
Abi bergegas berjalan mengitari meja Ansell kemudian meraih tablet miliknya yang sebelumnya diletakan diatas meja, sementara Abi terfokus pada tablet ditangannya, Ansell tampak sedikit gelisah sebab takut jika tebakannya benar adanya.
Begitu berhasil mengakses CCTV ditabletnya, ia pun mengarahkan pandangan seriusnya pada Ansell.
“nona Ahreum.” Gumam Abi yang sama terkejutnya dengan Ansell saat ini.
***
Sebelumnya,
Terlihat Ahreum tengah berjalan diloby KT. Group dengan membawa lunch bag seraya menebar senyuman pada siapapun yang dijumpainya, tak perduli apapun posisinya petugas kebersihan, petugas keamanan dan karyawan yang bekerja disana, tak luput dari pandangan dan senyum manis gadis mungil itu.
Berbeda dengan kunjungan pertamanya kemarin, kali ini tak ada siapapun yang mencoba menghentikannya, petugas keamanan pun dengan senang hati memberikan nomor lantai ruangan Ansell serta menelfon sekretaris Ansell untuk memberitahukan jika istri dari atasannya tersebut sedang dalam perjalanan menuju ruangan Ansell dirgantara.
“kenapa ga masuk?” tanya Ahreum setelah menekan tombol lift yang akan membawanya ke ruangan suaminya, kemudian melihat beberapa karyawan yang hanya berdiri didepan seolah canggung untuk berada 1 lift bersama dengan istri dari atasannya.
“ahh, tidak bu, kami akan naik lift yang berikutnya aja.” Sahut salah satu karyawan yang tengah berkumpul itu seraya menautkan kedua tangan didepannya dan mencoba tersenyum seramah mungkin.
“ohh begitu ya, oke.” Respon Ahreum lengkap dengan senyuman ramah yang masih menghiasi wajah mungilnya itu.
Pintu lift pun akhirnya tertutup sepenuhnya lalu perlahan mulai bergerak naik menuju lantai yang dituju.
____
Setelah beberapa menit berada didalam lift, Ahreum pun menarik langkah keluar saat pintu lift sudah terbuka tanda jika ia sudah sampai dilantai yang ditujunya.
__ADS_1
Dengan senyuman ramahnya ia menyapa seseorang yang tengah berdiri didepan pintu ruangan Ansell seolah memang dirinya sudah menanti kedatangan Ahreum sedari tadi.
“pak Ansell ada didalam bu, silahkan.” Ucap sekretaris tersebut seraya membukakan pintu ruangan Ansell dengan dirinya lebih dulu masuk ke dalam untuk menahan pintu selagi Ahreum melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan.
“oke, terimakasih.” Balas Ahreum lengkap dengan senyum ramahnya.
Namun tepat saat sekretaris ingin kembali keluar, keduanya serempak mengarahkan pandangannya pada sebuah ruangan yang baru saja mengeluarkan suara bentakan yang cukup nyaring, hingga mampu membuat keduanya terkejut dan saling melempar tatap untuk beberapa saat.
Sampai Ahreum pun memutuskan untuk berjalan mendekati sumber suara tersebut, sementara itu sang sekretaris yang tidak tahan untuk tidak penasaran dengan perdebatan yang terjadi diruangan tersebut pun ikut berjalan perlahan mendekati sumber suara dengan kedua telinga yang siap menangkap apapun yang ia dengar saat ini.
“astaga hihihiii, sudah ku duga, mana mungkin pak Ansell bisa tertarik padamu, aku jadi kasihan padamu.” celetuk sekretaris tersebut lengkap dengan tatapan dan senyum mengejeknya.
Tak ingin meladeni omongan wanita yang berdiri dibelakangnya, Ahreum lebih memilih memutar tubuhnya kemudian menaruk lunch bag diatas meja Ansell dengan tenang, lalu berjalan melewati sang sekretaris seolah ia tak perduli pada ejekan sekretaris itu padanya.
“eeyy!! Jangan sok tegar begitu hehehee, palingan abis ini kau mau nangis dipojokan ya?! Hahaha!!” ledeknya lagi, seraya berjalan menyusul langkah Ahreum keluar dari ruangan Ansell.
“YAK! kau mengacuhkanku?! Beraninya kau sok-sok an ingin menjadi nyonya Ansell, seharusnya kau cukup tahu diri.” Bentak sekretaris itu seraya menarik rambut panjang ikal Ahreum hingga membuat langkah Ahreum terhenti.
