
Saat sang ayah dan putrinya hendak membalikan tubuhnya bersamaan sembari masih saling merangkul, tiba-tiba saja sebuah mobil muncul dari kejauhan lalu masuk ke area pekarangan kediaman keluarga Baghaskara, tepat saat mobil Elios telah pergi beberapa detik yang lalu.
Hal itu membuat keduanya kembali berbalik dan mencoba menunggu kehadiran seseorang yang sepertinya akan bertamu dikediamannya. Melihat plat mobil yang tidak asing, Ahreum pun mengernyitkan keningnya, ia tidak menduga akan kedatangan calon suaminya malam-malam begini.
Begitu mesin mobil dimatikan, Abi pun turun terlebih dahulu kemudian disusul dengan Ansell yang turun dari kursi samping pengemudi.
“selamat malam pak Seno.” Sapa Abi lengkap dengan senyuman ramah juga bungkukan tubuhnya.
Meski tidak menyapa calon mertuanya, setidaknya Ansell sudah mencoba membungkukan tubuhnya didepan Seno dengan kedua sudut bibir yang sedikit terangkat.
“iya malam juga nak Abi, ada perlu apa malam-malam begini?” tanya Seno yang mengabaikan Ansell dan lebih memilih mengarahkan tubuhnya ke posisi asisten Ansell berada.
Sekilas Ahreum melihat ada yang terbaring dikursi belakang, melihat pakaian yang dikenakannya membuat dirinya teringat akan karibnya yang memilih untuk pergi ke club sendirian, karena dirinya tidak bisa ikut bersamanya.
Merasa penasaran Ahreum pun akhirnya perlahan mendekati mobil Ansell dengan pandangan menyelidik dan mengabaikan Ansell yang tengah berdiri menatapnya. Ketiganya pun kompak memperhatikan langkah Ahreum yang menjauh dari tempatnya berdiri semula.
“ahh itu.. bisa saya jelaskan nona..” ucap Abi kala ia menyadari apa yang kini menjadi focus Ahreum, ia pun langsung bergegas menyusul langkah Ahreum lengkap dengan raut wajah paniknya seolah ia memang tengah menyimpan sebuah rahasia.
“dia kekasih Abighail..” celetuk Ansell ketika lengan Ahreum berhasil membuka pintu mobil sebelum Abi datang untuk menghalanginya.
Tak hanya Ahreum yang terkejut namun Abi pun langsung menoleh ke arahnya dengan tatapan membelalak seolah ia tengah dikorbankan untuk hal yang tidak pernah ia lakukan.
“ada apa memangnya?” timbrung Seno seraya ikut berjalan mendekat ke tempat putrinya berada, karena penasaran dengan apa yang tengah dilihat putrinya.
“apa kau sedang mengarang cerita Ansell?” pekik Ahreum lengkap dengan tatapan tajamnya.
“Rihanna, kenapa hanna bisa ada dimobilmu?” tambah Seno, begitu ia memastikan siapa yang tengah dipandangi putrinya tersebut, kemudian beralih memandangi Ansell yang tampak terdiam seketika kala ia menyadari jika Ahreum juga calon mertuanya mengenali gadis yang tengah terbaring dimobilnya.
__ADS_1
Padahal ia berniat untuk membohongi Ahreum dengan memberitahunya jika gadis tersebut adalah kekasih dari Abighail, agar baik Ahreum maupun Seno tidak salah paham dengannya.
“no.. nona Ahreum kenal dengan gadis ini?” ucap Abi yang mewakili rasa penasaran Ansell dengan nada yang sedikit ragu-ragu.
“tentu, dia temanku, hari ini dia baru pulang ke Indonesia setelah lama menetap di Inggris. Dan bisa kalian jelaskan bagaimana temanku ada dimobil kalian, lalu kenapa wajahnya penuh luka lebam seperti itu?!” tanya Ahreum dengan penekanan disetiap kalimatnya, seolah fikiran negativenya tengah menguasai dirinya saat ini, hingga ia pun terus menatap tajam Ansell dan Abi secara bergantian untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaanya tersebut.
“amm.. begini, panjang sekali ceritanya..” akhirnya Abi kembali yang buka suara untuk menjelaskan situasi yang terjadi sebelumnya, namun sebelum sampai ke inti cerita, Seno memotongnya dan meminta untuk membawa Hanna masuk terlebih dahulu agar gadis malang itu bisa terbaring dikasur yang nyaman.
Kemudian setelah itu barulah Abi kembali memulai ceritanya dari awal, namun kali ini hanya ada mereka bertiga saja Ansell, Abi juga Ahreum diruang tamu, karena Seno lebih memilih untuk menemani istrinya yang tengah mengobati luka lebam diwajah teman baik putrinya tersebut yang masih belum sadarkan diri juga.
