Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO

Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO
Episode 79


__ADS_3

Dengan gerakan lembut ia mengusapkannya pada pergelangan Ahreum yang bengkak dan membiru akibat cengkraman kuatnya kemarin malam.


Namun tiba-tiba saja setelah beberapa kali olesan lembut Ahreum terbangun dan..


“ooekk.. oeekk..!!” suara seseorang yang hendak mun**ah, membuat Ansell kontan terkejut dan menghentikan aktifitas mengolesnya kemudian menaruh salepnya ke atas lemari kecil disamping ranjang Ahreum.


“kau kenapa?” cemas Ansell seraya memijat lembut bagian leher belakang Ahreum.


“aku mual sekali..” gumam Ahreum setelah tubuhnya kembali membaik lalu bersandar disandaran ranjangnya.


Dengan sigap Ansell pun meraih bantal yang berada disamping Ahreum untuk dijadikan bantalan punggung Ahreum.


“makasih.” gumam Ahreum kembali masih dengan nada lemasnya dan memejamkan kedua matanya sejenak.


“aku ambilkan air minum hangat dulu.” Ucap Ansell seraya bangkit dari tepi ranjang kemudian bergegas pergi keluar dari kamar.


Selagi Ansell mengambilkan air minum hangat untuknya, kedua mata Ahreum tampak menelusuri sisi ranjang dan menatap sejenak kotak P3K yang berada disampingnya, kemudian beralih ke meja kecil yang berada dipinggir ranjang tempat dimana salep berada.


Sampai akhirnya perhatian Ahreum pun kembali beralih keluar jendela, kala mendengar suara rintik hujan mengenai pagar balkon kamarnya, serta hembusan angin dari sela-sela jendela kamar yang menerbangkan sisi gorden membuat suasana dikamarnya semakin terasa dingin, hingga reflex ia pun memeluk tubuhnya sendiri masih dengan tatapan yang mengarah pada gorden.


“kenapa?” tanya Ansell, yang melihat Ahreum tengah mendekap tubuhnya sendiri.


“ahh, tidak.” Respon Ahreum yang langsung mengarahkan pandangannya pada Ansell.


“diluar hujan? Ku naikan suhu AC nya ya.” Ucap Ansell seraya meraih remote AC yang dilekatkan didinding kamar kemudian memencet beberapa kali tombol untuk menaikan suhu ruangan.


Begitu selesai menurunkan suhu ruangan, ia kembali meletakan remote AC pada tempatnya, kemudian meneruskan langkahnya menuju Ahreum yang sudah menunggu air hangatnya sedari tadi.


Ansell kembali duduk ditepi ranjang disamping tubuh Ahreum, alih-alih membiarkan Ahreum minum sendiri, Ansell pun membantu menegukkan minumannya pada istri mungilnya itu beberapa kali sampai Ahreum merasa lebih baik.


“kau sudah lebih baik sekarang?” tanya Ansell seraya mengusap bagian atas kepala Ahreum dengan tangan yang satunya sementara tangan kirinya masih menggenggam gelas yang sudah hampir habis.


Ahreum pun menggangguk untuk menanggapi pertanyaan Ansell.

__ADS_1


“kau sudah makan?” tanya Ahreum.


“belum.” Sahut Ansell seraya meletakan gelas yang dipegangya ke atas meja kecil yang berada disamping ranjang.


“tadi bi Ijah sudah masak, mau ku hangatkan masakannya?” tawar Ahreum seraya mencoba menurunkan kakinya, namun Ansell lebih dulu mencegahnya dengan menahan tubuh Ahreum lalu menggelengkan kepalanya.


“ga perlu, aku ga lapar.”


Keduanya pun hening sesaat masih dengan saling melempar tatapan intens, sebab tak ada satupun yang kembali memulai percakapan, sampai..


“maafkan aku..” gumam Ansell seraya kembali mengusap lembut bagian sudut dahi Ahreum dengan ibu jarinya.


Ahreum hanya terdiam seraya menatap lekat kedua manik suamianya itu, seolah tengah menunggu penjelasan yang lebih detail lagi mengenai permintaan maaf tersebut.


“hanya saja rasa sakit pengkhiantan yang pernah ku rasakan dulu, masih sangat membekas hingga membuatku tak bisa mengendalikan akal sehatku.” Lanjut Ansell dengan diakhiri senyuman hangatnya yang membuat Ahreum pun ikut mengangkat kedua sudut bibirnya.


“hmm..” respon Ahreum seraya mengangguk pelan kemudian meraih lengan Ansell yang memegang dahinya lalu menurunkannya dan meletakannya diatas pahanya seraya menggenggamnya erat denagn kedua tangan mungilnya.


