
“kau tahu..
Aku ingin sekali membelah kepalamu, untuk mengetahui isi otakmu yang tak pernah bisa ku tebak.” Celoteh Ansell ditengah ketegangan yang dirasakannya saat ini.
“aku juga ingin membelah dadamu, untuk mengetahui apakah aku ada dihatimu. Ansell. Tak bisakah kau hanya melihat ke arahku saja sekarang?” ucap Ahreum seraya memegangi rahang suaminya lengkap dengan tatapan sendu seolah ia tengah benar-benar memohon pada lelaki yang berada dihadapannya untuk tidak menoleh ke belakang kembali.
Ansell sedikit tertegun mendengar permintaan istri mungilnya itu yang membuat dirinya kini perlahan menurunkan pandangannya karena tak sanggup menatap langsung mata tulus istrinya yang kini masih menunggu jawabannya.
Namun Ahreum kembali mengangkat wajah suaminya. “sebenarnya aku juga tak ingin meyakini perasaanku yang tak berdasar ini. Meski kau selalu bersikap kasar dan terus mendorongku pergi seolah kau tidak membutuhkanku.
Tapi.. ada saat-saat dimana aku melihat rasa cinta yang selama ini kau sembunyikan dalam sikap kasarmu. Aku merasa kau juga memiliki perasaan yang sama padaku, Ansell.
Apa aku salah?” ungkap Ahreum yang masih menatap manik suaminya lekat serta mengusap pipi Ansell dengan ibu jarinya selagi menunggu respon suaminya yang masih terdiam tak bergeming.
“baiklah, aku mengerti..” gumam Ahreum yang terdengar seperti ungkapan kekecewaannya karena Ansell tak kunjung mengeluarkan sepatah kata pun.
Ahreum pun perlahan menurunkan kedua tangan dari rahang Ansell dan beralih menatap ke sembarang arah.
“kalau begitu jangan salahkan aku, jika aku nanti berakhir memilih pria yang jelas-jelas mengasihiku.” Sambungnya lagi yang sontak membuat Ansell membulatkan kedua matanya seketika.
“apa kau sedang mengancamku Ahreum?!” pekik Ansell seraya menajamkan pandangannya.
“tidak.. bukan begitu. Aku hanya..”
“Iya, kau ada. Disini..” potong Ansell seraya menunjuk ke arah dadanya menggunakan jari telunjuknya.
“apa?” tanya Ahreum seraya menaikan 1 alisnya karena merasa ambigu dengan letak yang ditunjukan oleh Ansell. “pu*ti**ngmu?”imbuh Ahreum yang langsung disambut tawa renyah oleh suaminya.
“apa sih? kenapa tertawa, memangnya ada yang lucu.” Keluh Ahreum seraya mengerutkan dahinya.
“siapa pria itu?” tanya Ansell yang langsung memasang wajah seriusnya kembali.
“hah, apa?” sahut Ahreum yang pura-pura tidak mendengar pertanyaan suaminya.
“siapa pria itu Ahreum!” ulang Ansell dengan nada meninggi seraya menarik tubuh Ahreum agar lebih mendekat padanya.
“haachiiiwww!!..” Ahreum kembali bersin ditengah situasi menegangkan itu. “bisakah kita masuk aja, aku kedinginan.” Celotehnya seraya mencondongkan tubuhnya dan memeluk Ansell.
“jadi begini caramu untuk mangkir dari pertanyaanku!” sinis Ansell.
__ADS_1
“jadi sebenarnya aku berada diputingmu? Bukan dihatimu?” balas Ahreum yang membuat Ansell kehabisan kata-kata dan hanya bisa menggeleng kepalanya ditengah tawa kecil yang tak bisa ia kendalikan.
“jika kau memang mencintaiku lantas kenapa kau seperti tak ingin tidur bersamaku.” Ucap Ansell yang kembali mengubah topik pembahasan diantara keduanya.
“ahh itu.. (respon Ahreum seraya melepas pelukannya dan kembali duduk tegak diatas pagar pembatas)
Sebenarnya aku hanya tak ingin perutku buncit saat wisuda nanti. Kau tahu kan.. hanya tinggal 1 tahun lagi aku lulus.” Papar Ahreum yang membuat Ansell cengengesan.
“apa kau tak pernah mendengar sebuah benda yang bisa mencegah kehamilan?” sahut Ansell.
“ahh itu.. ko**ndo**m.” Timpal Ahreum dengan wajah polosnya.
“yak! kau ini frontal sekali.” ujar Ansell seraya membungkam mulut Ahreum dengan telapak tangannya.
