Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO

Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO
Episode 188


__ADS_3

Sementara itu dikamar Rihanna dan Nayeon.


Nayeon terbangun dari tidur sesaatnya, gadis yang tampak setengah sadar itu lantas menurunkan kedua kakinya ke lantai dan mulai menarik langkah menuju meja rias tempat dimana dirinya menyimpan ponselnya.


Sementara Rihanna sudah berada dialam mimpi terbukti dengan dengkuran nyaring yang berasal dari mulutunya yang terbuka lebar membuat siapapun akan kesulitan tidur disampingnya.


“huffftt..” desah Nayeon kesal karena dengkuran karibnya itu membuatnya terbangun ditengah malam begini.


Begitu meraih ponselnya yang berada diatas meja dengan mata yang setengah terpejam, ia pun mengarahkan lirikan mematikannya pada Rihanna yang tengah menikmati mimpi indahnya.


“ciihhh!!


Aku merasa kasihan sekali pada kak Abi.” Ocehnya yang kemudian kembali beralih pada ponsel yang berada dalam genggamannya.


Tak butuh waktu lama, setelah ia menekan angka 1 dilayar ponselnya, telfon pun langsung terhubung pada seseorang disebrang sana.


Tuuttt..tuuutttt.. Terdengar nada panggil yang cukup nyaring ditengah keheningan malam itu.


Selagi menunggu telfon tersembung ia pun berjalan menuju pintu untuk keluar dari kamar.


“Halo.” Sapa seseorang disebrang sana dengan nada suara serak layaknya seseorang yang baru saja terbangun dari tidurnya.


“Baby.. Apa yang kau lakukan hari ini? hehee.” Sahut Nayeon seraya berjalan menuju sofa ruang tengah masih dengan keadaan setengah sadar lantaran pengaruh dari minuman yang belum bisa hilang sepenuhnya.


“Hari ini aku bermain ke Villa milik keluarga Ansell di kota xxx dengan Ahreum, Ansell, Hanna dan kak Abi. Ahh iyaa.. ada Franky juga yang nyusul hehee. Kita bersenang-senang disini, main Voli air seperti yang waktu itu kita lakukan seru banget pokoknya, beb!!” Lanjut Nayeon kala bokongnya sudah mendarat disofa ruang tamu, ia pun menaikan kedua kakinya ke atas sofa dan menyilangkannya.


“Dan setelah itu, kita makan malam bersama, minum juga, hehehe, kurasa aku terlalu banyak minum sampai kepalaku pusing sekarang. Hufft..” keluhnya seraya memijat bagian pelipisnya.


“Kamu ada dirumah kan?” imbuh Nayeon lagi yang kemudian menyandarkan tubuhnya disandaran sofa.


“Iya.” Jawab Jeno singkat.


“ahh iya aku hampir lupa, kemarin aku dapet tiket konsernya xxx dari Prilly looh!! kau pernah bilangkan ingin sekali menonton konsernya xxx, kau sampai merajuk saat tahun kemarin kehabisan tiket konsernya. Heheee.” Serunya lagi penuh antusias seolah ia melupakan suatu hal yang penting.


“Nay..” alih-alih menjawab ajakan Nayeon, Jeno malah memanggil namanya.


“Iya baby.” Sahut Nayeon.


“hubungan kita.. sudah berakhir.” Papar Jeno yang membuat Nayeon sontak tersadar dan membulatkan kedua matanya karena lagi-lagi dia masih belum bisa menerima kenyataan yang ada.


“apa kita gak bisa kembali kayak dulu lagi, Jen?” ucap Nayeon ditengah isakan pilu yang mulai menguasai dirinya.


“maafkan aku Nay, tapi ini yang terbaik untuk kita berdua.” Tutur Jeno kembali dengan nada selembut mungkin.


“tapi kenapa?!


Dulu aja kita sering putus nyambung kan? kenapa kali ini kita ngga bisa bersama lagi. Apa kesalahanku? Aku janji.. aku janji akan memperbaikinya untuk kamu. Aku mohon jangan seperti ini Jeno. Hikksss.. hiksss!!” Suara isakan Nayeon semakin terdengar nyaring ditengah kesunyian malam kala itu.

__ADS_1


“kamu ngga salah Nay,


Aku yang salah, aku terlalu pengecut untuk melawan kedua orang tuaku. Aku ngga punya keberanian untuk memperjuangkan cinta kita didepan kedua orang tuaku. Maafkan aku Nay..


