Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO

Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO
Episode 107


__ADS_3

Sebelumnya..


Ahreum berjalan menuju ranjangnya untuk mengambil ponsel miliknya kemudian membawanya masuk ke dalam kamar mandi.


Tuut.. tuutt.. terdengar suara dering ponsel milik seseorang diseberang sana, selagi Ahreum menunggu karibnya itu mengangkat telfon darinya, ia pun meletakan ponsel ditepian bath up lalu beralih melucuti pakaiannya satu persatu untuk memulai aksi membersihkan tubuhnya.


“yak! kau kemana aja sih udah hampir 1 jam masih belum juga kemari.” Pembukaan yang cukup nyaring dari seberang sana begitu telfon tersambung.


“amm.. memangnya perabotanmu sudah sampai?” sahut Ahreum nyantai dan tidak terpengaruh akan emosi Rihanna.


“sudah, ini lagi proses pengangkutan barang, sebentar lagi selesai.” Paparnya.


“oke, tapi kurasa aku harus mampir dulu ke rumah sakit untuk menjahit luka ditelapak tangan Ansell.” katanya seraya memasukan tubuhnya ke dalam bath up yang sudah dipenuhi busa sabun dan mulai menggosok-gosok tubuhnya secara perlahan untuk menghilangkan daki yang menempel disekujur tubuhnya.


“aiissh!! Aku lupa hal itu, kurasa dia juga ga bisa diandalkan dong kalau tangannya terluka.” Keluh Hanna.


“memangnya seberat apa sih perabotanmu sampai kita bertiga pun ga sanggup menanganinya?


Lagipula kan, bukannya ada Jeno, manfaatkan aja lelaki yang ada.” Tambahnya masih dengan aktivitasnya menggosok tubuhnya dengan busa sabun.


“apa itu Ahreum?” terdengar suara samar-samar dari dalam telfon.


“Nayeon sudah datang rupanya.” Ucap Ahreum yang mengenali suara tersebut.


“berikan padaku!” katanya lagi yang mencoba mengambil alih ponsel milik Hanna.


“yak! kapan kau akan kemari, aku bosan berdua terus dengan Hanna.” Nayeon merajuk.


“hanya berdua? Jeno ga ikut.” Balas Ahreum.


“dia masih sibuk dengan tugas kelompoknya dikampus.” Sahut Nayeon.


“ahh begitu, amm.. mungkin sekitar 30 menit lagi ya. Sudah dulu ya, aku sedang mandi. Bye.” Pungkas Ahreum yang kemudian mematikan sambungan telfonnya.


-----


“apa?!” kaget Nayeon. “yak! apa dia selalu membawa ponselnya ke dalam kamar mandi?” ucapnya seraya mengarahkan pandangannya pada Hanna yang berada disampingnya.


***


Selang beberapa menit kemudian setelah Ahreum menyelesaikan ritual membersihkan tubuhnya, ia pun meraih jubbah mandi yang tergantung kemudian mengenakannya sebelum melangkahkan kakinya keluar.

__ADS_1


Brrrruukkk!! Suara hantaman pintu kamar Ahreum begitu nyaring terdengar.


Ahreum yang baru saja sampai diambang pintu pun sampai terkejut hingga refleks memegangi bagian dadanya karena jantungnya yang tiba-tiba saja berdegup kencang tak beraturan.


“augghh si***… kau suka sekali membuat orang jantungan, Ansell?! bagaimana jika jantungku berhenti bekerja.” Pekiknya lengkap dengan tatapan sinis yang mengarah pada Ansell yang masih berdiri diambang pintu.  


“tanganmu terluka?” tanya Ansell seraya melangkahkan kakinya dengan cepat menuju keberadaan Ahreum yang masih memandanginya dengan tatapan kebingungan.


“tangan?” ulang Ahreum sesaat sebelum otaknya terkoneksi.


“coba kulihat dimana yang terluka?! Sudah ku bilangkan untuk hati-hati dalam melakukan hal apapun Ahreum!! Kau ini ceroboh sekali hingga sering menyakiti dirimu sendiri!” dumelnya seraya meraih kedua tangan Ahreum lalu memeriksa dimana letak luka yang dibicarakan bi Ijah beberapa saat lalu.


“disini..” kata Ahreum seraya menarik kedua tangannya dari genggaman Ansell kemudian menunjukan dimana letak luka itu berada.


Ansell menyipitkan kedua matanya kala tidak menemukan luka apapun ditelapak tangan istrinya tersebut, kemudian menaikan 1 alisnya sebelum beralih menatap Ahreum lengkap dengan raut wajah bingungnya.


“hanya luka goresan kecil dipinggiran telapak tanganku, dan sekarang lukanya pun sudah tak terlihat.” Imbuh Ahreum yang membuat Ansell langsung menajamkan pandangannya kearah pintu kamar Ahreum, karena lagi-lagi bi Ijah mengisenginya.


“astaga.. bi Ijah mengisengimu lagi rupanya, hahaa. Kelihatannya kau panik sekali tadi, kau khawatir ya kalau aku kenapa-napa?” goda Ahreum seraya menyenggol tubuh Ansell dengan bahunya serta tawa renyah yang membuat Ansell semakin geram.


“ciihhh!! khawatir? Jangan mimpi!!” ketusnya seraya memutar tubuhnya.


