
Diperjalanan pulang Bennedict, ia merogoh saku jaketnya kemudian mengeluarkan ponsel dan mendekatkannya ke telinga setelah mengetik sebuah angka yang langsung terhubung pada seseorang diseberang sana.
“kau dimana?” tanya Bennedict sebagai kalimat pembukaannya.
“dirumah Nayeon.” Sahutnya.
“kenapa tidak ke rumah sakit?” cemas Bennedict.
“tidak perlu, hanya luka ringan aja. Tadi juga sudah diperiksa oleh dokter pribadi Nayeon disini. Bagaimana dengan Ahreum, apa dia baik-baik saja?” giliran Hanna yang kini bertanya.
“iya. Kirimkan alamat Nayeon, kakak akan menjemputmu dan mengantarmu pulang.” Ujar Benn yang kemudian memutus sambungannya setelah mendapat respon dehaman dari Rihanna.
“he’em.” Patuhnya.
Kembali ke aparteman Bougenville sejenak oke.
Setelah berhasil menormalkan emosinya Ahreum pun keluar dari kamar kemudian berjalan perlahan menuju dapur. Ia membuka pintu lemari pendingin lalu mengeluarkan 1 botol air mineral dan dibawanya menuju tepi meja untuk dituangkan ke gelas yang berada diatas baki disudut meja. Kemudian meneguknya beberapa kali sampai habis tak tersisa.
Meski ia terlihat mencoba untuk tenang namun tak dapat dipungkiri ketika kedua bola matanya terus saja mengarah pada pintu kamar Ansell. Ia tak bisa menyembunyikan rasa sakit, cemburu dan juga khawatir yang bercampur aduk dalam hatinya. Menyadari suaminya masih belum kembali fikiran negatifnya pun seketika menjalar memenuhi otaknya.
Sampai..
Dingg dongg! Suara bel apartemen berbunyi hingga membuyarkan lamunan Ahreum untuk sesaat.
1 alisnya terangkat, sebelum ia meletakan gelas yang berada dalam genggamannya ke atas meja kemudian berjalan perlahan menuju pintu.
“ini saya nona Ahreum.” ujar seseorang dari luar dengan meninggikan suaranya agar bisa terdengar sampai ke dalam.
Ahreum menghela nafasnya sesaat sebelum membukakan pintu, seolah ia merasa kecewa sebab yang datang ternyata bukanlah suaminya. Ya sebenernya ga mungkin juga sih jika yang membunyikan bel itu Ansell, jika Ansell yang datang dia pasti akan langsung masuk tanpa harus membunyikan bel, iya ngga?
Hanya saja setidaknya berharap sedikit ga apa-apa kan.
__ADS_1
***
Setelah menjemput Rihanna dikediaman Nayeon, Bennedict pun langsung menancap gas nya kembali untuk mengantarkan Rihanna pulang ke apartemannya.
“kau yakin baik-baik aja, ga perlu ke rumah sakit?” tanya Bennedict ditengah fokusnya mengemudi ia sesekali melirik kearah Hanna yang tengah mengarahkan wajahnya ke balik jendela mobil.
“he’em.. aku sudah lebih baik.” Respon Rihanna yang menoleh sejenak kearah Bennedict sebelum kembali mengarahkan pandangannya keluar jendela.
“ada yang ingin kau tanyakan pada kakak?” lanjut Bennedict seakan ia mengerti kegelisahan yang tengah melanda hati Rihanna, hanya saja mungkin dirinya bingung harus memulainya darimana.
“entahlah.. aku hanya merasa ini semua seperti mimpi, mungkinkah saat besok aku bangun semuanya akan kembali normal.” Gumamnya yang kemudian menyenderkan kepalanya ke kaca jendela serta mengetuk-ngetukan jemarinya.
“itu adalah kenyataannya Hanna. Kakak pernah bilang bukan, jangan pernah membuat Ahreum hilang kendali. Kau ingat? Dulu Ahreum pernah ijin dari sekolah selama 1 bulan penuh.” kata Ben yang mencoba membahas kisah lama.
“saat Ahreum pergi berlibur ke korea?” sahut Hanna seraya menegakan kembali kepalanya kemudian menoleh kearah Bennedict.
“tidak, pada kenyataannya bukan untuk berlibur, tapi untuk berobat, selama 1 bulan Ahreum tinggal di rumah sakit jiwa.” Ungkapnya yang membuat Rihanna terkejut sampai membulatkan kedua matanya seketika.
