Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO

Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO
Episode 260


__ADS_3

Baru aja kemarin Ansell dipulangkan dari rumah sakit Haneul, kini ia kembali ke rumah sakit sebagai pasien, tanpa menunggu lama dirinya langsung masuk ke ruang operasi.


1 jam berlalu seorang dokter muncul dari ruang operasi sembari membuka masker yang menutupi setengah wajahnya, ia pun berjalan mendekati keberadaan gadis yang mulai bangkit dari kursi panjangnya kala melihat sang dokter keluar.


“Nona Ahreum tak perlu khawatir, operasinya berjalan lancar, tuan Ansell baik-baik saja, dan sudah bisa dipindahkan ke ruang rawat inap,” jelas sang dokter lelaki tersebut disertai senyum ramahnya.


“tidak perlu memberitahukan hal ini pada Nyonya Rissa, karena Nyonya Rissa sedang melakukan seminar diluar kota, saya takut berita ini hanya akan membuat Nyonya Rissa semakin khawatir,” kata Abi yang juga ikut menunggu bersama dengan Ahreum dan Rihanna sejak awal Ansell masuk ke dalam ruang operasi.


“baik mas Abi, saya mengerti,” respon sang dokter yang kemudian pamit pergi meninggalkan ketiganya.


“Kau dengarkan, semuanya akan baik-baik saja Ahreum,” ucap Rihanna seraya merangkul tubuh Ahreum.


“Untuk kesekian kalinya Ansell terluka karena menyelamatknku, mungkinkah jika aku berpisah dengan Ansell, Cassandra akan berhenti,” gumam Ahreum dengan derai air mata yang mulai mengalir dari pelupuk matanya.


“yak! Jangan berfikir yang tidak-tidak, meski tanpa dirimu, ku yakin wanita gila itu masih tetap mengusik hidup Ansell, karena tujuan utamanya adalah Ansell bukan dirimu,” timpal Rihanna yang kembali membawa Ahreum duduk dikursi panjang.


“Iya benar apa yang dikatakan Rihanna, nona, saya mohon jangan pernah berfikir untuk pergi meninggalkan Ansell, Ansell benar-benar mencintai nona Ahreum. Bahkan Ansell sampai rela mengorbankan nyawanya sendiri hanya untuk melindungi nona, bukankah hal itu sudah cukup membuktikan betapa Ansell menganggap nona adalah orang yang paling istimewa baginya.” Tambah Abi yang ikut duduk disamping Ahreum.


“kak Ben, kehilangan jejak Cassandra?” tanya Ahreum seraya melirik ke arah Hanna, dan berhenti membahas tentang rencananya yang hendak meninggalkan Ansell.


“hmm…, Iya, wanita itu benar-benar licin sekali, dia kabur bersama dengan asisten wanitanya yang bernama Lilian, padahal keadaannya sudah terluka cukup parah. Tapi kau tak perlu khawatir, para polisi sudah bekerja sama dengan semua pihak rumah sakit, begitu mereka mendaftar, mereka akan langsung tertangkap.” Papar Rihanna.


“kau fikir mereka bodoh, mereka tidak akan datang ke rumah sakit walau separah apapun luka yang mereka dapat,” sahut Ahreum.


“ku dengar nona Cassandra mendapat 2 luka tembakan dibagian bahunya, tapi bagaimana bisa? Bukankah tak ada polisi saat itu dan peluru yang berada di pistol Ansell masih lengkap,” timbrung Abi yang langsung membuat Ahreum melirik padanya dengan tatapan tajamnya.


“aku yang menembaknya, aku juga yang melemparnya sampai menghantam dinding, kurasa beberapa tulang rusuknya patah, hingga membuatnya harus berada diranjang selama beberapa bulan. Setidaknya hal itu bisa membuatnya terdiam dan tidak membuat ulah,” Prediksi Ahreum yang sontak saja membuat Abighail menganga mendengar pengakuan Ahreum yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.


“yak, Ahreum!” pekik Rihanna seraya menyikut bahu Ahreum lantaran tidak setuju dengan pengakuannya barusan.


“gak apa-apa, Ansell pun sudah melihatnya,” kata Ahreum seraya bangkit dari kursinya kemudian menarik langkah.

__ADS_1


“tunggu Ahreum!” panggil Rihanna yang langsung berlari kecil menyusul langkah temannya yang lebih dulu meninggalkannya, sedangkan Abi masih tampak syock akibat pengakuan Ahreum barusan.


...****************...


Diruangan Ansell, terlihat Ansell masih terbaring diatas ranjang dengan alat bantu pernafasan dan  selang infus yang menempel dipunggung tangannya.


