
Keesokan harinya.
Masih dikamar Ansell dirgantara, “bisakah kau menyingkir dari atas tubuhku, kau beraat sekali.” keluh Ahreum begitu dirinya tersadar, ia mendapati tubuh kekar suaminya itu tengah menindih bagian perutnya.
“kenapa perutmu masih terlihat datar, bukankah seharusnya sudah ada Ansell junior disini.” Racau Ansell seraya mengusap perut datar istrinya masih dengan kedua mata terpejamnya.
Ahreum pun terkekeh mendengar ocehan suaminya dipagi hari.
“ckckck..
Kau fikir benih langsung tumbuh hanya dengan melakukannya sekali.” timpal Ahreum seraya membelai rambut gomplok suaminya.
“maksudmu kau meragukan kekuatan *****?!” pekik Ansell seraya beralih menatap sinis ke arah Ahreum yang masih tampak tertawa mencibirnya.
“Iya memang begitu kan, realitanya belum ada yang tumbuh disini. Heheee..” nyengir Ahreum sembari mengusap perutnya sendiri yang membuat Ansell geram karena merasa harga dirinya telah dilukai.
“Kalau begitu, kita lakukan lagi!” katanya yang kemudian langsung menyerang istrinya.
“hahhaa.. eyy.. eyyy.. hentikan, masih pagi Ansell.” tolak Ahreum yang berusaha mungkin menyingkirkan tubuh Ansell yang kini tengah memberikan banyak tanda dibagian leher dan dadanya.
“yak! Memangnya memproduksi hanya boleh di malam hari saja.” Ketus Ansell seraya menghentikan aktivitas liarnya sejenak dan menatap dalam paras cantik istrinya yang kini tengah tersenyum manis padanya.
“tapi.. kau tak lihat, kondisi tubuhku sedang tidak baik-baik saja, bagaimana kalau aku malah menularimu.” Bujuk Ahreum seraya memasang wajah seimut mungkin.
“Waaahhh.. Kau sangat pandai sekali berekting Ahreum.
Aku bahkan sampai berkali-kali tertipu oleh wajah polosmu.” Celetuk Ansell yang lalu menarik tubuhnya dan duduk disamping Ahreum.
“Kau kan memang mudah sekali dikibulin.” Balas Ahreum yang membuat Ansell langsung meliriknya sinis.
“buktinya, tiap kali bi Ijah membual, kau selalu terperdaya olehnya, Ahhhaahaaa!!!” ejek Ahreum seraya bangun dari tidurnya kemudian melepas perlahan kompresan yang menempel dijidatnya dan ditaruhnya diatas nakas.
Namun saat ia kembali mengarahkan wajahnya ke arah suaminya, tiba-tiba sekujur tubuhnya langsung membeku lantaran tatapan tajam yang diberikan Ansell seolah ia hendak menelannya hidup-hidup.
“hehhee..”
Bersamaan dengan berakhirnya cengiran Ahreum, Ansell pun kembali menyerang dirinya dengan mendorongnya tidur kemudian ia pun naik ke atas tubuh Ahreum untuk bersiap melakukan aksi liarnya.
“aawww.. sakit Ansell, tanganku masih diinfus.” Ringis Ahreum kala tubuhnya mendarat kasar diatas ranjang hingga membuat tangan yang masih diinfus pun ikut terbanting ke sisi nakas.
Melihat selang infus Ahreum yang kini mendadak berganti menjadi berwarna merah membuat Ansell berhenti dan langsung meraih lengan Ahreum.
“lihatkan darahku..” belum sempat Ahreum menuntaskan keluhannya Ansell buru-buru menyingkir dari atas tubuh mungil istrinya kemudian berlarian keluar kamar seperti orang kebakaran jenggot.
“dia mau kemana?” Ahreum bergumam sendiri seraya mencoba bangun dari tidurnya, dan menatap kembali selang infus yang sudah bercampur dengan darahnya.
