
Saat mobil mereka melaju melewati pekarangan, Ansell dan Abi baru saja melewati pintu masuk utama.
“signalnya berakhir disini, pak.” lapor Abi seraya mengarahkan pandangan seriusnya pada Ansell setelah mendapati signal GPS dari tablet yang tengah digenggamnya kini terputus.
“apa?!” pekik Ansell.
Bersamaan dengan keluarnya mobil Elios dari pekarangan rumah Abu, Ansell pun menoleh ke belakang dengan raut wajah yang dipenuhi amarah.
“mungkinkah nona Ahreum sudah pergi dari sini?” ujar Abi masih sembari memperhatikan layar tabletnya berharap jika signal Ahreum kembali muncul.
“hubungi temannya!” perintah Ansell dengan nada tingginya kemudian pergi meninggalkan loby rumah abu untuk kembali menuju mobilnya.
Abi pun langsung beralih ke ponsel yang berada dalam sakunya untuk melaksanakan perintah dari atasannya tersebut. Sembari ikut menarik langkah menyusul Ansell yang sudah lebih dulu meninggalkannya.
“Halo, iya ada apa kak Abi?” sapa seseorang disebrang sana begitu telfonnya tersambung dalam beberapa detik.
“iya halo nona Hanna, berisik sekali disana, nona Hanna sedang berada dimana?” sahut Abi seraya menjauhkan sejenak ponselnya dari telinganya karena suara berisik yang berasal dari lokasi Rihanna saat ini berada.
“ahh.. iya.. aku sedang di tempat makan yang baru saja dibuka, kak. Mereka menyewa band dan sales-sales gitu didepan, jadi ya sedikit gaduh sih. Ada apa memangnya?” respon Hanna dengan meninggikan nada suaranya karena takut suaranya tidak terdengar jelas oleh Abi.
“ahh.. begitu, apa nona sedang bersama dengan nona Ahreum?” lanjut Abi yang langsung pada intinya.
“Ahreum?” ulang Rihanna yang sedikit loading.
“iya, saya rasa nona Ahreum mematikan ponselnya, kami tidak bisa menemukan keberadaan nona Ahreum sekarang.” Jelasnya yang membuat Rihanna pun membulatkan kedua matanya.
“ada apa?” tanya Benn (sebenarnya pakai bahasa tubuh sih, Bennedict tidak benar-benar bersuara karena sedang mengunyah makanannya).
Rihanna pun langsung meletakan jemari telunjuknya dimulutnya sendiri, sebagai tanda untuk membuat Bennedict terdiam, selagi dirinya menerima telfon lengkap dengan raut wajah paniknya. Karena dirinya baru sadar jika karibnya itu tengah bersama dengan pria lain.
__ADS_1
“amm.. i.. iya kak Abi, Ahreum sedang makan bersamaku. Sebaiknya kakak gak usah khawatir, biarkan Ahreum bermain-main denganku hari ini, oke! Tak perlu mencarinya lagi. Tenang aja aku pasti akan mengantarnya pulang kok nanti malam. Katakan pada Ansell untuk tidak mengganggunya hari ini ya.” tuturnya panjang lebar ditengah rasa gugup yang melanda.
“baik kalau begitu, bolehkah saya bicara dengan nona Ahreum sebentar?” sahut Abi yang ingin benar-benar memastikan jika Ahreum memang berada bersama karibnya, hingga membuat Rihanna kembali kalang kabut.
“Ahreum.. Ahreum sedang dikamar mandi, kak. Nanti begitu dia sudah selesai dengan urusannya aku akan menghubungi kak Abi kembali, oke. Bye.” Pungkasnya yang kemudian mematikan sambungan telfonnya tanpa menunggu respon dari Abi terlebih dahulu yang sebenarnya masih ingin menyahut perkataan Rihanna.
Namun mendengar bunyi bip membuat mulutnya kembali tertutup lalu menghela nafasnya sesaat sebelum menarik handle pintu mobil kemudian masuk ke dalam menyusul Ansell yang sudah berada dikursi disamping pengemudi.
“dimana?” todong Ansell, begitu Abi mendudukan bokongnya dikursi lengkap dengan sorot mata tajamnya.
“dia sedang makan siang dengan nona Rihanna, katanya sebaiknya kau tak perlu mengganggunya hari ini karena meraka akan bermain-main seharian.” jelasnya sembari meletakan tablet yang digenggamnya didasbor sedangkan ponselnya ia masukan kembali ke dalam saku celana kainnya.