“aisshh!! Kenapa kau mengikutiku! Cepat pakai bajumu!” pekik Ansell seraya menatap tajam Ahreum yang sedari tadi menempel ditubuhnya.


“astaga.. iya.. iya.. santai aja dong, ngegas mulu.” dengus Ahreum yang kemudian memutar tubuhnya dan berjalan menuju lemari, sementara Ansell hanya bisa menggelengkan kepalanya kemudian kembali melanjutkan langkahnya keluar dari kamar Ahreum.


“dibanding Ansell sepertinya karakter dokter Elios lebih baik, udah ganteng, ramah, perhatian, penuh kasih sayang, ga pernah berkata kasar ataupun meninggikan suaranya. Kecuali..” gumam Ahreum disela aktifitasnya memilih pakaian yang akan dikenakannya pagi ini. Mendadak fikirannya kembali melayang ke masa lalu disaat dirinya hampir saja tertabrak oleh sebuah mobil yang melintas.


“hmm.. beruntung sekali yang menjadi istri dokter Elios, hidupnya dipenuhi kedamaian dan kehangatan penuh cinta. Seperti ayah dan ibu. Hufftt..” keluhnya dengan helaan nafas kasarnya ia masih mencoba menemukan pakaian yang akan melengkapi outfitnya hari ini.


“samaan aah warnanya kayak Ansell, hitam coklat hehehe.” Celetuk Ahreum seraya mengambil blouse panjang berwarna hitam dan celana rok pendek berwarna coklat dari lemari kemudian dilemparkannya ke atas ranjang.


***



“ayoo!!” seru Ahreum begitu ia keluar dari kamar, sementara itu Ansell yang tengah terduduk diruang tamu sembari memeriksa ponselnya lantas menoleh ke arah sumber suara. Ia pun bangkit lalu menarik langkah menghampiri istri mungilnya yang masih berdiri didepan pintu untuk menunggunya agar bisa berjalan bersama.


“sudah ku bilangkan jangan pakai rok mini lagi! Kau ini bandel sekali.” Omelnya lengkap dengan tatapan tajamnya, seraya memasukan kembali ponsel yang tadi digenggamnya ke dalam tas.


“eyyy.. ini bukan hanya sekedar rok, tapi rok celana nih liat..” sanggah Ahreum seraya memutar tubuhnya untuk memperlihatkan bagian celana yang dirinya maksud.

__ADS_1


“augghh!!” dengus Ansell yang kemudian berjalan lebih dulu meninggalkan Ahreum seraya menghela nafasnya.


Tak ingin ketinggalan Ahreum pun lantas menyusul langkah Ansell menuju pintu utama.


“ahh iya btw.. kita kerumah sakit dulu ya.” Ucap Ahreum ditengah perjalanannya menuju lift disudut lorong.


“kenapa?” sahut Ansell seraya menaikan 1 alisnya. “bukannya kau bilang tidak ada yang terluka.” Sambung Ansell sembari memencet salah satu tombol lift.


“bukan aku, tapi kau, tanganmu perlu dijahit. Kau akan membiarkannya menganga seperti itu?”


“tidak perlu, nanti juga merekat sendiri.” Responnya yang kemudian menarik langkah masuk ke dalam lift begitu pintu lift terbuka, disusul dengan langkah kecil Ahreum yang berada dibelakangnya.


“eeyyy.. kau ini keras kepala sekali, aku bicara seperti ini untuk kebaikanmu tahu!” gerutu Ahreum.


“tidak perlu, kita langsung ke aparteman temanmu aja.” Tegasnya seraya memasukan 1 tangannya ke dalam saku celana selagi menunggu lift yang akan membawanya ke lantai basemant.


“ayoolaah sayang!!” rengek Ahreum tiba-tiba, yang sontak membuat Ansell terkejut dan meliriknya dengan tatapan anehnya.


“hehehee.. aku selalu ingin memanggil seperti itu, tapi sayangnya aku tak pernah sekalipun merasakan rasanya berkencan. Huffftt.” Lanjutnya lagi lengkap dengan raut wajah mengerutnya.


“jadi yang waktu itu juga ciuman pertamamu dong.” Goda Ansell seraya menunjukan senyum smirknya kearah Ahreum.


“eyyyt.. meski aku belum pernah berkencan bukan berati aku belum pernah ciuman kan sebelumnya. Hahaa!” balas Ahreum diiringi dengan tawa nakalnya.


“apa?! rupanya kau gadis yang seperti itu.” sinis Ansell seraya mengalihkan wajahnya dari wajah Ahreum, kemudian melipat kedua tangan diatas dadanya.


“heheee..” seakan tidak peka Ahreum malah terus mengisengi Ansell yang sudah merajuk.



“dengan siapa?! Lelaki brengsek itu, Jeno!” tebak Ansell seraya melirik tajam untuk sesaat kearah Ahreum yang masih tampak senyum-senyum sendiri.


“bukan, tapi dengan Kongi.” Timpal Ahreum yang membuat Ansell kembali emosional.


Saat pintu lift terbuka Ansell pun lantas bergegas pergi dengan langkah panjangnya.


“yak, tunggu aku!!” seru Ahreum seraya berlari kecil menyusul langkah Ansell yang telah jauh meninggalkannya.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2