Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO

Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO
Episode 96


__ADS_3

“aku akan pergi menemui kak Abi.” Ucap Ahreum. “aku titip ranselku sebentar ya, Frank.” Kata Ahreum seraya mengarahkan pandangannya pada Franky yang juga ikut duduk  bergabung dengan mereka sembari menyemil cemilan yang sudah kadaluarsa.


“apa kau bodoh? Kau masih membelanya setelah apa yang dia lakukan padamu Ahreum!” keluh Hanna seraya bangkit dari tempat duduknya, sementara itu Franky tidak mau ambil pusing. Ia bangkit dari kursinya seraya membawa ransel besar Ahreum masuk ke dalam toko.


“Rihanna, dia tak lebih sama hal nya dengan dirimu.” Ucap Ahreum dengan nada lembutnya.


“aku?! Kenapa bisa begitu.” Ketus Hanna yang tak terima disamakan dengan Abi.


“dia hanya ingin menjadi teman terbaik untuk Ansell. Jika kau berada diposisinya, ku yakin kau pun akan melakukan hal yang sama dengannya, kau akan membelaku seperti itu meski sebenarnya aku yang melakukan kesalahan.


Jadi tolong jangan terlalu membencinya, oke. Ahh iya, maaf ya aku tidak bisa membantumu pindahan besok, aku ada acara kemah sore ini kemungkinan besok sore baru pulang.” Lanjut Ahreum seraya mengusap salah satu bahu Hanna kemudian pergi berlalu dengan senyuman manisnya untuk menenangkan hati Hanna yang tengah dilanda kebencian.


***


“apa acara kampus Ahreum disini, ishhh!! Aku penasaran sekali apa yang sebenarnya terjadi.” Oceh Hanna ketika melihat semua anggota polisi dan pria berbaju hitam mulai bergegas menyebar memasuki area hutan setelah rapat singkat dengan tim masing-masing selesai.



Hanna menurunkan jendela mobilnya. “pak polisi.” Panggil Hanna pada pria berbaju seragam tersebut yang memang tengah berjalan munuju keberadaan mobil Rihanna.


“iya nona.” Sahut polisi tersebut saat telah sampai didepan pintu mobil yang dinaiki Rihanna.


“kudengar, katanya ada orang cabul ya disini?” tanyanya basa-basi seraya mengeluarkan setengah kepalanya agar bisa ngobrol dengan nyaman.


“iya betul nona.”


“bapak yakin? Bukan sedang mengejar pembunuh berantai kan? kalau hanya pria cabul kenapa mesti mengerahkan anggota polisi sebanyak itu. Bahkan sampai orang-orang Ansell dirgantara pun turun tangan.” Oceh Hanna lengkap dengan raut wajah yang tengah berfikir keras.


“saya rasa pak Ansell ikut andil dalam pencarian ini, itu karena istrinya, nona. Infonya nona Ahreum sedang mengadakan acara kemah disini bersama dengan teman-teman kampusnya.” Jelasnya lagi yang langsung dibalas anggukan mengerti oleh Hanna.


“kalau begitu, aku juga ingin ikut ke dalam.” Seru Hanna seraya mendorong pintu mobil, namun tentu saja polisi tersebut langsung mencegahnya dengan menutup kembali pintu hingga membuat Hanna mengerutkan dahinya karena tidak menduga akan mendapat tolakan keras dari polisi yang tengah berdiri didepan pintu mobilnya.


“tidak bisa nona. Pak Ben meminta saya untuk menjaga nona Hanna untuk tetap berada disini.” Tegas polisi tersebut seraya masih menahan pintu mobilnya.


“kak Bennnnn!!” seru Hanna yang langsung membuat polisi tersebut memutar wajahnya, untuk melihat siapa yang tengah dipanggil oleh Hanna.


Namun ia tidak melihat siapapun, sadar jika dirinya dibohongi oleh gadis tersebut, polisi itu pun kembali memutar wajahnya, dan.. BRUUGGGGHH!!


Sebuah tinju keras menghantam wajahnya hingga membuat dirinya terjatuh seketika tepat disamping mobil.


Hanna pun mencoba mengintip lewat jendela memastikan jika polisi tersebut sudah tumbang dibuatnya.


“astaga, maafkan aku ya pak, aku tak punya pilihan lain.” Gumam Rihanna yang kemudian kembali mendorong pintu mobil.

__ADS_1


Namun gerakannya tiba-tiba terhenti kala dirinya kembali teringat akan dumelan Bennedict beberapa saat lalu.


“aughh!! Jika aku keluar dengan pakaian seperti ini pasti kak Ben akan mengomeliku lagi. Hmm.. coba kita lihat, apa ada celana yang bisa ku pakai disini.” Ocehnya seraya memutar tubuhnya ke belakang dan mengedarkan pandangannya pada area bagasi mobil dinas Bennedict.


“kurasa ini cukup untukku.” Lanjutnya seraya membreng-brengkan celana training milik Bennedict.


Setelah puas memandanginya, Hanna pun lantas memakai celana training yang sebenarnya tampak besar bagi tubuh kurusnya. Tak kehilangan akal, menyadari celana tersebut cukup panjang ia pun melilitnya hingga betis kemudian menarik tali celana hingga dirasa cukup melilit pinggangnya.


Ia pun keluar dengan senyum lebar yang menghiasi wajah cantiknya, kemudian berjongkok sebentar disamping polisi yang tengah terbaring tak sadarkan diri disamping mobil.


