Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO

Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO
Episode 22


__ADS_3

Tak kehilangan akal Ahreum pun langsung melemparkan tablet yang dipegangnya dengan sekuat tenaga yang ia miliki tepat ke arah lampu yang sudah terlepas dari langit-langit dan hendak mengenai kepala Jeno, lengkap dengan teriakannya yang membahana untuk memperingati Jeno agar menjauh dari tempatnya berdiri.


“JENO AWAS DIATASMU!!!!” berkat teriakan nyaring Ahreum, Jeno pun akhirnya terbebas dari kemalangan yang hampir saja menimpanya.


Dengan cepat Jeno pun menghindar ke arah lain begitu mendengar teriakan dari Ahreum, meski ia belum sempat melihat apa yang sebenarnya terjadi di atasnya, namun tak ingin mengulur waktu Jeno pun lebih memilih untuk menghindar lebih dahulu ke sisi lain dari tempatnya berdiri.


Seolah kehilangan keseimbangan Jeno pun sampai terjatuh bersamaan dengan mendaratnya lampu besar yang hampir saja menimpanya, namun meski dirinya sudah menghindar tetap saja pecahan lampu tersebut ada yang terpental hingga membuat goresan dipipi mulus Jeno alexander.


Sementara disisi yang lain, diwaktu yang bersamaan, yang juga tak kalah menegangkannya, Ahreum berlari secepat kilat agar bisa menarik tubuh Ansell yang lebih besar darinya untuk menjauh dari tempatnya berdiri.


Sampai keduanya pun terjatuh dan refleks saling melindungi kala lampu besar itu mendarat tak jauh dari keberadaan mereka.


“Jeno..” gumam Ahreum yang langsung kembali teringat akan nasib karibnya tersebut disudut yang lain hingga mencoba menoleh ke arah Jeno.


“ahh syukurlah..” sambung Ahreum saat ia melihat ternyata Jeno bisa lolos dari jatuhnya lampu besar tersebut, kemudian kembali menidurkan kepalanya diatas dada bidang calon suaminya tersebut.


“apa ini, kenapa bisa..” keluh Ansell seraya mencoba mengangkat tubuh Ahreum dan siap meledakan amarahnya pada semua staff yang ada.


“aku baik-baik saja, aku baik-baik saja.” Gumam Ahreum seraya menepuk-nepuk pelan dada bidang Ansell untuk sekedar meredakan emosi Ansell.


“astaga.. mba Ahreum, mba baik-baik saja?


maaf ya mba, mas Ansell, saya akan bertanggung jawab atas kejadian yang menimpa mba Ahreum dan mas Ansell hari ini, sekali lagi mohon maaf ya mba atas kelalaian dari staff kami.” Ujar seorang staff WO bernama Airin yang sebelumnya berbincang dengan Ahreum lengkap dengan raut wajah panik dan khawatirnya ia pun mencoba membantu Ahreum bangkit dari posisinya.


Disusul dengan beberapa staff lainnya juga yang ikut menghampiri Ahreum dan Ansell untuk meminta maaf dan mengecek kondisi calon pengantin tersebut.


Tak jauh berbeda di sisi lainnya juga para staff berdatangan untuk membantu dan mengecek keadaan Jeno yang tampak masih sangat shock atas kejadian yang baru saja menimpanya.


“OUGH SHIITT!!


YAAK!! APA-APAAN INI!!

__ADS_1


SAYA TIDAK MEMBAYAR MAHAL UNTUK KELALAIAN KALIAN SEMUA!! SIALAN, JIKA TIDAK BECUS BEKERJA SEBAIKNYA TIDAK PERLU MENJALANKAN WO!!


APA KALIAN SEDANG BERCANDA, BAGAIMANA MUNGKIN 2 LAMPU ITU BISA TERJATUH DISAAT YANG BERSAMAAN?!” teriak Ansell murka.


“i..iya pak, maafkan saya, padahal tadi sudah 3 kali saya memastikan jika tali yang terikat sudah cukup kuat, tapi..” sahut salah seorang pekerja yang berkumpul mengelilingi Ahreum dan Ansell.


“TAPI APA!!


APA KAU TAK PUNYA MATA, LAMPU ITU TERJATUH TADI, YANG ARTINYA KAU TIDAK MELAKUKAN PEKERJAANMU DENGAN BENAR!!” bentak Ansell kembali seraya menatap tajam pekerja yang bertanggung jawab atas pemasangan lampu dilangit-langit.


