
“eyyyt.. meski aku belum pernah berkencan bukan berati aku belum pernah ciuman kan sebelumnya. Hahaa!” balas Ahreum yang diiringi dengan tawa renyahnya.
“apa?! rupanya kau gadis yang seperti itu.” sinis Ansell seraya mengalihkan wajahnya dari wajah Ahreum, kemudian melipat kedua tangan diatas dadanya.
“heheee..” seakan tidak peka Ahreum malah terus mengisengi Ansell yang sudah merajuk.
“dengan siapa?! Lelaki brengsek itu, Jeno!” tebak Ansell seraya melirik tajam untuk sesaat kearah Ahreum yang masih tampak cengar-cengir sendiri.
“bukan, tapi dengan Kongi.” Timpal Ahreum yang membuat Ansell kembali emosional.
Saat pintu lift terbuka Ansell pun lantas bergegas pergi dengan langkah panjangnya.
“yak, tunggu aku!!” seru Ahreum seraya berlari kecil menyusul langkah Ansell yang telah jauh meninggalkannya.
***
Diperjalanan keduanya menuju rumah sakit Haneul Jakarta.
Terasa getaran yang berasal dari ponsel didalam tas kecil yang dipakai Ahreum, tak menunggu lama ia pun lantas merogoh ponselnya kemudian mendekatkannya ke telinga setelah melihat nama sang penelfon yang tertera dilayar ponselnya.
Bersamaan dengan sapaan Ahreum pada sang penelfon, Ansell melayangkan lirikan tajamnya pada Ahreum yang duduk disampingnya.
“iya ayah, begitu ya. Amm.. oke deh besok Ahreum kerumah ya, sekarang Ahreum mau membantu Rihanna bebenah dulu di aparteman.” Ucapnya lengkap dengan senyum manisnya.
“oke, sampaikan salamku pada ibu ya. Aku juga sangat merindukan kalian dan Sammyyyyy hehehe. Ayah.. I Love You.” Pungkas Ahreum yang kemudian mematikan ponselnya setelah melakukan percakapan singkat dengan ayahnya.
Tepat setelah berakhirnya sesi telfon Ahreum dengan ayahnya Seno, ponsel Ahreum kembali bergetar, namun kali ini ia sedikit ragu untuk mengangkatnya, sebab sang penelfon tidak ada dalam kontak Ahreum. Nomor asing yang membuat Ahreum mengerutkan dahinya dan berfikir siapa kira-kira yang menelfonnya.
Melihat Ahreum yang bimbang, Ansell pun ikut mengangkat 1 alisnya karena penasaran siapa yang tengah menghubungi istrinya itu.
__ADS_1
“kenapa?” tanya Ansell yang tak tahan untuk tidak bersuara seraya melirik sesaat kearah istrinya.
“gak tahu, gak ada namanya.” Respon Ahreum lengkap dengan raut wajah seriusnya.
“yaudah gak usah diangkat.” Timpal Ansell yang kembali melirik sejenak ke arah Ahreum ditengah fokusnya menyetir.
Namun karena rasa penasaran Ahreum pada sang penelfon begitu kuat, Ahreum pun memutuskan untuk mengangkat telfonnya dan mengabaikan perintah suaminya. Sebab larangan adalah sebuah perintah baginya hahaha.
“halo.” Sapa Ahreum dengan nada hati-hati.
“hmm..” sementara Ansell hanya bisa menghela nafasnya dan kembali memfokuskan pandangannya pada jalanan.
“Thania..” balas seseorang disebrang sana yang membuat Ahreum sontak membulatkan kedua matanya, sebab yang selama ini selalu memanggilnya dengan nama belakang hanyalah Winter, kakak perempuan Jeno Alexander.
“kak Winter..” ucap Ahreum pelan seakan masih tak percaya jika kini ia tengah berbicara dengan istri dari kakaknya.
“sudah lama ya, bagaimana kabarmu, Thania?” tanya Winter yang mulai mengembangkan percakapan diantara keduanya.
“aku baik kak Winter, kakak sendiri bagaimana, apa semuanya berjalan lancar?” timpal Ahreum.
“kakak.. berhasil melalui semuanya, Thania. Kakak sembuh sepenuhnya dan akan kembali secepatnya. Kakak sangat merindukanmu.” Respon Winter yang membuat sebuah senyuman manis mengembang diwajah mungil Ahreum.
“kakak sudah memberitahukan ini pada kak Ben?” lanjut Ahreum.
