
Area halaman belakang kediaman keluarga Dirgantara. Terlihat Jeno dan Nayeon tengah terduduk dikursi yang berbeda dengan pandangan yang sama-sama mengarah ke kolam berenang yang berada dihadapannya.
Nayeon menautkan kedua tangannya didepan sembari meremasnya, seolah tengah mempersiapkan diri untuk membuka percakapan diantara mereka yang akan membuatnya kembali emosional.
“maafkan aku Nay..” karena tak kunjung bersuara akhirnya Jeno memutuskan untuk mendahuluinya.
“tidak.. Aku.. aku yang salah. Disaat kau seringkali memberikan tanda sudah tidak nyaman bersamaku, dengan keras kepalanya aku terus saja memintamu bertahan sedikit lagi, sampai aku tak sadar sudah memberikan waktu yang sulit untukmu Jeno.
Maafkan aku.. Seharusnya aku sadar jika hubungan kita memang tidak akan bisa berjalan dengan baik. Kita sangat berbeda, kau terlahir dari keluarga terhormat dan terpandang.
Sedangkan aku, tak ada yang bisa dibanggakan dari keluargaku. Ayahku seorang penjahat dan ibuku entah berada dimana. Kehadiran diriku hanya akan mencoreng nama baik keluarga besarmu. Aku mengerti sekarang.
Maafkan aku karena butuh waktu lama untuk menerima kenyataaan pahit ini. Jeno.
Maafkan akuuu.. hiksss.. hikssss..” tangis pilu pun kembali menguasai diri Nayeon yang rapuh.
Mendengar rintihan mantan kekasihnya itu, Jeno pun bangkit dari kursi kemudian berjalan mendekati kursi Nayeon serta duduk disampingnya lalu memeluk Nayeon erat, setidaknya hanya hal itulah yang bisa Jeno berikan pada gadis malang yang tengah diselimuti kabut hitam penuh luka disekujur tubuhnya.
***
Dilain tempat.
Lebih tepatnya diruang kerja Ansell.
“Jadi apa yang ingin kau bicarakan dengaku?” tanya Hanna begitu keduanya memasuk ruangan besar penuh buku-buku yang berjejer diatas rak menjulang tinggi hingga menutupi keseluruhan dinding ruangan tersebut.
“Terimaksih.” Ucap Ansell sepelan mungkin dengan posisi tubuh yang membelakangi Rihanna.
“apa katamu?” sahut Hanna yang kini sibuk memindai beberapa buku yang berada dirak.
“Terimakasih.” Ulang Ansell dengan menaikan sedikit intonasinya namun masih tetap membelakangi Rihanna.
“aku tak mendengarmu.” Timpal Rihanna kembali seraya membalik halaman demi halaman sebuah buku yang berada dalam genggamannya.
“TERIMAKASIH!!” bentak Ansell seraya membalikan tubuhnya dan menatap Rihanna tajam
“aiisshh!” dengus Hanna yang kemudian membalas tatapan sinis Ansell.
“terimakasih untuk apa.” lanjut Hanna seraya mengembalikan buku yang dipegangnya itu ke rak, kemudian melipat tangan diatas dadanya dengan pandangan yang mengarah lurus ke Ansell, menunggu pria yang berada dihadapannya itu menjelaskan lebih lanjut mengenai ungkapan terimakasih yang dilontarkannya.
“karena kau tetap menemani Ahreum meski disituasi yang berbahaya sekalipun, kau tak pernah berniat untuk meninggalkannya.” Jelas Ansell seraya memasukan 1 lengannya ke dalam saku celana kainnya dan berdiri dengan posisi cool.
“eeyy.. kukira apaan.
__ADS_1
Tentu saja aku akan selalu bersamanya. Sama hal nya Abi yang selalu menjagamu dengan baik, pertemananku bukan hanya sekedar perteman biasa. Aku sudah menganggapnya sebagai adikku sendiri sejak dulu.” Sahut Rihanna penuh percaya diri.
“ciihh!!
Yak! Dari dulu kau tak pernah berubah ya, cara bicaramu masih saja kasar seperti dahulu.” Dumel Ansell seraya berjalan beberapa langkah mendekat ke tempat Rihanna kini tengah menyandarkan tubuhnya di pinggir rak buku.
“kenapa? Tak suka?!” ejek Rihanna yang membuat Ansell jengah.
“kau memang tidak pernah takut padaku, rupanya.” Ansell berujar seraya menatap Rihanna dengan tatapan mengintimidasi.
“kenapa aku harus takut padamu, kita pernah berada dilevel yang sama bukan.” Balas Rihanna. (Yang maksudnya dulu keluarga Rihanna tak kalah kaya rayanya dengan keluarga Ansell, sampai akhirnya keluarga Rihanna mengalami kebangkrutan yang cukup membuat keluarganya hancur berkeping-keping).
“itu dulu saat..”
Merasa tidak enak membahas luka lama gadis yang kini tengah berdiri dihadapannya dengan tatapan songongnya, Ansell pun menghentikan kalimatnya dan memilih untuk pergi berlalu mengakhiri percakapan singkat diantara mereka.