***
Singkat cerita, Abi pun menjelaskan secara rinci kejadian yang sebelumnya mereka berdua alami, sampai akhirnya mereka menemukan Rihanna terbaring dikamar hotel bersama dengan pria yang diduga kuat adalah orang yang telah melukai Rihanna juga yang telah membiusnya.
“jadi begitu ceritanya nona Ahreum, maaf sebelumnya karena saya sudah lancang menyadap ponsel nona Ahreum.” Pungkas Abi seraya menundukan kepalanya sedikit pada Ahreum, untuk menunjukan rasa hormatnya pada calon istri dari atasannya tersebut.
“jadi ku putuskan untuk berterimakasih saja padamu, terimakasih karena sudah menyelamatkan temanku.” Imbuh Ahreum dengan diakhiri senyuman tipisnya.
“sudah kan?
Sekarang giliranku, kenapa kau ada diluar saat aku datang tadi?! Apa kau baru saja sampai dirumah?” ketus Ansell lengkap dengan tatapan intimidasinya seolah ia ingin membuat Ahreum tertekan lalu menjawab dengan yang sejujur-jujurnya.
“iya.” Respon Ahreum santai yang tidak terpengaruh sama sekali dengan tatapan tajam Ansell.
“ciih!” Ansell malah tersenyum menyeringai menanggapi jawaban santai Ahreum.
“kau yakin langsung pulang, tidak bertemu dengan seseorang dibelakangku bukan?!” pekik Ansell seraya meninggikan nada suaranya.
__ADS_1
“aku..”
Belum sempat Ahreum menuntaskan kalimatnya, ketiganya teralihkan oleh suara langkah kaki dari seseorang yang hendak bergabung ditengah-tengah mereka.
“bukankah seharunya kau meminta maaf terlebih dahulu Ansell, setelah menghilang begitu saja selama 2 minggu, lalu kau datang seolah tidak ada yang terjadi!
Apa kau menganggap pernikahan itu hanyalah main-main?!” tukas Seno yang tiba-tiba saja bergabung dan membuat suasana berubah menjadi menegangkan.
“ayah..” ucap Ahreum seraya memegang lengan ayahnya yang tengah berdiri disamping sofa yang ia duduki.
“jika kau memang pria sejati, seharunya kau bisa menepati janji yang telah kau buat bukan, Ansell?! Bukan malah kabur seperti layaknya pengecut!!” kecam Seno yang sudah tak bisa lagi menahan emosinya pada pria yang akan menjadi calon menantunya tersebut.
“pernikahan ini bukanlah keinginan kami berdua, bukan hal yang mudah juga bagi saya untuk menjalaninya karena begitu banyak pertentangan yang saya alami, saya rasa menghilang untuk beberapa saat itu tidak ada salahnya, hanya untuk menata hati dan fikiran saya.” Sahut Ansell seraya menajamkan pandangannya pada ayah Ahreum yang masih berdiri kokoh disamping sofa yang diduduki putrinya.
“Ansell..” ucap Abi pelan seraya menggenggam lengan Ansell, untuk memberikan isyarat agar dirinya berhenti membantah Seno yang tengah dikuasai amarahnya. Namun sepertinya Ansell tidak menghiraukannya, terbukti dari sikapnya kini yang malah bangkit dari sofa tempatnya duduk.
“main-main?!” lanjut Ansell yang kemudian terkekeh, sebelum kembali melanjutkan kalimatnya.
“jika saya hanya menganggap pernikahan ini lelucon, mungkin sejak awal saya sudah menyetujuinya tanpa harus berfikir panjang, dan menceraikannya kapanpun saya inginkan, karena memang perjanjian itu dibuat hanya untuk sebuah pernikahan, dan tidak untuk hidup bersama selamanya bukan?!” pungkas Ansell yang mengkhiri kalimatnya dimalam tersebut, ia pun pergi berlalu begitu saja, meninggalkan Seno yang benar-benar berada dipuncak amarahnya.
“Ansell.. Ansell!!” panggil Abi seraya berlari menyusul langkah cepat Ansell menuju pintu utama.
“KURANG AJAR SEKALI KAU, ANSELL!!” bentak Seno yang hendak mengejar Ansell, namun tidak ia lakukan sebab Ahreum lebih dulu memeluknya erat seolah ingin meredakan amarah Seno yang tengah membara.
“tidak ayah, jangan, semua ini memang bukanlah salah Ansell, ku mohon.” Gumam putrinya seraya mengeratkan pelukannya ia terus memohon pada ayahnya untuk mengendalikan emosinya kala itu.
***
__ADS_1