
Di lain tempat, kantor polisi xxx tempat dimana Bennedict bekerja.
Tampak lelaki berkulit pucat itu tengah terduduk sendirian dibangku yang berada diarea pekarangan kantor polisi xxx. Dengan menyandarkan punggungnya disandaran bangku dan sesekali menyesap kopi hangat yang berada dalam genggamannya. Sedangkan 1 tangan lainnya menggenggam erat sebuah ponsel.
Sampai..
Ponselnya pun berdering membuat dirinya tersentak dalam lamunannya, kemudian mencoba memeriksa layar ponselnya sebelum mengangkatnya.
Dilihatnya sebuah nomor yang tidak memiliki nama membuat 1 alisnya terangkat. Karena penasaran dengan sang penelfon, Ben pun akhirnya mengangkat telfon tersebut untuk mengetahui siapakah yang menghubunginya saat ini.
“halo.” Sapa Ben dengan nada datar kemudian kembali menyesap kopi hangatnya selagi menunggu respon dari sang penelfon yang tidak dikenal itu.
“sayang..” ucap sang penelfon dengan nada getir seakan ia tengah menahan tangis.
Kedua mata sipit Bennedict pun membulat kala mendengar suara yang tak asing tersebut.
“aku.. akan kembali.” Lanjut Winter masih dengan nada yang sama, sementara Bennedict masih terdiam karena saking terkejutnya.
Setelah sekian lama akhirnya dia bisa mendengar suara istrinya kembali, meski beberapa kali mereka saling memberikan kabar namun itu hanya melalui email karena sejak kepergian Winter untuk berobat ke Sydney. Winter tidak diperbolehkan menggunakan ponselnya, ia hanya bisa mencuri-curi kesempatan meminjam laptop ibunya saat ibunya tidak ada diruangannya untuk mengakses emailnya.
“sayang..” panggil Winter lagi karena Bennedict masih belum meresponnya sedari tadi.
“bolehkah aku menjemputmu?” tanya Bennedict yang juga ikut emosional dengan situasi yang terjadi saat ini.
“jangan, jangan sekarang. Mami masih bersikeras agar kau menandatangani surat perceraian kita, bagaimana ini, sayang?” lirihnya dengan diiringi isak tangis yang sudah tak bisa ia tahan kembali.
Membuat Bennedict yang mendengarnya ikut terluka, ia pun menaruh kopi hangatnya dibangku kemudian beralih memegangi kepalanya karena merasa tiba-tiba saja ada sesuatu yang cukup keras menghantam kepalanya. Menyadari kenyataan jika kedua orang tua istrinya masih bersikeras ingin memisahkan dirinya membuat air matanya ikut berderai.
“aku.. sangat merindukanmu. Bahkan setelah beberapa tahun kita berpisah pun aku masih tetap mencintaimu.” Sambung Winter ditengah isak tangisnya yang semakin menjadi.
“maafkan aku.. maafkan aku Winter, aku ga bisa menjadi suami yang kau impikan, aku bahkan ga bisa melindungimu dengan benar, maafkan aku sayang.” Ucap Ben ditengah pertempuran emosionalnya ia pun tak kuasa menahan rasa rindu yang bercampur dengan penyesalan sebab tak bisa menjaga istrinya dengan baik hingga membuat Winter harus menjalani serangkaian operasi besar selama beberapa tahun terakhir ini.
***
Aparteman xxx tempat dimana Rihanna akan tinggal, yang juga tidak jauh dari area kampus Royal collage. Mungkin hanya memerlukan waktu kurang lebih 15 menit berjalan kaki dari aparteman sampai kampus Royall.
Tampak Hanna tengah berjalan beriringan dengan Nayoen menuju lift yang akan membawa mereka berdua ke lantai yang akan dituju.
__ADS_1
“tadi kau dengar semuanya kan? kenapa diam aja.” Ucap Hanna seraya memencet tombol lift lalu melirik sesaat kearah Nayeon.
“dengar apa?” tanya Nayoen lengkap dengan raut wajahnya yang mendukung jika dirinya memang benar-benar tidak tahu apa yang dimaksud Rihanna.
“hmm.. mau pura-pura gak tau aja? Okelah kalau begitu terserah kau saja.” Sahutnya seraya berjalan lebih dulu masuk ke dalam lift yang baru saja terbuka, disusul dengan Nayeon yang berada 1 langkah dibelaknganya.
“tapi.. jika aku jadi kau, aku akan memikirkan kembali tentang hubunganku. Karena bertahan sendirian itu sakit sih, sakit banget malah.” Sambung Hanna lagi dengan diakhiri helaan nafas panjangnya kemudian menyandarkan tubuhnya didinding lift.
“terkadang hatiku terasa sakit, disaat Jeno lebih perduli dan perhatian pada Ahreum. Tapi mau bagaimana lagi, karena berpisah dengannya kurasa itu akan lebih menyakitkan. Jadi aku hanya bisa menahannya.” Katanya lirih seraya menatap Hanna sejenak sebelum akhirnya pintu lift terbuka, dan membuat keduanya pun kembali melanjutkan langkah mereka menuju tempat tujuan.
***
Kembali ke aparteman Bougenville.
“tuan muda, bibi mau ke supermarket dulu ya.” Ijin bi Ijah saat melihat Ansell dan Ahreum keluar dari kamar kemudian berjalan beriringan menuju dapur.
“iya.” Sahut Ansell sembari memberikan senyum tipisnya.
“amm.. aku mau buah pisang, strawberry, terus..” seru Ahreum yang antusias seraya berlari kecil menghampiri bi Ijah yang telah siap memegang sebuah buku kecil dan juga bolpoin untuk mencatat barang-barang apa saja yang nantinya harus ia beli di supermarket.
