
Malam harinya dipekarangan kediaman keluarga Stevan Lew, yang tak lain adalah kediaman Winter Flower dan Jeno Alexander.
“Apa aku sudah terlihat cantik?” ucap Ahreum yang masih berada didalam mobilnya seraya menatap pantulan paras cantiknya dari cermin kecil yang ia genggam.
“ahh iya, bagaimana pertandingannya tadi kak Abi?” lanjut Ahreum seraya melirik sejenak ke arah Abighail yang tengah terdiam masih memegangi kemudinya meski mesin mobil telah dimatikan. Sebelum kembali fokus dengan cerminnya dan beberapa kali berpose didepan cermin.
Sementara Ansell tampak sibuk mengutak-atik ponselnya sedari tadi dengan raut wajah seriusnya, tak terlalu memperdulikan ocehan istrinya yang meminta pendapat akan penampilannya.
“team mas Raffael bisa mengalahkan team lawan nona. Kemenangan telak dengan skor 80-54. Kudengar pertandingannya akan dilanjut pekan depan bagi yang masuk ke semi final.” Papar Abi seraya memutar tubuhnya ke belakang untuk menunjukan sopan santunnya disaat berinteraksi dengan istri atasannya.
“sudah pasti tak diragukan lagi. Raffa memang jago main basket sedari dulu. Kukira dia akan masuk ke Universitas xxx (universitas khusus bidang olahraga). Tapi entah kenapa dia bisa berakhir dikampus Royal collage.” Celetuk Ahreum yang kemudian memasukan cermin genggamnya ke dalam tasnya.
“Jadi pria itu 1 kampus denganmu?” pekik Ansell seraya menyudahi aktivitasnya sejenak kemudian melirik ke arah istrinya yang tengah merapihkan bagian atas gaun hitamnya.
“he’em, tapi beda fakultas, dari yang ku dengar dia sebenarnya sedang menjalani trainee di agensi xxx.” Respon Ahreum yang masih belum menyadari jika suaminya itu tengah dibakar api cemburu.
“ciihh!!
Apa kau menguntitnya? Sampai tahu kegiatannya segala. Kau yakin tidak memiliki hubungan apapun dengan dia.” Rajuknya seraya menyilangkan kedua tangan diatas dadanya dan menatap tajam manik istrinya.
“rumor itu sudah terseber ke seluruh penjuru kampus, dia cukup populer dikalangan para ciwi-ciwi, kurasa hanya Nayeon aja yang tidak mengenalnya karena selama ini terlalu fokus pada Jeno.” Terang Ahreum kembali yang malah membuat Ansell geram.
“Aughhh!!!
Memangnya seberapa tampan dia sampai kau terus memujinya seperti itu.” geram Ansell yang langsung membuang muka ke arah lain.
“Aku hanya membicarakan fakta.” Timpal Ahreum lagi yang sontak saja membuat Ansell kembali menatapnya dengan pandangan menyalak.
“yak Ahreum!
Apa kau tidak mengerti situasinya sekarang?!” tukas Ansell tajam.
“Eyyy meskipun dia tampan, tapi bagiku tak ada yang lebih tampan dari suamiku.” Goda Ahreum seraya menoel-noel lengan Ansell untuk meredam amarahnya.
“Ammm.. Kurasa sudah waktunya kita turun.” Timbrung Abi seraya menoleh ke belakang.
“Ahh iya, kak Abi kenapa ga ngajak Rihanna kemari?” sahut Ahreum seraya melepas safety beltnya bersiap untuk turun dari mobil.
“Aku sudah mengajaknya tapi dia menolaknya, dia bilang pasti akan ada ayahnya dipesta ini.” papar Abi yang juga ikut melapas safety beltnya.
__ADS_1
Mereka bertiga pun turun secara bersamaan dan berkumpul disatu titik, sebelum melangkahkan kakinya masuk ke dalam.
“Ahh iya, aku baru ingat Ibu tiri Rihanna adalah rekan bisnis kedua orang tua Jeno, sudah pasti ayahnya dan juga istri barunya itu berada dipesta ini.” gumam Ahreum seraya menautkan tangannya ke dalam tangan suaminya lalu mulai menarik langkah bersamaan menjauh dari area pekarangan.
“bagaimana dengan kedua orang tuamu?” tanya Ansell.
“mereka pasti sudah berada didalam.” Respon Ahreum seraya menyapu area sekitar untuk menemukan sosok yang ia cari.
“itu dia kak Benn, kau duluan saja.” Ujar Ahreum saat kedua matanya berhasil menangkap sesosok pria berkulit pucat tengah berjalan santai ke arahnya.
“Ingat, jangan macam-macam Ahreum, begitu sampai didalam kau harus mencariku mengerti!” tegasnya seraya memegang rahang istrinya dan menatapnya tajam.
“Iya.. iya.. Aku mengerti. Sudah sana pergi lebih dulu.” Ucap Ahreum seraya mencoba melepaskan cengkraman kuat tangan suaminya yang menempel lekat diwajahnya.
