
Setelah menghabiskan kurang lebih 1 jam untuk menjelaskan sedetail mungkin keseluruhan ceritanya. Ahreum dan Bennedict pun lantas memsuki kediaman keluarga Stevan lew.
“kau mau mencari suamimu?” tanya Benn yang melihat adiknya itu celingak-celinguk kesana kemari seakan tengah mencari seseorang.
“He’em.
Kakak juga mau mencari kak Winter kan?
Pastikan kau bisa membawanya pergi dan bicara dengannya, mengerti!
Jangan hanya melihat dari jauh aja. Aughhh.. ketika berhadapan dengan para penjahat kau seperti orang kerasukan uuhh.. mengerikan sekali, tapi begitu melihat Mami nyalimu langsung ciut seperti kanebo kering. Huhh.” Cibir Ahreum lengkap dengan gelengan kepalanya kemudian pergi berlalu.
“Aiisshh! Apa dia benar-benar adikku. Ciihh!!” dengus Bennedict begitu Ahreum mulai menarik langkah meninggalkannya sendirian ditengah keramaian yang terjadi dipesta mewah yang diadakan oleh keluarga S.L Group.
Karena terlalu banyak yang menghadiri pesta tersebut membuat Bennedict pun kesulitan mencari sosok wanita yang dirindukannya itu. Setelah menelusuri area sekitar ia pun memutuskan untuk menarik langkah dan memulai pencariannya kemanapun nalurinya membawanya.
Selang beberapa menit berjalan-jalan sembari mengedarkan pandangannya ke sekeliling sesekali namun ia tak juga menemukan sosok yang dicarinya. Iya, dirinya tidak boleh terlalu menunjukan jika sedang melakukan pencarian, atau gerak-geriknya akan tampak menonjol dan mencurigakan.
Jadi ia hanya berjalan-jalan dengan 1 gelas minuman yang berada dalam genggamannya sembari menyapa beberapa kenalannya yang datang ke pesta tersebut, namun tak membuat fokusnya beralih pada tujuan utamanya.
“Benn..” panggil seseorang yang membuat Benn menghentikan langkahnya kemudian memutar tubuhnya ke belakang.
“Ibu.” Respon Benn.
Enzy mendekatkan mulutnya ke telinga putra angkatnya itu kemudian membisikan sesuatu.
“kau pasti mencari istrimu kan?” bisik Enzy yang langsung dibalas anggukan oleh Bennedict.
“Ibu dengar Winter masih belum mau keluar dari kamarnya. Dan Ibu rasa juga dia sedang menangis sekarang, kau harus cepat menemuinya, kalau perlu bawa saja dia kabur. Ibu mendukungmu!” tambah Enzy lagi yang kembali berbisik.
“tidak..
Aku tidak bisa membawanya seperti itu bu.” Sahut Bennedict yang masih bisa berfikir logis.
“Eyyt.. ya sudah terserah kau saja.
Tapi ingat hindari area ruang tamu 1, disana mertuamu sedang berbincang dengan calon besannya, karena calon menantunya adalah wanita kurasa kali ini mereka akan memperkenalkan Jeno dengan calon pilihannya.” Tutur Enzy lengkap dengan raut wajah seriusnya.
“Ibu tahu darimana?” sahut Bennedict yang tak menduga jika ibunya itu mengetahui banyak sekali informasi.
“sudah tidak perlu banyak tanya. Cepat temui istrimu sebelum mertuamu selesai berbincang.” Seru Enzy seraya mendorong-dorong tubuh Benn agar lekas pergi dan menemui istrinya yang katanya masih berada dikamarnya.
“Maah..”panggil Seno begitu putra angkatnya pergi.
“Iya.” Sahut Enzy seraya tersenyum simpul pada suaminya kemudian mencoba membenarkan dasi Seno yang terlihat miring.
“Apa yang kau katakana pada Benn?
Kau tidak mendoktrinnya untuk melakukan hal yang..”
“Eyyytt.. Kau tau betul putra lelakimu itu kan sayang. Meskipun terkadang aku menuntunnya ke jalan yang salah, dia tidak akan terpengaruh dan tetap berada pada akal sehatnya. Hahhaa.
Rasa cintanya yang luar biasa tidak lantas membuatnya tidak menghormati kedua mertuanya. Dia akan tetap memperjuangkan cintanya di jalan yang benar.” Ucap Enzy panjang lebar diiringi senyum bangganya terhadap putra lelakinya itu yang tak pernah pantang menyerah dalam meluluhkan kedua mertua yang hanya mementingkan harta dan martabak ehh.. martabat.
