
“aisshhh!!
Yak!! Mama sudah bilang bukan, saat mama baru menyebut namanya saja kau sudah murka, kau selalu berfikir jika kami melarangmu bersamanya itu karena dia yang hanya berasal dari panti asuhan. Serendah itu mama dimatamu Ansell?
Jika mama berfikiran sepicik itu, lalu bagaimana dengan Abi?
Untuk apa mama mengadopsi Abi, jika mama membenci kaum yang tidak setara atau selevel dengan kita, hah?!
Sudah tahu salah, bukannya mawas diri malah mengkambing hitamkan orang lain.
Apa kau sudah benar-benar kehilangan akal sehatmu?
Gadis penipu seperti dia kau bangga-banggakan, sedangkan gadis yang tulus mencintaimu kau buat menderita.
Aughhh!! Punya 2 anak lelaki semuanya sama saja, hanya bisa membuatku sakit kepala!!” dumel Carrisa yang kemudian menyambar ponselnya lalu bangkit.
“Ahh iya, sebaiknya kau persiapkan dirimu, mertuamu ingin kalian berdua segera bercerai,"
“Apa?! Tidak…, itu tidak boleh terjadi.” kata Ansell yang langsung bangkit kemudian pergi berlari meninggalkan Carrisa dan Abi yang masih terdiam selama beberapa detik melihat kepergian Ansell.
“Apa itu, bukankah 1 kakinya terluka cukup parah, kenapa dia bisa berlari secepat itu,” celetuk Carrisa.
“Dia pasti mau menemui nona Ahreum, ini tidak bisa dibiarkan,” Abi bangkit dari kursinya kemudian berlari menyusul Ansell yang telah jauh meninggalkannya, disusul dengan Carrisa yang juga ikut ke dalam aksi kejar-kejaran tersebut.
Melihat lift yang akan membawa Ansell turun sudah tertutup, membuat mereka berdua tampak gelisah.
Langsung saja Abi menuntun Carrisa ke arah tangga darurat yang letaknya tidak terlalu jauh dari keberadaan lift.
Bragghh.. brughh.. bragghh.. bruggghh
Terdengar suara gaduh yang berasal dari sepatu yang Abi pakai, mereka terus memacu laju lari mereka menuruni tangga sembari sesekali berpegangan pada pegangan tangga.
“Ayoo lebih cepat Abi, bagaimana jika Ansell dipukuli lagi oleh Bennedict, ditambah ayah Ahreum pun masih berada diruangannya.” Seru Carrisa lengkap dengan kekhawatiran yang luar biasa.
“Lagian kenapa mama malah membicarakan perceraian sih,” gerutu Abi.
...****************...
Setibanya Ansell didepan pintu ruangan Ahreum, tanpa berfikir panjang ia pun mendorong pintu tersebut meski tahu jika Bennedict dan Seno masih berada didalam.
Ia tak perduli jika kedua pria itu akan melampiaskan amarahnya dengan memukulinya ataupun memakinya habis-habisan, yang terpenting saat ini adalah bagaimana caranya dia mempertahankan pernikahannya.
Ceklek…
Suara pintu membuat kedua pria itu menoleh, tentu saja bukan tatapan hangat yang diterima oleh Ansell.
__ADS_1
Seno bangkit dari kursi kecil yang berada disamping ranjang kemudian mendekat ke arah Ansell menghentikan langkahnya.
“berani sekali kau menunjukan wajahmu didepanku?!
Apa kau sudah siap menerima konsukuensinya Ansell!!” pekik Seno lengkap dengan tatapan menyalaknya.
Sebelum Seno kembali meracau, tanpa diduga Ansell berlutut dihadapan Seno dengan segenap penyesalan yang ia miliki karena telah membuat istrinya terbaring diranjang rumah sakit.
Lain hal nya dengan Bennedict yang tak terpengaruh dengan raut wajah penyesalan Ansell, hati Seno tampaknya sedikit goyah kala mendapati sosok pria angkuh, arrogan seperti Ansell bersedia bertekuk lutut sebagai tanda penyesalannya yang sangat mendalam.
“Maafkan saya, ayah…,
Saya benar-benar bersalah, maafkan saya, maafkan saya,” tutur Ansell seraya menyatukan kedua tangannya ke hadapan Seno sebagai tanda permintaan maaf tulusnya, diiringi dengan isak tangis yang mulai meramaikan suasana hening kala itu.
Sehingga membuat Ahreum yang baru saja tertidur sehabis sarapan pagi pun lantas terbangun.
Melihat ayahnya yang terdiam lantaran cukup terkejut dengan aksi Ansell yang terbilang cukup membuatnya terenyuh, Bennedict bangkit dengan tatapan dinginnya ia pun tersenyum penuh arti pada adik iparnya yang tengah memohon dengan sangat pada ayah mertuanya.
Tanpa peringatan Bennedict melakukan tendangan memutar pada Ansell, hingga membuat tubuh Ansell terpental lalu menghantam dinding.
Mendapat sapaan yang tak terduga dari suaminya, membuat pupil Ahreum melebar seiring dengan tubuh Ansell yang terjatuh tak berdaya ke lantai.
Tak puas sampai disitu, Bennedict hendak kembali melancarkan aksinya menghajar Ansell tanpa ampun.
“sudah cukup Benn,” cegah ayahnya.