“Aku sudah berusaha menjelaskannya dengan..” belum sempat Ansell mengeluarkan unek-uneknya Ahreum tiba-tiba menjilat telapak tangan yang membungkam mulutnya.
Sontak saja hal itu membuat Ansell terkejut dan langsung melepaskan bungkaman mulut istrinya, lalu mengelap telapak tangannya ke gaun tidur Ahreum.
“aughhhh!! Kau jorok sekali sih!” pekik Ansell yang dibalas cengiran oleh istrinya.
“ayoo masuk aku sudah lapar.” Rengek Ahreum yang kembali namplok ditubuh suaminya yang kekar.
“hmm..” dengan helaan nafas kasar Ansell pun menarik tubuh Ahreum hingga masuk ke dalam dekapannya, ia pun lantas beranjak dari tempatnya berdiri dan menarik langkah masuk ke dalam kamarnya.
“hmm..” sahut Ansell.
“apa terongmu besar.. dan juga ber**bulu..” celetuk Ahreum yang membuat Ansell tersedak salivanya sendiri.
“yak! apa sih yang kau bicarakan Ahreum.” pekik Ansell sebab benar-benar tak menduga jika Ahreum tiba-tiba membahas hal yang seperti itu dengan wajah polosnya.
***
Sementara itu diaparteman Rihanna.
Lebih tepatnya dikamar Rihanna, begitu selesai mengeringkan rambutnya dan menatap pantulan dirinya sendiri dicermin meja rias. Nayeon pun lantas melangkahkan kakinya menuju bupet untuk meraih susu strawberry yang sebelumnya dibuatkan oleh karibnya Rihanna.
Gleekk.. gleekk..
“susu buatan Hanna enak juga, ga kalah enaknya dari buatan bi Sumi hehe.” Celetuk Nayeon yang kemudian meletakan kembali gelas yang sudah kosong diatas bupet.
__ADS_1
Ia pun beralih menelusuri kamar yang tak terlalu luas itu seolah tengah mencari sesuatu.
Sampai akhirnya sudut bibirnya pun mengembang kala ia menemukan benda yang dicarinya. Dengan langkah santai ia berjalan menuju sofa kecil yang berada disudut ruangan untuk mengambil ponselnya.
“Jeno sedang apa ya sekarang, apa dia sudah tidur.” Gumamnya seraya sibuk mengutak atik ponsel dengan ibu jarinya.
“hmm.. telfon aja deh.” Putusnya setelah menimbang-nimbang sesaat apa yang harus ia lakukan dengan kontak kekasihnya itu.
Tuuut.. tuuutt.. tuuuutt terdengar nada panggil dari sambungan telfon Jeno sesaat sebelum akhirnya Jeno mengangkatnya.
“halo.” Sapa sang penerima telfon disebrang sana dengan suara datarnya.
“Sayang. Kau sedang apa?” seru Nayeon lengkap dengan senyum lebarnya begitu ia mendengar suara yang dirindukannya.
Ia pun kembali berjalan menuju sudut ranjang lalu duduk dan bersandar disandaran ranjang sembari menunggu respon dari lelaki yang kini ditelfonnya.
“aku baru sampai dirumah.” Jawab Jeno masih dengan nada datarnya.
“hah?! Memangnya kau dari mana, baru sampai dirumah jam segini. Clubbing?” tebak Nayeon yang kemudian menarik selimutnya sampai ke bagian pinggang.
“tidak. Habis memancing dengan kak Ben.” timpalnya lagi.
“begitu ya. Ahh iya bagaimana kalau besok kita mendaki?
Sudah lama kita tidak mendaki gunung bersama kan. Aku janji deh ga akan rewel, ga akan minta gendong, aku pasti sanggup terus mendaki sampai ke puncak.”
“aku tidak bisa.” tolaknya tegas.
“kenapa?
Ayolaahh!! Aku akan membuatkan cemilan kesukaanmu juga bubur ketan merah, kita bisa memakannya saat sudah sampai di puncak. Yaa.. yaa.. yaa..” seru Nayeon yang antusias sekali merencanakan hari esok bersama dengan Jeno, sampai…
“Nay..” ucap Jeno yang mencoba menghentikan rengekan Nayeon.
“he’emm..” sahut Nayeon.
“kita sudah putus.”
Jeno kembali mengingatkan keadaan yang terjadi saat ini diantara keduanya, yang sontak saja membuat Nayeon terdiam membisu dengan air mata yang mulai berlinang dari sudut matanya.
__ADS_1
Merasa tak sanggup menahan tangis pedihnya Nayeon pun menurunkan ponsel dari telinganya kemudian mengakhiri sambunagn telfonnya masih dengan tatapan yang dipenuhi luka.
Bersambung...