“saat apa?!” timpal Rihanna kala Ansell berjalan melewati dirinya.
“tutup mulutmu! Suara cemprengmu menyakiti telingaku.” Ketus Ansell tanpa menoleh dan tetap melangkahkan kakinya menuju pintu.
“aiisshhh!!
Yak!! Ansell.” panggil Rihanna yang kini berada 1 langkah dibelakangnya.
Ansell pun berbalik dengan tatapan garangnya.
“aishhh biasa aja dong..” keluh Hanna.
“apa kriteria calon karyawanmu?” sambung Hanna.
“apa? Tiba-tiba, ngapain kau tanya kriteria calon karyawanku?
Kau ingin melemar diperusahaanku?” tanya Ansll seraya menaikan 1 alisnya dan memindai tubuh Rihanna dari bawah sampai atas.
“Iya, kenapa memangnya, gak boleh?” timpal Hanna.
“tidak! Jika aku melihat berkas pelamar atas namamu, akan langsung ku coret!” tegasnya penuh penekanan dalam setiap kalimatnya yang menyatakan jika dirinya bersungguh-sungguh dengan apa yang dikatakannya.
“astaga..
Kau tidak professional sekali.” protes Rihanna.
“Apa?!”
***
Kembali ke kamar Ahreum.
Selang tak berapa lama kamarnya hening karena para pembuat onar telah pergi, kini akhirnya ia pun bisa beristirahat dengan tenang diatas ranjangny sembari memainkan ponselnya.
Entah apa yang kini tengah dilihatnya hanya saja dari pandangannya menyiratkan jika dirinya sedang mengamati hal yang serius didalam ponselnya.
__ADS_1
Sampai..
Suara ketukan pintu membuat dirinya teralihkan.
“masuk!” ucap Ahreum lantang agar terdengar sampai ke balik pintu kamarnya.
1 pelayan pun kemudian muncul dari balik pintu dengan nampan yang berisikan sarapan pagi Ahreum.
Perlahan ia pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar kemudian menaruh sarapan Ahreum diatas nakas.
“sarapannya nona Ahreum. Tuan muda meminta saya untuk membawakannya ke kamar.” Ucap pelayan tersebut yang kemudian merendahkan tubuhnya dan undur diri dari hadapan Ahreum begitu Ahreum membalasnya dengan senyum ramah serta anggukan kepala.
“ahh iya kak..” seru Ahreum kala pelayan tersebut hendak menarik handle pintu, ia pun kembali berbalik.
“Iya nona.” Sahut pelayan tersebut yang kembali merendahkan kepalanya.
“apa mama dan papa belum pulang?” tanya Ahreum seraya meraih nampan yang berisikan sarapannya kemudian ditaruhnya kehadapannya.
“belum nona, dari kemarin nyonya Carrisa belum pulang dari Rumah sakit. Sedangkan tuan Andrew masih melakukan perjalanan dinas ke Jepang sejak beberapa hari lalu.” Papar pelayan tersebut.
“ahh begitu, oke.” Sahut Ahreum yang kembali menyunggingkan senyum manisnya sebagai tanda berakhirnya percakapan mereka.
“baik nona, saya pamit.” Tandas pelayan tersebut yang lalu memutar tubuhnya setelah merendahkan tubuhnya pada Ahreum.
Begitu pelayan tersebut pergi meninggalkan kamarnya, Ahreum pun lantas meraih remote tv yang berada diujung nakas kemudian mengklik tombol power untuk menyalakannya.
Jemarinya terus saja memencet tombol remote tv untuk mencari siaran televisi yang diinginkannya.
Ahreum meletakan remote tv disampingnya setelah menemukan siaran kartun favoritenya, dilanjut dengan mulai menyantap sarapan pagi yang telah menunggunya sedari tadi.
Namun belum suapan pertamanya masuk ke dalam mulut mungilnya, ponselnya bergetar tanda ada panggilan telfon masuk, yang membuat aktivitasnya terhenti kemudian meraih ponsel dengan tangan lainnya selagi tangan kanannya meneruskan suapan perdananya.
“halo.” Sapa Ahreum selagi mengunyah.
“kau benar-benar tidak akan mengantarku pergi?! Aku akan berangkat kerja sekarang.” Pekik seseorang yang tak lain adalah suaminya sendiri.
“Tubuhku masih terasa sakit, Ansell. Kau pergi saja. Hati-hati ya.” Sahut Ahreum lembut.
“cihh!!
Kau yakin sedang tidak berpura-pura!” tuduh Ansell.
“hmm... Bagaimana kalau ku bawakan makan siang aja ya nanti.” Bujuk Ahreum karena memang kondisinya tidak memungkinkan untuk berjalan jauh apalagi jika harus menuruni tangga.
“Ya.” Balas Ansell yang langsung mematikan ponselnya tanpa berpamitan.
“astaga..” Ahreum hanya bisa menghela nafas panjang seraya menggeleng kepalanya begitu layar ponselnya berganti ke wallpaper foto suaminya yang tampan rupawan tiada tara.
***
Bersambung…
__ADS_1