
Begitu selesai menyantap makan siang diresto, mereka berdua terlihat sedang berjalan-jalan di sekitaran kota Jakarta dengan menjilati ice cream yang mereka beli sebelumnya di toko klontong pinggir jalan.
“apa kau sudah lebih baik sekarang?” tanya Rihanna masih dengan menikmati ice cream rasa green tea favoritenya sedangkan Nayeon rasa strawberry.
“belum. Disini.. masih terasa sakit sekali.” sahut Nayeon seraya menepuk dadanya pelan dengan telapak tangannya sementara lidahnya sibuk menjilati ice crem.
“cihh.. memangnya apa sih yang kau lihat dari lelaki brengsek itu, jangan bilang karena dia tampan.” Lanjut Hanna lengkap dengan tatapan julidnya.
“dia memang tampan kok.” Celoteh Nayeon dengan wajah datarnya.
“jika hanya karena dia tampan, kau kan bisa tinggal mencari pria tampan lainnya, memangnya di kampusmu tak ada 1 pun pria tampan lainnya?” balas Hanna seraya melirik sesekali ke arah Nayeon yang tetap menatap lurus ke depan saat berbincang dengan Hanna, seolah jiwanya tengah mengembara tak tahu kemana.
“amm bagaimana ya aku menjelaskannya, dia seperti.. memiliki getaran yang tak dimiliki oleh pria lain.” Oceh Nayeon kembali yang kekeh terus berpihak pada Jeno meskipun pria tersebut sudah berulang kali menyakitinya.
“getaran?
Apa sih yang kau bicarakan, jika ingin yang bergetar, nih ponselku juga bisa bergetar.” Sahut Hanna seraya merogoh ponselnya dari dalam tas kecil yang ia selempangkan kemudian menunjukannya pada Nayeon.
Tentu saja perkataan Hanna itu langsung dibalas tatapan julid dari Nayeon kemudian dengan santay nya Nayeon menggeplak bagian belakang kepala Hanna hingga kepala Hanna pun terdorong ke depan dan menghantam ice cream yang hendak dijilatnya kembali.
“yak!!” bentak Hanna dengan wajah yang belepotan ice cream.
Namun Nayeon tampak tak perduli, ia malah terus melanjutkan perjalanannya yang entah akan kemana sembari menjilati ice cream strawberrynya.
“apa kau tak bisa bicara hanya dengan mulutmu, kau selalu saja melakukan tindak anarkis! Aughhh!!” protes Hanna seraya menatap tajam bagian punggung Nayeon yang semakin menjauh darinya.
Karena tak memiliki tisu yang bisa membersihkan wajahnya dari noda ice cream, ia pun mengedarkan pandangannya ke sekitar untuk mencari sebuah toko kelontong atau toko serba ada.
Senyumnya pun mengembang kala matanya menemukan toko kelontong yang berada tak jauh dari tempatnya kini berdiri. Ia pun bergegas menuju toko kelontong dan mengabaikan karibnya yang telah berjalan cukup jauh.
“bu beli tisu kering dan basah dong 1.” Pinta Hanna pada wanita paruh paya penjaga toko kelontong itu.
“sebentar saya carikan dulu ya neng.” Ucapnya seraya beranjak dari tempat duduknya kemudian mencoba mencarikan barang yang diinginkan gadis muda tersebut.
Sementara sang wanita paruh baya itu mengambilkan barang yang diminta Hanna, Hanna mencoba memeriksa wajahnya dicermin yang tergantung didinding dekat meja kasir.
__ADS_1
“aissshh.. gadis itu benar-benar.. aku seperti mengurus bayi besar saja.” Dumelnya seraya menatap wajahnya sendiri yang belepotan ice cream dicermin.
“ini neng, yang ukuran kecil atau besar?” tanya sang wanita penjaga tersebut sembari meletakan beberapa macam tisu basah dan kering yang berbeda ukuran diatas meja.
“yang kecil aja bu. Jadi berapa?” ucap Hanna seraya mengambil tisu basah ukuran kecil kemudian merobeknya untuk mengambil 1 lembar tisu basah lalu mulai mengelap wajahnya, mumpung ada cermin juga didepannya.
“jadi 12.000 neng.” Balas sang wanita penjaga tersebut lengkap dengan senyum ramahnya.
“oke bu, sebentar ya.” Sahut Hanna yang kemudian beralih pada tisu keringnya, setelah ia membersihkan noda ice cream dengan tisu basah, ia pun kembali mengelapnya dengan selembar tisu kering.