***
Ditengah pencariannya menemukan sosok suaminya, Ahreum malah tak sengaja melihat sekilas Jeno yang keluar dari sebuah ruangan, ia berjalan cepat menuju lift yang berada diujung koridor.
Buru-buru Ahreum mengangkat gaun hitamnya yang cukup panjang hendak mengikuti Jeno.
__ADS_1
Begitu lift tertutup ia melihat lantai yang dituju karibnya yang tak lain adalah lantai teratas yang berada dikediaman keluarga Stevan yaitu Rooftoop.
“ngapain dia ke atap.” Ahreum bermonolog selagi otaknya berfikir keras.
Merasa penasaran akhirnya Ahreum pun bergegas berlarian menuju tangga, karena akan cukup lama jika menunggu lift itu kembali.
Sesampainya diatap.
Dengan nafas yang tersenggal-senggal Ahreum memegangi handle pintu yang terhubung ke rooftop lalu mendorongnya.
“huhhh..haahh.. Capek sekali, rasanya ingin muntah.” Dumel Ahreum yang kemudian mulai memasuki area rooftop dengan perasaan harap-harap cemas.
Benar saja kedua matanya langsung menangkap sosok karibnya itu tengah terduduk dipinggiran tembok pembatas atap seraya menengadahkan pandangannya ke atas langit seolah sedang meratapi situasi yang menyedihkan.
“Yak! Jeno! Apa yang kau lakukan?!” teriak Ahreum seraya berlarian menuju keberadaan karibnya yang kini menoleh ke arahnya.
“Apa sih?” sahut Jeno seraya mengerutkan keningnya.
“Apa sih?!
Justru apa yang kau lakukan disini, Jeno!” pekik Ahreum lagi seraya memeluk erat Jeno dari belakang karena takut kalau-kalau Jeno memiliki niatan buruk.
“tenanglah..
Aku hanya ingin melihat mama Ica (Veronica:Ibu kandung Ahreum), aku tidak berniat melakukan hal ekstrem seperti yang kau bayangkan saat ini.” tutur Jeno yang kembali mengarahkan pandangannya ke langit.
“benarkah?” respon Ahreum yang perlahan melonggarkan pelukannya.
“he’em, aku hanya lelaki pengecut yang selalu bersembunyi dibelakang kakakku. Kau fikir aku memiliki keberanian untuk menjatuhkan diriku dari sini.” Lanjut Jeno dengan senyum getir yang ia arahkan ke langit malam yang dipenuhi jutaan bintang.
Kalau begitu, bantu aku, aku juga ingin duduk disampingmu.” Ujar Ahreum seraya mengulurkan tangannya agar Jeno bisa menariknya naik ke atas.
Dengan senang hati Jeno memutar tubuhnya kemudian menarik tubuh mungil Ahreum untuk membantunya naik ke atas tembok pembatas atap.
“huuhh..” kaget Ahreum karena hampir saja terpeleset namun untungnya Jeno dengan sigap menahan tubuhnya dan menariknya ke sisinya.
“disini tinggi sekali, kau benar-benar tidak takut?” tanya Ahreum yang sudah duduk disamping karibnya, ia mencoba menurunkan pandangannya ke area pekarangan sejenak sebelum kembali mengarahkan pandangannya pada Jeno.
“tidak..
Ini tidak apa-apanya dibandingkan dengan rasa takutku pada Mami.” Sahut Jeno tanpa menoleh dan tetap fokus menatap langit malam.
“hmmm..” Ahreum hanya menghela nafas kemudian ikut memandangi langit malam.
“Ahreum..” panggil Jeno.
“he’em.” Sahut Ahreum seraya menoleh ke arah karibnya yang masih tak mau melepaskan pandangannya dari fokusnya saat ini.
“Sebenarnya selain untuk merayakan kepulangan kak Winter, pesta ini juga diperuntukan untukku, kedua orang tuaku berniat menjodohkan aku dengan putri dari J.H Group. Dan aku baru saja menyelesaikan pertemuan yang menyesakkan itu.” cerita Jeno dengan nada getirnya seakan ingin menumpahkan segala kesedihannya.
“bukankah Group itu milik ibu tiri Rihanna?” timpal Ahreum lengkap dengan raut wajah terkejutnya.