“he’emm, apa Ben baik-baik saja selama kakak tidak ada? Maafkan kakak ya, karena baru bisa mengabarimu sekarang. Mami…”
“iya aku mengerti kak Winter, mendengar kabar kesembuhan kakak juga sudah lebih dari cukup bagiku. Terimakasih karena sudah bertahan.. kak, kakak benar-benar wanita tangguh yang pernah ku temui. Aku sangat berharap kak Winter dan kak Ben bisa bersatu kembali seperti dulu.” Sela Ahreum dengan nada emosionalnya seakan ia tengah menahan rasa sedih dan juga bahagia yang bercampur jadi satu.
Sedih karena menyadari kenyataan kisah cinta kakaknya sedari dulu tidak pernah berjalan dengan mulus, mulai dari perjuangan keduanya yang mencoba meyakinkan kedua orang tua Winter, bahkan meski berulang kali Bennedict mendapatkan penolakan dengan kata-kata kasar dari mami Winter namun hal itu tak menyurutkan semangat juangnya untuk tetap mempertahankan kisah cintanya yang mereka jalin sejak masa SMA dulu.
Hingga akhirnya setelah beberapa tahun berusaha melewati rintangan tersebut keduanya pun mendapat lampu hijau dari sang mami, meski memang tidak sepenuhnya diterima dengan baik dalam keluarga Winter tapi setidaknya mereka bersyukur kisah cinta mereka bisa sampai ke pelaminan.
__ADS_1
Namun siapa sangka pernikahan mereka pun tidak dapat bertahan cukup lama, karena kejadian atau tragedi di malam itu yang membuat semuanya berubah. Hal mengerikan yang menimpa Winter hingga kini dirinya pun harus merelakan impiannya menjadi seorang penari balet.
“iya kakak sangat berharap jika ada keajaiban yang bisa membuat Mami kembali percaya pada Ben jika hanya Ben satu-satunya pria terbaik untuk kakak. Hikksss.. karena bahkan setelah bertahun-tahun kita berpisah pun perasaan kakak terhadap Ben tidak pernah pudar sedikitpun, hiksss.. kakak.. sangat-sangat mencintai kakakmu. Thania.” Ungkapnya panjang lebar dengan diiringi isakan pilunya.
“iya aku tau itu, aku akan mencoba bicara dengan ayah agar setidaknya ayah bisa membujuk tante, meskipun aku tau itu bukan hal yang mudah, tapi mari kita berjuang bersama, kak Winter.”
-----
Setelah lama berbincang akhirnya percakapan intens itupun usai dengan tetes air mata yang berderai dari pelupuk mata Ahreum karena ikut terbawa suasana. Ia pun menyeka air matanya dengan jari telunjuknya sebelum memasukan kembali ponsel miliknya ke dalam tas.
“hapus air matamu yang benar!” Ketus Ansell seraya melempar bungkus tisu ke atas paha Ahreum dengan kasar. “aku tak mau ada yang salah paham nanti.” Sambungnya begitu selesai memarkirkan mobilnya dibaseman rumah sakit, ia pun lantas mematikan mesin mobil kemudian lebih dulu keluar meninggalkan Ahreum yang masih mencoba membenahi hati dan fikirannya.
Selang beberapa menit kemudian setelah dirasa lebih baik, Ahreum pun keluar dari mobil. Dilihatnya Ansell tengah berdiri dibagian belakang mobilnya seraya sibuk mengutak-atik layar ponselnya entah apa yang dilakukannya, namun keyakinan terbesar Ahreum, suaminya itu tengah sibuk dengan pekerjaannya.
“ayo.” Ajak Ahreum dengan nada lemah seraya berjalan melewati suaminya.
Ansell kembali memasukan ponsel ke dalam tas yang diselempangkannya sebelum menyusul langkah istrinya yang tampak tidak bergairah.
“sebaiknya kau tinggal dimobil saja.” Ucap Ansell seraya menahan lengan Ahreum agar menghentikan langkahnya sejenak.
“tidak.. aku baik-baik aja. Ayoo..” timpal Ahreum sembari menurunkan tangan Ansell dari bagian sikutnya lalu beralih menggenggamnya kemudian menariknya bersamaan dengan senyumnya yang merekah dan kedua kakinya yang kembali melangkah untuk memasuki pintu bagian belakang rumah sakit.
“hmm..” Ansell hanya menghela nafas seraya kembali melanjutkan perjalanannya dengan saling berpegangan tangan.
***
Bersambung…
__ADS_1