Begitu dirasa cukup bersih, Hanna pun merogoh tas selempangnya dan mengeluarkan 1 lembar uang 50.000 an kemudian diberikannya pada sang wanita penjaga tersebut.
Hanna memasukan barang yang dibelinya ke dalam tas kecilnya selagi sang wanita penjaga menghitung kembaliannya.
“ini kembalinya neng.” Ucap sang wanita penjaga seraya memberikan pecahan 10.000 an dan 2.000 an pada gadis muda yang berada dihadapannya itu.
Dengan senang hati Hanna mengambilnya. “makasih bu.” Hanna pun lantas pergi setelah menyunggingkan senyum manisnya pada sang wanita paruh baya itu.
…..
Rihanna mengedarkan pandangannya ke area sekitar seraya berjalan perlahan kalau-kalau karibnya itu mampir ke suatu tempat.
***
Kembali ke area pemancingan xxx.
Sore harinya, setelah melalui hari yang cukup melelahkan mereka pun kini akhirnya bisa beristirahat diatas rerumputan dengan beralaskan tikar yang cukup besar. Ditambah hidangan laut yang baru saja selesai Bennedict masak beberapa menit yang lalu untuk menutup hari mereka diarea pemancingan tersebut.
Selain Bennedict dan Jeno yang berganti pakaian memakai training milik Bennedict, Ahreum lebih memilih hanya membalut tubuhnya dengan handuk berukuran besar milik kakaknya itu dibanding harus meminjam training kakaknya yang hanya akan menenggelamkan tubuhnya yang imut.
“terimakasih kak Ben, aku akan makan dengan lahap.” Seru Ahreum sebelum mulai menyantap makan sorenya, karena makan siang udah kelewat ya.
“terimakasih untuk makanannya kak Ben.” Tambah Jeno sebelum menciduk nasi ke dalam mangkuknya.
“hmm.. selamat makan.” Balas Bennedict yang juga mulai ikut menyantap masakan yang dibuatnya sendiri.
__ADS_1
Setelah beberapa menit hening, karena saking laparnya mereka hanya fokus menyantap makanan yang ada dipiring mereka masing-masing.
Sampai..
Ponsel Ahreum yang ia letakan disamping kakinya itu berdering, membuat Ahreum terhentak kemudian cepat-cepat mengangkatnya setelah membaca sekilas sebuah nama kontak yang tertera dilayar ponselnya.
“iya halo bi, ada apa?” sapa Ahreum yang langsung menanyakan tujuan dari sang penelfon sembari mengunyah makanan yang ada dimulutnya.
“ini sudah hampir gelap non, kenapa nona belum pulang?
Dan juga kenapa nona tidak membawa ponsel?” tanya sang penelfon dengan nada cemasnya.
“iya bi, sebentar lagi Ahreum pulang kok. Kalau Ahreum tak bawa ponsel, lalu bagaimana bibi bisa menelfonku sekarang?” sahut Ahreum seraya memijat-mijat hidungnya yang mulai memerah karena sedikit gatal dibagin dalam.
“ahh iya, hehe. Hanya saja bibi melihat ponsel nona diatas meja rias. Nona punya 2 ponsel?” tanya bi Ijah lagi kepo.
“tidak bi, bukan begitu.. Haaciiiww..” sahutnya dengan diakhiri suara bersin yang membuat bi Ijah semakin khawatir.
“nona sakit? Bukankah tadi pagi nona baik-baik aja.” Panik bi Ijah.
“ahh.. amm.. Ahreum gak apa-apa kok bi.. mungkin hanya flu aja. Tadi Ahreum kecebur ke sungai.” Ungkapnya dengan suara khas orang yang tengah terserang flu.
“Apa?!!”
“Iya jadi tadi Ahreum..” belum sempat Ahreum menjelaskan secara detail insiden keceburnya ke sungai, bi Ijah malah langsung mematikan telfonnya sepihak, hingga membuat Ahreum mengerutkan keningnya kala mendengar suara beep beep tanda jika telfon sudah berakhir.
Ahreum hanya menatap layar ponselnya yang kini sudah berganti menjadi wallpaper idolanya yang tampan sebelum akhirnya kembali menaruh ponselnya disamping kakinya.
“kau membeli ponsel baru Ahreum?” tanya Jeno seraya menatap ponsel Ahreum dari kejauhan disela kunyahannya.
“ponsel baru?
Tumben, bukannya kau tidak suka mengikuti trend mode.” Timbrung Bennedict yang ikut memperhatikan ponsel baru Ahreum.
Bersambung...
__ADS_1