Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO

Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO
Episode 252


__ADS_3

Tangis pecah mengiringi curhatan panjang Rihanna hingga membuat Ahreum ikut merasa emosional dan langsung memeluknya erat.


Brrukkk!!


Suara bantingan pintu membuat keduanya sontak terkejut dan langsung melirik ke arah pintu yang menghubungkan atap.



“YAK! Apa yang kalian lakukan tengah malam begini diatap?!” seru Jeno yang kemudian berlari menghampiri kedua temannya yang tengah berpelukan dipinggir dinding pembatas.


“Apa yang terjadi huh?!” panik Jeno kala melihat kedua teman perempuannya menangis sesenggukan.


“Tak ada, kemari!” kata Ahreum seraya menarik paksa tubuh Jeno ke dalam aktivitas berpelukan bersama.


“aiishhss!! Kalian berdua kenapa sih,” dumel Jeno yang mencoba berontak dan keluar, namun dengan cepat Rihanna dan Ahreum kembali menarik tubuh Jeno, hingga Jeno pun hanya pasrah berada ditengah suasana penuh dengan rengekan pilu yang menyayat hati itu.


Beberapa menit kemudian setelah Rihanna dan Ahreum merasa lebih baik, mereka bertiga bersandar ditepi dinding pembatas sembari menatap langit malam yang dipenuhi taburan bintang.


“Jadi, tak ada yang mau menjelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi?” kata Jeno yang masih penasaran dengan penyebab keduanya menangis tersedu-sedu, seraya melirik ke arah Ahreum dan Rihanna yang berada disisi kanan dan kirinya.


“tidak ada, aku hanya merasa bahagia saja,” timpal Rihanna yang masih mengarahkan pandangannya ke langit.


“Apa kau sudah gila?


Bagaimana mungkin kau mengekspresikan rasa bahagia dengan tangisan seperti itu,” celetuk Jeno dengan nada sarkasnya.



“Terimakasih…,” ucap Ahreum yang membuat kedua temannya meliriknya seketika, dengan senyum merekah ia kembali melanjutkan kalimatnya. “karena sudah tumbuh bersama denganku, masa muda yang kita lalui bersama, aku berharap kita akan selalu bersama selamanya.” Ungkap Ahreum yang membuat kedua temannya tersentuh dan langsung saling merangkul 1 sama lain dengan pandangan ke arah langit malam yang menjadi saksi persahabatan yang tak akan pernah memudar dimakan waktu.


Tak jauh dari keberadaan mereka bertiga, ada sosok pria berkulit pucat yang tengah bersembunyi dibalik tembok besar, sudut bibirnya terangkat kala ketiga anak muda itu saling berbagi kehangatan ditengah dinginnya malam.


Bennedict ikut bahagia karena sudah turut membesarkan mereka semua seperti adik kandungnya sendiri, ia pun pergi lebih dulu setelah puas memandangi kebahagian yang terpancar dari ketiga adiknya.


“Sebaiknya kita kembali, angin malam tak baik untuk kesehatanmu,” ujar Jeno yang kemudian memutar tubuhnya dan merangkul Ahreum untuk membawanya pergi.


“Yak, berhenti menunjukan sikap yang berlebihan, Ahreum sudah menjadi istri pria lain tau!” celetuk Rihanna yang ikut memutar tubuhnya lalu menyusul langkah kedua temannya yang sudah lebih dulu meninggalkannya.


Ahreum hanya tertawa kecil sedangkan Jeno tampaknya tidak ingin memperdulikan teguran karibnya itu.



“Kau bisa selembut ini dengan Ahreum, tapi tidak dengan Nayeon, apa kau tidak kasihan padanya huh?” dumel Rihanna ditengah perjalanannya kembali menuju ruangan Ahreum.

__ADS_1



“Justru karena aku perduli padanya berusaha mungkin aku menjaga jarak, jika tidak dia akan kesulitan untuk melupakanku,” katanya lengkap dengan wajah songongnya yang membuat Rihanna mendecak sebal.


“Ciihh!! Belagu banget,”


“udah-udah, jangan terlalu berisik, kalian akan mengganggu pasien lainnya,” ucap Ahreum mencoba menengahi.


“Kapan kau diijinkan pulang?” tanya Jeno.


“mungkin lusa, aku masih harus menjalani pemeriksaan akhir besok, jika hasilnya bagus aku sudah boleh pulang lusa,” respon Ahreum.



“hmm…, bagaimana kalau kita merayakannya?


Ayo kita berpesta di Villaku,” ajak Jeno penuh semangat.



“setuju!” seru Hanna yang tak kalah antusias.


“Aku mau ajak kak Abi, hehehe,” tambah Rihanna setengah berbisik namun masih terdengar jelas ditelinga kedua karibnya.


“Tidak, hanya kita bertiga aja!” Jeno menekankan lengkap dengan tatapan sinisnya.


“Wuaaahhh, kau jahat sekali, tidak berencana mengundang Nayeon,” komen Rihanna seraya menggelang kepalanya.


“Nayeon lagi, Nayeon lagi, kau ingin membuatnya semakin terluka dengan terus melihat wajahku? Lagipula jika mami sampai tahu kalau aku masih berhubungan dengan Nayeon, mami pasti tidak akan tinggal diam,” jelasnya dengan nada ngegasnya.


