dan kurasa sejauh yang ku tahu, dia sudah berusaha menahannya Ben.


Tapi ketika hal itu sudah tak bisa ia tolerir lagi barulah ia akan bertindak. Semacam ini, jika kau tidak mengusikku maka aku pun tidak akan melukaimu.” Ceritanya panjang lebar dengan diakhiri senyum tipisnya.


“kau yakin baik-baik saja, Thania sudah beberapa kali melukai adikmu?” respon Bennedict yang kemudian menggengam kedua lengan Winter yang berada diatas pahanya dengan 1 tangan hangatnya.



“Thania sudah menahannya beberapa kali Ben, tapi Jeno yang terus mengisenginya sampai teman-teman sekolahnya waktu itu ikut mengejek Thania gendut, dan seperti badut. Aku pun akan melakukan hal yang sama jika berada diposisi Thania. Itu semua karena ulah Jeno sendiri. Thania sudah memintanya berhenti, tapi Jeno tak mau dengar dan dia terus saja ikut-ikutan mengejek Thania hingga akhirnya Thania berada pada puncaknya lalu melakukan hal mengerikan itu.


Setelah aku tahu kebenarannya aku bahkan malu untuk bertemu dengan Thania, karena perbuatan adikku Thania harus mendapat ejekan dan bullyan dari teman sekelasnya. Aku minta maaf atas nama adikku, Ben.” Paparnya seraya mengeratkan genggaman tangannya ditambah senyuman manisnya yang mengembang menghiasi wajah cantiknya.


“kau yakin baik-baik saja, dan bisa menerima kondisi adikku?” tanya Benn kembali untuk memastikan.



“iya, aku sangat yakin, tolong jangan jadikan hal itu sebagai hambatan untuk hubungan kita Ben, aku sangat mencintaimu, dan juga Thania.. sudah ku anggap sebagai adikku sendiri. Disaat semua orang menjauhi Thania, kita harus tetap berada disisinya, karena kita.. adalah keluarga bukan?” pungkas Winter yang mengakhiri percakapan serius dimalam itu kemudian mereka pun saling berpelukan setelah beberapa saat saling melempar senyum.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2