
“oke.. 1.. 2.. 3.” Aba-aba Bennedict yang diakhiri dengan dibukanya pintu mobil secara cepat kemudian dilanjut dengan menarik tubuh Rihanna yang tengah berdiri membelakanginya, layaknya film-film penculikan pada umumnya hihihi seperti itulah kira-kira bisa dibayangkan sendiri ya.
Brruughhh!!.. pintu pun kembali tertutup dengan cepat kala Rihanna telah berhasil ditarik paksa masuk ke dalam mobil seiring dengan laju mobil yang kembali pada kecepatan sebelumnya. Hingga membuat kedua pria yang tadi mengerumuni Rihanna pun tercengang karena situasi yang tak terduga tersebut.
“ARRGGHHH!! TOLONG!! TOLONG!!” teriak Rihanna seraya menggedor-gedor jendela mobil, tanpa ingin tahu siapa orang yang menariknya, yang ada difikirannya saat ini adalah jika kini dirinya diculik.
“yak! Rihanna berisik!” seru Bennedict yang membuat Hanna terdiam kemudian memutar tubuhnya kearah sumber suara tersebut.
“aughh sia**ll!! Kufikir jika aku diculik om-om. Huhh..” Celotehnya seraya menghembuskan nafas leganya lalu menyandarkan tubuhnya.
“berhenti menonton drama yang hanya meracuni akal sehatmu.” Timpal Bennedict seraya kembali terfokus pada layar ponselnya yang tengah menanmpilkan kontak adik perempuannya.
“siapa juga yang tidak akan berfikir seperti itu disaat kau menarikku dengan cara begitu. Semua orang juga akan berfikiran yang sama denganku, tau!” gerutu Hanna.
“maafkan kami ya nona Rihanna, hehe. Kami tidak bermaksud mengejutkan nona dengan aksi spontan barusan. Hanya saja kami juga sedang terburu-buru.” Timbrung Reno yang merasa bersalah akan aksi yang telah ia lakukan pada gadis tersebut.
“lagipula kau itu kenapa sih, selalu saja berkelahi, kali ini apalagi masalahnya?!” seru Bennedict seraya memutar sedikit tubuhnya agar bisa menatap wajah kesal Rihanna yang masih ngambek padanya.
“aughh shi*****, memangnya kak Ben fikir aku ini gila, semua orang ku ajak berkelahi. Mereka duluan yang mulai, kau tahu! Dia meraba bokongku kemudian berniat menyeretku ke hotel. Sial, memikirkannya saja membuatku ingin mencabik-cabik wajahnya!” dumel Hanna seraya melipat kedua tangan diatas dadanya kemudian mengarahkan wajahnya ke balik jendela mobil.
“jika kau tidak ingin diperlakukan seperti itu, seharusnya kau menjaga cara berpakaianmu. Kain apalagi yang kau pakai itu, sepertinya apapun yang kau pakai tidak ada yang normal dimataku.” Timpal Bennedict setelah melirik sesaat kearah Hanna yang berada dikursi belakang.
“anak buahku saja sampai menelan ludah berkali-kali, jika tidak ada kakak mungkin mereka juga kan menyerangmu.” Lanjut Bennedict yang membuat Hanna siap untuk kembali melempar sumpah serapahnya.
__ADS_1
“ahh tidak kok, pak, hehe.” Bantah Reno yang tampak canggung dengan situasi yang terjadi saat ini.
“ciihh!!.. YAK!! aku benci sekali mendengar kalimat seperti itu, seakan semua kesalahan ada dipihak wanita, kau tahu! meski seluruh tubuhku ditutupi kain sekalipun bukan berarti aku akan terbebas dari pelecehan bukan?!
Itu terjadi karena memang niat dari para pelakunya saja!” sewot Hanna seraya menyondongkan tubuhnya mendekat ke samping tubuh Bennedict sehingga 2 lelaki yang berada disampingnya pun merasa sangat canggung karena tubuh mereka terdorong oleh gadis kasar itu.
“kejahatan bisa terjadi karena ada peluang atau kesempatan, setidaknya kita harus menutup peluang itu semaksimal mungkin. Apa kau tak kasihan pada kedua orang tuamu, mungkin sekarang mereka sedang cemas mengkhwatirkanmu karena pergi dengan penampilan minim seperti itu.” timbrung Bianca yang tak tahan dengan sikap gadis urakan Rihanna, hingga membuatnya memberanikan diri untuk mengutarakan pendapatnya.
