
Keesokan harinya.
Diruangan Ahreum, terlihat Ahreum sudah bersiap untuk pulang, seragam rumah sakitnya sudah ia ganti dengan setelan casual kaos oversize dan celana rok favoritenya.
“Halo bu, iya semuanya sudah dikemas kok sama Rihanna, gak apa-apa ibu gak perlu menjemputku. Iya setelah Rihanna mengurus administrasiku aku akan segera pulang, oke.. oke..” tutup Ahreum bersamaan dengan terbukanya pintu kamar Ahreum.
“Siapa?” tanya Rihanna yang muncul dari balik pintu dengan 1 kresek kecil yang berisi obat Ahreum.
“Ibu, tadinya ibu sudah mau berangkat menjemputku, tapi mendadak Sammy rewel, jadi ku bilang saja gak apa-apa aku bisa pulang bersamamu dan kak Ben,” papar Ahreum yang kemudian menaruh ponselnya ke dalam saku celananya.
“itu ponselmu?
Bukannya ponselmu ada diaparteman,” kata Rihanna seraya berjalan menuju tas besar Ahreum yang berisikan segala perlengkapan Ahreum selama dirumah sakit, lalu memasukan kresek obat ke dalamnya.
“kemarin Ansell membawakannya untukku,” sahut Ahreum.
“begitu?
Ahh iya, kurasa wanita gila itu sudah mulai bergerak Ahreum, aku melihat seseorang yang mencurigakan tadi di lobi rumah sakit, dia memakai hoddie dengan menutup kepalanya ditambah kacamata hitam dan masker yang membuat gerak-geriknya semakin mencurigakan.
Apa kau memakai jam tangan pemberian Jeno?” tanya Rihanna seraya mengamati tangan Ahreum mencoba mencari keberadaan arloji yang bisa melacak keberadaannya.
“aku menyimpannya disuatu tempat,” respon Ahreum santai.
“wanita itu tidak bodoh, jika dia melihat jam tangan itu, sudah pasti dia akan melepaskannya,” jelas Ahreum.
“hmmm, baiklah, ayoo!
Kak Benn sudah menunggu dibaseman,” seru Rihanna seraya meraih tas besar Ahreum dan membawakannya.
Karena tak ingin karibnya menanggung beban berat sendirian, Ahreum mencoba mengambil alih tali yang 1 nya yang membuat kini mereka membawa tas besar itu bersama-sama.
Rihanna tersenyum renyah ke arah Ahreum menanggapi bantuan Ahreum, sebelum akhirnya mereka berdua menarik langkah keluar dari kamar.
“huufttt..
Kenapa mendadak aku merasa gugup sekali seakan takdir buruk akan menghampiri kita,” celetuk Rihanna saat langkahnya masuk ke dalam lift, ia pun menaruh sejenak tas besar Ahreum dibawah.
Ahreum memencet tombol lantai yang akan membawanya ke lantai dasar yaitu baseman tempat dimana Bennedict sudah menunggu sedari tadi.
__ADS_1
“Jangan terlalu memikirkannya, semua akan baik-baik aja Hanna,” respon Ahreum yang penuh dengan ketenangan dalam dirinya berbeda dengan karibnya yang sedari tadi gelisah.
Begitu pintu lift akan tertutup tiba-tiba saja ada tangan yang menahan gerakan pintu lift hingga membuat pintu lift tersebut kembali terbuka lebar.
Sosok misterius yang sebelumnya diceritakan Rihanna itu masuk ke dalam lift, Rihanna terkejut bukan main sampai membulatkan matanya, buru-buru ia melangkah ke depan Ahreum, membuat Ahreum mundur lalu merentangkan kedua tangan sebagai pertahanannya kalau-kalau sosok tersebut memiliki niat jahat pada Ahreum.
...****************...
Lift pun telah sampai dilantai tujuan disusul dengan terbukanya pintu lift, sosok misterius tersebut muncul dengan tubuh Ahreum dalam gendongan ala bridalnya, ia membawa Ahreum yang tak sadarkan diri ke tempat dimana ia memarkirkan mobilnya.
Sedangkan Rihanna dibiarkannya terbaring didalam lift, sampai beberapa menit kemudian ada beberapa orang yang menemukannya lalu membawanya ke UGD selagi menunggunya tersadar.
“AHREUM!” teriak Rihanna kala ia terbangun dari tidur singkatnya.
Salah satu perawat bergegas mendatanginya dengan raut wajah khawatirnya.
“Nona baik-baik saja?” tanya perawat tersebut sembari memegangi pundak Rihanna dan menatapnya penuh perhatian.
