
Malam harinya.
Di toko serba ada, yang bertempat di seberang kampus Royall collage, tampak Ahreum tengah mencoba memilih-milih cemilan juga minumannya untuk ia makan bersama dengan teman yang telah lama menunggunya dibangku depan toko serba.
“kapan kau sampai?” tanya Ahreum begitu ia keluar dari balik pintu kaca toko serba ada, dengan 1 keresek penuh berisikan makanan ringan juga beberapa minuman kaleng, membuat seseorang yang tengah menunggu itu berhenti memainkan ponselnya dan meletakannya diatas meja.
“tadi pagi.” Respon temannya tersebut lalu mengambil alih keresek yang dibawa Ahreum dan meletakannya diatas meja, ia pun mulai mengeluarkan 1 per 1 makanan ringan juga 1 kaleng minuman yang akan ia minum terlebih dahulu.
Ahreum pun menempati bangku yang berada disebelahnya seraya ikut mengambil minuman kaleng setelah temannya selesai mengambil apa yang ia inginkan. Kemudian beralih merogoh tas kecilnya untuk mengambil ponsel yang sedari tadi bergetar menandakan jika ada beberapa panggilan yang masuk.
“apa semuanya baik-baik saja?” tanya Ahreum lagi yang mencoba mengawali pembicaraan diantara mereka berdua, dan lebih memilih untuk focus pada temannya terlebih dahulu sebelum merespon panggilan yang masuk beberapa menit yang lalu.
Ahreum pun mengambil salah satu minuman kaleng kesukaannya dari kantong keresek, kemudian menarik pengait logam yang berada diatas kaleng tersebut lalu meminumnya beberapa teguk selagi mendengarkan respon dari temannya tersebut.
“amm, ya begitulah, dibilang baik kurasa tidak, dibilang buruk juga tidak buruk-buruk banget lah.” Ocehnya seraya mencoba menyobek salah satu makanan ringan yang dibeli oleh Ahreum.
“apa sih maksudmu, dimana kau tinggal, hotel?” tanya Ahreum kembali yang kemudian meletakan minuman kalengnya diatas meja begitu cukup mengaliri kerongkongannya dengan air.
“iya, untuk sementara aku tinggal di hotel, sebelum aku mendapatkan rumah yang cocok untukku tinggali nanti.” Sahutnya seraya mengunyah makanan ringannya setelah berhasil membuat sobekan kecil di ujung kemasan.
“rumah?
Kau akan menetap disini?” respon Ahreum seraya membulatkan kedua matanya.
“kenapa?!
Kau tak suka?” sinisnya yang kemudian meraih kaleng minuman yang berada diatas meja lalu meneguknya beberapa kali setelah membuka pengait logam yang menyegel kaleng minuman tersebut.
Bruugghhh!! Secara mengejutkan ada beberapa siswa SMA yang tak sengaja menabrak sudut meja saat mereka tengah berlari kecil sembari bercanda bersama teman-temannya, membuat Ahreum dan Rihanna terkejut kala beberapa cemilan yang berada diatas meja hampir saja terjatuh dari meja.
__ADS_1
Beruntung dengan tangan sigap Rihanna semuanya bisa teratasi dengan baik, hingga semua cemilan dan minuman tersebut masih aman tidak berpindah tempat terlalu jauh, hal itu juga yang menyebabkan ponsel mereka berdua kini berada ditempat yang bersebelahan.
“maaf.. maaf kami tidak sengaja kak, maaf ya.” Ucap ketiga siswi SMA tersebut secara bersamaan seraya sedikit menundukan kepalanya tanda jika mereka benar-benar tulus meminta maaf.
“astaga, si!!!”
“iya gak apa-apa kok.” Potong Ahreum seraya memegang lengan Hanna agar menghentikan umpatan kasar yang akan ia lontarkan untuk para gadis remaja tersebut.
Para siswi SMA itu pun pergi setelah mengucapkan maaf sekali lagi pada Ahreum dan juga Hanna, sedangkan Hanna tampaknya masih belum bisa meredakan amarahnya, karena sikap sembrono para siswa SMA tersebut.
“tidak, hanya.. tiba-tiba kau ingin menetap disini, bukankah kau bilang kau tak akan pernah kembali lagi kesini.” Lanjut Ahreum yang mencoba untuk kembali pada pembahasan sebelumnya.
“ciihh!!
Apa kau anak-anak, hah? Ya wajarlah aku mengatakan hal seperti itu, kau tau sendirikan bagaimana hancurnya keluargaku pada waktu itu, perusahaan ayahku bangkrut kena tipu sahabatnya sendiri, dan ayahku lebih memilih wanita lain yang menjanjikannya sebuah perusahaan untuknya.
