
“yak! Ahreum.” panggil seseorang yang membuat Ahreum terhentak dan langsung saja mengedarkan pandangannya ke area sekitar mencoba mencari seseorang yang memanggilnya barusan.
“aku disini.. diatasmu!” panggilnya lagi seraya menjatuhkan beberapa buah yang dihasilkan oleh pohon yang mereka singgahi saat ini.
“aduhh..” ringis Ahreum yang kemudian menengadahkan kepalanya.
“Nay!!
Sejak kapan kau ada disitu?” seru Ahreum kala melihat sosok karibnya yang tak lain Nayeon Christine tengah duduk santai tepat dicabang pohon yang berada diatasnya.
“ehehee..” cengir Nayeon.
“malah nyengir lagi nih bocah, gak tau apa temen-temennya sibuk nyariin dia dari tadi.” Ahreum hanya bisa membatin karena tak sampai hati jika harus mendumel pada Nayeon.
“aku tak sanggup jika harus terus berlari, sementara Franky sudah jauh meninggalkanku, jadi ku putuskan untuk berlindung diatas pohon aja.” sahut Nayeon.
“hmm..” Ahreum hanya menghela nafas panjang dan kembali menurunkan pandangannya untuk mengecek apakah babi itu masih menunggunya dibawah atau sudah pergi.
“kurasa babinya sudah pergi Nay, ayo kita turun.” Ajak Ahreum seraya menengadahkan kepalanya ke arah Nayeon.
“oke. Amm.. tapi aku tak tahu bagaimana caranya turun hehee. Bisa kau bantu aku.” Ujar Nayeon lengkap dengan senyum lebarnya.
“bagaimana aku bisa membantumu?” sahut Ahreum seraya mengangkat 1 alisnya.
“kau dekap aja pohon itu kemudian pijakan kakimu dibeberapa cabang terdekat.” Lanjut Ahreum yang kemudian bersiap turun dengan cara melompat.
Namun belum sempat Ahreum mengayunkan tubuhnya, ranting yang diduduki Nayeon retak hingga membuat Nayeon pun lantas terjatuh serta menghantam tubuh mungil Ahreum, dan alhasil mereka pun terjatuh bersamaan mendarat ditanah merah dengan Ahreum yang menjadi landasan karibnya.
“aughh si*al.” umpat Ahreum sepelan mungkin begitu tubuh kurusnya mengahantam keras tanah merah.
“apa?” sahut Nayeon yang mendengar samar dumelan Ahreum seraya menyingkirkan tubuhnya dari atas punggung Ahreum.
“tidak, heehe.” Dalih Ahreum seraya memutar tubuh dan mencoba bangun dari posisi tengkurapnya.
Keduanya pun lantas bangkit sembari menepuk-nepuk pakaian yang kotor terkena tanah merah.
“sory ya, kau gak kenapa-napa kan?” tanya Nayeon khawatir seraya memandangi lekat tubuh Ahreum dari ujung kepala sampai kaki yang sudah tercemar tanah merah bahakan kini wajahnya pun tampak cemong.
Berusaha mungkin Ahreum tidak mau menunjukan rasa kesalnya dengan senyum lebar palsunya pada Nayeon.
***
1 jam berlalu.
Setelah melalui hari yang cukup melelahkan 4 sekawan itu pun akhirnya kini bisa mengistirahatkan tubuhnya diatas sofa bed. Sofa yang sudah dialih fungsikan menjadi ranjang sementara oleh Franky agar ketiga teman wanitanya itu bisa membaringkan tubuhnya bersama diruang tamu.
__ADS_1
Mereka berkumpul kembali usai membersihkan tubuh mereka yang kucel dan kummel akibat insiden demi insiden yang terjadi seharian ini.
Mulai dari Ahreum dan Rihanna yang kecebur ke danau, kemudian mengejar seorang gadis misterius yang bernama Rene, dan terakhir yang membuat mereka juga mendapat luka goresan dari beberapa ranting pohon disaat mereka berlari menerobos gelapnya hutan ialah saat mereka diburu oleh babi hutan.
Ke empat sekawan itu pun membaringkan tubuhnya diatas sofa beda dengan posisi, Franky dan Nayeon menempati pinggiran sofa sementara Ahreum dan Hanna berada ditengah mereka berdua.
“Frank, hidupkan televisi!” pinta Nayeon yang lebih seperti sebuah perintah seoarang atasan pada anak buahnya.
“aiissh, hidupkan aja sendiri, kau fikir aku pelayanmu!” ketus Franky yang tengah asyik memainkan ponselnya.
“YAK!” bentak Nayeon seraya bangun dari tidurannya dan menatap Franky tajam.
“aughh, kalian berdua berisik sekali!
Ambil sendiri aja kenapa sih! Ini bukan rumahmu Nay, tak ada pelayanmu disini!” timbrung Rihanna selagi sibuk membalas chat dari kekasihnya.
“gausah ikut campur!” sentak Nayeon lengkap dengan tatapan sinisnya.
“aughh!! aughh!! Berhenti bersikap seperti seorang putri, kau harus bisa menyesuaikan diri, jika sedang tidak dirumah lakukan semuanya sendiri. Jangan manja!” tegur Hanna seraya melirik sesaat ke arah Nayeon sebelum kembali fokus pada layar ponselnya.
Alih-alih merespon perkataan Rihanna, Nayeon malah meliriknya dengan sorot mata tajamnya dengan mulut komat-kamit yang tak jelas ucapannya.
“oke.. oke.. sudah jangan bertengkar, akan ku ambilkan remotenya!” ujar Franky yang akhirnya mengalah demi perdamaian dunia, ia pun bangkit lalu mengambil remote yang berada diatas meja.
