
30 menit kemudian, setelah lama menunggu akhirnya Jeno pun muncul dengan setelan semi formal kemeja putih dengan sedikt motif garis berwarna disalah satu sisi bagian lengan bajunya, dan celana kain berbahan premium yang tampak elegan membalut kedua kaki jenjang Jeno Alexander.
“waaahh, ternyata ini memang benar salahmu.” Nayeon bergumam seraya bangkit dari sofa dan mulai melangkah mendekati Jeno yang juga tengah berjalan menghampirinya, lengkap dengan senyuman yang mampu membuat siapa saja kelepek-kelepek.
“apa?” timpal Jeno yang tidak mengerti apa yang Nayeon maksud.
“iya, gara-gara wajahmu ini yang sangat tampan, sampai membuat semua wanita jatuh hati padamu. Seharusnya kau tidak boleh serakah Jeno, kau bahkan tak memiliki kekurangan sedikitpun hufftt.” Oceh Nayeon seraya melipat kedua tangan diatas dadanya dan menatap tubuh kekasihnya tersebut dari atas sampai bawah.
“jadi maksudnya kau sedang cemburu nih?” respon Jeno lengkap dengan senyuman dan tatapan nakalnya, kemudian ia pun merangkul pinggul Nayeon seraya menariknya lebih dekat dengannya dan mulai menarik langkah keluar dari kediamannya.
“Memangnya siapa lagi yang menyukaiku?
Bukankah kau sudah melabrak semua gadis-gadis yang menggodaku, kau bahkan sampai menjabak dan menampar mereka semua, hahaha, sampai tak ada yang berani lagi mendekatiku.” Ujar Jeno dalam perjalanannya menuju mobil yang terparkir di pekarangannya.
“ada 1 orang lagi.” Ucap Nayeon dengan nada sepelan mungkin namun masih terdengar jelas di telinga Jeno yang berada disampingnya.
“hah, siapa memangnya?
Lalu apa yang kau lakukan padanya, dijambak sampai rambutnya rontok atau kau tampar sampai kedua pipinya memar, hahaha!!” goda Jeno lengkap dengan tawa renyahnya seolah ia tak masalah dengan sikap bar-bar yang kekasihnya itu lakukan pada semua gadis yang mendekati dirinya.
“aku hampir menghancurkan kepalanya dengan botol soju.” respon Nayeon seraya melirik ke arah Jeno dengan tatapan yang tampak penuh penyesalan dan bersiap untuk dimarahi oleh kekasihnya tersebut.
“apa?!!” kaget Jeno hingga mereka berdua pun menghentikan langkahnya secara bersamaan dan saling menatap satu sama lain.
Untuk sejenak Nayeon merasa dirinya akan dimarahi oleh kekasihnya tersebut sebab yang dilakukannya kali ini sudah sangat diluar batas, hingga ia pun hanya terdiam menunggu Jeno kembali bersuara.
“AAHHAHHAA!!!” tawa Jeno menggelegar seiring dengan perubahan raut wajah Nayeon yang tidak bisa mengerti akan respon yang ditunjukan Jeno padanya.
“apa kau benar-benar tergila-gila padaku?
Sampai kau harus melakukan hal se ekstrim itu, Nay.” Lanjut Jeno yang kemudian melangkahkan kembali kakinya menuju sisi mobil yang akan dinaiki oleh Nayeon, ia pun membukakan pintu mobil tersebut untuk kekasihnya yang masih tampak terdiam memandanginya.
“kau tak akan pergi?” ucap Jeno lagi yang masih memegangi pintu mobil.
“kau tidak marah padaku?” tanya Nayeon seraya berjalan ke arah Jeno lalu naik ke mobil.
Tak ingin langsung merespon perkataan kekasihnya tersbut, Jeno pun memilih untuk menutup lebih dahulu pintu mobilnya dan kemudian berjalan menuju pintu mobil lainnya.
“tidak, lakukan aja hal yang menurutmu bahagia, Nay.” Ujar Jeno seraya menyalakan mesin mobil dan mulai menancapkan gasnya menjauh dari kediamannya.
