
Malam harinya.
Dalam perjalanan Ahreum dan Ansell menuju kediaman keluarga Dirgantara, sejak Ahreum memasuki mobil yang dikendarai oleh Ansell gadis itu hanya terdiam membisu seraya mengarahkan pandangannya ke balik jendela mobil.
Seolah ada yang membebani fikirannya ia tetap tak memberikan respon apapun ketika Ansell berkali-kali melirik ke arahnya.
“Nayeon kan sudah sadar dan sudah dipindahkan juga ke ruang rawat inap bahkan kondisinya semakin membaik, lalu apa yang membuatmu masih terlihat murung seperti itu?” Ansell bergumam seraya sesekali melirik Ahreum yang sepertinya tidak ingin diganggu.
“kalau kau ingin menemani Nayeon dirumah sakit, aku tak akan melarangmu, untuk hari ini aja kau boleh bermalam dirumah sakit.” Lanjut Ansell saat Ahreum masih juga tak mau meresponnya.
“tidak perlu..” akhirnya Ahreum bersuara seraya menoleh ke arah Ansell lengkap dengan senyuman lebarnya yang dipaksakan.
“kau yakin?
Jarang-jarang lho aku bersikap baik seperti ini, kau yakin mau menyia-nyiakannya begitu aja.” Sahut Ansell yang diakhiri dengan belaian lembut juga senyuman termanisnya.
“heemm.” Ahreum berdehem untuk menanggapi perkataan lembut dari calon suaminya tersebut.
***
Sesampainya dipekarangan kediaman keluarga Dirgantara.
“tadinya aku ingin mengunjungi ruangan ibu dan ayahmu terlebih dahulu, setidaknya aku harus meminta maaf atas apa yang sudah terjadi beberapa minggu kemarin.” Ujar Ansell seraya membukakan pintu mobil untuk Ahreum.
“besok lagi aja ya, aku benar-benar lelah, Ansell.” Respon Ahreum yang turun dari mobil kemudian menatap kedua mata Ansell dengan tatapan hangatnya.
“oke, ayo masuk, papa dan mama pasti sedang menunggumu diruang tengah, saat ku telfon aku akan kembali bersamamu, mereka berdua tampak antusias sekali, sebenarnya sihir apa yang kau berikan pada kedua orang tuaku, sampai mereka berdua langsung menyukaimu.” Lanjut Ansell panjang lebar ditengah perjalanannya menuju kediamannya bersama Ahreum yang berjalan disampingnya.
“kau tahu, mungkin hanya orang-orang yang berhati baik aja yang bisa melihat inner beautyku.”
“jadi maksudmu aku ini orang yang jahat?!” sahut Ansell seraya menaikan satu alisnya.
__ADS_1
Ahreum hanya bisa menggeleng kepala dan memberikan tawa kecil untuk merespon perkataan Ansell, seraya terus melangkah menuju pintu utama.
***
Diruang tamu kediaman keluarga Dirgantara.
“Ahreum, akhirnya kau datang juga sayang.” Sambut Carrisa seraya bangkit dari tempat duduknya kemudian berjalan menghampiri Ahreum yang baru saja hadir diruang tamu bersamaan dengan Ansell putra semata wayangnya.
“selamat datang ya Ahreum, semoga kau betah disini kalau ada perlu apa-apa jangan sungkan minta tolong saja sama art disini anggap saja ini rumah mu sendiri.” Ucap Andrew yang juga bangkit lalu menyusul sang istri yang sudah lebih dulu menghampiri Ahreum dan Ansell.
“baik om, terimakasih.” Sahut Ahreum lengkap dengan senyum manisnya.
“dan kau Ansell, ayah ingin bicara denganmu, ikut ayah ke ruang kerja!” perintah sang ayah yang kemudian pergi berlalu, meski tampak malas dan sudah ingin beristirahat namun Ansell harus tetap mematuhi perintah ayahnya tersebut.
“tante sudah menunggumu dari tadi, apa terjadi sesuatu sampai kalian pulang larut malam begini?” lanjut Carrisa seraya memegangi wajah Ahreum dengan tatapan hangat layaknya seorang ibu yang mengkhawatirkan putri kandungnya sendiri.
“amm tadi.. aaww..” ringis Ahreum saat jemari Carrisa tak sengaja menyentuh bagian leher belakang Ahreum, reflex lengan Ahreum pun meraih tangan calon ibu mertuanya tersebut untuk menjauhi area lehernya.