Jempolnya mengklik tombol power bersamaan dengan menyalanya layar televisi besar yang berada dihadapannya. Setelah itu ia memberikan remote pada Nayeon untuk memberikan akses penuh siaran televisi.
“Iya halo kak Abi.” Ucap Rihanna kala komunikasinya beralih menjadi sambungan telfon, ia pun lantas bangkit dari tidurnya kemudian menjauh dari area ruang tamu untuk mencari area hening.
Tepat setelah kepergian Rihanna, salah seorang pelayan pun datang menghampiri keberadaan ketiga sekawan.
“malam nona, mas, makan malamnya sudah siap.” Ucapnya seraya menautkan kedua tangan didepan tubuhnya.
“oke, setelah Ahreum bangun kami akan kesana bi. Terimakasih.” Sahut Franky lengkap dengan senyum ramahnya sebelum kembali duduk disamping Ahreum.
“Ahreum..” panggil Franky seraya menggoyangkan salah satu kaki Ahreum untuk membangunkannya.
“biarkan aja, jangan membangunkannya. Dia baru aja terlelap tidur.” Kata Nayeon sembari memencet tombol remote mencari siaran televisi yang diinginkannya.
“hmm..
Kau bisa lembut dan ramah sekali pada Ahreum, tapi kenapa tidak dengan Rihanna.” Oceh Franky seraya ikut menikmati siaran televisi didepannya.
“karena Rihanna menyebalkan.” Celetuk Nayeon yang kemudian menurunkan remote control dan meletakannya disampingnya setelah menemukan acara favoritenya.
“minum dong!” pinta Nayeon seraya menunujuk ke arah gelas yang berisikan air mineral yang berada diatas meja.
__ADS_1
“kenapa gak sekalian tadi aja sih!” ketus Franky yang mulai kehilangan kesabaran menghadapi gadis manja itu.
Franky menghela nafas kasar serta menggelang kepalanya sebelum kembali bangkit dari sofa dan mengambilkan air minum. Ia lagi-lagi mengalah kala Nayeon menatapnya tajam dengan mulut yang dimanyun-manyunkan.
“niihh!!” ketus Franky seraya menyodorkan gelas yang berisikan air mineral pada Nayeon, langsung saja gadis itu pun meneguk air mineralnya sampai dirasa cukup mengaliri kerongkongannya.
Sementara Franky yang masih berdiri dihadapan Nayeon menunggu gadis itu selesai minum agar bisa meletakan kembali gelasnya. Iya, daripada nanti ia balik duduk kemudian Nayeon memanggilnya lagi untuk menyuruh meletakan gelas, ia lebih memilih menunggu.
“thank’s.” ucap Nayeon seraya memberikan kembali gelas yang sudah kosong pada Franky untuk ditaruhnya diatas meja.
“kau sudah punya pacar Frank?
Bagaimana kalau aku mengaturkan kencan buta untukmu dengan salah satu teman kampusku.” Ujar Nayeon seraya melirik ke arah Franky yang baru saja mendudukan bokongnya disamping Ahreum yang masih tertidur.
“tidak perlu, terimakasih. Aku tidak berniat berkencan dengan tante-tante.” Sahutnya yang langsung menolak tegas tawaran Nayeon.
“aisshh.. yak! kita hanya beda 2 tahun tahu!” dengus Nayeon.
“tetap aja, aku gak mau berkencan dengan gadis yang lebih tua dariku. Lagipula aku tak memiliki waktu untuk berkencan. Aku terlalu sibuk mencari nafkah agar adikku bisa melanjutkan ke perguruan tinggi.” Timpalnya lagi dengan tatapan lurus ke depan.
“hmm..
Alih-alih kerja serabutan atau part time seperti sekarang ini. Bagaimana kalau kau menjadi supir dan pengawalku aja, aku bisa menggajimu 3 kali lipat dari penghasilanmu saat ini.” tawar Nayeon kembali.
“dengan begitu kau hanya fokus denganku, tak perlu terus-terusan berpindah tempat kerja dari hari ke hari.” Lanjut Nayeon lagi berharap jika Franky menerima tawarannya itu.
“kenapa?
Apa kau kasihan padaku?” tanya Franky seraya melirik ke arah Nayeon yang juga masih memandanginya.
“aku hanya ingin membantumu, maaf jika aku menyinggungmu.” Ucap Nayeon lirih kemudian melepas pandangannya dan beralih menatap siaran televisi.
“oke. Aku terima tawaranmu.” Kata Franky mantap yang langsung menyunggingkan senyum manisnya kala pandangan Nayeon kembali beralih padanya.
Tak lama setelah Nayeon dan Franky saling melempar senyum, tiba-tiba ponsel Ahreum berdering cukup nyaring yang membuat Ahreum pun terbangun seketika.
“hah! Apa?!” seru Ahreum yang langsung bangun dari tidurnya seraya celingak-celinguk layaknya orang tengah mengigau.
“itu ponselmu bunyi.” Kata Franky seraya menunjuk ke arah ponsel Ahreum yang berada disamping bantalnya dengan sorot matanya.
“hah?!” sahut Ahreum lagi yang berusaha mencoba mengumpulkan nyawanya, sebelum akhirnya meraih ponsel miliknya.
“siapa?” tanya Nayeon yang penasaran dengan panggilan tersebut seraya mencoba mengintip layar ponsel Ahreum.
“kak Ben.” Gumam Ahreum yang kemudian mendekatkan ponselnya ke telinga untuk menerima panggilan dari kakak lelakinya.
__ADS_1
***
Bersambung…