Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO

Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO
Episode 218


__ADS_3

Dilain tempat, -Kantor polisi xxx Jakarta.



Tampak Bennedict tengah tertidur dikursinya dengan posisi menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursinya yang empuk ditambah handuk kecil yang kini menutupi seluruh wajahnya.


“pak Ben, ponselmu sedari tadi berdering, kau tak akan mengangkatnya.” Kata Bianca yang tengah fokus mengetik sebuah kronologi kasus dikomputernya.


“hmmm..” Benn hanya menanggapinya dengan dehaman malas tanpa berniat mengangkatnya karena terlalu lelah sudah 2 hari ini dia terjaga.


Merasa terusik dengan dering ponsel atasannya, Sanchez yang duduk dikursi seberangnya pun lantas bangkit dan mencoba mengintip nama yang tertera dilayar ponsel milik atasannya.


“pak, sepertinya kau harus mengangkatnya.


Panggilan itu bahkan lebih penting dari atasan kita.” Ucap Sanchez yang membuat Bennedict langsung membuka kedua matanya seketika karena mengerti siapa yang dimaksud oleh bawahannya.


Bennedict menyingkirkan handuk kecil dari wajah tampannya kemudian melemparnya ke atas meja, dilanjut dengan meraih ponsel dan pergi meninggalkan ruangan begitu melirik sekilas nama yang tertera dilayar ponselnya.


Sanchez hanya bisa menggeleng kepalanya selagi memandangi punggung atasannya yang kian menjauh dari pandangannya.


“siapa?” tanya Bianca penasaran meski sedang fokus mengerjakan tugasnya.


“Ibu Winter.” Sahut Sanchez seraya kembali duduk dikursinya dan melanjutkan tugasnya yang sempat tertunda.


“Ibu Winter? Siapa itu?” tanya Bianca semakin penasaran hingga ia pun kini bangkit dari kursinya agar bisa menatap wajah Sanchez seniornya.


“ahh.. iya kau tak tahu ya. Pak Ben sudah menikah, dan kurasa istrinya sudah kembali dari luar negeri.” Sambar Reno yang ikut berbaur dalam percakapan kedua temannya sembari mengunyah roti coklat besar yang berada dalam genggamannya.


Sudah jelas sekali raut wajahnya kini menyiratkan kekecewaannya yang mendalam. Membuat kedua seniornya saling melempar tatapan bingung sebab Bianca tiba-tiba berhenti bicara.


“kau kenapa?” tanya Sanchez khawatir.


“Jangan bilang kau diam-diam menyukai pak Ben?” tebak Reno yang kemudian meraih air minumnya untuk mengaliri kerongkongannya sejenak.


“tidak.. tidak kok hhee. Aku ke kamar mandi sebentar ya.” Katanya yang langsung pergi dari ruangan.


“ku yakin 100% jika Bianca memang menyukai pak Ben.” Celetuk Reno seraya kembali menggigit potongan besar roti coklatnya dengan pandangan yang mengarah pada punggung gadis yang baru saja meninggalkan ruangan.


***


Ditaman kecil yang masih berada diarea kantor polisi xxx.


Terlihat Bennedict tengah terduduk dibangku sembari menempelkan ponselnya ke telinga.


“sayang..” panggil seseorang didalam telfon.


“Iya.” Sahut Benn yang mencoba mengontrol rasa bahagianya yang luar biasa.


“Aku sudah kembali.” Tuturnya.


“Iya, aku tahu. Aku melihatmu tadi pagi di Bandara, hanya saja.. aku masih belum berani menghampirimu dan juga keluargamu. Maafkan aku, Winter.” Respon Bennedict dengan nada yang dipenuhi rasa sesal.


“tidak apa-apa, aku mengerti.


Besok malam akan ada pesta dikediamanku. Aku harap kau bisa datang bersama dengan Ahreum, aku juga sangat merindukannya. Ahh iya, dia baik-baik saja kan? Sudah lama aku tidak mendengar kabarnya.” Ucap Winter.


“Iya dia baik-baik saja.


Kurasa keluargamu akan langsung mengusirku.” Sahut Benn lirih.


“Kau tidak merindukanku Ben?” timpal Winter dengan menaikan nada suaranya.


“Kenapa kau berfikir begitu?