Kemudian dilanjut dengan memakai safety belt, guna memberikan rasa aman saat berkendara. Ya sebenernya udah peraturannya juga sih. Hehe.
“di Jakarta?” sahut Ansell.
“kurasa di Jakarta, katanya nanti malam nona Hanna sendiri yang akan mengantar nona Ahreum pulang.” Paparnya seraya menghidupkan mesin kemudian mempersiapkan diri untuk mulai melajukan mobilnya keluar dari area pekarangan rumah abu.
Plakkk!! Satu pukulan yang cukup keras mendarat dibelakang kepala Abi, begitu ia selesai dengan ocehannya yang membuat emosi Ansell kembali memuncak.
“aarghh!!” ringis Abi seraya mengusap-usap bagian kepala belakangnya kemudian melirik sesaat ke arah Ansell yang juga tengah menatapnya tajam.
“asataga!! Pantas saja nona Ahreum sering kabur darimu, dengan sikapmu yang seperti ini kau fikir nona Ahreum akan tetap tinggal berasamamu.” Lanjut Abi seakan tidak ada takut-takutnya berhadapan dengan raja hutan.
“tutup mulutmu! Kau urus saja urusanmu sendiri!” ketus Ansell yang langsung memalingkan wajahnya ke balik jendela seraya melipat kedua tangan diatas dadanya.
“sudah ku bilangkan, nona Ahreum berbeda dengan gadis-gadis lainnya. Kau tak akan pernah bisa mengendalikannya.
Uang? Dia memilikinya, bahkan mungkin hampir sebanding dengan kekayaan keluargamu.
__ADS_1
Popularitas? Dia tak memerlukannya, kurasa dia hanya gadis biasa yang hidup mengalir seperti air, tidak memiliki ambisi untuk dikenal banyak orang ataupun perlu pengakuan dari banyak orang.
Kau hanya perlu memperlakukannya sebagai seseorang yang benar-benar kau cintai, dan kau hargai. Dengan begitu nona Ahreum akan memberikan hatinya padamu.” papar Abi panjang lebar yang ingin mencoba memberikan sedikit petuah pada karibnya yang angkuh itu.
“dia sudah mengatakannya.” Gumam Ansell pelan.
“apa?” sahut Abi seraya melirik sesaat ke arah Ansell yang masih anteng ngeliatin hal-hal diluar jendela mobilnya.
“dia menyukaiku.” Lanjutnya masih dengan nada yang sama.
“jika kalian sudah saling mengatakan saling menyukai lalu..” belum sempat Abi menyelesaikan kalimatnya, Ansell langsung memotongnya dengan sebuah kalimat yang benar-benar mengejutkan dirinya.
“aku tak membalasnya, aku bilang untuk menunggu karena aku masih belum yakin dengan apa yang kurasakan.” sambar Ansell.
“YAK! Jangan bilang kau masih terperangkap dalam bayang-bayang nona Ilona?! Augghhh!! Astaga, kau benar-benar..” tiba-tiba saja Abi meninggikan suaranya kemudian memegangi bagian lehernya yang kini menengang karena mencoba menahan amarah yang mulai menjalar diseluruh tubuhnya.
“aughhh!! Auughhh!! .. Aku benar-benar tak bisa berkata apa–apa Ansell! bagaimana mungkin kau menyia-nyiakan gadis sebaik nona Ahreum. Ya meskipun terkadang dia sedikit aneh tapi tetap saja kurasa sikapmu ini tidak mencerminkan sebagai pria sejati, kau tau!” dumel Abi dengan sesekali melirik ke arah Ansell yang sepertinya tidak terlalu memperdulikan ocehan dirinya.
Terbukti dengan sikap Ansell yang kini malah hendak menurunkan sandaran kursinya lalu mencoba mencari posisi ternyamannya untuk berbaring sejenak dikursinya dengan memiringkan tubuhnya membelakangi Abi.
“ku peringatkan ya! Sebaiknya jangan terlalu lama mengulur waktu dan membuat seorang gadis menunggumu. Atau kau akan benar-benar menyesal. Ansell!”
“YAK!! Kau dengar tidak!” bentak Abi karena kesal, Ansell masih saja mengacuhkannya.
“beritahu Ambar, untuk memotong gaji karyawan yang bernama Abighail pramudya selama 6 bulan.” Ujar Ansell masih dengan posisinya.
“astaga, yak! Kau.. picik sekali.” Gumam Abi sepelan mungkin seraya menatap tajam bagian punggung Ansell yang membelakanginya.
***
__ADS_1
Bersambung...