Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO

Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO
Episode 192


__ADS_3

Begitu Franky pergi dengan membawa Nayeon yang terlelap dalam gendongannya, mereka berempat pun kembali melanjutkan obrolannya.


“ahh iya Omma, apa panti asuhan Cinta kasih masih ada?” tanya Ahreum yang membuat Omma mengerutkan dahinya karena merasa aneh dengan pertanyaan cucunya itu.


“kenapa kau menanyakan panti asuhan itu Ahreum?” alih-alih menjawab, Omma malah nanya balik.


“Iya nih, kok tiba-tiba nanyain panti asuhan.” Timbrung kakek yang juga merasa aneh dengan pertanyaan Ahreum seraya menaruh wadah es krim yang sudah kosong ke atas meja.


“tidak ada, hanya pengen tahu aja hehee, dulu kan kalau libur SD aku sering sekali main dipekarangan belakang panti dengan teman-teman panti disana.” Tuturnya lengkap dengan senyum yang tampak sekali dipaksakan.


“hmm.. Iya panti itu masih ada, cuma anak-anaknya sekarang tidak sebanyak dulu.” Jelas Omma.


“tuaannn!! Nyonyaa!!” teriak seorang pria yang berumur 30 an sembari berlari menuju area ruang kelauarga untuk menghampiri majikannya.


“Iya pak Ujang ada apa?! kok lari-lari segala.” Sahut Oppa seraya bangkit dari sofa dan mengarahkan pandangannya pada tukang kebunnya yang baru saja sampai dihadapannya.


“mang Ucup, tuan mang Ucup..” ceritanya disela rasa paniknya yang luar biasa.


“mang Ucup kenapa?” timbrung Omma yang kini ikut bangkit disertai rasa khawatirnya.


“mang Ucup digigit babi hutan nyonya.” Ceritanya lagi.


“apa?! kok bisa ada babi hutan diperkebunan?


Cepat panggil pak Supri, siapkan mobil antar Ucup ke puskesmas sekarang juga!” perintah Oppa yang kemudian ikut mengambil langkah panjang setelah mang Ujang menyahut dengan anggukan dan berlari menuju pekarangan belakang untuk membawa temannya ke puskesmas seperti yang atasannya perintahkan.


“haduhh kok ada-ada aja sih!


Sayang, Omma tinggal dulu sebentar ya, kalian bersenang-senang aja disini, kalau butuh apa-apa minta aja ke bi Mirna atau bi Jum ya.” Pamit Omma yang kemudian berjalan menghampiri kedua cucunya yang tengah duduk anteng disofa kemudian mengecup kening Ahreum dan Hanna secara bergantian sebelum dirinya benar-benar pergi menyusul suaminya yang lebih dulu meninggalkannya.


***


“aneh banget, bukannya babi adanya dihutan, kan babi hutan.” Gumam Hanna kala Omma telah pergi.


“mungkin itu babi kebun, jadi mainnya ke kebun.” Celetuk Ahreum yang membuat Hanna refleks memukul punggungnya penuh emosi.


“Aaargghh!! Sakit Hanna!!” ringis Ahreum seraya mengusap area yang dipukul Hanna sebelumnya.

__ADS_1


“ada apa sih berisik banget!” dumel Franky yang kembali bergabung diantara kedua karibnya itu.


Dengan santai ia pun mendudukan bokongnya ditengah Ahreum dan Hanna, hingga keduanya pun kini saling bergeser untuk memberikan ruang pada Franky.


“aiiisshhh, banyak tempat, kenapa mesti duduk disini sih!” gerutu Hanna yang kemudian beranjak dari sofa sesaat untuk menaruh piring yang sudah kosong diatas meja sebelum kembali duduk dengan nyaman.


“dimana Omma dan Oppa?” tanya Franky kala menyadari sofa panjang yang berada disebelahnya itu kosong.


“pergi mengantar pekerjanya yang digigit babi hutan ke puskesmas.” Kata Ahreum ditengah fokusnya menonton acara kartun.


“hah?! Kok bisa.” Timpal Franky.


“kau tidak mengambil kesempatan kan selagi membaringkan Nayeon tadi diranjangnya.” Ujar Hanna seraya melirik sesaat ke arah Franky sebelum kembali mengarahkan pandangnnya pada siaran kartun.


“ciihh!!


Kau fikir aku lelaki seperti apa hah?!” ketus Franky sebab tidak terima dengan tuduhan negative Hanna padanya.


“berisik, aku tidak bisa mendengar apa yang dikatakan Patrick.” Dumel Ahreum seraya bangkit dari sofa kemudian mengambil remote yang berada diatas meja lalu menaikan volumenya dan kembali duduk disofa.