Tak lama kemudian, Ansell pun kembali dengan sang mama yang masih mengenakan piyama tidur. Ansell menarik lengan mamanya sampai ke tepi ranjangnya.
“haduuhhh!! Mama baru saja pulang dan mau tidur tahu!! Semalaman mama mengopera..”
“Menantu mama terluka!” potong Ansell yang langsung membuat kedua mata Carrisa terbuka lebar.
“Apa?!” panik Carrisa yang langsung saja memindai menantunya yang tengah terduduk sembari tersenyum manis padanya.
“dimana.. dimana yang terluka?
__ADS_1
Bukankah kau bilang sudah memanggil Elios tadi malam.” Seru Carrisa yang dipenuhi kepanikan berlebihan.
“hanya ini aja mam, darahku naik, kurasa sudah cukup cairannya, mama bisa bantu lepaskan.” Pinta Ahreum lembut seraya menunjukan punggung tangannya yang tertempel jarum infus.
“Aduuhhh kok bisa sih begini sayang.” Komen Carrisa seraya duduk ditepi ranjang Ahreum dan meraih tangan menantunya itu lembut dengan pandangan khawatirnya.
“Ansell, bawakan peralatan mama dikamar.” Titah Carrisa seraya menoleh sejenak ke arah putranya yang masih berdiri disampingnya.
“kenapa harus aku?!” protes Ansell yang tak suka disuruh-suruh.
“aiishhhh!!” umpatnya yang dilengkapi tatapan sinisnya pada putranya yang semakin hari semakin menyebalkan tingkahnya.
“BIBIIIIIII!! BIBIIIIIII!!!!” teriak Carrisa yang membuat Ansell dan Ahreum sontak menutup telinganya untuk sesaat karena lengkingan tajam yang menusuk telinganya tanpa permisi.
“maaf ya sayang, mama harus teriak agar terdengar oleh pelayan dibawah. Kau tahu kan seberapa besar rumah ini. hehee.” Ucap Carrisa seraya mengusap lembut pipi Ahreum dengan punggung jemarinya.
“hehee, Iya mah, tapi..” respon Ahreum.
“tapi apa sayang?”
“bukankah disini ada tombol untuk memanggil pelayan.” Lanjut Ahreum seraya menunjukan sebuah tombol yang berada di pinggir sandaran ranjangnya guna untuk memanggil pelayan ke kamarnya.
“ciihh!” Ansell berdecak seraya menggeleng kepala, kemudian menyilangkan kedua tangan diatas dadanya dengan pandangan yang kembali terfokus pada istrinya, seolah ada tarikan magnet yang cukup kuat hingga membuat kedua matanya tak bisa berpaling lama-lama dari wanita sangat dicintainya itu.
“astagaa hahhahaa.. Iya ya mama sampai lupa saking paniknya melihat tanganmu seperti ini.”
“Iyaa nyonyaaa.. Ada yang bisa saya kerjakan nyaah?!” seru pelayan yang baru saja sampai diambang pintu.
“tolong bawakan peralatan medis saya dikamar!” perintahnya yang kemudian langsung dilaksanakan oleh pelayan tersebut.
“baik nyah.” Katanya seraya pergi berlari secepat kilat menuju kamar majikannya yang berada dilantai bawah.
Atau…” sambung Carrisa yang masih menggenggam lengan mungil menantunya, ia pun melirikan tatapan nakalnya pada putranya yang kini hendak duduk disingle sofa yang berada disamping meja kecil.
“Apa?!” ketus Ansell begitu mendapat tatapan penuh arti dari mamanya.
“Jika kau ingin meminta jatah seharusnya lihat-lihat dong, istri sakit masih saja dipaksa.” Celetuk Carrisa yang banyak memiliki imajinasi liar dalam otaknya, apalagi setelah melihat banyak sekali tanda yang diberikan Ansell diarea leher Ahreum.
“uhuukk.. uhukkk..”