“apa pergelangan tanganmu masih sakit?” tanya Ansell seraya ikut menggenggam erat tangan Ahreum.


“apa?! Kau mengangkat koper besar itu sendiri.” Seru Ansell lengkap dengan kerutan didahinya setelah melihat ukuran koper tersebut.


“engga.. engga.. Hanna membantuku, lalu setelah naik beberapa anak tangga kakiku terpeleset, jadi akhirnya yang membawa koper besar itu Hanna dan Nayeon.” Cerita Ahreum lagi.


“kenapa kau tak menelfon aku atau Abi?”


“kau kan masih marah padaku tadi siang, dan kak Abi, Hanna sudah mencoba menelfonnya tapi ga diangkat-angkat jadi Hanna memutuskan untuk menelfon Nayeon.” Papar Ahreum.


“hmm.. kedepannya, meski aku sedang marah padamu, kau harus tetap menghubungiku oke.” Tegasnya seraya mengeratkan genggamannya.


“oke.” Sahut Ahreum patuh lengkap dengan anggukan kepalanya yang membuat Ansell semakin gemas dibuatnya.


“tadi kau bilang terpeleset, kakimu terkilir? Yang mana?” tanya Ansell seraya memundurkan bokongnya sampai ke bagian kaki Ahreum lalu mencoba mengamati kedua kaki Ahreum.

__ADS_1


“yang ini bagian tumit..” respon Ahreum dengan nada suara sedikit manja serta menunjuk salah satu kakinya dengan jari telunjuknya.


Setelah memastikan kaki mana yang terkilir, Ansell pun lantas kembali meraih salep yang sebelumnya ia letakan diatas meja kecil disamping ranjang, kemudian menekan bagian ujung salep tersebut seperti yang sebelumnya dilakukan lalu mengoleskannya pada area tumit Ahreum dengan lembut.


“kalau sampai besok tangan dan kakimu masih bengkak, kita ke rumah sakit aja.” Ucap Ansell begitu selesai mengoleskan salep pada area tumit Ahreum.


“gak perlu, besok pasti membaik kok.” Bantah Ahreum.


“hmm.. cuti kuliahmu sudah selesai ya besok, bagaimana kalau ambil cuti lagi, istirahat dulu aja dirumah sampai kaki dan tanganmu benar-benar membaik.” Saran Ansell seraya kembali menaruh salepnya ke dalam kotak P3K.


“gak bisa, aku sudah banyak absen kuliah, aku takut dosen akan mengurangi nilaiku nanti.” bantah Ahreum.


“siapa nama-nama dosenmu?” tanya Ansell.


“eeyyy, ayolah, kau ingin menggunakan kekuasaanmu lagi, itu tidak baik Ansell. Sudah ahh, aku ingin tidur.” Pungkas Ahreum seraya mencoba menurunkan tubuhnya seraya menarik selimutnya.


“hmm..” respon Ansell.


Bukannya pergi, Ansell malah ikut membaringkan tubuhnya dibelakang tubuh Ahreum yang tidur miring membelakanginya setelah memindahkan kotak P3K ke atas meja. Kemudian menjulurkan tangannya ke depan untuk membuat bantalan tambahan dikepala Ahreum, sementara 1 tangan lainnya memeluk erat tubuh mungil Ahreum seraya menggenggam salah satu telapak tangan Ahreum.


“kau tidak akan pergi ke kamarmu?” gumam Ahreum begitu Ansell memeluknya dari belakang.


“tidak, lebih hangat disini.” Sahut Ansell seraya mengeratkan pelukannya.


“sepertinya ada yang sedang patah hati jadinya hujan gede.” Celetuk Ahreum, yang tiba-tiba teringat momen pertama kali ia bertemu dengan Ansell didepan aparteman.


“kau sedang meledekku ya.” Sinis Ansell yang kemudian langsung menggelitik pinggang Ahreum.


“hhehee, hentikan geli.” Rengek Ahreum seraya menahan jemari nakal suaminya itu, kemudian memutar tubuhnya agar berhadapan dengan Ansell.


Dilihatnya wajah suaminya yang tengah memandanginya juga dengan tatapan lembut, membuat dirinya kembali mengangkat kedua sudut bibirnya. Bersamaan dengan itu Ansell pun mengecup kening Ahreum sekali lalu menarik tubuh Ahreum agar masuk ke dalam dekapan tubuhnya yang besar.


Bersambung...

__ADS_1


***


__ADS_2