Kau pantes mendapat lelaki yang lebih baik dariku. Yang benar-benar mencintaimu. Udah larut Nay, kau harus tidur. Jaga dirimu baik-baik.” Tandasnya yang kemudian langsung menutup sambungan telfon tanpa berpamitan lebih dulu dengan Nayeon yang masih bergelut dengan tangis pilunya.


“heuuu.. heuuu.. hiksss..” Nayeon menarik kedua kakinya ke dalam dekapannya sembari masih menangis sesenggukan lalu menjatuhkan ponselnya.


Sementara itu didepan pintu kamar, terlihat Rihanna yang baru saja muncul dari balik pintu kamar dengan wajah bantalnya dan sesekali menguap sembari celingak-celinguk ke segala arah mencoba mencari sumber suara rintihan yang terdengar memilukan itu.


“eeyyy.. eeeyyy.. ayolah! Ini bukan novel genre horror.” Dengus Hanna kesal sebab belakangan ini dirinya selalu dihadapkan dengan situasi horror yang tak terduga.


“apaan tuh!” gumam Hanna kala kedua matanya menangkap sebuah kepala dari balik sandaran soda diruang tamu, ia pun mengucek-ngucekan matanya beberapa kali mencoba memastikan jika yang dilihatnya saat ini adalah sosok manusia.


“Nayeon kah?” gumam nya lagi yang lantas mulai menarik langkah cepat menuju ruang tamu.


Begitu dirinya yakin jika sosok tersebut adalah benar karibnya, ia pun bergegas menghampiri Nayeon yang kini tengah menenggelamkan wajahnya ke dalam apitan kedua kakinya sembari menangis tersedu-sedu.


Hanna terduduk disamping Nayeon masih sembari menatapnya lekat. “Nay..” baru saja Hanna memanggil namanya, Nayeon langsung mengangkat wajahnya yang sudah banjir air mata kemudian menghambur ke pelukan karibnya itu lengkap dengan rintihan tangis yang kian tak terkendali.


Meski belum mengerti apa penyebabnya, namun Hanna tetap menyambut pelukan Nayeon dengan tangan terbuka.


“aku harus bagaimana, Hannaaa..


Aku sudah berusaha untuk melupakannya sebisaku, tapi.. pada akhirnya hatiku terus mendorong diriku untuk kembali teringat padanya. Aku harus bagaimana sekarang.. hikksss.. heeuuuu.. hikssss!!”


Hanna membelai bagian belakang kepala Nayeon lembut sembari mencoba merangkai kata-kata dalam hatinya sebelum ia lontarkan pada gadis malang itu.


“Aku tahu, aku sangat tahu, jika sebenarnya waktu tidak dapat menyembuhkan luka, kita hanya dipaksa menerima keadaan karena tidak ada yang bisa kita lakukan. Tapi.. begitulah cara kerja dunia.


Yang ingin ku katakan adalah, tak perlu terburu-buru untuk mengakhirinya, ikuti saja apa kata hatimu aku percaya kau bisa melaluinya, karena.. kau tak sendiri Nay. Ada aku juga Ahreum yang akan selalu ada disampingmu. Oke..” ucap Hanna kembali yang langsung dibalas anggukan oleh Nayeon yang masih bergelut dengan ingus juga deraian air mata yang tak hentinya membanjiri wajah cantiknya.


Hanna pun kembali menarik tubuh Nayeon ke dalam dekapannya seraya mengusap punggung Nayeon penuh kasih sayang.


Sementara itu disudut lainnya terlihat Abi tengah berdiri sembari memegangi cangkir yang berisikan air mineral, ia tersenyum lebar kala melihat pemandangan yang membuat hatinya terenyuh.


Tak perlu diungkapkan dengan kata-kata, hanya dengan melihat raut wajah Abi saat ini pun sudah jelas sekali jika lelaki berparas manis itu sangat bersyukur memiliki kekasih yang berhati hangat seperti Rihanna grizlle.


Meski dari luar tampak urakan dan tak jarang melontarkan umpatan-umpatan kasar, namun ada saat dimana dirinya menjadi hangat, lembut dan penuh kasih sayang.


***


Keesokan harinya.


1 jam sebelum kepergian Ansell dan Abi.