“tidak, tidak apa-apa tante.” Dusta Ahreum seraya mundur satu langkah dari posisinya semula, hal itu malah membuat Carrisa semakin curiga jika Ahreum tengah menyembunyikan sesuatu darinya.
“apa ini..” gumam Carrisa saat menyadari seperti ada cairan yang menempel di ujung jemarinya, dan betapa terkejutnya Carrisa kala ia melihat cairan tersebut adalah darah segar yang diyakini berasal dari leher Ahreum yang baru saja ia sentuh beberapa detik yang lalu.
“Ahreum.. ahreum akan menjelaskannya tante, tapi tolong jangan beritahukan Ansell.” Panik Ahreum saat kedua mata Carrisa mulai membulat dan terus menatapnya untuk meminta penjelasan lebih lanjut tentang darah yang berasal dari lehernya tersebut.
***
Diruang kerja Andrew Dirgantara.
Ayah dan anak itu tengah duduk disofa yang bersebrangan, Andrew tampak masih mengatur amarahnya dengan memandangi wajah putra semata wayangnya tersebut yang lebih memilih menundukan kepalanya dari sejak awal ia terduduk disofa.
“sebenarnya..” ucap Andrew yang akhirnya mengawali pembicaaraan antara ayah dan anak itu.
__ADS_1
“mau mu itu apa sih Ansell! Apa kau tak bisa memegang janjimu sebagai seorang pria?! Kau hampir saja membuat keluarga kita malu didepan keluarga Bagaskhara terlebih lagi bagaimana dengan perasaan Ahreum,
Kau tahu, saat kedua orang tuanya bersikeras ingin membatalkan pernikahan karena kau yang menghilang begitu saja, gadis itu dengan beraninya mengambil resiko untuk tetap menunggumu kembali, Ansell!!
Ahreum percaya jika kau akan kembali dan menepati janjinya, ayah sampai tak dapat berkata-kata saat ia berkata seperti itu, seharusnya kau bersyukur karena Ahreum yang akan menjadi istrimu dan bukannya gadis MATRE dan URAKAN seperti Ilona!!”
“apa kau belum mendengarnya?!
Ilona sudah tiada, jadi tolong berhenti menjelek-jelekannya, belum cukupkah kalian berdua menyudutkannya semasa hidupnya, dan bahkan sekarang saat dia sudah tiada kau masih ingin berbicara buruk tentangnya!!” pekik Ansell seraya menatap tajam kedua mata Andrew yang tampak membulat karena terkejut mendengar berita tentang kematian Ilona yang pernah menjadi kekasih dari putranya tersebut.
“tiada?” ucap Andrew yang masih terlihat kebingungan.
“YA! ILONA SUDAH MATI, PAH!!” bentak Ansell yang kemudian bangkit dari tempat duduknya.
“jadi kalian tidak perlu khawatir lagi karena gadis itu telah tiada, aku tak mungkin menikahi gadis yang sudah mati kan?!” pungkas Ansell yang mengakhiri pembicaraannya dengan sang ayah, kemudian pergi berlalu meninggalkan Andrew yang masih terdiam ditempat duduknya seraya mengulang kembali perkataan Ansell di dalam otaknya seakan ia tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
***
Dikamar kedua orang tua Ansell.
Karena Ahreum meminta lukanya itu disembunyikan dari Ansell, Carrisa pun akhirnya membawa Ahreum ke kamarnya, selain untuk mendengarkan cerita yang sebenarnya terjadi hingga membuat dirinya mendapatkan luka seperti itu, ia juga yang akan mengobati luka calon menantunya tersebut.
Begitu masuk ke kamarnya, Carrisa langsung meminta Ahreum untuk duduk saja di pinggiran ranjang besarnya sementara Carrisa mengambil alat medis juga obat-obatan lainnya yang diperlukan untuk mengobati luka Ahreum yang bahkan belum sempat ia lihat dengan jelas.
Selesai mengumpulkan semua yang diperlukan, Carrisa pun berjalan menghampiri Ahreum kemudian duduk tepat disamping Ahreum yang tengah membelakanginya.
“astagaaa!! Apa ini Ahreum?!” pekik Carrisa saat lengannya menyibakkan rambut ikal panjang Ahreum yang tergerai hampir menyentuh pinggulnya.
***
bersambung...
__ADS_1