“kalau begitu bibi tidak perlu ke supermarket hari ini, biar nanti saya aja dengan Ahreum yang akan belanja.” Sela Ansell sebelum Ahreum mengutarakan apa saja yang ada di otaknya.
“yeehh, kita kan mau membantu Hanna bebenah.” Protes Ahreum seraya melirik Ansell karena kurang setuju dengan ide suaminya itu.
“memangnya bebenah perlu waktu seharian?
Kita ke supermarket setelah mengunjungi aparteman Rihanna.” tegas Ansell yang kemudian langsung mendudukan bokongnya dikursi miliknya.
“jadi gimana? Bibi gausah jadi aja nih ke supermarketnya?” tanya bi Ijah kembali yang ingin memastikan jika kali ini tidak akan ada penolakan dari gadis mungil yang masih berdiri ditepi meja sembari memanyunkan bibirnya.
“hmm.. oke deh, biar aku sama Ansell aja nanti yang belanja bi, hehee.” Ucap Ahreum dengan diakhiri senyum lebarnya, ia pun duduk dikursi yang berada disamping suaminya.
“ahh iya, bi, untuk makan malam nanti aku pengen tumis daging sapi yang dicampur sama bihun. Cumi yang dikasih tepung gitu, tumis tofu saus tiram, tumis jamur sosis sama jangan lupa tahu, tempe, perkedelnya juga bii.” Seru Ahreum, yang membuat baik Ansell maupun bi Ijah mengerutkan dahinya sesaat.
“kau mau jualan?” timpal Ansell dengan nada sinisnya, dia yang tadinya hendak menciduk nasipun sampai mengurungkan niatnya karena saking shocknya mendengar permintaan makan malam Ahreum seakan gadis mungil itu tidak makan selama berhari-hari.
__ADS_1
“aiishh. Aku serius, yaaa..yaaa.. bii!” rengek Ahreum kembali sembari memberikan tatapan penuh harapnya pada bi Ijah, membuat bi Ijah pun terkekeh karena saking gemasnya melihat tingkah laku istri majikannya tersebut.
“iya.. iya.. bibi akan buatkan semuanya nona Ahreum, tapi porsinya sedikit-sedikit aja ya takutnya mubazir nanti kalau ga habis.” Respon bi Ijah sembari mengusap bahu Ahreum lembut membuat ukiran senyum diwajah Ahreum semakin meninggi.
“oke, makasih yaa bii.” Sahut Ahreum.
“iya nona. Bibi mau buang sampah dulu ya.” Pamit bi Ijah yang kemudian berjalan menuju tempat sampah yang berada disudut ruangan, bi Ijah pun mengeluarkan plastic yang melapisi tempat sampah tersebut lalu membawanya keluar. Sementara sepasang suami istri itu tengah menikmati sarapan paginya.
“kau..” ucap Ansell yang hendak mengawali pembicaraan disela sarapan paginya.
“makan sebanyak itu, tapi tetap kurus? Bahkan kau juga malas berolahraga, tubuhmu tidak pernah merasakan gemuk.” tanya Ansell penasaran seraya menatap Ahreum yang tengah mengunyah makanannya dengan mulut penuh.
“amm..” respon Ahreum yang mencoba untuk mengunyah makanannya terlebih dahulu sebelum menanggapi rasa penarasan suaminya itu.
“tubuhku memang ga bisa gemuk, makanya mamaku fikir dulu jika aku punya penyakit cacingan atau semacamnyalah, sampe aku disuruh minum obat-obatan yang katanya bisa membuat tubuhku berisi. Tapi, yang ada malah aku jadi bahan bullyan teman-teman sekolahku karena kelewat berisi.
Mereka mengejekku anak babi, bahakan temanku sendiri pun Jeno terus mengataiku babi gemuk. Setelah itu aku udah gak mau minum obat-obatan itu lagi. Syukurlah tubuhku bisa kembali seperti semula, hehee.” Ceritanya panjang lebar disela kunyahannya.
Tanpa sadar Ansell pun tersenyum setelah mendengarkan cerita masa kecil istrinya, hal itu juga sontak membuat ia kembali teringat saat Jeno meracau tentang perlakuan keji Ahreum pada Jeno dimasa lalu, saat Ahreum mendorong Jeno hingga terjatuh dari permainan tangga besi sebab mengatai Ahreum babi gemuk.
“ciih.. dia memang pantas mendapatkannya kalau begitu.” Gumam Ansell yang kemudian kembali menyantap makanannya yang sedari tadi dianggurin karena saking antengnya mendengarkan cerita masa kecil istrinya.
“pantas? Apanya yang pantas.” Sahut Ahreum yang ternyata mendengar gumaman kecil Ansell.
“ahh, tidak.
Apa hal itu juga yang membuatmu mendorong Jeno hingga terjatuh dan mendapat luka jahitan dikepala?” kata Ansell seraya kembali menyuapi mulutnya dengan lauk pauk.
Mendengar hal itu membuat Ahreum mengangkat 1 alisnya karena tidak menduga jika Ansell mengetahui perbuatan kejamnya dimasa lalu terhadap Jeno.
“dia terjatuh sebab terpeleset dari tangga, karena terlalu banyak menertawaiku sampai perutnya sakit kemudian tubuhnya goyang dan hilang keseimbangan lalu terjatuh. Mungkin dia melihat tanganku yang hendak meraih tubuhnya dari atas hingga dia berfikir kalau aku yang mendorongnya.” Bela Ahreum lengkap dengan raut wajah mendukungnya membuat Ansell yang kini terdiam seraya mengangkat 1 alisnya.
***
__ADS_1
Bersambung...