“sekali lagi kami mohon maaf pak Ansell, kami akan mengganti rugi atas apa yang terjadi saat ini. Kami berjanji akan lebih memperhatikan tingkat keamanannya.” Timpal Airin kembali seraya membungkukan kepalanya kemudian diikuti oleh anak buahnya yang lain, sebagai bentuk permintaan maaf yang sangat tulus dari seluruh tim WO tersebut.


“sudahlah, kakiku mulai kram, Ansell.” Ucap Ahreum yang kemudian memegangi lengan kekar Ansell.


“kalian semua boleh pergi.” Lanjut Ahreum pada seluruh staff tersebut.


Jeno pun tampak berjalan ke arahnya bersamaan dengan bubarnya para staff yang sebelumnya mengelilingi Ansell dan Ahreum.


“iya, aku baik-baik aja, hanya masih sedikit lemas, pipimu terluka Jeno.” Ucap Ahreum yang baru menyadari jika ada rembesan darah yang keluar dari goresan tipis dipipi Jeno, reflex Ahreum pun tanpa sadar hendak memegang wajah karibnya tersebut.


Namun dengan cepat Ansell menahan tangan Ahreum yang sedikit lagi mengenai pipi Jeno, hingga baik Ahreum maupun Jeno melirik ke arah Ansell yang masih menggenggam erat tangan Ahreum lengkap dengan tatapan tajamnya, seolah ia tidak mengijinkan Ahreum menyentuh pria lain.


“ahh iya, aku tidak melihat Nayeon, cepat cari dia, minta dia mengobati lukamu.” Tambah Ahreum seraya menurunkan tangannya seiring dengan terlepasnya genggaman Ansell.


“iya nanti ku cari,


Kau yakin baik-baik saja? Tidak ada serpihan lampu yang mengenaimu kan.” Sahut Jeno yang masih mengkhawatirkan Ahreum, membuat Ansell terlihat muak dengan situasi yang terjadi saat ini.


“ciih!! bukankah Ahreum sudah memintamu untuk pergi!


Apa kau tuli! Berhenti mencemaskan calon ISTRIKU!!” tegas Ansell dengan penekanan pada kata terakhir yang terucap dibibirnya, membuat Jeno pun tak dapat berkata-kata kembali dan hanya bisa memandangi kedua mata Ansell yang tampak berapi-api seolah ingin menerkam dirinya kala itu.

__ADS_1


“baiklah aku pergi, kau jaga dirimu baik-baik ya, nanti hubungi aku setelah kau sampai rumah.” Pungkas Jeno yang kemudian pergi berlalu setelah mendapat respon anggukan dari Ahreum.


“TIDAK ADA KABAR-KABARAN!! AKU AKAN MEMBLOKIR KONTAKMU!!” teriak Ansell kala Jeno perlahan mulai pergi meninggalkan mereka berdua.


“apa tenggorokanmu tidak sakit, teriak-teriak terus, Ansell?” gumam Ahreum seraya melirik sesaat ke arah Ansell kemudian berjalan pergi dengan langkah yang masih cukup lemah.


Hingga Ansell pun berinisiatif untuk menggendong Ahreum meski tanpa persetujuannya.


“hey, apa yang kau lakukan, aku bisa berjalan sendiri.” Protes Ahreum yang berada dalam gendongan Ansell, karena tak kuasa menahan rasa malu menjadi pusat perhatian Ahreum pun memilih untuk menyembunyikan wajahnya ke dalam dekapan Ansell


“mulai hari ini sampai hari pernikahan kita, kau akan tinggal dikediaman orang tuaku!” ucap Ansell yang terdengar seperti sebuah perintah yang wajib dipatuhi oleh Ahreum.


“apa?!” kaget Ahreum seraya memunculkan kembali wajahnya dan menatap Ansell dengan kedua matanya yang membulat.


***


Di tempat yang berbeda, saat Nayeon keluar dari toilet wanita, ia sudah mendapati kekasihnya Jeno tengah menunggunya di depan lorong yang menuju toilet pria dan wanita.


Dengan kedua tangan yang dilipat diatas dadanya ia menatap Nayeon dengan tatapan tajamnya.


"kau disini,


itu, pipimu kenapa, sayang? kok bisa terluka." ucap Nayeon yang hendak memegang wajah kekasihnya tersebut.


Namun tentu saja Jeno langsung menepisnya dengan kasar.


"itu perbuatanmu kan?!"


***


bersambung...

__ADS_1


__ADS_2