“maaf ya pak polisi, semoga kau memakluminya.” Ucap Hanna seraya menepuk pelan bahu polisi yang tak sadarkan diri itu sebalum bangkit dan pergi meninggalkannya.


***



Ditempat perkemahan.


Terlihat para mahasiswa dan mahasiswi tengah berkumpul mengelilingi perapian, dengan kursi lipat kecil yang menjadi tempat duduk mereka.


Ada juga yang memakai tikar dan daun pisang sebagai alas mereka duduk bagi yang tidak membawa kursi lipat.


Suasana kala itu memang begitu meriah, dengan berbagai acara yang sudah disusun oleh para panitia sebelumnya.


“ekhmm.. ekhmm..” respon Jeno yang tengah mengecek suaranya dengan diiringi senyum malu-malunya.


“karena sepertinya Jeno masih belum siap untuk tampil, mari kita beralih ke peserta berikutnya dulu aja, oke Ririn!!” Sambar pemandu acara itu lagi yang mencoba mengisengi Jeno yang sudah siap membuka mulutnya.


“YAK!!” seru Jeno lengkap dengan raut wajah kesalnya, yang membuat teman-temannya pun sontak tertawa ikut meledek Jeno.


“hahhaaha, oke.. oke.”


Jreeengggg!!.. terdengar suara gitar dari jemari Jeno, tanda pertunjukan dirinya kini sudah dimulai. Membuat yang lain ikut terhanyut dengan alunan melodi serta refleks melambaikan tangan ke kanan dan ke kiri secara serempak seraya menikmati pertunjukan yang dibawa oleh Jeno.


“uuhh.. kau beruntung sekali Nay, dapetin Jeno, paket komplit deh. Udah ganteng, suara oke, dan..” ucap Prilly yang duduk disebelah Nayeon. “anak orang kaya juga.” Lanjut Prilly dengan suara yang lebih kecil layaknya seseorang tengah berbisik.



Nayeon pun hanya tersenyum mendengar pujian tersebut.


“jika aku jadi kau, aku pasti akan terus menempel padanya, tak akan ku biarkan dia pergi dariku, hehee.” Oceh Prilly kembali seraya terus memandangi Jeno, lelaki yang sangat dikaguminya.


“ahh iya, besok mencari jejak, kau masuk tim siapa Prill?” tanya seseorang yang duduk disebelah Prilly.

__ADS_1


“bertiga ya?” sahut Prilly, kemudian melirik kearah Nayeon sebelum kembali melanjutkan kalimatnya. “Amm, kalau boleh sih aku mau ikut dengan Nayeon, boleh ga?” kata Prilly seraya menyenggol bahu Nayeon yang masih asyik memandangi wajah tampan kekasihnya didepan.


“ahh.. iya boleh, kebetulan aku juga baru sama Ahreum.” Respon Nayeon seraya melirik Ahreum yang duduk disebelahnya.


“Ahreum? Bukannya dengan Jeno?” sahut Prilly lengkap dengan kerutan dikeningnya.


“bukannya kau panitia?” timbrung Ririn.


“aku ga ikut menyembunyikan bendera, hanya panitia lelaki aja. Jadi aku bisa ikut acara itu hehe.” Sahut Nayeon seraya menyunggingkan senyum cerahnya.


“ahh begitu, aduuh..” keluh Prilly seraya memegangi perutnya karena mendadak rasa mules menyerangnya.


“kau kenapa?” tanya Ririn yang khawatir melihat raut wajah Prilly yang tidak tampak baik-baik saja.


“sepertinya aku mau pup..” bisik Prilly yang masih memegangi perutnya.


“mau ku antar?” tawar Ririn seraya hendak menarik lengan Prilly.


“sebentar lagi kan giliranmu, Rin.” Cegah Nayeon mengingatkan. “amm.. sebentar. Ahreum, bisa tolong kau antar Prilly.” Pinta Nayeon seraya mengarahkan pandangannya pada Ahreum yang duduk disebelahnya.


“oke.” Sahut Ahreum dengan senang hati kemudian segera bangkit dari tempat duduknya untuk membantu Prilly yang kesulitan berdiri karena sakit perut yang tak tertahankan.


Bersamaan dengan kepergian Ahreum dan Prilly, tepuk tangan meriah pun meramaikan suasana tanda penampilan solo Jeno kini telah berakhir.


“kek nya kurang meriah nih tepuk tangannya!! Boleh dong minta tepuk tangan dan teriakannya sekali lagi!!” seru sang pemandu acara yang ingin membuat suasana semakin bersemangat.


PROOKK.. PROOKKK!!


“HHUUUU.. HHUUU.. SEKALI LAGI.. SEKALI LAGI!!” teriak para mahasiswa serempak yang mengingikan Jeno kembali mengeluarkan suara merdunya.


 “eeeyyy.. waktu Jeno sudah berakhir, mari kita lanjut ke primadona kita, RIRIN CHANDRAWINATA!!” panggil sang pemandu seraya mengarahkan tangannya tepat kearah dimana Ririn duduk.


Dengan senyum malu-malu Ririn pun bangkit dari tempat duduknya kemudin berjalan menuju tempat yang sebelumnya diisi oleh Jeno.


“dimana Ahreum?” tanya Jeno yang baru saja kembali  ke tempat asalnya disamping kekasihnya Nayeon.


“dia menemani Prilly, buang hajat.” Bisiknya.


“apa?” kaget Jeno.


Bersambung...


***

__ADS_1


__ADS_2