“apa?” respon Rihanna yang tak pernah menduga hal seperti itu akan menimpa karibnya.
“aku hanya manusia biasa kak, meski Ahreum teman dekatku sekalipun aku tak bisa menyembunyikan rasa takutku. Aku tak pernah menyangka akan bertemu dengan seorang psiko, kukira hal itu hanya ada dalam drama atau film saja. Berteman dengan anak seorang kepala gangster saja sudah cukup membuatku merinding, dan sekarang teman dekatku sendiri adalah seorang psiko.
Lantas kau ingin aku bagaimana? Hanya melupakan dan membiarkannya berlalu?
Bagaimana jika hal mengerikan dan menegangkan kembali terjadi? Aku tak cukup berani untuk berada disituasi seperti itu kak Ben.” lirihnya seraya menundukan kepalanya seraya menautkan kedua tangan dan meremasnya.
“kau tidak bisa meninggalkan Ahreum.” tegas Bennedict dengan penekanan disetiap kalimatnya seolah kalimat tersebut adalah sebuah perintah dari Bennedict untuk dirinya.
“apa maksudmu? Kenapa aku tidak bisa meninggalkan Ahreum, aku tidak cukup gila untuk tetap berada disisinya.” Protes Rihanna yang kembali mengarahkan wajahnya ke arah Benn.
“kau.. tidak merasa bersalah padanya?” ucap Bennedict seraya mengarahkan pandangan tajamnya ke Hanna untuk sesaat sebelum kembali beralih pada jalanan didepannya.
__ADS_1
Rihanna merasa kebingungan dan tidak mengerti apa yang sebenarnya Bennedict maksud.
“tante Raya bukan, penyebab kematian mama Veronica?!”
Jleb!! Terasa seperti sebuah pisau kecil menusuk ke dalam hatinya ketika Bennedict ternyata mengetahui hal yang selama ini Rihanna sembunyikan rapat-rapat.
Hingga Rihanna pun kembali membulatkan kedua bola matanya lengkap dengan mulutnya yang sedikit menganga karena saking terkejutnya.
“ba.. bagaimana..” ucap Rihanna terbata.
“jika kau merasa bersalah pada Ahreum, sebaiknya kau perlakukan Ahreum dengan baik, Rihanna.
Takut? Apa selama ini dia pernah menyakitimu?! Justru Ahreum melakukan hal seperti itu demi untuk menyelamatkanmu, kau sudah lupa, apa saja yang Ahreum lakukan untukmu selama ini?
Dia bahkan pernah mengehentikan dirimu agar tidak melompat dari gedung sekolah bukan?! Mungkin caranya saat menyelesaikan suatu masalah sangat berbeda dengan orang lain pada umumnya, tapi dia memiliki tujuan yang sama.
Maka dari itu kau harus tetap berada disisinya, menjaganya, dan menjauhkannya dari hal yang bisa memicu emosinya. Kau yang lebih pandai mengatur emosional dan juga bisa memikirkan solusi yang lebih masuk akal, seperti hal nya saat kau menghadapi pria cabul waktu itu.
Lantas kenapa tadi kau malah pasrah begitu aja dan mengorbankan dirimu sendiri untuk dibawa oleh para gangster itu, setidaknya kau bisa mengulur waktu lebih lama sampai kakak datang bukan? Kakak percaya padamu Rihanna, kau bisa memikirkan cara lainnya ketimbang hanya pasrah mengikuti perintah mereka.
Ahreum tidak akan berbuat sejauh itu jika kau tidak dalam bahaya.” katanya panjang lebar yang membuat Rihanna terdiam sesaat, sebelum akhirnta kembali bersuara.
“apa Ahreum juga tahu?” gumamnya.
“apa? penyebab kematian mama?
Tentu, dia yang bersikeras untuk menutup kasus tersebut setelah tahu siapa pelakunya. Dia juga yang memohon pada ayah untuk tidak melanjutkannya lagi. Karena Ahreum tak ingin kau yang akan menggantikan ibumu masuk penjara.” Paparnya.
“lalu kenapa selama ini Ahreum diam aja, seolah tidak ada yang terjadi.” lanjut Rihanna.
“memangnya kau ingin Ahreum melakukan apa padamu, membalas dendam dengan membunuh ibumu atau kau begitu? Fikiranmu sempit sekali. Rihanna!"
__ADS_1
***
Bersambung...