“Kalau begitu sepertinya aku tidak bisa ikut, huffftt....,” kata Hanna seraya menghela nafasnya.


“Iya, aku juga, gak sampai hati aku meninggalkannya untuk bersenang-senang sendiri,” tambah Ahreum dengan nada lirihnya.


“aiisshhh!!


Ya sudah, ya sudah terserah kalian saja, ajak aja semuanya, kalau perlu pak RT, pak RW pun kalian aja!” kesal Jeno yang akhirnya menyerah dan membiarkan Nayeon ikut bergabung diantara mereka.


“YEAAAYYYY!!” seru Ahreum dan Rihanna serempak yang membuat beberapa pasien dan penunggunya terjaga seketika lantaran suara gaduh yang berasal dari koridor luar.


Buru-buru keduanya pun menutup mulutnya secara bersamaan dan langsung saja mengambil seribu langkah untuk menjauh dari area tersebut.


Tak ingin ditinggal begitu saja, Jeno yang masih tampak celingukan mengamati situasi disekitarnya, ia pun lantas berlari menyusul kedua temannya yang sudah pergi jauh meninggalkannya lantaran efek loadingnya yang cukup lama, hhihihi.

__ADS_1


“yak! Tunggu aku!” seru Jeno seraya berlarian mengejar kedua teman perempuannya.


Sesampainya didepan ruangan Ahreum, baik Ahreum maupun Rihanna langsung membeku ditempat mendapati Bennedict yang tengah berdiri disamping pintu ruangan Ahreum sembari melipat kedua tangan diatas dadanya disertai tatapan tajam yang membuat atmosfir kala itu berubah menjadi sangat menyeramkan.


“hehehee…,” Ahreum mencoba mencairkan suasana dengan cengirannya sembari menautkan kedua tangan didepan tubuhnya.


Bruukkk!! Jeno menubruk tubuh kedua teman perempuannya sebab tak menyadari jika Ahreum dan Rihanna sudah menghentikan langkahnya sedari tadi.


“Aduuhh!” rengek Jeno begitu tubuh lembeknya bertubrukan dengan punggung kedua karibnya.


“Ada apa sih?” protes Jeno yang masih belum menyadari sosok Bennedict dihadapannya.



“Kalian habis darimana?” tanya Bennedict tanpa mengendorkan pandangan tajamnya pada ketiga adiknya itu.


Barulah setelah Bennedict bersuara, Jeno bisa melihat dengan jelas kehadiran Bennedict yang dipenuhi aura dingin disekitarnya. Ia mengambil posisi disamping Ahreum dan ikut menautkan kedua tangan didepannya, layaknya seorang bocah yang tengah dimarahi oleh ayahnya.


“Hanya.. mencari angin aja kok,” sahut Rihanna yang memiliki jiwa berani lebih dari kedua temannya.


“Memangnya didalam kamar tidak ada angin?! Bukankah kau bisa membuka jendela kamarmu Ahreum, alih-alih keluyuran tengah malam begini,” omel Bennedict seraya mengarahkan pandangan menyalaknya secara bergantian pada ketiga serangkai tersebut.


“Dan juga, kenapa matamu merah?” lanjut Bennedict seraya menatap Rihanna.


“Kakaaakkk!!...., hiksssss…” rengek Rihanna yang berpura-pura emosional lalu memeluk Bennedict, peka dengan kode yang diberikan Hanna, Ahreum dan Jeno pun lantas mengikuti apa yang dilakukan Rihanna, mereka semua memeluk Bennedict disertai rengekan manja terhadap seorang kakak.


Alhasil, Bennedict pun menyerah dan membiarkan ketiga adiknya memeluknya erat tanpa adanya penolakan.


“Kukira kakak ga akan kemari hehee,” gumam Ahreum.


“Iya nih, jadi terpaksa aku bermalam disini, karena ga ada pria yang menjaga mereka berdua,” celetuk Jeno penuh percaya diri.


“Ciihhhh!! Ngemeng tuh sama tembok! Setiap ada orang jahat kau selalu kabur lebih dulu, atau kalau ngga, malah berlindung diketek kakakmu hahhaa!” ledek Rihanna seraya melepas pelukannya dan memasang ekspresi terjulidnya pada Jeno sang anak mami.


“Aiishhhh! Kamvret, sia*lan! Kemari kau!” pekik Jeno kala melihat Rihanna langsung mengambil seribu langkah masuk ke dalam kamar.


Sedang Bennedict dan Ahreum hanya bisa menggeleng kepala dan menghembuskan nafasnya melihat perseteruan yang terjadi diantara Jeno dan Rihanna yang kini tengah bermain kejar-kejaran didalam ruangan.


“kau sudah merasa lebih baik, Ahreum?” tanya Bennedict seraya membukakan pintu kamar dan membiarkan adiknya lebih dulu masuk ke dalam.


“Iya, seperti yang kakak lihat, aku sangat.. sangat baik, tubuhku bisa pulih dengan cepat hehee,” sahut Ahreum diiringi senyum termanisnya.


Bennedict mengusap bagian atas kepala Ahreum lembut lengkap dengan senyum hangatnya ditengah kegaduhan yang disebabkan oleh Jeno dan Rihanna.

__ADS_1


***


Bersambung…


__ADS_2