Tentu saja aku sangat merindukanmu, bahkan tiada hari bagiku untuk tidak mengingatmu sedetik pun.” Gombalnya yang langsung saja disambut tawa kecil oleh Winter yang mendengarnya.


“hhahaa, benar, begini lebih baik Ben, aku lebih suka saat kau merayuku seperti ini daripada bersikap mellow dan dipenuhi rasa penyesalan terhadapku.

__ADS_1


Kau tahu kan, aku sudah baik-baik aja sayang. Jika kau menyuruhku berlari padamu sekarang, aku bisa kok melakukannya. Jadi berhenti menyalahkan dirimu sendiri, mari kita teruskan kisah cinta kita yang sempat vakum selama beberapa tahun ini. oke!” seru Winter penuh semangat.


“hahhaaha!!


Oke, kita sudah pernah melewati rintangan sulit dimasa lalu, tidak masalah jika kita harus melaluinya kembali. Aku sangat mencintaimu, Winter.” Balas Bennedict disertai semangatnya yang membara untuk kembali merebut hati kedua mertuanya.


“Aku juga Ben. Love you too!” respon Winter.


***


Kembali ke kediaman keluarga Dirgantara.


Fikirannya benar-benar kacau saat ini, hatinya ingin sekali mempercayai Ahreum namun dirinya yang lain dengan keras menentangnya dan terus mendoktrin otaknya jika istrinya telah berselingkuh dengan pamannya sendiri sejak lama.


Pergulatan didalam hatinya terus terjadi sampai…


Ceklek.. Ansell memutuskan menarik handle pintu penghubung balkon dan kamarnya, ia bersikap seolah tidak ada yang terjadi dan terus berjalan menghampiri keduanya.


Seiringn dengan langkah Ansell yang kian mendekat, Elios pun beranjak dari tepi ranjang lalu berdiam diri disamping meja sembari memperhatikan tatapan tajam Ansell yang mengarah padanya.



“kenapa kau masih disini?


Tidak akan pergi?!” ketus Ansell seraya menghentikan langkahnya di depan ranjang Ahreum dengan pandangan intimidasi yang terus ia berikan pada pamannya.



“oke.. oke.. Aku pergi. Kau ini tidak sabaran sekali.


Atau kau cemburu ya, kalau paman dekat-dekat dengan Ahreum. hahaa!” celoteh Elios diiringi dengan tawa renyahnya, ia pun menarik langkah kembali menuju tepi ranjang untuk mengambil tas kerjanya.


“ya!” jawab Ansell mantap, yang langsung disambut gelak tawa kembali oleh pamannya.


“hhhaahaa! Santai saja. Selama kau tidak menyakitinya. Paman tak akan merebutnya.” Balas Elios yang langsung merubah raut wajahnya menjadi sangat serius seolah kalimat tersebut adalah sebuah peringatan baginya.


“baik. Kau jaga saja istrimu dengan baik.” Respon Elios seraya melirik sesaat ke belakang sebelum kembali melanjutkan perjalanannya.



…..


“kurasa buburnya sudah tidak hangat, mau ku panaskan kembali?


Atau meminta buatkan yang baru?” ujar Ansell seraya berjalan menuju meja dan mengambil mangkuk yang berisikan bubur milik Ahreum, lalu membawanya ke tepi ranjang.


“gak perlu, makan yang ada aja.” sahut Ahreum seraya menarik lengan Ansell yang kini tengah berdiri dipinggiran ranjang untuk duduk disampingnya.


“aaaaa…” Ahreum membuka mulutnya tanda ia ingin disuapi oleh suaminya, Ansell pun terkekeh kemudian mengaduk buburnya terlebih dahulu sebelum menyuapi istri mungilnya itu.


“ammmm enak.. Apalagi jika sambil lihat wajahmu.” Goda Ahreum sembari cengengesan.


Dreeddd.. dreeddd.. ponsel Ahreum yang berada dibalik selimut tebalnya bergetar, tak butuh waktu lama tangannya langsung masuk ke dalam selimut dan meraih ponselnya yang berada tak jauh dari jangkauannya.


Ahreum mengernyitkan keningnya begitu ia membaca notifikasi yang melayang dibagian atas layar ponselnya.


“siapa?” tanya Ansell dengan tatapan menyelidik.


“sebuah undangan.” Sahut Ahreum yang kembali membuka mulutnya lebar-lebar agar Ansell segera kembali menyuapinya.