Begitu Ahreum dan Rihanna masuk ke dalam ruangan, mereka berdua langsung berjalan mendekat ke pinggir ranjang Ansell.


“mungkin karena efek dari anestesinya belum hilang, Ansell masih terlelap,” ucap Rihanna seraya mengusap bahu karibnya yang sedari tadi menatap lekat wajah suaminya.


“ku kira setelah dia melihat sisi gelap diriku, dia akan memintaku pergi dari sisinya, karena aku tak lebih sama dengan wanita gila itu. Aku sudah siap dengan semua konsekuensi yang ku dapatkan, tak perduli bagaimana orang lain akan menilaiku.


Aku…, akan melakukan apapun untuk melindungi semua orang yang ku cintai, meski pada akhirnya aku harus membunuh wanita itu dengan tanganku sendiri.


Tapi kau tahu, apa yang dikatakan Ansell padaku?


Dia ingin aku tetap berada disisinya, setalah apa yang sudah ku lakukan didepan matanya, dia tetap menginginkanku berada disisinya,”  papar Ahreum yang mulai terisak ditengah pergulatan yang terjadi didalam hatinya.


Rihanna mengusap-usap punggung Ahreum lembut dengan deraian air mata yang ikut meramaikan suasana hening kala itu.


Bersamaan dengan berakhirnya ungkapan istrinya yang menyayat hati itu Ansell pun ikut menderaikan air matanya, meski kedua matanya masih tertutup namun sebenarnya telinganya mendengar apa yang dikatakan istrinya, hanya saja efek anestesi yang masih belum mengijinkan kedua matanya terbuka.


“Kau tahu?! (ucap Hanna seraya melepas pelukannya dan beralih memegangi rahang Ahreum dengan tatapan lekatnya)


Inilah yang disebut Cinta tak bersyarat, tak perduli siapa dirimu, bagaimana dirimu, dia akan tetap menerima segala kelemahan ataupun kekuranganmu Ahreum.


Ansell benar-benar mencintaimu, hikksss!!....” lanjut Hanna yang dibarengi dengan isakan harunya, lalu kembali menarik Ahreum ke dalam pelukannya.


...****************...


30 menit berlalu.

__ADS_1


Terlihat Ahreum sedang terduduk dikursi kecil sembari membaringkan setengah tubuhnya ke tepi ranjang Ansell, sedangkan Rihanna pamit pulang bersama dengan Abi 10 menit yang lalu.


Perlahan beberapa jemari Ansell bergerak disusul dengan kelopak matanya yang mulai bergetar lalu terbuka lebar.


Ansell melepas alat bantu pernafasannya karena merasa sudah lebih baik, lalu mencoba bangkit dari baringannya dengan dibantu 1 tangannya, sedang 1 tangannya lagi masih belum bisa berfungsi dengan baik karena luka tembak yang menyebabkan tangannya terasa sangat nyeri jika digerakan.


Pandangannya terus terfokus pada istrinya yang sedang tertidur dipinggir ranjangnya, sudut bibirnya sedikit terangkat disusul dengan tangannya yang mulai menjalar membelai kepala istrinya dengan penuh kasih sayang.


“Bagaimana mungkin kau bisa melindungiku dengan tubuhmu yang mungil ini Ahreum?


Akulah yang seharusnya berada didepanmu dan melindungi dirimu,” gumam Ansell selagi tangannya mengusap lembut kepala Ahreum.


“kau sudah bangun?” ucap Ahreum seraya bangkit lalu duduk dipinggir ranjang Ansell dengan raut wajah khawatirnya.



“aku baik-baik saja, luka ini tak seberapa, Ahreum, jangan terlalu mengkhawatirkan…,”


“bagaimana aku tak khawatir, kau mendapat luka tembak karena melindungiku hiksss!!... hikssss!!... Apa yang harus aku lakukan jika tembakan itu mengenai jantungmu Ansell atau….,”


“ssstttt!!...” Ansell menutup mulut mungil Ahreum dengan jari telunjuknya.



“kemari,” lanjut Ansell seraya menarik tubuh Ahreum dengan 1 tangannya agar masuk ke dalam dekapannya.


“melindungimu adalah kewajibanku Ahreum, karena kau adalah wanita yang paling berharga didalam hidupku, bahkan aku rela menukar apapun demi dirimu.


Dan perlu kau tahu, meski semua orang menjauhimu dan memandang buruk dirimu, aku akan tetap berada disisimu, tak perduli bagaimana karakter dirimu yang sebenarnya. Bagiku, kau hanyalah gadis kecil yang penuh dengan cinta dan kasih sayang. Aku sangat mencintaimu!” ungkap Ansell yang malah membuat tangisan Ahreum semakin menjadi lantaran saking terharu dan bahagianya.


...****************...

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2