“dengar.. Apa ga sebaiknya kita membawa Nayeon ke psikiater?” tanya Franky, namun tentu saja suaranya teredam oleh volume televisi yang sudah ditinggikan oleh Ahreum, hingga membuat kedua karibnya itu tetap terdiam denagn pandangan yang mengarah ke televisi.


“yak! kalian dengar aku ga sih!” rengek Franky seraya menyenggol tubuh Ahreum dan Hanna dengan sikutnya.


“apa sih?!” ketus Hanna, sementara Ahreum lebih memilih tak memperdulikannya dan tetap terfokus pada layar besar dihadapannya itu.


“yak! Ahreum kecilkan volumenya.” Pinta Franky.


“aisshhh!!” geram Franky yang kemudian merampas paksa remote control yang kini berada dalam genggaman Ahreum, kemudian dengan cepat Franky menurunkan kembali volume televisi.


“Kalian sebenarnya perduli ga sih dengan Nayeon?


Kalian akan tetap membiarkan dia seperti itu terus, tanpa melakukan apapun?


Bagaimana jika kondisi mentalnya semakin memburuk, sampai hilang kewarasannya.” Ujar Franky seraya melirik ke arah Ahreum dan Hanna bergantian.


“Nayeon pasti bisa melaluinya kok, kita hanya perlu menunggu lebih lama. Aku yakin lambat laun dia akan bisa menerimanya.” Sahut Ahreum santai.

__ADS_1


“tapi.. kurasa membawanya ke psikiater bukan ide buruk, setidaknya kita harus berusaha semaksimal mungkin kan?” tambah Hanna yang lebih condong memihak ke Franky.


“benar, sebelum semuanya terlambat.” Imbuh Franky lagi seakan masalah tersebut adalah masalah yang benar-benar serius.


“hmm, mari kita tunggu sebentar lagi aja, jangan terburu-buru.” Timpal Ahreum yang masih kekeh lebih percaya jika Nayeon bisa melaluinya tanpa perlu bantuan seorang psikiater.


“ahh.. Iya btw.


Gimana kalau kita jalan-jalan, sekalian memantau area sekitar panti.” Ujar Hanna yang kembali teringat akan tujuannya kemari, selain ingin mengunjungi kakek dan nenek Ahreum, ada hal yang lebih penting yang membuat mereka mengunjungi kota kelahiran mendiang ibunya Ahreum.


“boleh juga tuh. Ayok!” seru Ahreum yang kemudian bangkit terlebih dahulu, kemudian disusul dengan kedua temannya.


“bagaimana dengan Nayeon?” tanya Franky, begitu mematikan siaran televisi, tiba-tiba ia kembali teringat pada karibnya yang tengah tertidur pulas.


“ahh iya! Jika dia bangun dan mendapati kita ga ada, dia pasti ngamuk.” Sambung Hanna seraya berjalan menyamai langkah Ahreum menuju pintu utama.


“kalau begitu kau bangunkan dia aja. Aku tunggu halaman depan.” Ucap Ahreum yang terdengar seperti sebuah perintah.


“kalau ga bangun-bangun?!” teriak Franky yang masih berada diarea ruang keluarga, agar terdengar oleh telinga Ahreum yang sudah lumayan jauh darinya.


“siram aja pakai air!” teriak Ahreum yang tak kalah nyaringnya.


“waaahh, dia kejam sekali.” gumam Franky yang lalu berlari menuju keberadaan Nayeon.


***


BRRAAAAKKKKK!!!


Franky membanting pintu cukup keras hingga membuat Nayeon refleks terbangun lalu terduduk diatas ranjang dengan kedua mata yang dipaksa terbangun.


“YAK! KAU BOSAN HIDUP HAH!!” bentak Nayeon seraya memelototi Franky yang tengah berdiri diambang pintu dan memegangi bagian dadanya sebab jantungnya masih belum bisa kembali berdetak normal.


“TEMAN-TEMAN!!


NAYEON KATANYA GAK MAU IKUT, AYOO KITA PERGI TANPA NAYEON!!” seru Franky yang kemudian melesat pergi meninggalkan Nayeon yang tengah berusaha mengumpulkan nyawa juga mencerna kalimat yang tadi dilontarkan oleh Franky sebelum akhirnya menghilang dari ambang pintu.


“Aaughhh si**alan!!” umpat Nayeon yang bergegas turun dari ranjang lalu berlarian keluar mengejar Franky yang masih berada didalam rumah.

__ADS_1


“YAK!! FRANKY!!”


__ADS_2