Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO

Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO
Episode 60


__ADS_3

“Ansell..” gumam Ahreum pelan kala ia mendapati suaminya itu tengah berdiri tak jauh dari pecahan cermin yang berserakan dilantai ditambah kedua tangannya yang kini kembali bersimbah darah, membuatnya tampak jelas dimata Ahreum jika kekacauan tersebut adalah perbuatan suaminya.


Mendengar suara langkah Ahreum yang mencoba mendekati dirinya, Ansell pun langsung memutar wajahnya ke samping lengkap dengan tatapan tajamnya hingga membuat langkah Ahreum terhenti sejenak, sebab tatapan itu tampak seperti larangan bagi dirinya untuk berjalan lebih jauh lagi.


Namun sepertinya Ahreum tak ingin menghiraukannya, ia lebih memilih untuk melanjutkan langkahnya tak memperdulikan peringatan suaminya tersebut.


“berhenti!” pekik Ansell seraya mengepalkan kedua tangannya ditambah kedua mata yang semakin tampak menyeramkan.


“aku tak tahu apa yang sebenarnya terjadi padamu, tapi kau tak boleh seperti ini, Ansell.” Ucap Ahreum lembut seraya menghentikan langkahnya sejenak.


“pergilah!” perintah Ansell seraya memutar tubuhnya sampai pada posisi saling berhadapan dengan istrinya.


Alih-alih menuruti perintah suaminya untuk pergi dari kamar, gadis pemberani itu pun kembali melangkah menuju keberadaan suaminya.


“PERGI!! APA KAU TULI!!” teriak Ansell bersamaan dengan mendaratnya pelukan hangat Ahreum ditubuhnya.


“aku benar-benar sangat malu saat ini, tolong pergilah.” Gumam Ansell kala Ahreum mengeratkan pelukannya seraya menggesekan pipinya didada bidang Ansell untuk menemukan posisi ternyamannya.


“iyaa aku tak akan pernah meninggalkanmu, Ansell.” Timpal Ahreum.


Perlahan detak jantung Ansell yang tadinya berdebar begitu kencang kini mulai kembali normal oleh pelukan hangat dan juga kalimat lembut istrinya yang mengatakan jika dia takan pernah meninggalkannya.


Perlahan tapi pasti kedua lengan Ansell mulai melingkar ditubuh mungil istrinya, hingga tubuh Ahreum pun tenggelam dalam dekapan tubuh besar Ansell. Sebuah senyuman tipis pun terukir diwajah Ahreum, seolah menjadi tanda kemenangannya meluluhkan hati pria angkuh itu.


Tok.. tok.. terdengar suara ketukan pintu dari luar membuat Ahreum terhentak lalu mencoba melepas pelukan yang tengah berlangsung, namun alih-alih melonggarkan kedua tangannya, Ansell malah semakin mengeratkannya seolah ia tak ingin berpisah dari istri mungilnya itu dan tak perduli pada seseorang yang hendak masuk ke dalam kamarnya.


Karena tak kunjung dibukakan juga, akhirnya bunyi ketukan itu sudah tak terdengar lagi, namun perlahan pintu kamar mulai terbuka, baik Ahreum dan Ansell sama sekali tak perduli, mereka berdua masih menikmati pelukan hangat yang diberikan oleh satu sama lain dan tak terusik oleh seseorang yang kini telah bergabung di dalam kamar.

__ADS_1


Tatapan lelaki yang baru saja hadir itu benar-benar menggambarkan keadaan hatinya saat ini, hancur sehancur hancurnya, namun walaupun begitu ia harus tetap mencoba tampak seperti tidak ada yang terjadi.


Sementara itu Ahreum yang baru saja menyadari siapa yang baru masuk ke dalam kamarnya lewat pantulan jendela besar dihadapnnya, sontak kedua matanya pun membulat, ia tak menyangka jika kemesraan yang terjalin saat ini antara dirinya dengan Ansell akan tertangkap oleh Elios.


Merasa sudah cukup menyerap energy dari sang istri, Ansell pun akhirnya mau melepaskan sang istri dari dekapan eratnya, kedua mata sendu Ansell menatap manik sang istri sebelum ia benar-benar melepaskan tubuh mungil Ahreum dari kedua tangan kekarnya.


“ekhm..” Elios berpura-bura batuk untuk memberitahukan keberadaannya saat ini tepat di depan pintu kamar, dengan tangan kanan yang ia masukan ke dalam saku celana kainnya dan tangan kiri menenteng tas yang berisikan alat-alat medis, ditambah kedua mata bulatnya yang tak hentinya memandangi kemesraan yang tengah berlangsung dihadapannya.


“paman..” ucap Ansell yang baru menyadari kehadiran Elios.