“kenapa?” tanya Nayeon seraya menoleh ke arah Jeno untuk menantikan jawaban yang keluar dari mulut kekasihnya itu.
__ADS_1
“kenapa?” ulang Jeno lengkap dengan 1 alisnya yang terangkat.
“kau memperlakukanku berbeda dengan Ahreum.” Sambung Nayeon.
“ya jelas beda dong, kau kan kekasihku sedangkan Ah..”
“tidak!
Kau memperlakukan ku sebaliknya, seolah Ahreum kekasihmu dan aku yang temanmu. Kau selalu mengatur ini itu pada Ahreum, tidak boleh ini, tidak boleh itu, bahkan jika sesuatu terjadi padanya sikap cemas mu itu terlalu berlebihan jika hanya sekedar untuk teman.
Sedangkan aku, kau selalu membebaskanku melakukan hal apapun yang bahkan ku fikir itu salah, kau tak pernah melarangku, bahkan aku juga tak pernah melihatmu cemburu jika aku sedang bersama dengan teman lelakiku.
Tapi saat kau tahu Ahreum tidur bersama Ansell sewaktu dirumah sakit, aku benar-benar tidak bisa mengartikan maksud dari sikap emosionalmu itu Jeno.
Apa kau menyukai Ahreum?!”
***
Ditempat berbeda (Gedung yang disewa keluarga Ansell untuk pernikahan Ansell dan Ahreum).
“bagaimana mba Ahreum, apa mba suka dengan design ruangannya dan juga panggungnya? apa ada yang perlu ditambahkan lagi?” tanya salah satu staff WO yang tengah menemani Ahreum untuk melihat-lihat progress dari ruangan yang nantinya akan menjadi tempat ia mengikat janji suci dengan Ansell dirgantara.
Sedangkan Ansell hanya memainkan ponselnya sedari tadi disudut ruangan, sembari sesekali terlihat mengangkat telfon dari seseorang, keberadaannya saat ini sungguh tidak membantu sama sekali, sebab lelaki dingin itu hanya melakukan apa saja yang ingin ia lakukan.
“oh iya mba, karena kita tidak memakai bunga asli, jadi kemungkinan mulai sore nanti sudah bisa kita pasang dan tata disemua sudut panggung, rencananya akan didesign seperti ini mba, bagaimana menurut mba?” tanyanya seraya menunjukan sebuah design dari layar tablet yang dipegangnya.
“iya bagus, saya suka.” Respon Ahreum yang menatap serius pada layar tablet yang dipegang oleh staff tersebut seraya menganggukan-anggukan kepalanya.
“amm, barangkali ada yang mau didiskusikan kembali dengan pak Ansell mba, takutnya pak Ansell ada permintaan tambahan?” ucapnya sebelum mengakhiri percakapannya dengan Ahreum seraya melirik sesaat ke arah Ansell yang masih disibukkan oleh kepentingannya sendiri.
“ahh itu, tidak usah perdulikan dia mba.” Sahut Ahreum dengan diiringi tawa renyahnya yang kemudian dibalas tawa juga oleh staff tersebut.
“ahh begitu ya, oke baik mba, saya pamit mau meneruskan pekerjaan ya, silahkan kalau mba Ahreum masih mau melihat-lihat, ada beberapa design disini barangkali mba Ahreum mau menggantinya.” Pamit staff wanita tersebut seraya memberikan tablet miliknya untuk dipinjamkan sejenak pada Ahreum.
“oke mba, terimakasih atas kerja kerasnya.” Timpal Ahreum yang kemudian dibalas dengan anggukan dan senyum ramah sebelum ia pergi berlalu.
“AHREUM!!” panggil seseorang diambang pintu masuk aula, suara yang tak asing bagi telinga Ahreum, yakni Nayeon christin karibnya dari semenjak SMA.