Namun alih-alih melepaskan begitu saja, Ansell pun lantas mengecup lebih dulu bibir mungil istrinya sebelum benar-benar melepaskan kedua tangannya dari pipi istrinya.
“Astaga..
Anak muda jaman sekarang terlalu terang-terangan didepan umum pula.” Celetuk Bennedict begitu sampai dikeberadaan adiknya.
“Malam juga Abi. Bagaimana kabarmu?” sahut Bennedict mencoba basa-basi seraya menepuk bahu asisten adik iparnya itu.
“baik pak.” Respon Abi lengkap dengan senyum ramahnya.
“sulit sekali bukan bekerja dibawah adik iparku?” sindir Bennedict seraya melirik jahil kea rah Ansell yang masih sibuk memperhatikan istrinya.
“ahh hhahaa, tidak juga pak.” Balas Abi diiringi tawa renyahnya.
“Malam kak.” Akhirnya Ansell pun menyapa kakak iparnya itu seraya menundukan sedikit kepalanya sebagai tanda rasa hormatnya pada kakak iparnya.
“He’em. Tenang saja, aku akan menjaga istrimu.” Ujar Benn.
“baik, aku pergi. Sampai jumpa didalam.” Pamit Ansell seraya mengusap sudut kening Ahreum kemudian dilanjut menundukan kepalanya sedikit ke arah Bennedict, sebelum pergi bersama dengan Abighail.
Ahreum pun melambaikan tangannya disertai senyum merekah begitu suaminya mulai menarik langkah dan terus menjauh dari pandangannya.
“Byyyyeeeee.. Sampai jumpa didalam sayang!!” seru Ahreum.
“sudah hentikan, suamimu juga sudah tidak terlihat. Berlebihan sekali.” celoteh Bennedict yang merasa eoh melihat sikap adik perempuannya itu yang tidak seperti biasanya.
__ADS_1
“sembunyi.. sembunyi!!” seru Ahreum seraya menarik paksa lengan kakaknya dan berlarian ke samping mobil orang lain yang terparkir tak jauh dari keberadaannya saat ini.
“Ada apa sih?!” dumel Benn yang berada dibelakang adiknya.
“Dia.. wanita itu, wanita yang berpura-pura menjadi saudara kembarnya untuk merebut kehidupan baik yang dijalani saudara kembarnya.” Papar Ahreum seraya menyembulkan kepalanya dan memperhatikan sosok wanita yang tengah berjalan bersama dengan ayahnya.
“Wanita yang diculik bersamamu?” tambah Bennedict seraya ikut menyembulkan kepalanya disamping adiknya ditengah fokusnya yang juga mengarah pada sosok wanita yang kini menjadi topic pembicaraaannya.
“Aiishh!! Sudah ku bilang dia penjahat sebenarnya tahu!” pekik Ahreum.
“menunduk!!” perintah Ahreum seraya menekan paksa kepala Benn untuk kembali berlindung disamping mobil sebab mendadak wanita itu melirik ke arah mereka bersembunyi.
“huuuhh hampir aja, bagaimana? kakak sudah mencoba menyelidikinya.” Lanjut Ahreum yang kini tengah berjongkok dengan kakaknya dibalik mobil, ia pun melirikan matanya menunggu respon kakaknya.
“belum..
Kakak tidak akan menuruti keinginanmu sebelum kau menceritakan keseluruhan ceritanya. Apa yang sebenarnya terjadi Ahreum?!” balas Bennedict seraya membalas tatapan adiknya.
“hmm..” Ahreum mendehem seraya mengedarkan pandangannya ke sekitar untuk mencari sesuatu.
“Jadi begini..” Ahreum mulai bercerita setelah meraih 1 ranting kecil yang berada didekat ban mobil.
“Pada suatu hari hiduplah 2 anak kembar identik yang berada dipanti asuhan Cinta kasih kedua gadis itu bernama Aluna dan Ilona.” Lanjut Ahreum seraya menggambarkan keadaan dengan sepotong ranting tersebut diatas aspal agar Bennedict bisa dengan mudah mencerna apa yang ingin ia sampaikan.
“Cinta kasih bukannya panti asuhan yang berada dibanten.” Sela Bennedict.
“Aishhh..
Iya, dengarkan dulu aja.” gerutu Ahreum sebal kakaknya itu memotong ceritanya.
“oke.. oke..
Langsung ke intinya aja, gak perlu intro.” Pinta Bennedict.
“Astaga.. huuftt..
Jadi sebenarnya.. bla.. bla.. bla..”
Ahreum menceritakan semua yang terjadi tanpa ada yang dikurangi ataupun dilebih-lebihkan. Sementara Bennedict tampak serius mendengarkan sembari sesekali mengangguk-anggukan kepalanya mencoba memahami alur yang diceritakan oleh adiknya.
***
Bersambung…
__ADS_1