Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO

Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO
Episode 70


__ADS_3

Kembali ke kantor polisi.


Begitu turun dari halte bis yang membawanya ke tempat dimana ketiga temannya ditahan, Ahreum pun langsung berlarian menuju kantor polisi lengkap dengan raut wajah khawatirnya.


“pak pol!! Dimana ketiga temanku?” seru Ahreum kala dirinya telah sampai didepan salah satu meja seorang pria yang mengenakan seragam coklatnya.


“maaf, bisa tenang dulu nona, tolong jelaskan maksud dari tujuan nona.” Sahut pria tersebut seraya bangkit dari tempat duduknya dan mencoba untuk menenangkan gadis mungil yang tampak panik dihadapannya itu.


“ketiga temanku.. yang berkelahi.. disebuah café, Jeno, Rihanna dan Nayeon.” Jelas Ahreum dengan nada yang tersenggal-senggal, karena ia masih berusaha mengatur pernafasannya agar kembali normal.


“sebentar saya coba cek terlebih dahulu ya.” Respon polisi tersebut seraya kembali duduk dikursinya kemudian dilanjut dengan mengetikan jarinya ke atas keyboar.


“iya.. iya.. tolong cepat pak pol.” Seru Ahreum yang masih tidak bisa santai.


5 menit kemudian, setelah polisi itu berhasil menemukan ketiga nama yang dimaksud Ahreum, ia kembali berdiri untuk menyampaikannya pada gadis yang tengah menunggu dihadapannya.


“mereka bertiga berada disel tahanan sementara, nona, sampai ada seseorang yang menjamin..”


“aku.. aku yang akan menjamin mereka bertiga pak pol, jadi tolong cepat keluarkan ketiga temanku itu ya.” Potong Ahreum, yang tak membiarkan polisi tersebut menyelesaikan kalimatnya.


“boleh lihat KTP nona?” pinta polisi tersebut.


“pak pol tidak percaya padaku? Aku sudah lebih dari 17 tahun pak, dompetku tertinggal dimobil, jadi aku tak bisa menunjukan KTP ku sekarang.” Sahut Ahreum.



“kalau begitu nona bisa ambil dulu KTP nona dimobil.” Timpal polisi itu lagi.


“aduuhh pak, mobilnya jauh, sangat jauh sekali.” Balas Ahreum.


Mendengar penjelasan itu membuat sang polisi mengerutkan dahinya karena tidak mengerti apa yang dimaksud oleh gadis mungil itu.


“jadi begini pak pol, mobilku itu terparkir dihotel, nah aku kesini itu naik umum tadi, naik bis, jadi tidak mungkinkan kalau aku kembali lagi pulang hanya untuk mengambil KTP.” Tambah Ahreum dengan penjelasan yang lebih mendetail.


“maaf nona, tapi itu sudah ketentuannya, jika tidak ada KTP saya tidak bisa memprosesnya.” Pungkas polisi tersebut seraya kembali duduk dikursinya dan mengabaikan Ahreum.


“astagaa, kalau begitu aku ingin bertemu dengan kak Ben ada?” seru Ahreum kembali yang tak ingin menyerah begitu saja.


Polisi tersebut pun mengerutkan dahinya karena belum mengerti siapa yang dimaksud oleh gadis mungil itu.


“apa?!” sahut seseorang dari arah belakang seraya berjalan menghampiri keberadaan Ahreum.

__ADS_1



Melihat kedatangan seseorang yang pangkatnya lebih tinggi darinya, pria yang tadi berbincang dengan Ahreum pun kembali bangkit dari kursinya untuk memberikan hormat pada Bennedict dengan membungkukan tubuhnya sedikit.


“kak Benn!!” seru Ahreum seraya memutar tubuhnya kearah asal suara tersebut.


Ben pun menanggapinya dengan anggukan kepala serta lambaian tangan pada bawahannya itu, sebelum kembali mengarahkan focusnya pada gadis mungil yang tengah berdiri menatapnya.


“tolong lepaskan ketiga temanku kak Benn, kata pak pol ini ketiga temanku ditahan disini.” Lanjut Ahreum kala Ben telah sampai dihadapannya.


“lepaskan ketiga pembuat onar itu, saya yang akan menjaminnya.” Ucap Ben pada polisi yang sebelumnya berbincang dengan Ahreum.


“baik pak.” Sahut polisi tersebut lengkap dengan nada tegasnya layaknya seorang polisi pada umumnya.


“makasih kak Benn..” ucap Ahreum lengkap dengan senyuman merekah yang menghiasi wajah imutnya.



“aku ingin bicara denganmu.” Ucap Bennedict dengan raut wajah seriusnya, kemudian berjalan lebih dulu untuk menentukan dimana mereka akan berbincang.


“bicara apa?” tanya Ahreum seraya mengikuti langkah Bennedict.