“Apa?!
Sudah cukup? Ayah tak melihat putri ayah seperti ini karena ulah siapa?
Hati ayah luluh hanya karena dia berlutut didepan ayah?
Dia hanya berpura-pura ayah, dia hanya bajingan brengsek yang…,” geram Bennedict yang kemudian menepis lengan ayahnya, tak cukup hanya memegangi lengan Bennedict, kini Seno beralih menahan tubuh putra sulungnya yang tengah berada dipuncak amarahnya.
“Cukup Ben, kau akan membunuhnya,” ujar ayahnya yang tetap berusaha menahan Bennedict.
“Itu yang aku inginkan, aku akan membunuhnya sekarang juga!!” amuk Bennedict yang kian tak terkendali hingga membuat Seno hampir kewalahan.
“tolong hentikan…,” ujar Ahreum dengan deraian air mata yang mengalir membasahi sudut matanya, melihat kondisi suaminya yang mengenaskan membuat bagian dalam dirinya terasa tersayat-sayat.
Namun dengan kondisinya saat ini ia hanya bisa menangis sejadi-jadinya kala suaminya itu terbatuk dan terus saja mengeluarkan darah segar dari mulutnya.
“Ahreum, kau bangun sayang,” timpal ayahnya yang membuat dirinya lengah kemudian Bennedict berhasil terlepas dari pertahanan ayahnya.
Ia kembali mendatangi Ansell yang tengah meringis kesakitan dengan darah yang terus mengalir keluar dari mulutnya. Dan juga kepalanya terasa pusing lantaran menghantam dinding cukup keras.
__ADS_1
BRUG! BRUG!
Melihat putranya yang terlihat seperti kerasukan Seno pun lantas berlari dan menarik Bennedict dari pria yang telah tumbang diatas lantai dengan linangan darah yang mengelilingi area wajahnya.
“cukup Benn, kau seorang polisi, kau tak boleh seperti ini.” tahan ayahnya yang berusaha mungkin menjauhkan Bennedict dari pria yang sudah terkulai lemah tak berdaya itu.
“Astaga Ansell!!” Carrisa histeris kala mendapati putranya tengah terbaring tak berdaya dilantai.
Bersama dengan Abi, Carrisa pun mencoba mengangkat tubuh Ansell dan hendak membawanya pergi.
“Ada apa ini? Astaga Ansell,” seru Rihanna begitu ia masuk ke dalam ruangan dengan membawa kresek yang berisikan makan siang untuk dirinya makan bersama dengan Seno dan Bennedict.
Sementara disisi lainnya terlihat Bennedict yang tengah dipegangi oleh Seno, bahkan setelah membuat banyak luka ditubuh adik iparnya itu, Bennedict masih saya menatap Ansell dengan tatapan tajamnya.
“lepaskan aku,” tak ingin pergi begitu saja, Ansell pun berontak dari rangkulan ibu dan Abi, lelaki keras kepala itu kembali berjalan mendekati mertua dan kakak iparnya dengan langkah gontai.
“Cukup Ansell, mama mohon,” cegah Carrisa setengah terisak lantaran tak kuasa menahan rasa sedihnya.
“tidak!” kekeuh Ansell yang lantas berlutut dihadapan kedua pria yang kini tengah memandanginya.
“Saya mohon…, hikssss, maafkan saya ayah, kakak, saya sudah bersalah, hikssss, saya rela melakukan apapun demi menebus kesalahan yang saya perbuat. Tapi tolong…, tolong jangan ambil Ahreum dari saya, saya sangat mencintainya,”
“JIKA KAU SUNGGUH MENCINTAINYA, SEHARUSNYA KAU TAK MELUKAI ADIKKU, ANSELL!!
Kau fikir ini disebut cinta hah!” hardik Bennedict seraya mencoba melepaskan diri dari pertahanan ayahnya.
“yak.. yak.. sudah hentikan, Ansell ayo berdiri, sebaiknya kau pergi,” timbrung Rihanna yang mengambil langkah panjang menghampiri Ansell dan mencoba membuatnya berdiri.
“tidak, sebelum ayah dan kakak memaafkanku, aku akan tetap disini,” kekeuh Ansell ditengah isak tangis pilunya.
“jangan keras kepala Ansell, (Rihanna melirik ke arah Abi untuk meminta bantuannya agar membawa paksa Ansell dari ruangan Ahreum)
Ayoo, cepat berdiri,” ujar Rihanna yang dibantu Abi mengangkat tubuh besar Ansell.
Karena tidak memiliki tenaga untuk melawan Abi yang sehat bugar, Ansell pun akhirnya pasrah digiring pergi oleh Abi dan Rihanna.
“Jangan harap aku akan mengijinkanmu bertemu kembali dengan adikku!” kecam Bennedict hingga membuat Ansell sontak memutar kepalanya.
Belum sempat Ansell melepaskan diri dari Abi dan Rihanna, keduanya buru-buru menarik paksa tubuh Ansell keluar dari ruangan, dibantu Carrisa yang juga berjaga-jaga dibelakang kalau-kalau putranya itu kembali berlari masuk ke dalam.
“SUDAH CUKUP KAKAK!!” teriak Ahreum lantang hingga membuat ayah dan kakaknya itu menoleh padanya.
...****************...
Bersambung…
__ADS_1