Mendengar menantu kesayangannya terbatuk dengan sigap Carrisa langsung meraih gelas yang berisikan air mineral diatas nakas kemudian diberikannya pada Ahreum.
“Berhenti berpura-pura Ahreum, kau kan tidak sedang minum.” Sindir Ansell yang mengetahui akal bulus istrinya.
“uhhukk.. uhukkkk..” Ahreum kembali terbatuk ditengah mengaliri kerongkongannya lantaran terkejut jika ternyata suaminya menyadari kepura-puraanya.
“tuhh kan kena batunya.” Lanjut Ansell lagi dengan nada sarkasnya.
“yak! Berhenti menggoda istrimu!” pekik mamanya seraya melempar guling ke arah Ansell.
***
30 menit berlalu.
Usai infusan Ahreum dilepas oleh mama mertuanya, ia masih tampak bermalas-malasan diatas ranjang sembari memainkan ponselnya.
Sedangkan suaminya sudah berada dikamar mandi sejak 20 menit yang lalu.
__ADS_1
Ceklek..
Pintu kamar mandi terbuka disusul dengan kemunculan Ansell yang keluar dari pintu sembari mengelap rambut tebalnya yang basah terkena guyuran shower.
“Ayo cepat mandi!
Kau mau ikut tidak.” Titah suaminya seraya berjalan menuju tepi ranjang.
“Iya nanti sebentar lagi.
Mau kemana emangnya? Kau tidak akan kerja?” sahut Ahreum yang masih terfokus dengan layar ponselnya tak perduli dengan suaminya yang kini tengah memperhatikannya dari atas.
“Kau lupa, ini akhir pekan. Aku libur.
Sudah cepat mandi sana!” pekik Ansell yang masih sembari menggosok-gosokan handuk kecil dirambutnya.
“aissshh, kau bawel sekali sih.” gerutu Ahreum yang kemudian melempar ponselnya kemudian berdiri diatas ranjang menghadap ke suaminya yang kini lebih pendek 10 cm darinya.
“Mau aku bantu keringkan pakai hair drayer?” tawar Ahreum yang mencoba mengambil alih kegiatan menggosok handuk kecil dikepala suaminya.
“tidak..
Jika terlalu sering memakai alat seperti itu rambutmu akan rusak.” Sahut Ansell yang tengah menikmati gosokan handuk dikepalanya.
“hmm.. baik.. baik tuan muda.” Kata Ahreum sembari terus menggosok handuk dengan telaten agar rambut tebal Ansell bisa cepat mengering.
“btw.. kau pakai shampoo dan sabun apa?
Aromanya berbeda dengan yang di aparteman.” Tambah Ahreum disela aktivitasnya.
“lebih suka yang mana?” bukannya menjawab, Ansell malah menanggapinya dengan pertanyaan lain seraya mengangkat wajahnya keatas agar bisa melihat wajah imut istrinya.
“Ya jelas suka dirimulah. Ahahaaa!! Muach.” Seru Ahreum yang kemudian mengecup lembut bibir sexy suaminya.
Ansell tersenyum lebar kemudian menarik tubuh istrinya ke dalam dekapannya.
“kau tahu kan?” Ansell bergumam diatas dada Ahreum.
“Apa?” tanya Ahreum yang membalas pelukan hangat suaminya dengan melingkarkan kedua tangannya ditengkuknya.
“Jika aku sangat mencintaimu.
Ku harap kau tak akan pernah menghancurkan kepercayaan yang telah susah payah ku bangun kembali. Ahreum.”
“Tentu. Aku janji, tidak akan pernah mengkhianatimu Ansell.” Sahutnya mantap seraya mengusap lembut bagian belakang kepala Ansell.
“Maaf, karena butuh waktu lama untuk aku bisa mengungkapkannya padamu.”
“he’em..
Tapi.. sejak kapan kau mulai menyukaiku?”
***
Bersambung…
__ADS_1