Lalu ibuku menjadi gila, pada akhirnya siapa yang paling terluka disini, hanya aku bukan?! Augh siall, mengingat masa lalu membuatku kembali emosional, kau harus bertanggung jawab, ayo kita minum!!” serunya seraya bangkit dari tempat duduknya dan menghentakan kaleng minuman yang tinggal setengah ke atas meja.
“tidak bisa, aku ada janji dengan orang lain, besok saja.” Respon Ahreum sembari melirik jam yang melingkar dipergelangan tangannya.
“yak! Kau lupa?
“ahh iya, lusa aku menikah ya, hehe. Kau tahu, sebenarnya aku masih belum percaya, aku menikah diusiaku yang masih 21 tahun, hmm.. disaat orang lain masih berkutat dengan pendidikan, karir ataupun impiannya, aku malah sudah mau berumah tangga.” Celotehnya yang kembali meraih minuman kaleng kemudian meneguknya beberapa kali.
“apa sih yang kau khawatirkan, kau akan menikah dengan cucu pewaris KT. Group, perusahaan yang benar-benar stabil tak pernah ku dengar sekalipun perusahaan itu goyah, malah yang ada perusahaan itu semakin berjaya dari tahun ke tahun.
Ditambah Ansell adalah lelaki idola para gadis kau tahu, banyak sekali yang ingin dekat dengannya, bahkan para siswi dinegara XXX juga tergila-gila padanya, padahal dia hanya sekolah SMA 3 tahun disana tapi dia benar-benar populer, bukan hanya ketampanannya tapi otaknya juga jenius.
Ciiih!! Dia memang benar-benar sempurna kurasa.” Ceritanya panjang lebar sembari menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi dan membayangkan sosok Ansell yang luar baisa dalam benaknya, membuat Ahreum mengernyitkan keningnya.
“bagaimana kau bisa sangat mengenal Ansell?” respon Ahreum seraya meletakan kembali kaleng minumannya dimeja.
***
KT. Group.
__ADS_1
Lebih tepatnya diruangan Ansell dirgantara.
“hacciww!!” tiba-tiba saja Ansell merasa sangat gatal dibagian hidungnya hingga bersin pun tak terhindarkan.
“kau mau ku buatkan teh hangat?” tanya Abi yang saat itu tengah terduduk disofa yang berada tepat di depan meja Ansell, ia mengalihkan perhatiannya dari tablet yang berada dalam genggaman tangannya yang cukup besar, hanya untuk memastikan keadaan Ansell.
“tidak, kurasa sepertinya ada yang membicarakanku saja.” Sahutnya seraya menyeka hidungnya yang berair dengan tisu yang berada disamping computer miliknya.
“hufft, kau percaya hal yang seperti itu rupanya.” Celetuk Abi yang kemudian kembali memfokuskan perhatiannya pada layar tablet ditangannya.
“bukankah seharusnya dia sudah mengabariku, masa jam segini dia belum pulang juga.” Dumel Ansell seraya mengecek ponsel pribadinya yang hanya ia gunakan untuk berkomunikasi dengan keluarga dan teman terdekatnya.
“kau tak perlu menjemputnya, katanya dia hanya akan langsung pulang ke rumahnya, ibunya sudah pulang dari rumah sakit.” Papar Abi, begitu ia mendapat pesan dari Ahreum ia pun langsung menyampaikannya pada Ansell.
“apa?!
Kenapa dia mengirim pesan padamu, dan bukannya padaku!” protes Ansell seraya bangkit dari tempat duduknya kemudian bergegas menghampiri Abi disofa.
“entahlah, mungkin dia lebih nyaman denganku.” Goda Abi seraya menahan tawa kecilnya.
“kau bosan hidup ya?!” pekik Ansell seraya merebut tablet yang tengah dipegang Abi, untuk mengecek keseluruhan pesan yang dikirimkan Ahreum pada karibnya tersebut. Sementara Abi beralih ke laptopnya yang berada diatas meja untuk melanjutkan apa yang sedang ia kerjakan sebelumnya.
“ciihh!! Kau fikir sampai kapan kau bisa melawanku Ahreum!! Lihat saja aku akan membuatmu tunduk dan menuruti semua perintahku.” Oceh Ansell selagi membaca beberapa pesan yang dikirimkan Ahreum pada karibnya.
“untuk sekarang, ayo kita ke rumah om Seno dahulu, aku juga harus berbicara dengan kedua orang tua Ahreum, karena selama ibunya dirawat aku belum sempat menjenguknya.” Imbuh Ansell seraya mengambalikan tablet milik Abi.
“sepertinya nona Ahreum tidak pulang ke rumah.” Ujar Abi sembari menatap kedua mata Ansell yang juga tengah menatapnya lekat.
“apa maksudmu?” tanya Ansell seraya menaikan 1 alisnya.
“aku melacak keberadaannya, dan ternyata dia ada di club.” Lanjut Abi lengkap dengan kedua tatapan yang sama terkejutnya.
“APA!!”
__ADS_1
***
bersambung...