
“jangan berfikir karena kau sudah menikah dengan Ansell lalu membuatmu besar kepala, kau.. tak ada bedanya dengan wanita menjijikan diluar sana yang haus akan perhatian Ansell, kau tahu!”
Tepat saat Elish menyelesaikan kalimatnya, dengan gerakan cepat Ahreum menepis paksa lengan Elish dari rambutnya, kemudian mencekik Elish dan mendorongnya hingga menghantam dinding, lalu perlahan diangkatnya tubuh Elish sampai kedua kaki Elish tidak lagi menapak ke lantai.
Ahreum pun tertawa penuh arti melihat reaksi Elish yang tekejut mendapati situasi yang tak terduga tersebut.
“setidaknya aku sudah memperingatkanmu kan, kak.. Elish!” ucapnya tekekeh.
“aku… ga pernah sekalipun mengusik atau melukai orang lain, hanya saja… orang-orang seperti dirimulah yang selalu membangkitkan sisi lain dari diriku. Aku ga ngerti, untuk apa Tuhan membiarkanmu terlahir ke dunia, bahkan dibandingkan dengan binatang pun kau itu hanya seperti… kotorannya!! Hahaa!!” ucap Ahreum yang masih mencengkram leher Elish yang sepertinya sudah mulai melemah, karena asupan oksigen semakin berkurang membuat gerakan kedua kakinya tidak seaktif sebelumnya.
“to..long.. ma.. afkan.. a..ku.” rintih Elish bersamaan dengan kedua matanya yang memerah dan tetes air mata yang mulai mengalir membasahi kedua pipinya, serta kedua tangan yang sudah tak sanggup lagi untuk meronta.
Ahreum pun ternyum menyeringai lengkap dengan sorot mata penuh artinya, seakan ia menikmati rasa sakit yang kini dirasakan oleh wanita yang lebih tua beberapa tahun darinya itu. Menyadari jika kedua kaki Elish sudah tidak meronta dan kedua matanya mulai menutup bersamaan dengan melemahnya lengan Elish yang berusaha untuk melepas cengkraman Ahreum, Ahreum pun menurunkan tubuh Elish seraya melonggarkan cekikannya, agar Elish sedikitnya mendapat asupan oksigen.
“ahh iya, sebaiknya kau jangan mengadu pada siapapun, kalau aku yang membuat memar dilehermu.” Lanjut Ahreum seraya melepas cengkramannya dari leher Elish, hingga membuat Elish terduduk tak berdaya dengan diiringi isakan tangis yang sudah tak bisa ditahannya kembali.
“uhhuukk.. hiksss..” Elish terbatuk disela isak tangisnya.
“tapi kalau tetap ingin mengadu, yaa silahkan aja sih hahaa!! Memangnya siapa juga yang akan percaya padamu. Gadis mungil, lugu dan polos seperti nona Ahreum mana mungkin melakukan hal keji seperti itu! Mungkin seperti itu kali ya reaksi orang yang mendengar ocehanmu, hhaahaa!!” lanjut Ahreum seraya membungkukan tubuhnya agar bisa setara dengan wajah Elish lalu menyingkirkan helai rambut yang menutupi wajah Elish.
“CCTV..” gumam Elish dengan nada getirnya seraya mencoba memberanikan diri menatap kedua mata Ahreum.
Ledakan tawa pun tak terhindarkan, “Ahhahahaa!! Ppffftttt!! Yak! yang tertangkap CCTV hanya dirimu yang sedang mendorong dan menamparku. Sedangkan disini?! Ga ada CCTV, apa kau bodoh!” balas Ahreum.
“jangan menatapku seperti itu.” tambah Ahreum seraya kembali mencekik leher Elish dan menajamkan pandangannya.
“kau ingin ku lempar ke bawaha sana?!” lanjut Ahreum seraya melirik kearah dinding kaca yang tak jauh disebelahnya, hingga membuat Elish kembali bergidik dan ketakutan setengah mati.
“tidak, tolong maafkan aku, maafkan aku, aku tidak akan mengatakan pada siapapun, aku mohon.. aku mohon padamu.” panik Elish seraya menyatukan kedua telapak tangannya sebagai bentuk permohonan maafnya yang sungguh-sungguh lengkap dengan isakan tangis yang masih tak bisa dihentikan.
Ahreum pun terkekeh seraya kembali menegakan tubuhnya namun masih mengarahkan pandangan tajamnya pada wanita yang tengah bersimpuh padanya.
__ADS_1
“apa yang harus ku lakukan ya, biar ga keliatan mencurigakan.” Gumamnya seraya menatap area didepannya.
Lalu munculah sebuah ide konyol lainnya yang membuat Elish membelalakan kedua matanya. Iya, bagaimana tidak, ia melihat Ahreum tiba-tiba menjatuhkan dirinya sendiri dengan keras ke lantai atau lebih tepatnya ke area yang tertangkap CCTV seolah ada yang mendorongnya.