“tapi setidaknya aku pernah tidur dengannya, kakak pernah tidak?! Hahaha.” Sahut Ahreum seraya tersenyum menyeringai, membuat wanita yang tengah mengenggam erat rambut ikal Ahreum itu naik pitam kemudian membanting tubuh Ahreum ke lantai dengan keras.
“hufftt.. (Ahreum menarik nafas kemudian menghembuskannya sebelum mencoba bangkit seraya menepuk tubuhnya dari debu-debu yang menempel) seharusnya kau tak memperlakukanku sampai sejauh ini kak..” Ahreum menghentikan perkataannya untuk memindai sebuah nama yang tertera di id card yang tergantung dibagian bawah dada sang sekretaris wanita tersebut.
“Elisha..” lanjut Ahreum diiringi dengan senyum menyeringainya yang membuat wanita itu membulatkan kedua bola matanya.
PLAAAKKK!! Suara tamparan mendarat dipipi mulus Ahreum hingga membuat wajahnya kontan terlempar kearah lain karena saking kerasnya pukulan yang menghantam wajah gadis mungil itu.
“ciihhh!! dasar wanita ******, sudah jelas Ansell hanya mempermainkanmu, masih berani kau berlagak didepanku, hah!” bentak Elish seraya menoyor kening Ahreum hingga Ahreum pun memundurkan langkahnya.
Merasa sudah tak tahan dengan perlakuan sang sekretaris yang kelewat batas Ahreum pun mulai memutar otak memikirkan cara bagaimana ia bisa membalas, kedua matanya sibuk berkeliling ke setiap sudut untuk mencari area yang tidak tertangkap CCTV.
__ADS_1
Sampai senyum penuh artinya pun kembali menghiasi wajah mungilnya, seolah telah berhasil menemukan sesuatu yang membuatnya bersemangat.
“AUGHHH, SIALAN!! YAK!! berhenti tersenyum seperti itu, kau fikir aku takut padamu, hah!!” bentak Elish seraya mendorong bahu Ahreum untuk kembali mengintimidasinya.
Seakan mendapat sebuah kesempatan dari dorongan tersebut, seperti biasa Ahreum memberikan reaksi yang berlebihan yaitu dengan membuat dirinya terdorong keras sehingga mundur sampai beberapa langkah ke tempat yang memang sudah ia rencanakan.
Meskipun begitu tak ada sedikitpun terbesit hal yang mencurigakan dari sikap Ahreum tersebut dalam benak Elish, karena kini ia merasa tengah diatas awan jadi yang ada difikirannya hanyalah bagaimana caranya membuat Ahreum terintimidasi olehnya.
Merasa masih kurang strategis lokasinya, Ahreum pun berniat untuk kembali memancing emosi Elish yang kini kian tak terkendali.
Ahreum tertawa dengan sudut bibirnya yang terluka akibat tamparan keras Elish beberapa saat lalu, kemudian mengarahkan pandangan tajamnya pada Elish.
“apa kau juga pernah melihat Ansell telanjang?” ucap Ahreum dengan setengah berbisik seraya mendekatkan wajahnya ke dekat wajah Elish agar bisa terdengar jelas olehnya.
“SIALAN!! DASAR WANITA ******!! BERANINYA KAU!!” teriak Elish seraya kembali menampar Ahreum hingga membuat Ahreum terlempar cukup jauh dari posisi sebelumnya berdiri.
Elish pun bergegas menghampiri Ahreum disudut ruangan.
“YAK!!” bentak Elish seraya menarik rambut Ahreum hingga membuat kepalanya pun ikut tertarik ke belakang.
“jangan berfikir karena kau sudah menikah dengan Ansell lalu membuatmu besar kepala, kau.. tak ada bedanya dengan wanita menjijikan diluar sana yang haus akan perhatian Ansell, kau tahu!”
Tepat saat Elish menyelesaikan kalimatnya, dengan gerakan cepat Ahreum menepis paksa lengan Elish dari rambutnya, kemudian mencekik Elish dan mendorongnya hingga menghantam dinding, lalu perlahan diangkatnya tubuh Elish sampai kedua kaki Elish tidak lagi menapak ke lantai.
Ahreum pun tertawa penuh arti melihat reaksi Elish yang tekejut mendapati situasi yang tak terduga tersebut.
“setidaknya aku sudah memperingatkanmu kan, kak.. Elish!” ucapnya tekekeh.
Bersambung…
__ADS_1
***