Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO

Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO
Episode 184


__ADS_3

Begitu puas ******* bibir mungil Abi, Hanna pun kembali menarik tubuhnya dan mengarahkan pandangannya lurus ke siaran televisi yang masih menayangkan acara komedi kesukaan Ahreum.


Lain hal nya dengan Abi yang masih tetap pada posisinya dengan tatapan lekat mengarah pada bagian samping wajah Hanna.


“apa itu tadi Hanna?” tanya Abi.


“bukankah seharusnya aku yang berkata demikian pada kak Abi, hanya gadis bodoh yang menyia-nyiakan pria sebaik kak Abi.” Tutur Hanna yang kembali menoleh lengkap dengan senyum tipisnya.


“kau tahu, kau tak memiliki kekurangan sedikitpun kak Abi. Sedangkan aku.. Jika kau mengetahui masa laluku, mungkin saja hatimu bisa berubah.” Tambah Hanna, yang membuat fikiran Abi kembali melayang pada kalimat yang dilontarkan oleh Nayeon beberapa menit sebelumnya.


“jadi, kau sudah pernah melakukannya?


Apalagi kau pernah tinggal d Inggris lama kan, kurasa kau sudah pernah melakukannya beberapa kali tuh.”


Hanya kalimat tersebut yang terus terputar dalam otak Abi hingga membuatnya terdiam sesaat kala Hanna masih menatapnya lekat.


Sebelum ia kembali membuka mulutnya tepat saat Hanna hendak memutus pandangannya pada dirinya.


“aku tak perduli masa lalumu Rihanna!


Karena yang berada dihadapanku adalah dirimu yang saat ini, bukan dirimu dimasa lalu. Jadi berhenti melihat ke belakang, cukup lihat aku saja mulai saat ini. Oke.” Ucap Abi mantap seraya menarik wajah Hanna dengan kedua tangannya.


Senyum bahagia pun mengembang menghiasi wajah cantik Rihanna yang kala itu merasa sangat lega dengan kalimat romantis yang diungkapkan Abi padanya.


***


Kembali ke area dapur.


“oke.. okee.. biar aku coba luruskan, jadi sebenarnya yang wik wik itu makhluk astral yang menyerupai papa Andrew?


Atau memang papa Andrew yang wik wik dengan makhluk itu? Kepalaku jadi sedikit pusing nih.” Ujar Ahreum lengkap dengan raut wajah bingungnya mengartikan kejadian aneh yang diceritakan oleh pelayan yang bernama Arini tersebut.


“bukankah seharusnya tuan Andrew masih berada diranjang jika itu benar tuan Andrew, tapi kenapa tuan Andrew muncul dari kamar mandi dengan pakaian lengkap pula.

__ADS_1


Aku tak yakin jika tuan Andrew melakakunnya, mengingat karakter tuan Andrew yang ramah, dan penyayang. Tidak.. itu tidak mungkin.” Bantah Arini yang lebih pro ke 2 kemungkinan, pertama, jika nyonya Carrisa berhalusinasi, dan yang kedua memang makhluk astral yang menyerupai tuan Andrew.


“bagaimana kak Laras, apa kakak tak pernah melihatnya sejauh ini?” tanya Bona seraya mengarahkan pandangannya pada Laras yang sebenarnya adalah indigo.


“melihatnya?


Kak Laras juga bisa melihat makhluk-makhluk itu..” sambar Ahreum seraya menggerakan kedua jari telunjuk dan tengahnya keatas kebawah untuk mendukung pernyataan makhluk-makhluk yang tak kasat mata tersebut.


“ahh itu.. bisa, hanya saat aku berkonsentrasi, tapi sejauh ini aku belum pernah melihat wanita itu sejak kepergian nona Ilona.” Sahut Laras.


“ahh iya, btw.. karena lagi ngebahas Ilona, aku pengen tahu dong karakter Ilona seperti apa sih?


Kalian bertiga pernah bertemu dengannya kan?” tanya Ahreum yang kemudian menyeruput coklat yang sudah dingin, sebab dari tadi ia asyik menyimak cerita Arini sampai lupa pada coklat panasnya.


“ahh itu.. saat pertama kali aku bertemu dengannya, dia terlihat seperti gadis yang ramah, ceria dan selalu menebar senyum pada siapapun yang ditemuinya. Tak terkecuali pada pelayan rendahan seperti kita, kepribadiannya sungguh menyenangkan menurutku.” Papar Bona.


“Iya, nona Ilona bahkan pernah meminta diajari membuat cookies untuk tuan Ansell yang sedang sibuk dengan pekerjaannya saat itu.