Bersamaan dengan menghantamnya kedua lutut Ahreum ke lantai, Ahreum pun memutar kepalanya ke belakang untuk melihat reaksi Elish ketika dirinya tengah berakting. Perlahan kedua sudut bibirnya menyeringai dengan diakhiri tawa menyeramkan yang tidak terlalu jelas terdengar oleh telinga Elish karena jaraknya yang kini cukup jauh darinya.
Setelah beberapa saat menatap ke belakang, Ahreum pun bangkit lalu berlari menjauh seolah ia tengah diburu oleh seseorang yang berada dibelakangnya. Membuat Elish yang hanya bisa menatapnya dari kejauhan tak hentinya menangis dalam ketakutannya disituasi yang tak pernah sekalipun ia bayangkan.
***
Malam harinya.
Didepan toko serba ada yang berada diseberang kampus Ahreum, terlihat Ahreum tengah terduduk dikursi seraya meneguk beberapa kali minuman kaleng yang dibelinya ditoko serba ada beberapa menit yang lalu.
“kelasmu sudah selesai?” tanya seseorang yang muncul dari belakang lalu duduk di kursi seberang Ahreum.
“he’em.. kenapa kak Ben ada disini?” giliran Ahreum yang kini bertanya.
“benarkah? Seru dong, coba aku ingin lihat fotonya.” Seru Ahreum seraya mencondongkan tubuhnya kearah Ben, menunggu kakaknya itu menunjukan sebuah foto lelaki yang kini tengah mereka bicarakan.
“kakak hanya menunjukan fotonya hanya untuk berjaga-jaga ya, jika kau bertemu dengan lelaki ini nanti kau harus pergi sejauh mungkin jangan sampai kau menerima tatapannya, awas saja kalau kau malah mencarinya.” Tegas Bennedict seraya mengeluarkan ponsel dari dalam saku celana kemudian menunjukan sebuah foto pada adiknya yang penasaran itu.
“oke!” sahut Ahreum seraya menganggukan kepalanya dan mengamati foto lelaki itu dengan tatapan serius.
“kenapa kau masih disini?” tanya Ben kembali seraya memasukan kembali ponselnya ke dalam saku celananya, bersamaan dengan tubuh Ahreum yang kembali pada posisinya.
“bukannya pulang, bukannya kau bilang kelasmu sudah selesai.” Tambah Bennedict.
“aku.. amm.. sedang menunggu Hanna, hehee.” Katanya ngasal.
“kau sedang ada masalah dengan suamimu?” tebak Ben, yang membuat Ahreum membuang wajah kearah lain karena takut ketahuan oleh kakaknya yang memiliki insting kuat tersebut.
__ADS_1
“engga.. aku hanya ingin bermain sebentar dengan Hanna, setelah itu pulang kok.” Respon Ahreum.
“apa dia menyakitimu? Katakan pada kakak, Ahreum.” Bennedict terus menekan adiknya agar dirinya buka suara.
“aku baik-baik aja kak.” Ucap Ahreum seraya mengarahkan pandangannya pada kakaknya yang kini tengah memandanginya dengan tatapan tajam.
“kalaupun aku memang ada masalah dengan Ansell, tolong biarkan kami yang mengatasinya sendiri.” Lanjut Ahreum yang diakhiri dengan senyuman manisnya membuat Bennedict menghembuskan nafasnya tanda ia menyerah dan berhenti melibatkan diri dalam rumah tangga adik perempuannya.
“kak Benn..” bisik Ahreum kala ia melihat seseorang yang keluar dari balik pintu toserba.
“apa?” sahut Ben yang tengah kembali mengedarkan pandangannya ke seberang kampus.
“sepertinya itu pria yang tadi ada difoto..” bisik Ahreum lagi seraya terus memperhatikan langkah lelaki tersebut yang hendak berjalan kearahnya.
Namun belum sempat Bennedict memutar tubuhnya untuk melihat sosok lelaki yang dibicarakan adiknya, sosok lelaki itu keburu menyadari kehadiran Bennedict sebagai seseorang yang patut dicurigai hingga ia pun berlari secepat mungkin kearah sebaliknya.
“AUGHHH SHITT, YAK!!” teriak Bennedict seraya bergegas mengejar lelaki tersebut.
Selagi ia mengejar lelaki mesum itu, Ben mengeluarkan ponselnya untuk menelfon rekan timnya yang tersebar tidak jauh dari area tersebut.
“aku menemukannya, dia ada diarea xxx.” Seru Bennedict seraya terus memacu kedua kakinya mengejar lelaki mesum yang 2 kali lebih cepat darinya.
Lelaki mesum tersebut sangat gesit hingga membuat Ben kesulitan untuk terus mengejarnya, hingga Ben sampai titik dimana ia kehilangan lelaki mesum itu, ia pun berhenti sejenak untuk menarik nafas dalam-dalam dan kembali mengedarkan pandangannya mencoba menebak kemana arah lelaki mesum itu pergi atau bersembunyi.
“huhh.. haahh..” terdengar suara nafas kasar Bennedict yang tampak tak beraturan.
“huhh.. hahhhh, kemana dia pergi kak?”
“ASTAGA!! Yak!! kenapa kau mengikuti kakak?!” seru Bennedict saat mendapati Ahreum kini berada disampingnya.
Bersambung...
__ADS_1
***