Mendengar panggilan tersebut Ahreum pun membalikan tubuhnya untuk menyambut karibnya itu, terlihat Nayeon tengah berjalan ke arahnya lengkap dengan senyum cerah seperti biasanya, disusul dengan Jeno yang berjalan 1 langkah dibelakang Nayeon yang juga menyunggingkan senyuman termanisnya, hingga membuat hatinya seperti tersengat listrik.
“bagaimana, persiapannya sudah berapa berapa persen?” tanya Nayeon begitu sampai dihadapan Ahreum.
__ADS_1
“amm, kurasa sudah 80% hanya tinggal menata bunga saja diseluruh ruangan juga panggung.” Sahut Ahreum.
“dimana Ansell?” tanya Nayeon lagi.
Alih-alih menjawabnya, Ahreum malah menunjukan keberadaan Ansell dengan lirikannya.
“sedang apa dia?” gumam Nayeon seraya menatap ke arah Ansell yang masih asyik dengan dunianya sendiri.
“entahlah.” Sahut Ahreum lagi yang sudah malas membahas calon suaminya tersebut.
“apa kau pulang dengan selamat tadi malam, Ahreum?” tanya Jeno seraya menatap Ahreum lekat.
“iya, aku pulang diantar Ansell tadi malam.” Respon Ahreum lengkap dengan senyumannya.
“bagaimana Ansell bisa ada disana, kau yang menghubunginya?” tanya Jeno lagi seolah melupakan keberadaan Nayeon, baik Jeno maupun Ahreum tampak sangat nyaman berbincang berdua. Sampai saat Nayeon perlahan mundur dan pergi, tak ada satu pun yang menyadarinya.
“entahlah, dia tiba-tiba saja datang, kurasa mungkin selama ini dia tidak jauh dari sekitar kita, dia hanya sedang bersembunyi aja.” Sahut Ahreum seraya menatap ke arah Ansell dengan tatapan sinisnya.
“bersembunyi?
Hahaha, kurasa dia tidak mau tuh dinikahkan denganmu.” Celetuk Jeno dengan diiringi tawa renyahnya.
“memangnya aku mau?
Kita menikah kan memang karena dijodohkan hufft.” Ucap Ahreum dengan diakhiri helaan nafasnya.
“iya sih, lagipula kenapa juga nenekmu itu sampai melibatknmu dalam janjinya, bukankah itu tidak adil sekali untukmu, terlebih lagi kau kan hanya cucu palsu.” Oceh Jeno.
“hahahha!!” Ahreum hanya bisa tertawa mendengar ocehan karibnya tersebut.
“ehh, itu, bukankah itu foto kita Ahreum.” Ucap Jeno kala ia melihat ada seseorang yang tengah memajang sebuah bingkai foto yang cukup besar di atas kayu penyangga.
Merasa sangat antusias sekali Jeno pun langsung melangkahkan kakinya menuju sudut yang bersebrangan dengan Ansell untuk melihat lebih dekat foto prewedding dirinya dengan Ahreum. Namun saat Ahreum hendak menyusul Jeno, Ahreum mendengar samar-samar suara seorang staff tengah memperingatkan Ansell dari jauh.
“pak Ansell, awaas!!” kalimat itulah yang tertangkap oleh telinga Ahreum, sontak ia pun langsung melihat ke arah Ansell untuk memastikan apa yang terjadi, kedua matanya pun membulat kala ia melihat sebuah lampu besar tepat berada diatas Ansell tampak bergoyang-goyang seolah akan terjatuh menimpa Ansell.
Karena Ansell tengah sibuk menelfon, akan sulit rasanya jika hanya memperingatinya dengan memanggilnya, mau tak mau Ahreum pun harus berlari untuk menarik Ansell dari atas lampu yang akan jatuh menimpanya.
Namun naasnya sebelum Ahreum melangkahkan kakinya ia sempat melirik ke arah Jeno, dan tampaknya keadaan Jeno pun tidak jauh berbeda dengan Ansell, seolah seperti sudah direncanakan kedua lamapu yang berada diatas Ansell dan Jeno tiba-tiba saja bergoyang.
“augh sial!!”
__ADS_1
***
bersambung...