***


Tampak Ansell tengah berdiri didapur seraya meneguk air mineral dalam genggamannya, sebelum akhirnya terdengar suara pintu hotel terbuka, yang membuat dirinya langsung mengarahkan pandangannya pada tempat dimana seseorang itu akan muncul.


“pak Ansell.” Sapa Abi seraya menundukan kepalanya untuk memberikan hormat pada atasannya, kemudian melanjutkan langkahnya menghampiri Ansell.


“iya.” Respon Ansell seraya meletakan gelas kosong diatas meja.


“ini bekal makan siang buatan nona Ahreum yang bapak minta, untung saja ketika terjatuh penutupnya tidak sampai terlepas, jadi saya rasa masih layak dimakan, hanya saja mungkin isinya tidak serapih sebelumnya.” Ucapnya seraya memberikan totebag yang berisikan makan siang buatan Ahreum.


“oke.” Sahut Ansell seraya mengambil totebag dari tangan Abi, kemudian diletakannya diatas meja.


“ dan saya juga sudah mengatur jadwal temu pak Ansell dengan dokter Oliver di akhir pekan ini.” papar Abi seraya menautkan kedua tangannya didepan tubuhnya.


“oke.” Sahut Ansell lagi, kemudian ia pun pergi berjalan melewati Abi seraya menarik ikatan tali jubbah mandinya.


“bukankah tadi pak Ansell membawa nona Ahreum kemari?” tanya Abi seraya mengedarkan pandangannya ke segala arah, lalu mulai menarik langkah menyusul atasannya.


Alih-alih langsung menjawab pertanyaan asistennya, Ansell memilih masuk ke dalam kamarnya untuk mengenakan pakaian yang sudah disiapkan oleh pegawai hotel sebelumnya.

__ADS_1


Sampai selang beberapa menit kemudian, Ansell kembali muncul seraya mengancingkan kemeja dibagian lengannya, lalu menghampiri Abi yang tengah duduk disofa sembari mengamati layar tabletnya dengan raut wajah serius.


“dia kabur.” Ucap Ansell seraya mengambil sebuah remote tv yang berada diatas meja lalu memencet tombol on untuk menyalakan tv besar yang berada dihadapannya, kemudian mendudukan bokongnya di sofa yang berbeda dengan yang diduduki Abi.


Mendengar kata kabur membuat Abi menghentikan sejenak aktivitasnya, lalu menatap Ansell dengan raut wajah yang dipenuhi tanda tanya.


“bagaimana bisa?” sahut Abi seraya melirik kearah pintu masuk.


“tidak.. tidak.. bukan keluar dari sana.” Timpal Ansell seraya menggelangkan kepalanya dan tertawa renyah sebelum kembali menjelaskan pada asistennya yang tampak kebingungan itu.


“dia keluar lewat pintu balkon.” Imbuh Ansell yang membuat Abi semakin tampak kebingungan.


“apa? bagaimana bisa?” kaget Abi lengkap dengan ekspresi wajah yang sama sekali tidak percaya pada apa yang dikatakan atasannya itu.


Ansell terkekeh, “aku juga tak mengerti, bagaimana dia bisa sampai dibawah, mungkin dia bergelantungan kesana kemari seperti layaknya seekor kera, hahaa!!” celetuk Ansell bersamaan dengan tawanya yang semakin membahana.



***


Kantor polisi.


Bennedict dan Ahreum tengah terduduk disebuah bangku panjang yang berada dikoridor.


“itu ulahmu kan?” tanya Benn yang langsung pada intinya.


“ulahku? Yang mana?” respon Ahreum seraya menoleh kearah Benn yang duduk disampingnya.


“Ahreum.” Ucap Bennedict dengan nada suara yang meninggi.


“hmm.. ya, ya, aku yang melakukannya, jika tidak begitu, mereka akan terus berkelahi sampai babak belur.” Ahreum beralasan.


“tapi bukan begitu caramu untuk menyelesaikan masalah Thania!! Memangnya hanya itu 1 1 nya cara yang kau miliki?!” pekik Bennedict.


“aku sudah berusaha untuk memisahkan mereka, tapi mereka tidak mau mendengar, bahkan Jeno aja sampai babak belur karena mencoba menengahi mereka.” Bela Ahreum yang tak mau mengalah begitu saja.


“Thania! kakak menyayangimu, saaangat menyayangimu, kau sudah ku anggap sebagai adikku sendiri. Kakak hanya tidak ingin kau kembali bertemu dengan dokter Oliver, jadi tolong fikirkan kembali tindakan yang akan kau lakukan. Mengerti!” tegas Benn seraya mengusap lembut bagian atas kepala Ahreum kemudian pergi meninggalkannya.



Bersambung…

__ADS_1


***


__ADS_2