“sudah berapa lama aku tak sadarkan diri?” Rihanna mengabaikan pertanyaan sang perawat dan memilih melempar pertanyaan lainnya.
“sekitar 30 menit nona,” sahut sang perawat.
“Aughhh sial!!
“Ahh maaf, aku tak bermaksud kasar, hanya saja terbawa emosi, aku harus pergi, terimakasih sebelumnya,” kata Rihanna yang langsung bergegas turun dari ranjang UGD dan berlari secepat kilat meninggalkan sang perawat yang bahkan belum sempat menanggapi permintaan maafnya.
...****************...
Di baseman.
“Lama sekali, di apotik antreannya panjang sekali memangnya, dimana Ahreum?” dumel Bennedict begitu Rihanna masuk ke dalam mobil dan langsung cepat-cepat mengenakan sabuk pengamannya.
Sebelum Rihanna merespon dumelan kakaknya ia mencoba menyingkronkan gps yang ada dimobil Bennedict dengan lokasi gps jam tangan Ahreum berada.
“Kau mengabaikanku! Dim...” kesal Bennedict yang tak sabar menunggu Rihanna meresponnya.
“DIAMLAH!” bentak Rihanna ditengah rasa panik dan khawatir yang semakin menguasai dirinya lantaran fikirannya terus saja tertuju pada karibnya yang sudah diculik 30 menit yang lalu.
Tentu saja hal itu langsung membuat Bennedict terkejut.
__ADS_1
“Astaga yak! Apa kau sudah gila!” kaget Bennedict.
“Ikuti GPS itu, Ahreum diculik lagi oleh gadis gila itu!” sambar Rihanna sebelum Bennedict kembali mengoceh panjang lebar,”
“Apa?!” pekik Bennedict.
“Ayooo cepat!
Dia sudah dibawa 30 menit yang lalu, kita tidak boleh terlambat!” kata Rihanna lagi yang langsung saja membuat Bennedict terdiam lalu bergegas menyalakan mesin dan melajukan mobilnya keluar dari baseman.
...****************...
Sementara itu disebuah kamar bernuansakan warna nude elegan dan juga ranjang megah layaknya ranjang seorang putri diistana kerajaan.
Ahreum yang masih tak sadarkan diri terbaring diranjang dengan kedua tangan yang dilipat diatas dibawah dadanya.
Layaknya putri tidur Ahreum terlelap dalam mimpi buruknya meski ada suara langkah yang mulai mendekatinya.
...****************...
Jauh diruangan yang berbeda namun tetap berada dalam gedung yang sama, terlihat seorang wanita terduduk disebuah kursi dan juga asistennya yang tengah berdiri disampingnya. Mereka berdua sedang menyaksikan rekaman CCTV yang terpasang di kamar tempat Ahreum kini terbaring.
“Kira-kira berapa lama lagi dia akan terbangun?” celetuk wanita yang duduk dikursi yang tak lain adalah Cassandra seraya melipat kedua tangan diatas dada dan menatap serius ke arah benda pipih besar dihadapannya.
“Kurasa masih cukup lama mengingat obat bius yang diberikan Sigit dosisnya cukup kuat, setidaknya dia akan tidur selama kurang lebih 2 jam,” jelas asistennya yang bernama Lilian.
“Hhhahaa! Tapi aku lebih suka jika dia terjaga secepatnya, aku penasaran ekspresi apa yang dia pasang ketika pamannya sendiri akan menyerangnya, bukankah ini akan menjadi situasi yang cukup dramatis hahhahaa!”
“atau bisa jadi dia malah meladeni hasrat lelaki itu, bukankah mereka berdua pernah saling menyukai hahahaa!” timpal Lilian dengan raut wajah mencibirnya sembari memperhatikan gerak-gerik Elios yang tengah terduduk dipinggir ranjang dan hendak mencoba menyentuh pipi mulus Ahreum.
“Ya.. ya.. ya.. Itu akan lebih bagus, dan kepercayaan Ansell kali ini akan benar-benar hancur olehnya, hahhaaa!!...
Huhh!! Seharusnya aku memberinya obat perangsang agar pertunjukan semakin menarik,” celetuk Cassandra kembali yang merasa kurang puas dengan rencana yang sudah ia rancang sebelumnya.
...****************...
Kembali lagi ke ruangan dimana Ahreum masih tak sadarkan diri, sedang Elios kini mulai memberanikan dirinya mendekati wajah Ahreum.
“Maafkan aku Ahreum,” ucap Elios pelan dengan penuh rasa bersalah dalam dirinya.
__ADS_1
...****************...
Bersambung…