Upppss.. Nona yakin mau terus membahas nona Ilona? Bukankah hal itu hanya akan menyakiti hati nona sendiri. Memangnya nona Ahreum tidak cemburu gitu?” tambah Arini.


“Iya juga sih, gimana kalau menurut kak Laras?


Bukankah kak Laras lebih dekat dengan nona Ilona dulu.” Kata Bona kembali seraya melirik ke arah Laras yang tengah memasang raut wajah berfikir keras.


“aku juga merasa nona Ilona sangat menyenangkan, tapi..” Laras menghentikan kalimatnya sejenak seolah tengah mengingat-ingat sesuatu dalam benaknya.


“tapi kenapa?” tanya Ahreum yang semakin penasaran.


“saat dia datang terakhir kali, nona Ilona sangat berbeda. Pandangannya pun tidak menyejukan seperti sebelumnya, penampilannya sangat sexy bahkan dia pun merias wajahnya saat itu, padahal setahuku dia alergi dengan make up.


Aku berfikir mungkinkah seseorang bisa berubah sangat banyak?


Cara bicaranya pun sangat kasar dan terdengar merendahkan. Apa yang sebenarnya terjadi padanya fikirku.” Papar Laras yang membuat senyuman penuh arti pun mengembang dalam wajah mungil Ahreum.

__ADS_1


“mungkinkah..” sambung Bona dengan setengah berbisik dan mencondongkan wajahnya ke depan.


“mungkin apa?” sahut Arini yang juga ikut mencondongkan tubuhnya, disusul dengan yang lainnya.


“dia kerasukan wanita noni belanda itu..”


Cringgggg!!! Tiba-tiba saja suara pecahan piring dari tepi wastafel membuat mereka berempat refleks bangkit dari kursi lengkap dengan teriakan histeris serta saling berpelukan satu sama lain.


“AAAaaaaaa!!!!” teriak mereka berempat serempak membuat suasana yang sedari tadi hening kini meriah karena teriakan mereka yang saling bersahutan.


“ap.. apa.. apaan tuh!!


Yak!! bukannya sudah ku bilang jaangan taruh piring ditepi wastafel seperti itu, Bona!” pekik Arini seraya menatap pecahan piring yang berserakan dilantai dengan tubuh yang gemetaran tentunya.


“a.. aku .. aku sudah menaruhnya dirak piring kak Arini!!” balas Bona yang semakin mengeratkan pelukannya lantaran bulu kuduknya yang kini mulai menari-nari.


“lalu kenapa bisa ada piring disitu?! Jangan-jangan..” Imbuh Laras ditengah fikirannya yang mulai melayang ke  arah yang berbau mistis ditambah suhu ruangan saat itu pun berubah menjadi sangat dingin, serta aroma melati yang mendadak menusuk indra penciuman ke empatnya.


Tak ayal ke tiganya pun semakin merasa ketakutan setengah mati seraya mengeratkan pelukannya hingga Ahreum yang berada ditengah-tengah mereka merasa sesak, ia pun lantas mencoba menarik tubuhnya ke belakang dari kegiatan saling berpelukan itu.


“tolong.. aku sesak sekali, biarkan aku keluar.” rengek Ahreum ditengah usahanya yang mencoba manarik dirinya ke belakang.


Sampai akhirnya ia pun berhasil keluar dari pelukan erat ketiga pelayan tersebut yang masih memandangi serpihan piring yang berserakan dihadapannya.


“Ahreum!!” panggil Franky seraya menyentuh bahu Ahreum, yang tentu saja membuat Ahreum terkejut hingga ia pun refleks memutar tubuhnya dan langsung meninju wajah Franky dengan sekuat tenaga. Begitu pun ketiga pelayan yang ikut memutar tubuhnya serempak serta terkejut dengan kehadiran Franky yang tiba-tiba muncul ditengah situasi mencekam tersebut.


Brrukkkkk!!! “AAaaaaaaaa!!” teriak ketiga pelayan bersamaan dengan hantaman tinju Ahreum yang mendarat tepat di hidung Franky, alhasil kini Franky pun terkapar tak berdaya dilantai dengan rembesan darah yang mulai mengalir keluar dari 2 lubang hidungnya.


“astaga mas Franky..” seru Laras yang menyadari lebih dulu jika seseorang yang memanggil Ahreum adalah manusia bukanlah makhluk jejadian.


Ketiga pelayan tersebut pun lantas berhamburan mendakati Franky yang masih tak sadarkan diri dilantai. Sementara Ahreum masih mencoba menstabilkan detak jantungnya dengan menarik nafas dalam-dalam, tak terlalu perduli dengan kondisi tragis karibnya tersebut.


***

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2