“aku tak memiliki orang tua yang akan mencemaskanku.” Ucap Hanna seraya memundurkan tubuhnya dan kembali bersandar seperti sebelumnya. Ia pun menghela nafas seraya mengarahkan wajahnya ke balik jendela.
Mendengar hal itu membuat Bianca terdiam karena merasa bersalah sudah menghakimi seseorang yang bahkan tak dikenalnya.
“maaf..” gumam Bianca yang membuat situasi kala itu menjadi sangat canggung.
Segera setelah itu Bennedict pun melepas jaketnya kemudian melemparkannya tepat pada wajah Hanna yang tengah mengarahkan tatapan kosongnya keluar jendela.
“aaww..” rengek Hanna yang sekaligus terkejut mendapat lemparan jaket tebal milik Bennedict.
“tunggu kakak mau kemana, kenapa banyak sekali polisi disini?!” panik Hanna seraya memakai jaket milik Bennedict yang terlihat oversize bagi Hanna.
Begitu mobil berhenti dan mesin mobil pun dimatikan, ketiga anak buahnya langsung bergegas keluar dan memulai rapat sebentar dengan para anggota polisi setempat untuk mengatur strategi.
“dengarkan kakak baik-baik Rihanna! Kita akan menangkap pria cabul yang berkeliaran diarea ini, pria ini sangat berbahaya. Dan kau.. tetap disini, kakak akan menempatkan beberapa polisi disini untukmu juga jadi jangan khawatir.” Ucap Bennedict yang memberikan penjelasan singkat ditengah hiruk pikuk yang terjadi di area tersebut.
“tapi kak Bennn..” rengek Hanna yang tiba-tiba saja merasa takut seraya menutup jaketnya dengan kedua tangannya.
“tunggu, apa itu!” seru Hanna saat melihat beberapa mobil yang ikut terparkir di area tersebut, hingga membuat Bennedict pun mengarahkan pandangannya pada hal yang dilihat oleh Hanna.
__ADS_1
Dilihatnya beberapa pria besar berpakaian serba hitam bermunculan dari dalam mobil, kemudian langsung bergegas berkumpul mengelilingi salah satu mobil yang tampak berbeda dari mobil lainnya yang baru saja terparkir di area tersebut.
“Ansell!” gumam Hanna kembali setelah melihat seorang lelaki yang muncul dari balik pintu mobil tersebut.
“Ansell?” ucap Bennedict seraya mengarahkan pandangannya pada Hanna untuk meminta penjelasan lebih lanjut.
“ahh iya, kakak ga datang ya waktu pernikahan Ahreum, huhh, bisa-bisanya lebih memilih pekerjaan daripada menghadiri pernikahan adik sendiri. Dia itu suami Ahreum, tapi untuk apa dia kesini?” kata Hanna panjang lebar.
Sudah puas dengan jawaban Hanna, Bennedict pun bergegas pergi untuk menyusul rekan-rekannya yang lain dan meninggalkan Hanna yang masih melongo karena ia pergi tanpa sepatah kata pun.
“sebenarnya ada apa sih? kenapa Ansell muncul disini juga.” gumam Hanna yang semakin gelisah sekaligus penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi di area tersebut.
Sampai ingatannya pun kembali mengembara ke beberapa jam yang lalu ditoko serba ada.
-----
“kau mau kemana?” tanya Hanna saat Ahreum beranjak dari kursinya.
Sesaat setelah Abi sadar, Ahreum pun meminta Abi untuk menunggunya di taman yang berada tak jauh dari area tersebut. Karena masih ada hal yang ingin Ahreum katakan pada Abi.
Sedangkan Nayeon dan Jeno sudah lebih dulu meninggalkan area pekarangan toko serba ada. Karena mereka berdua harus kembali ke kampus untuk mengurus acara perkemahan yang dimana mereka adalah salah satu dari panitianya.
“aku akan pergi menemui kak Abi.” Ucap Ahreum. “aku titip ranselku sebentar ya, Frank.” Kata Ahreum seraya mengarahkan pandangannya pada Franky yang juga ikut duduk bergabung dengan mereka sembari menyemil cemilan yang sudah kadaluarsa.
“apa kau bodoh? Kau masih membelanya setelah apa yang dia lakukan padamu Ahreum!” keluh Hanna seraya bangkit dari tempat duduknya, sementara itu Franky tidak mau ambil pusing. Ia bangkit dari kursinya seraya membawa ransel besar Ahreum ke dalam toko.
__ADS_1
Bersambung...
***