“Iya, dia adalah saudara tiri Rihanna.
__ADS_1
Awalnya mami menanyakan kabarmu, dan juga ingin langsung bertemu denganmu sejak kepulangannya beberapa hari lalu. Namun ku bilang Ahreum sudah menikah, mami terkejut dan juga sangat kecewa mendengar berita pernikahanmu dengan Ansell.
Mami bilang jika aku tak bisa bersamamu, maka aku harus menikah dengan gadis pilihan mami.” Sambungnya lagi seraya memutus pandangannya pada Ahreum.
“hmm..
Lalu apa rencanmu sekarang?” tanya Ahreum.
“Apa lagi, aku hanya bisa menerimanya. Jika tidak, mami akan mengusirku dari rumah dan memutuskan hubungan ibu dan anak denganku, begitu ancamnya.” Adu Jeno lirih.
“hmm..” Ahreum kembali menghela nafasnya.
“yak! Jangan hanya bernafas, apa kau tak memiliki solusi atas masalahku ini?!” dumel Jeno karena sedari tadi Ahreum hanya menghembuskan nafas tanpa ada niatan memberikan solusi atau pencerahan atas masalah yang ia hadapi.
“astaga.. memangnya apa yang bisa ku lakukan?
Kau tahu, pernikahan kakakku pun sedang diujung tanduk karena mamimu, aku tak bisa membayangkan jika mami benar-benar melakukan segala cara untuk memisahkan kak Ben dan kak Winter. Apa yang harus kak Ben lakukan, dia hanya mencintai 1 wanita selama hidupnya.. kisah cin..”
“Mereka tidak akan berpisah.” Potong Jeno yang membuat Ahreum lantas membulatkan kedua matanya dan menatap Jeno dalam-dalam.
“benarkah? Bagaimana bisa?
Apa ayah sudah bertemu dengan mami? Dan memintanya untuk menarik kembali kata-katanya.” Ahreum bergumam mencoba berfikir keras segala kemungkinan yang ada.
“He’em, selain itu aku juga telah membuat kesepakatan dengan Mami. Aku bersedia mengubur impianku menjadi idol dan fokus untuk meneruskan perusahaan papi. Setelah itu menikah dengan gadis pilihan Mami.
Dengan begitu, Mami bersedia melepaskan kak Winter untuk kembali pada kak Bennedict.” Papar Jeno diiringi dengan senyum dalam isak tangis pilunya.
Iya, meski ia bahagia karena kakaknya bisa bersama dengan orang yang dicintainya, disaat yang bersamaan pula ia merasa sakit karena ia harus merelakan kebahagiaan dan kebebasannya sendiri.
“Kau.. luar biasa Jeno.” Puji Ahreum seraya menarik Jeno ke dalam dekapannya, kemudian mengusap-usap punggungnya untuk sekedar menenangkannya.
“Aku bangga sekali padamu. Kau benar-benar… luar biasa.” Sambung Ahreum kembali yang ikut terharu dan menitikan air mata mendengar pengorbanan yang Jeno lakukan demi kebahagiaan kakak perempuannya.
Selang beberapa menit kemudian, setelah keduanya merasa lebih baik dan berhenti menangis. Suasana kembali hening sesaat, sampai…
“Apa kau bahagia dengan Ansell?” tanya Jeno seraya melirik sesaat ke arah Ahreum yang tengah menyeka air matanya.
“bahagia, sangaaatttt bahagiaaaa!!” seru Ahreum seraya menunjukan senyuman terlebarnya untuk mendukung perasaannya saat ini, setelah beberapa menit lalu sesenggukan nangis bersama dengan Jeno.
“hmm..
Aku iri padamu, bisakah kita bertukar keluarga?
Aku ingin terlahir dari keluargamu, Ahreum.” Jeno bergumam seraya mengayun-ayunkan kakinya.
“Yak! Bodoh! Kau lupa?
Aku juga dijodohkan!” tukas Ahreum tajam seraya memukul bahu Jeno.
“HHAahhahhahhaa!!” terdengar ledakan tawa dari keduanya yang memecah keheningan malam kelam dikala itu, membuat suasana kembali terasa cerah setelah beberapa saat lalu keduanya menumpahkan rasa sedih yang menyelimuti hati mereka.
Setidaknya Jeno merasa sedikit lega karena sudah berbagi cerita dengan teman kecilnya yang selalu ada untuknya, sejak dulu hingga saat ini.
***
__ADS_1
Bersambung..