Mendengar nama itu diucap oleh suaminya, Ahreum langsung berpindah tempat dari yang asalnya berdiri dihadapan Ansell, kini ia berpindah ke samping tubuh Ansell agar bisa menyapa kehadiran Elios dengan tatapan lembut juga senyuman manisnya.


“kalian mesra sekali, paman sampai iri melihatnya.” Ucap Elios seraya berjalan santai mendekati sepasang suami istri tersebut.


“ada apa ini? apa kalian bertengkar?!” panik Elios saat pandangannya mengarah pada lantai tak jauh dari tempat Ansell berdiri, dan juga punggung tangan keponakannya itu yang kini tampak terlihat jelas dipenuhi darah segar yang keluar dari beberapa luka kecil yang disebabkan oleh pukulan kerasnya menghantam sebuah cermin besar yang tidak bersalah.


“aku meminta kak Abi untuk menghubungi seorang dokter untuk memeriksa keadaanmu, mungkin kak Abi langsung berfikir meminta pamanmu yang datang kemari.” Timpal Ahreum yang mewakili Elios untuk menjawab pertanyaan Ansell.


“kau sudah mengenal dokter Elios sebelumnya?” tanya Ansell lengkap dengan tatapan yang penuh kecurigaan.


“amm.. nanti ku ceritakan, sekarang lebih baik kau tiduran saja diranjang biar dokter Elios memeriksa keadaanmu saat ini, kurasa demammu masih belum turun.” Sahut Ahreum seraya meletakan telapan tangannya dikening Ansell dengan berjinjit sebab jika tidak mengangkat tubuhnya lebih tinggi lengannya tak akan mungkin sampai dikening suaminya.


Membuat Ansell reflex tertawa kecil melihat usaha Ahreum untuk menggapai keningnya itu.


“jangan tertawa..” rajuk Ahreum saat menyadari jika suaminya itu tampak mengejeknya.


“ayoolah! Sampai kapan kalian akan mengumbar kemesaraan seperti itu, aku masih harus kembali lagi ke rumah sakit nih.” Dumel Elios lengkap dengan nada ngambek yang dibuat-buatnya.

__ADS_1


“heheee, oke baiklah.” Respon Ahreum dengan tawa kecil palsunya, kemudian melirik ke arah Ansell dan memberi kode untuk berbaring diranjang dengan gerakan wajahnya.


“aku baik-baik saja.” Ucap Ansell.


“hmm.. ayolah kau ini keras kepala sekali.” Ahreum pun menarik paksa lengan suaminya sampai ke tepian ranjang, membuat Ansell akhirnya mengalah dan menuruti perintah istri mungilnya tersebut dengan duduk ditepi ranjang.


“kau tak mau berbaring?” ketus Ahreum yang sudah mulai kehilangan kesabaran.


“tak perlu berbaring seperti ini juga bisa kok.” Sahutnya seraya mengangkat kedua kakinya ke atas ranjang kemudian menyandarkan punggungnya disandaran ranjang.


“Ahreum, bisa tolong ambilkan air minum?


Karena kerongkonganku terasa haus sekali melihat kemesraan kalian yang tiada akhirnya.” Celetuk Elios seraya berjalan mendekati pinggiran ranjang lalu meletakan tas hitamnya disamping tubuh keponakannya.


“hehee, iya sebentar ya.” ucap Ahreum yang kemudian berbalik pergi meninggalkan kedua pria tersebut.


Segera setelah Ahreum pergi meninggalkan kamar, Elios pun mulai membuka risleting tas hitam miliknya dilanjut dengan mengeluarkan sebuah botol infus, selang infus, suntikan dan beberapa alat medis lainnya yang membuat Ansell langsung tahu tujuan dari pamannya tersebut yaitu ia hendak menginfus dirinya.


“tidak perlu sampai diinfus segala, aku sudah lebih baik.” Ujar Ansell seraya melirik ke arah samping.


“kau jangan keras kepala, aku melakukan ini juga bukan untukmu, tapi untuk istri kecilmu itu supaya dia berhenti mengkhawatirkanmu.” Sahut pamannya yang membuat Ansell sontak mengangkat satu alisnya dan menatapnya dengan sorot mata tajamnya.


“ahh, jangan salah paham, aku hanya kasihan aja, kelihatannya dia benar-benar sangat tulus perduli padamu.” Tambah Elios sebab tak ingin keponakannya itu berfikir macam-macam, kemudian dilanjutkan dengan memulai prosedur memasang infus dipunggung lengan Ansell.


“lebih baik urus saja keluarga paman sendiri, jangan mencampuri kehidupanku lagi.” Respon Ansell seraya memalingkan wajah sendunya ke arah lain, selagi lengannya ditusuk oleh jarum suntik.


Bersambung...

__ADS_1


***


__ADS_2