Diarea dapur, terlihat Ahreum dan Hanna tengah berbincang selagi membantu mempersiapkan sarapan pagi bersama dengan Arini, sedang 2 lainnya Bona dan Laras memiliki tugas berbeda dilain tempat.

__ADS_1


“matamu sembab, kau habis menangis?” tanya Ahreum yang tengah terduduk dikursi meja makan sembari mengupas buah-buahan yang nantinya akan dimakan untuk hidangan penutup.


Sementara itu Hanna tengah memotong bahan-bahan pelengkap seperti cabe, bawang merah, bawang Bombay dan lainnya disamping Arini yang tengah mengaduk sup touge hangat didalam wajan.


“Iya.” Jawab Hanna singkat selagi dirinya bergelut dengan air mata lantaran aroma menyengat bawang merah yang kini menusuk kedua mata juga indra penciumannya.


“kenapa?” tanya Ahreum lagi seakan belum puas dengan jawaban sederhana itu.


“aku tak tega melihat Nayeon menangis semalam karena teringat kembali pada Jeno, jadi aku juga ikutan nangis deh.” sahutnya lagi dengan diakhiri menghirup ingusnya yang hampir nongol.


“hmm.. jadi bagaimana?


Haruskah aku mengajak Nayeon juga?” tanya Ahreum yang kembali mendiskusikan misi rahasianya.


“apa yang kalian rencanakan dibelakangku?!” pekik Nayeon yang tiba-tiba muncul membuat kedua karibnya lantas menengok ke arahnya dengan tatapan terkejutnya.


“ehehee.. kau sudah bangun Nay?” cengir Ahreum yang mencoba menyapa Nayeon dengan senyum canggungnya.


“ciih!!


Padahal baru semalam kau bilang, ‘kau tak perlu khawatir karena ada aku dan Ahreum yang akan berada disampingmu’, lalu sekarang apa hah?!” geram Nayeon lagi yang mulai meradang kala mengetahui jika kedua karibnya itu tengah menyembunyikan sesuatu darinya.


Melihat Ansell yang mulai berjalan menuju area dapur, Ahreum pun bergegas bangkit dari tempat duduknya dan berlari menghampiri Nayeon sebelum gadis yang tengah merajuk itu kembali meracau.


“kau meren..” beruntung Ahreum keburu membungkam mulut karibnya itu sesaat sebelum Ansell sampai diarea dapur.


“aku janji akan mengajakmu, asal kau berhenti mengoceh, oke.” Ucap Ahreum setengah berbisik selagi kedua matanya mengarah pada suaminya yang juga kini tengah memperhatikan tingkahnya yang mencurigakan itu.


“apa yang kalian lakukan?” ucap Ansell dengan tatapan penuh curiganya kala langkahnya telah sampai dihadapan Ahreum yang masih membungkam mulut karibnya itu.


“ahh.. engga kok.” Dusta Ahreum yang kemudian melepas bungkamannya dan beralih menautkan tangannya ke siku Ansell lalu mengajaknya menuju meja makan.


“selamat pagi pak Ansell!” sapa seorang pria dengan setelan jas berwarna hitam, membuat Ahreum dan Ansell refleks memutar tubuhnya untuk menanggapi panggilan tersebut.


Ahreum mengerutkan dahinya sebagai ungkapan rasa bingungnya, ‘siapa dia?’


“kau sudah datang.” Sahut Ansell.


“dia Arya. Katakan saja padanya jika kalian sudah puas bersenang-senang disini, Arya yang akan mengantarmu pulang. Aku tidak mengijinkanmu pulang dengan Franky. Mengerti!” tegas Ansell seraya mengarahkan pandangan tajamnya pada Ahreum, tanda kalimat itu adalah sebuah perintah yang mesti dan wajib ia laksanakan tanpa bantahan.


“oke, aku mengerti sayang.” Sahut Ahreum lengkap dengan senyum lebar penuh misteri.



“dengar Arya! Aku ingin kau benar-benar mengawasi istriku, terutama saat dirinya bersama dengan kedua temannya itu.” titah Ansell seraya melirik ke arah Hanna dan Nayeon bergantian.


“Jika ada hal buruk yang menimpa istriku, aku tak akan segan-segan memenggal kepalamu untuk ku letakan diatas perapianku! Mengerti!”

__ADS_1


 *** 


Bersambung...


__ADS_2