
Next,
Berlanjut ke obrolan kemarin malam ya, didepan toserba area kampus Royal collage.
“tidak ada..” sahut Ahreum yang tetap tak ingin berkata apa-apa pada Hanna.
“eeyy ayolaah!! kau fikir aku bisa kau bodohi seperti yang lainnya, apa yang terjadi diantara kalian berdua?” kekeh Hanna.
Meski Hanna terus saja menyudutkannya, namun Ahreum tetap tak ingin buka suara mengenai apa yang terjadi diantara dirinya dan Jeno.
“apa Jeno akhirnya mengakui perasaannya padamu?” tebak Hanna dengan nada ragu-ragu sebab ia juga tidak yakin dengan tebakannya itu, namun melihat ekspresi yang ditunjukan Ahreum kala ia melayangkan tebakan tersebut membuatnya tersenyum menyeringai.
“ahh benar itu rupanya.” Imbuh Hanna yang terus berbicara disaat Ahreum tengah bergulat dengan dirinya sendiri untuk tetap bungkam dari karibnya tersebut.
“yak! Mungkin kau bisa membodohi yang lain tapi tidak denganku.” Pekik Hanna yang terus menyudutkan Ahreum agar ia mau jujur padanya.
“aku hanya tak ingin membahasnya saja.” Sahut Ahreum yang akhirnya mengiyakan tebakan dari karibnya itu.
“benar juga sih dia memang brengsek!
Pria macam apa dia, selama ini menyukaimu tapi hanya berdiam diri saja, dan malah mengungkapkannya saat kau akan menikah dengan pria lain. Ciihh!!.. aku tak percaya dia sepicik itu. Apa dia berniat untuk menghentikan pernikahanmu.” Celetuk Hanna lengkap dengan raut wajah julidnya.
“hmm.. entahlah.” Respon Ahreum pasrah.
“lalu bagaimana denganmu? Apa perasaanmu sekarang goyah dan berniat untuk kabur di hari pernikahanmu besok?” ucap Hanna yang membuat Ahreum membulatkan kedua matanya.
“apa kau sudah gila?!
Jika aku melakukan itu mungkin Ansell akan membunuhku.” Sahut Ahreum dengan menaikan nada suaranya.
“hmm, jadi kau memutuskan untuk mengakhiri cinta tak terbalasmu itu?”
“tak terbalas?
__ADS_1
Jadi selama ini kau tahu jika aku menyukai Jeno, lalu kenapa kau masih mengencaninya saat itu?!” pekik Ahreum seraya memberikan tatapan tertajamnya pada Hanna yang masih asyik menyemil makanan ringan yang dibeli oleh Ahreum.
“eeyyyy ayolaah, siapa cepat dia dapatkan ahahhaa!!
Lagipula kau juga tak pernah bicara padaku kan tentang perasaanmu pada Jeno, dan Jeno juga malah menyatakan cintanya padaku, jadi aku tak salah dong, kalian berdua aja yang bodoh sama-sama saling menyukai tapi tak ada yang mau memulai.” Tukas Hanna yang membuat Ahreum terdiam karena memang yang dikatakan oleh Hanna itu ada benarnya.
“hmm..” Ahreum hanya bisa menghela nafas panjangnya.
“kenapa?
apa sekarang kau menyesal karena tak pernah mencoba menyatakan perasaanmu pada Jeno. Padahal banyak kesempatan untuk kalian berdua saling mengungkapkan perasaan karena kalian selalu bersama-sama, tapi begonya kalian, kalian selalu menyiakan kesempatan itu.” Celetuknya lagi masih sembari menikmati cemilan juga meneguk beberapa kali minuman kaleng miliknya.
“tidak juga, rasa sakit itu sudah berlalu, dan sekarang aku sudah lebih baik. Ku kira rasa sakit itu akan terus berlanjut tapi saat keesokan harinya aku terbangun, aku malah merasa lega seolah beban berat yang selama ini berada dipundakku telah menghilang pada malam itu.” Lirihnya yang kemudian kembali menaikan kedua kakinya ke atas kursi lalu memeluknya erat.
“tapi..” lanjut Ahreum.
“tapi apa?” sahut Hanna kala Ahreum menghentikan kalimatnya seraya menatapnya lekat seolah tengah menunggu kelanjutan dari kalimat yang hendak Ahreum ucapkan.