“undangan?” ulang Ansell usai memasukan 1 sendok penuh ke mulut mungil Ahreum.


“kurasa kau juga akan mendapatkannya. Keluarga S.L Group akan mengadakan sebuah pesta besar dikediamannya. Sebagai ucapan rasa syukur karena putri sulung mereka telah sembuh total.” Lanjut Ahreum yang kemudian kembali membuka mulutnya, dengan pandangan yang masih terfokus pada layar ponselnya.


“S.L Group?


Maksudmu Winter? Kakak perempuan temanmu Jeno?” kata Ansell seraya menyuapi kembali istrinya.

__ADS_1


“Iya.


Apa kau bisa dansa?” tanya Ahreum seraya menurunkan ponselnya kemudian beralih memandangi suaminya yang kini mengerutkan dahinya lantaran tak menduga jika akan mendapatkan pertanyaan seperti itu.


“tiba-tiba?” respon Ansell dengan raut bingungnya.


“Aku ingin berdansa denganmu dipesta nanti.” Celotehnya dengan senyum lebar yang membuat hati Ansell mendadak dag dig dug.


“a.. aku..


Yak! Kurasa baru beberapa menit yang lalu kau terlihat lemah dan tidak berdaya, kenapa sekarang mendadak bisa secerah ini?


Apa kau sedang pura-pura sakit?” tuding Ansell.


“kau tak lihat, keningku dikompres, tanganku diinfus, apa aku terlihat sedang berekting?


Bahkan suhu tubuhku pun tadi mencapai 39⁰C. Kau jahat sekali mengira aku sedang berpura-pura, hikkssss!!.. hiksss!!!!” rengek Ahreum lengkap dengan tangisan dramatisnya yang tentu saja membuat Ansell panik.


Ansell pun menaruh mangkuk buburnya diatas nakas kemudian mencoba menenangkan istrinya yang tengah merengek seperti bocah.


“yak.. yak.. yak.. kau ini cengeng sekali. Dikit-dikit nangis, iya, iya aku yang salah, maafkan aku.” Panik Ansell seraya memegangi kedua bahu Ahreum.


“ehheeehee..”


“aiisshhh!! Kau pandai sekali menggoda orang Ahreum. Kemari kau!” geram Ansell seraya menggelitik tubuh istrinya karena saking gemasnya.


“ahhahhhaaa.. geli Ansell hentikan, oke.. oke aku menyerah maafkan aku.” Mohon Ahreum seraya berusaha menepis kedua tangan Ansell yang terus saja menggerayangi area pinggulnya.


Bersamaan dengan berhentinya lengan Ansell yang menggelitiknya, Ahreum pun langsung menarik tubuh suaminya dan memeluknya erat.


“kenapa?” tanya Ansell.


“tidak ada, hanya ingin memelukmu saja.” Ucap Ahreum.


Ansell menarik tubuhnya dari pelukan Ahreum.


Kemudian berdiri ditepi ranjang sembari mengisyaratkan sesuatu dengan sorot matanya pada Ahreum yang tampak masih kebingungan dan tak mengerti apa yang kini Ansell inginkan.


“minggir, aku juga ingin tidur!” jelas Ansell yang langsung ditimpali tawa kecil oleh Ahreum.


Ahreum pun menggeser tubuhnya ke samping agar suaminya itu bisa tertidur disampingnya.



Begitu Ansell membaringkan tubuhnya, Ahreum kembali namplok diatas dada bidang suaminya.


“Ansell..”


“hmm..”


“Apa aku terlihat sangat cantik saat memakai gaun merah itu?” tanya Ahreum seraya membuat lingkaran-lingkaran kecil menggunakan jari telunjuknya diatas dada bidang Ansell.


“sudah, tidur.. Apa kau tidak lelah, suhu tubuhmu pun masih belum menurun.” Sahut Ansell seraya membelai bagian belakang kepala Ahreum.


“eyyy.. Apa yang harus ku kenakan ya untuk pesta besok malam.” Oceh Ahreum lagi.


“hanya pakaian yang sederhana saja, gak perlu yang aneh-aneh.” Timpal Ansell yang mencoba memejamkan kedua matanya.


“eyyy.. padahal aku lebih suka tidak pakai apa-apa.” celetuknya ngasal yang membuat Ansell terhentak dan kembali membuka matanya lebar-lebar.


“YAK!!”


“Ahhhahaahhaaa!!!!”


***


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2