“sepertinya aku menyukai pria lain.” Ungkapnya seraya menolehkan wajahnya ke arah Hanna sesaat sebelum kembali mengarahkan tatapannya ke atas meja yang dipenuhi cemilan miliknya.
“bukan begitu, dia benar-benar tipeku sekali, tampan, ramah juga kebapak-an, padahal baru sekali aku bertemu dengannya tapi aku merasa nyaman berada didekatnya.” Tuturnya lagi.
“astagaa.. kau benar-benar tersihir oleh nya sepertinya, baru pertama kali kau bercerita soal pria padaku. Aku jadi penasaran seperti apa pria itu, apa dia lebih tampan dari Ansell?” sahut Hanna.
“tampan itu relative bagi semua orang, dan mereka berdua memiliki sisi yang tak bisa dibandingkan begitu saja.” Balas Ahreum.
“jadi maksudmu, Ansell itu tampan?”
“memangnya aku pernah bilang dia jelek? Ciihh!!.. yang jelek hanya karakternya saja.” Celetuknya.
“iya juga sih,
Ahh iya btw, aku pernah cerita kan kalau aku pernah 1 tempat les bersamanya.”
__ADS_1
Karena pembahasan ini mulai berkembang pada Ansell dirgantara, tiba-tiba saja Hanna teringat kejadian dimasa lalu saat dirinya masih berda disatu tempat les dengan Ansell.
“he’emm, lalu?” sahut Ahreum datar.
“dulu pernah ada seorang gadis yang selalu mendekatinya, memberikan dia surat cinta, coklat dan juga bucket bunga yang terbilang cukup besarlah ya dengan bermacam-macam bunga didalmnya. Tak hanya 1 kali atau 2 kali dia terus melakukan hal yang sama untuk menarik perhatian Ansell, bahkan berkali-kali sampai aku yag melihatnya sendiripun tak tahu itu sudah yang ke berapa kali.” Ceritanya panjang lebar.
“hmm terus?” respon Ahreum saat Hanna menghentikan sejenak ceritanya.
“bukan cuma Ansell sih yang geram dengan sikap agresif gadis itu, kitapun yang melihatnya sendiri pasti kesal ya, karena sudah jelas Ansell menolak pemberiannya dan dengan tegas berkata untuk berhenti mengotori mejanya dengan barang-barang pemberian darinya. Tapi gadis itu sepertinya tidak mendengarkannya, ia malah lebih rajin lagi memberikan surat cinta pada Ansell, bukan hanya ia letakan diatas meja kali ini, ia juga memasukannya ke dalam loker Ansell, tas Ansell juga ke dalam..”
“dalam apa? Yak!! Jangan putus-putus begitu dong, bikin orang penasaran aja.”
“ke dalam saku celananya, saat dia berdiri tengah membaca diperpustakaan.”
“aughh, itu menjijikan sekali, bukankah itu sama saja dengan pelecehan.”
“coba tebak respon apa yang diberikan oleh Ansell pada gadis sembrono itu?”
“meneriakinya mungkin..”
“itu sudah pasti, karena suasana diperpustakaan selalu sunyi membuat semua orang langsung mengerumuni mereka dalam sekejap ketika Ansell membentaknya dengan penuh emosi, bukan hanya itu saat kita semua berkumpul kita sudah melihat gadis itu tengah terduduk dilantai sembari memegangi pipinya yang memerah. Kita menduga kalau Ansell refleks menamparnya saat ia memasukan lengannya ke dalam saku celana Ansell.”
“waaah, sayang sekali, seharusnya Ansell sudah mematahkan lengannya saat itu, bukan hanya sekedar menamparnya.” komen Ahreum disaat cerita panjang itu berakhir.
“astagaaa, aku tahu kau memang gila, tapi kali ini kau.. kau tampak seperti psikolog.” Timpal Hanna dengan polosnya.
“psikopat bego!” Ahreum membenarkan apa yang dimaksud karibnya tersebut dengan nada ngegasnya seolah ia hendak mengajak ribut.
“AHHHAHAAAHAA!!” mereka tertawa bersamaan.
“yak! Kau memang lebih cocok dengan Ansell sepertinya, dibanding dengan pria ramah yang kau ceritakan tadi, mungkin dia bisa terkena stroke saat tahu kepribadianmu yang sebenarnya.” Celetuk Hanna yang kemudian kembali disambut gelak tawa oleh keduanya.
“AAHHHAAAHHAAA!!”
__ADS_1
***
bersambung...